Holding Hands

Special Chanyeol's birthday

CHANBAEK ONESHOT FANFICTION

By : Creamy Latte


Malam ini aku mengenggam erat tangannya yang jauh lebih besar dari punyaku. Meresapi setiap kegundahan yang terpancar dari matanya yang kini redup cahayanya.

Malam ini bulan bersinar terang, meski bukan purnama. Tak apa, sabit pun tetap terlihat indah jika bersamanya. Bahkan mendung sekalipun

Kuputar volume speaker yang menyenandungkan lagu dari aplikasi musik online lewat handphoneku. Tangannya tak pernah kulepaskan. Bahkan semakin erat kugenggam.

Kubawa wajahku mendongak, menatap wajahnya yang dihiasi gurat kelelahan. Aku tersenyum untuk memancingnya melakukan hal yang sama. Ia menutup matanya saat tanganku yang bebas mengusap dahinya perlahan.

'Kau sudah bekerja keras.'

Tidak kusuarakan, namun kuyakin dia dapat membaca isi hatiku yang bak buku terbuka. Sebab itulah senyumannya semakin melebar, manis sekali. Namun, aku malah ingin menangis dibuatnya.

Kugigit bibir bagian dalamku, mati-matian menahan hasrat untuk tidak mengacaukan momen manis ini. Saat-saat yang sengaja kusiapkan, agar aku dapat sedikit saja menghapus gelisah dihatinya.

Tak akan kubiarkan tangisku merusak senyumnya.

Tanganku bergerak perlahan; yang satu kurentangkan dan yang satu lagi kulabuhkan di punggungnya yang tegap. Dengan senyum yang masih melekat di wajahnya, ragu-ragu dia tempatkan tangan satunya di pinggulku.

Kami bergerak perlahan, kaki kami bergerak bersamaan bak adegan dansa dalam film romantis. Walau lagu yang kuputar bukanlah lagu yang menggambarkan keromantisan, namun siapa yang pedul?

Kami hanya ingin rehat sejenak. Kami hanya ingin menyimpan momen ini untuk diri kami sendiri.

Musik masih mengalun ditengah ruangan yang temaram. Sengaja, agar kami dapat meresapi perasaan masing-masing.

Kami bergerak.

Pelan-pelan saja.

Tak perlu terburu-buru.

Malam ini aku miliknya dan dia milikku.

Kami tahu itu.

Perlukah kalian tahu bahwa pria-ku ini sangat indah. Matanya, dahinya, hidungnya dan juga...

Hatinya.

Ya, hatinyalah yang membuatku jatuh. Hatinyalah yang membuatku melihat keindahan itu.

Hatinya yang sederhana, telah membuatku mencinta. Terlalu dalam. Bahkan tak ingin kulepaskan.

Kami tersentak, lalu tergelak bersama begitu aku tak sengaja tersandung kakinya.

Ah, tawanya. Sejak kapan aku begitu merindukan tawanya yang ini. Kapan terakhir kali aku mendengar tawanya yang seperti ini.

Musik masih mengalun dan kami kembali bergerak. Tak beraturan. Namun kami tetap melanjutkan gerakan.

Pelukannya kulepas untuk membuat gerak dramatis. Hanya agar aku dapat membuat tarian kami terasa lebih menyenangkan.

Namun yang kudapati adalah matanya yang memandangku dalam. Sedih. Dengan jemarinya yang berusaha meraih ujung jari-jariku yang masih terentang.

'Jangan pergi.'

Tak bersuara, namun kuyakin aku dapat mendengarnya bilang begitu. Kulangkahkan kakiku mendekatinya lagi, membawa tubuhku dalam pelukannya. Tempat ternyaman yang kupunya.

'Jangan tinggalkan aku.'

Masih tanpa suara, namun aku dapat mendengar jelas suaranya. Kutaruh daguku di pundaknya. Menghirup dalam aroma menenangkan darinya. Aroma yang hanya kutemukan ada padanya.

Ia membelai belakang kepalaku. Badan kami bergoyang seirama lagu yang kami dengar. Detik-detik lagu tersebut habis. Kami telah kehilangan minat untuk berdansa.

Kukaitkan kedua tanganku dibelakang punggungnya. Membuat kami saling menempel. Saling mendengar detak jantung kami yang berdebar karena kehadiran masing-masing.

Tak berubah, meski sudah puluhan tahun lamanya.

Lagu kami berhenti. Hening menyapa setelahnya, tapi kami enggan melepaskan rengkuhan. Kami hanya dapat mendengar suara nafas kami.

Pria-ku yang lebih dulu membuat jarak. Menyelami iris gelapku yang tak istimewa. Ia tersenyum, lebih-lebih disebut sebagai cengiran.

Keriput matanya gambaran perjuangan. Gelambir kulit pipinya tetap menawan di mataku. Ia tetap indah meski tak lagi gagah. Ia tetap mempesona meski tak lagi muda.

"Selamat ulang tahun," bisikku.

Cengirannya berubah menjadi senyuman dalam. Matanya berkilau ditempa cahaya bulan. Untuk beberapa detik, bibirnya menyapu bibirku.

Tak berubah, rasanya masih sama.

Begitu pula perasaanku, tak pernah berubah meski ribuan gelombang menghantam kapal kami. Tak gentar meski duri menusuk kaki kami. Tak menyerah meski halang rintang silih berganti.

Oh, sayangku. Berbahagialah, sebab itu yang kumau. Tersenyumlah, karena hanya itu yang kuinginkan. Gembiralah, meski aku tak lagi disisimu. Peluklah aku sebanyak yang kau mau.

Cintailah aku, sayangku.

Dengan begitu aku akan damai dalam tidur panjangku.


TAMAT


Hai, semuanya.

Apa kabar?

Aku harap kalian selalu baik-baik aja.

Aku mau nanya, tulisanku tuh jelek banget ya?

Sampe kayaknya kalian ogah buat ngeriview tulisanku.

Belakangan ini, aku kayak ngerasa insecure buat nulis.

Aku merasa tulisanku itu gk layak kalian baca. Jujur, review kalian itu sebenernya jadi penyemangat buat aku, tapi kayaknya tulisanku jelek banget sampe kalian gk mau review.

Lho, kok melow?!

Oke, last.

Happy uri Chanyeol!

Stay health, ya!

See ya