Autumn2day: LUCKY [Chanbaek]
TW: Sex scene Penggunaan kata – kata kotor dan kasar Boyslove, bxb, YAOI Chanyeol!Top Baekhyun!Bot
I feel so damn lucky to have you on my arms
Kata Sehun, Chanyeol itu manusia paling beruntung karena bisa memiliki pacar seperti Baekhyun meskipun hidup dan wajahnya biasa – biasa saja — ini menurut Sehun— tidak ada yang bisa di banggakan dari Chanyeol sebenarnya tapi herannya Baekhyun memilih Chanyeol untuk menjadi pacarnya.
Seorang pengusaha muda dan sukses yang terlahir dari keluarga tajir melintir. Mungkin kalau kalian sering membaca sebuah majalah bisnis, Baekhyun sering menjadi cover majalah tersebut. Dan jangan lupakan sifatnya yang sangat rendah hati dan tidak sombong. Baekhyun itu sangat sempurna tak ada celah untuknya sedikit pun.
Mungkin jika orang lain tahu hubungan mereka tidak akan ada yang mempercayainya. Karena bagaimana bisa orang seluar biasa seperti Baekhyun punya pacar seorang mahasiswa yang biasa – biasa saja?
Tapi yang jelas, Baekhyun sangat mencintai Chanyeol apapun yang terjadi.
Apapun keinginan Chanyeol pasti dituruti oleh Baekhyun. Semuanya tanpa terkecuali. Bahkan jika Chanyeol meminta sebuah jet atau pulau pribadi mungkin Baekhyun akan menurutinya. Chanyeol seperti sedang berpacaran dengan daddy sugar jika bisa dibilang karena Baekhyun sering memberinya hadiah mewah.
Seperti hari ini yang bertepatan hari ulang tahun Chanyeol yang ke dua puluh tiga tahun. Saat tahun kemarin, Baekhyun memberikannya sebuah satu unit apartemen mewah di sebuah kawasan elit. Tapi tetap saja, alih –alih Chanyeol tidur di kasur empuk disana ia malah tetap tidur di kosan sempit kesayangannya.
Ini sudah jam satu malam dan Chanyeol masih memperhatikan layar ponselnya dengan wajah Baekhyun yang menjadi wallpapernya. Belum ada kabar apapun dari Baekhyun sejak sore tadi. Ya, Chanyeol maklum sih karena Baekhyun itu orang sibuk
Jadi, karena ia tidak mau banyak berharap lagi maka ia langsung menarik selimutnya dan mengistirahatkan tubuhnya.
Bangun dengan suara ketukan pintu yang heboh bukan sama sekali keinginan Chanyeol di pagi hari apalagi disaat hari ulang tahunnya.
Kepalanya jadi pusing mendadak karena rasa terkejutnya. Ia melirik jam di ponselnya dan berdecak sebal, ini bahkan baru jam enam pagi dan tetangganya sangat berisik mengetuk pintu kamarnya.
"Chan!Chanyeol! Bangun! Buruan!"
Itu suara Sehun, teman sekaligus tetangganya yang tinggal di kamar sebelahnya mengetuk pintu kamarnya dengan heboh dan berseru dengan nada paniknya.
Dengan langkah kesal dan malas Chanyeol bangkit dan membukakan pintu kamarnya. Wajah panik Sehun yang pertama kali Chanyeol lihat.
"Kenapa sih? Ini baru jam enam pagi dan lu udah heboh banget kayak gitu."
"Parah cuy! Lu mendingan cuci muka cepetan terus turun deh. Gila emang!"
Chanyeol mengerutkan dahinya tidak mengerti. Lantas ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya lalu turun bersama Sehun yang sudah menantinya.
"Barusan gua pengen nyari sarapan eh pas gua keluar, anjir banget pacar lu."
Diluar ada beberapa penghuni kost yang Chanyeol tempati sedang berbisik– bisik bagaimana pacarnya Chanyeol sukses membuat heboh pagi –pagi begini.
Mata Chanyeol melebar ketika di sana ada sebuah mobil mewah Audi A7 yang terparkir di sana dengan sebuah pita sebagai dekorasi kecil. Dan oh jangan lupakan si biang kerok pembuat keributan di pagi ini. siapa lagi kalau bukan pacarnya yang berniat memberi kejutan, Baekhyun yang tersenyum manis ke arahnya.
"Pagi Chanyeol kesayangan aku, kamu baru bangun tidur ya?" Baekhyun menghampiri dirinya dan langsung memeluk tubuhnya, walaupun Chanyeola gak malu sih karena belum mandi tiba – tiba saja di peluk oleh pacarnya yang super wangi ini. "Happy birthday, sayang." Dan juga satu kecupan mampir di pipinya.
Chanyeol masih terdiam. Ia belum bisa memahami situasi ini. Ini masih pagi dan bahkan seluruh nyawanya belum terkumpul dengan sempurna.
Baekhyun yang melihat keterdiaman Chanyeol, tersenyum kecil. "Oh ya, ini hadiah untuk kamu. Kamu suka ga sama hadiahnya? Awalnya aku agak bingung sih mau milih hadiah apa tapi —"
"Baek."
"Ya?"
"Ikut aku ya."
Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar kosannya. Ia butuh bicara dengan Baekhyun sekarang.
Setelah mereka masuk dan memastikan jika pintu kamar sudah terkunci, tanpa peduli jika kamarnya saat ini berantakan sekali. Chanyeol menyuruh Baekhyun untuk duduk di kasurnya sedangkan Chanyeol duduk menghadap Baekhyun.
"Sayang,udah berapa kali aku bilang? Kamu ga perlu ngasih aku barang –barang mewah kayak gini lagi." Chanyeol memulai pembicaraan dan menjaga intonasi suaranya. "Apalagi sampe buat heboh pagi – pagi gini."
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Gak kok, ini ga mewah sayang. Lagian apa salahnya sih nerima pemberian aku? Kali ini kamu mau nolak lagi?"
"Tapi ini berlebihan banget sayang, aku ga bisa terima ini." Kata Chanyeol seraya menggelengkan kepalanya.
Wajah Baekhyun seketika berubah menjadi kesal. "Emang ya, Kamu tuh gak pernah hargai pemberian aku!"
Suara Baekhyun mulai meninggi dan Chanyeol berusaha untuk memberitahu Baekhyun akan suaranya. Tentu, ia takut jika orang luar akan mendengar pertengkaran mereka.
"Sstt…bukan itu maksud aku. Aku hargai setiap pemberian kamu—"
"Apa buktinya kalo kamu ngehargain pemberian aku? Ulang tahun kamu yang kemarin aku kasih satu unit apartemen, mana? Emang kamu pernah tidur disana? Itu yang namanya ngehargain pemberian aku?"
Chanyeol menghelakan nafas panjangnya. "Ok, aku minta maaf untuk bagian itu karena— kamu tahu sendiri, aku gak terbiasa tinggal di tempat seperti itu."
Wajah Baekhyun seketika melunak. "Jadi kamu ga suka ya sama hadiah –hadiah yang aku kasih?"
"Maaf Baek, tapi ya. Aku ga suka."
Baekhyun menundukan kepalanya setelah mendengar pengakuan dari tak percaya diri, satu hal ini pun terlintas di benaknya.
"Chanyeol, kamu selingkuh ya dari aku?" Chanyeol hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan dari Baekhyun yang mendadak. "Atau kamu mau putus dari aku?"
"Baekhyun?Kamu ngide dari mana ngomong kayak gitu?"
Baekhyun menatap Chanyeol lurus. "Terus apa namanya? Kamu sengaja kan nolak semua pemberian aku biar suatu saat kalo kita putus kamu ga perlu repot – repot ngembaliin barang – barang yang udah aku kasih ke kamu. Ya kan?"
Ini aneh. Tapi Chanyeol hanya terdiam. Sebetulnya ia juga membenarkan perkataan Baekhyun. — Amit – amit — Jika mereka beneran putus,Chanyeol pasti tidak akan sanggup mengembalikan semua pemberian Baekhyun yang bernilai fantastis jika ia menerimanya.
Tapi bagian yang menyelingkuhi Baekhyun? Pasti otak Chanyeol sudah eror jika itu benar terjadi.
"Kok diem? Jadi benerkan kamu mau putus dari aku? Kamu selingkuhkan Chanyeol! Tega kamu!" Baekhyun berkata dengan nada tingginya, mungkin suaranya bisa terdengar sampai keluar kamar.
Belum sempat Chanyeol menahan Baekhyun, pria itu sudah keluar dari kamarnya sambil membanting pintu kamarnya.
Chanyeol hanya bisa mengelus dadanya, mencoba bersabar menghadapi sifat Baekhyun yang masih kekanakan dan gampang terpancing emosi.
Baekhyun itu, usia saja yang sudah berkepala tiga namun sifatnya tak lebih seperti adik perempuannya yang baru masuk ke SMA. Kadang ia bingung dengan sifat dan umur Baekhyun yang tidak sinkron.
Tak lama Baekhyun keluar, pintu kamarnya kembali terbuka. Kepala Sehun menyembul dari sana.
"Chan, Lu ngampus?" Tanya Sehun dan hanya dijawab anggukan oleh Chanyeol."Nebeng ya?"
Chanyeol tau niatan Sehun saat ini. "Naik motor gua ya, ga pake mobil sialan itu." Chanyeol bangkit dan mulai membereskan beberapa keperluannya untuk pergi ke kampus.
Sehun mengangkat sebelah alisnya kemudian pintu kamar Chanyeol ia buka agak sedikit lebih lebar.
"Yah, kenapa? Jangan bilang lu nolak lagi pemberian dia? Gak baik nolak pemberian pacar. Apalagi pacarnya kayak si Baekhyun itu."
Chanyeol menghentikan aktivitasnya lalu berbalik menghadap Sehun dan menatapnya malas. "Mau nebeng ga? Gak usah sok nasehatin gua."
"Iya iya gua nebeng. Sensi amat masih pagi juga." Tanpa banyak kata lagi, Sehun menutup pintu kamar Chanyeol.
Masih pagi, sabar Chanyeol.
Selama hari ulang tahun Chanyeol berlangsung tidak ada yang spesial di kampusnya. Beberapa temannya mengucapkan selamat dan sisanya ia habiskan untuk bimbingan.
Dan sampai malam tiba, tidak ada satu pun pesan atau panggilan dari pacarnya. Selama mereka pacaran, Baekhyun lah yang menjadi orang pertama yang menghubunginya, bukan karena Chanyeol tidak berinisiatif duluan atau bagaimana tapi karena Chanyeol tidak mau mengganggu pekerjaan pacarnya.
Pernah sekali ia menghubungi Baekhyun duluan tapi momennya sangat tidak pas karena menelpon di saat pacarnya itu sedang dalam keadaan emosi di sebuah meeting penting dan alhasil Chanyeol ikut terkena omelan Baekhyun. Dan sejak saat itu Chanyeol tidak berani menghubunginya duluan.
Tapi Chanyeol saat ini sudah tidak tahan, ada yang mengganjal di hatinya sejak pertengkaran terakhir mereka. Jadi Chanyeol berniat untuk datang ke apartemen yang Baekhyun tinggali.
Sudah hampir tiga jam, ia berada di kafe untuk merevisi skripsinya. Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Setelah membereskan barangnya, Chanyeol bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat parkir. Ia mengemudikan motor bebeknya menuju apartemen Baekhyun di sebuah kawasan elit.
Beruntung Chanyeol diberi oleh Baekhyun kartu akses cadangan menuju unit apartemen pacarnya itu.
Chanyeol memang sering berkunjung untuk menginap di sini tapi ia jarang datang ke apartemen kekasihnya sendirian dan belum mengabarinya seperti ini.
Saat tiba di dalam, Chanyeol memperhatikan sekelilingnya.
Baekhyun belum pulang, itu yang ia pikirkan setelah ia berjalan berkeliling di unit itu. Langkahnya terhenti melihat beberapa ruangan cukup berantak. Baekhyun sendiri tidak menyewa seseorang untuk membantu membersihkan tempat tinggalnya karena ia tidak suka orang asing menginjakkan kakinya disini. Jadi Baekhyun lebih suka berbenah sendiri.
Dan mungkin pagi ini dilewatkan olehnya karena harus menyiapkan surprise untuk Chanyeol di pagi hari. Jadi Chanyeol berinisiatif untuk membersihkannya.
Sudah hampir empat puluh lima menit berkutat membersihkan seluruh ruangan sampai benar – benar rapi dan bersih kembali. Tapi selama itu pun Baekhyun belum mengabarinya.
Chanyeol menghelakan nafas panjangnya. Haruskah ia menghubungi Baekhyun sekarang?
Mereka beberapa kali pernah bertengkar hingga berakhir tidak saling memberi kabar seperti ini, tapi tidak sampai selama ini. Bahkan ini lebih dari dua belas jam mereka tidak berkomunikasi.
Mereka belum putus kan ya?
Chanyeol ingin menenangkan dirinya dari segala pikiran buruknya, jadi ia pergi ke kamar Baekhyun dan memasuki kamar mandi di dalamnya untuk mandi sebentar. Jangan heran, karena unit ini hanya memiliki satu kamar yang luas serta satu kamar mandi didalamnya dan Chanyeol sudah diizinkan oleh Baekhyun untuk menggunakannya.
Setelah selesai mandi pun belum ada tanda – tanda kepulangan Baekhyun padahal jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam.
Sambil menunggu Baekhyun pulang, Chanyeol kembali mengerjakan tugas revisi skripsinya di kamar Baekhyun.
Dua jam setelah ia selesai merevisi tetap belum ada tanda – tanda kedatangan dari Baekhyun. Matanya pun sudah mengantuk dan tubuhnya sudah sangat kelelahan. Apakah ia harus menghubungi Baekhyun saat ini? Ini sudah larut malam.
Akhirnya setelah bergelut dengan batinnya, Chanyeol mencoba menghubungi nomor Baekhyun namun sayangnya nomor Baekhyun tidak aktif. Chanyeol jadi khawatir.
Apa dia harus menyusul Baekhyun ke kantornya?
Tapi mana ada kantor yang masih beroperasi jam segini?
Atau dia harus pergi ke rumah orang tua Baekhyun?
Bukan ide yang buruk tapi Chanyeol takut melakukannya. Omong – omong, keluarga Baekhyun belum ada yang mengetahui tentang hubungan mereka.
"Chanyeol?"
Baekhyun ada di depan matanya tanpa ia sadari karena terlalu lama bergelut dengan batinnya.
Melihat keterdiaman Chanyeol, Baekhyun menghampiri Chanyeol yang masih terduduk di atas kasurnya dan memeluk tubuh Chanyeol dengan Chanyeol memiliki pertahanan yang kuat agar mereka tidak jatuh.
"Aku seneng kamu ada disini." Gumam Baekhyun.
"Kamu dari mana aja? Aku khawatir hp kamu ga bisa dihubungi." Kata Chanyeol membalas pelukan Baekhyun.
Ada perasaan senang di hati Baekhyun saat Chanyeol itu malah membuat Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya.
"Maaf, hp aku mati. Aku tadi sempat ke kosan kamu tapi kata temen kamu, kamu ga ada di kosan. Dan feeling aku bener kalo kamu ada disini."
"Aku kesini karena merasa bersalah sama kamu."
Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ia tidak setuju dengan ucapan Chanyeol. "No Chanyeol, harusnya aku yang merasa bersalah. Aku minta maaf untuk tadi pagi udah nuduh kamu selingkuh." Baekhyun berujar pelan dan membuat Chanyeol tersenyum kecil.
"Gapapa, sayang. Aku tau kok kamu tadi pagi lagi ke bawa emosi. Tapi beneran,aku ga selingkuh sama siapapun."
Baekhyun tersenyum sumringah mendengar perkataan itu. "Iya, aku percaya kamu kok." Baekhyun menjeda beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali berucap. "Aku minta maaf juga tentang hadiah ulang tahun kamu kalau aku ngasihnya terlalu mewah buat kamu."
"Gak usah dipikirin lagi ya. Aku cuman gak mau orang – orang mandang aku matre karena kamu selalu kasih aku barang mewah."
"Aku paham kok. Ngomong – ngomong, kamu kan udah nolak hadiah pertama."Ia mendekatkan bibirnya di depan telinga Chanyeol. "Aku punya hadiah ulang tahun spesial buat kamu dan pasti kamu ga bakal nolak yang satu ini. Tunggu sebentar ya, aku mau mandi dulu."
Baru saja Baekhyun melepaskan pelukannya dan bangkit tapi Chanyeol dengan cepat menahan tangan dan menjatuhkan tubuh Baekhyun diatas pangkuannya. Ia kembali merengkuh tubuh mungil Baekhyun.
Chanyeol sangat tahu hadiah spesialnya ini.
"Jangan mandi dulu ya?" Pinta Chanyeol saat bibirnya yang kurang ajar mulai mengecupi belakang telinga Baekhyun. "Aku mau minta hadiah ulang tahun spesial aku sekarang juga, sayang." Bisiknya lagi dengan seduktif.
Setelah membisikan itu, Chanyeol langsung memagut bibir Baekhyun dengan tidak sabaran. Dan Baekhyun mengikuti permainan Chanyeol dengan senang hati.
Meskipun Baekhyun lebih mapan, lebih kaya, dan lebih tua dari Chanyeol tidak membuat Baekhyun akan mendominasi semuanya. Ia sangat suka ketika Chanyeol menguasai tubuhnya saat mereka sedang bercinta, bahkan yang orang tidak tahu ia rela menjilat kaki Chanyeol hanya untuk sebuah tusukan nikmat dari penis Chanyeol.
Tangan mereka berdua saling melucuti pakaian pasangannya hingga mereka telanjang bulat.
Baekhyun menjatuhkan tubuh Chanyeol dan sedikit menindihnya di atas ranjang tanpa memutuskan tautan bibir mereka.
Ciuman mereka bertambah liar. Beberapa kecupan terakhir Baekhyun berikan sebelum akhirnya melepaskannya. Ia menatap Chanyeol dengan pandangan memuja.
"Happy birthday, sayang."
Chanyeol terkekeh pelan. "Kamu udah ngucapin tadi pagi."
"Aku seneng ngucapinnya karena aku sangat bersyukur atas kelahiran kamu hari ini. Aku sangat bersyukur kita dipertemukan dan kamu bisa jadi milik aku."
"Aku juga bersyukur, sayang." Chanyeol mengambil jeda. "Jadi, hadiahku?"
"Aku pelacur kamu hari ini. Aku mau dikontolin sama kamu." Bisik Baekhyun dengan sensual di depan telinga Chanyeol.
"Mau dikontolin yang mana?" Dua jari Chanyeol tiba – tiba masuk ke dalam lubang anus Baekhyun dan membuat sang empunya melenguh. "Lubang sialan kamu? Atau—" Dua jari di tangan yang lain Chanyeol masuk ke dalam mulut Baekhyun dan langsung di hisap oleh Baekhyun. "—mulut nakal kamu?"
"Lubanga ku, sayang. Lubang sialan aku yang selalu pengen dikontolin sama kamu."
"Mulut sama lubang kamu bener – bener sialan."
Chanyeol melepaskan jari di tubuh Baekhyun dan membalikan posisi mereka sehingga Baekhyun berada dibawahnya. Oh sialan, Baekhyun yang berada di bawahnya selalu seindah ini dan membuat gairahnya naik.
"Sayang, kasarin aku. Ga usah pake lube atau kondom ya."
Chanyeol menggeleng. "Nanti bakal sakit banget, sayang."
Baekhyun membuka pahanya lebar, Ia mengemut dua jarinya kemudian membawanya masuk ke dalam lubangnya dan menggerakannya secara menggunting.
"Please,aku udah ga tahan sayang. Ayo masukin aja langsung penis kamu kelubang aku, sayang."
Dengan wajah memelasnya membuat Chanyeol tidak tega menolak. "Kalau sakit bilang ya." Sebelum Ia memasukan batang penisnya ke dalam lubang anus Baekhyun, Ia terlebih dahulu meludah pada penisnya. Setidaknya ini bisa menjadi pengganti lube.
"Aku tahan sayang. Akhh… Chanyeol!"
Chanyeol mendongakan kepalanya ketika penisnya berhasil masuk ke dalam lubang sempit milik Baekhyun.
Gila. Penisnya terasa di remas – remas.
Sebelumnya, mereka pernah melakukan seks tapi dengan penetrasi jadi lubang Baekhyun sudah sedikit melonggar dan mudah memasukkannya. Namun yang kali ini sensasinya benar – benar berbeda.
Chanyeol mengangkat satu kaki Baekhyun lalu melingkarkan di pinggangnya.
"Ayo sayang, gerakin. Kasarin aku."
Suara Baekhyun yang seperti jalang ini membuat Chanyeol memagut bibir Baekhyun dengan kasar.
"Sesuai keinginan kamu, aku bakal kasarin kamu. Kontolin kamu sampe kelojotan dan kamu ga boleh protes sama sekali."
Baekhyun menganggukan kepalanya semangat. "Ya, Chanyeol. Fuck me harder."
"Siap– siap sayangku— ohh!"
Chanyeol mulai menggerakan pinggulnya. Ia menggenjot lubang Baekhyun dengan kasar sehingga suara kulit bertabrakan itu terdengar sangat nyaring.
Baekhyun pun sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa. Ini pertama kalinya Ia tidak pakai penetrasi. Tubuhnya seperti terbelah menjadi dua. Tapi semua itu Ia tahan, demi memuaskan pujaan hatinya.
"Ahh!Iya Chanyeolkkh— lebih cepet sayanghh."
Satu tangan Chanyeol menghalau rambut Baekhyun yang menghalangi wajah indahnya dengan sedikit menjambaknya. Melihat wajah Baekhyun yang sedang keenakan seperti ini membuat Chanyeol bersemangat menggenjotnya.
Chanyeol pun membuat beberapa tanda di leher Baekhyun.
Baekhyun tak henti – hentinya membuka mulutnya untuk mendesah, merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Chanyeol hingga ubun – ubun kepalanya.
Suara kecipakan antar kulit itu terdengar semakin cepat dan Baekhyun merasa kewalahan.
"Chanyeol—ngghhh…"Kepala Baekhyun menggeleng – geleng. "Enak —ahh! Lagi—ngghh!" Chanyeol tersenyum miring melihat bagaimana jalangnya suara Baekhyun saat ini.
Baekhyun menjulurkan lidahnya pada Chanyeol, mintanya untuk berperang lidahdan dengan senang hati Chanyeol menyambutnya.
Penyatuan mereka semakin intim dan sampai akhirnya Baekhyun akan mencapai pelepasannya. Ia melepaskan tautan bibirnya dengan Chanyeol.
"Sayang—Nghh! Aku ga tahan. Please…"
Chanyeolyang mengerti pun membantu Baekhyun dengan mengocok penisnya yang telah mengeluarkan pre-cum.
Jari jemari Baekhyun mencengkram erat di bahu Chanyeol saat pelepasannya tiba.
"Nghh—Ahhh…!"
Baekhyun telah berhasil klimaks namun tidak dengan Chanyeol. Ia menghentikan gerakan dan mengeluarkan penisnya yang masih menegang untuk memberi Baekhyun sedikit napas. Biasanya Baekhyun meminta jeda waktu setelah dia klimaks.
Tapi tanpa di duganya, Baekhyun langsung membalikan tubuhnya dan duduk tepat di atas selangkangan Chanyeol.
"Kamu ga mau istirahat dulu sayang?"
Baekhyun mendekatkan bibirnya di depan bibir Chanyeol lalu mengecupnya dengan mesra.
"No. Ga ada waktu untuk aku beristirahat sebelum kamu terpuaskan, sayangku." Baekhyun mulai memasukan penis Chanyeol lagi ke dalam lubangnya lalu menggerakan tubuhnya naik turun.
Chanyeol tersenyum miring. Kedua tangannya ikut memegangi pinggul Baekhyun danikut menggerakan pinggulnya dari bawah.
"Ohh—Baekhyun jalang sialan."
Setelah sesi percintaan mereka yang cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk mengistirahatkan diri.
Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dengan erat di belakang tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun. Sesekali bibirnya mengecup pundak telanjang milik Baekhyun dan ia membiarkan Chanyeol melakukan apa yang diinginkan.
"Chanyeol, kamu beneran gak mau mobilnya?" Baekhyun membuka percakapan pertama kali. Satu jarinya menari random di atas punggung tangan Chanyeol yang berada di pinggangnya.
Ia bisa merasakan kepala Chanyeol yang menggeleng di belakang lehernya."Aku gak mau."
Baekhyun membalikan tubuhnya menghadap Chanyeol. "Terus kamu mau hadiah apa?Aku heran, dulu mantan – mantan aku paling seneng kalo aku kasih barang – barang mewah. Tapi cuman kamu doang yang selalu nolak."
Satu sudut bibir Chanyeol terangkat. Ia meraih tangan kiri Baekhyun yang bebas dan menaruhnya di atas pipinya.
"Jangan samain aku sama mantan – mantan kamu yang suka barang – barang mewah itu, karena aku ga butuh itu semua." Kata Chanyeol dengan lembut. "Punya kamu jadi milik aku aja, aku udah sangat bersyukur, sayang." Setelah mengatakan itu ia mengecup di atas sebuah tato bersimbol titik koma di pergelangan tangan kiri Baekhyun.
Hati Baekhyun menghangat mendengarnya. Ia memeluk tubuh Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya di dada telanjang Chanyeol.
"Kalau boleh, aku yang seharusnya heran sama kamu." Baekhyun mendongakan kepalanya menatap Chanyeol dengan bertanya, satu tangan Chanyeol hinggap di pipi Baekhyun dan mengusapnya dengan abstrak. "Aku ini pria yang biasa – biasa aja dan gak pantas bersanding sama kamu yang sangat luar biasa ini. Kamu bahkan bisa memilih pasangan yang lebih baik daripada aku. Tapi kenapa kamu malah milih aku?"
Baekhyun menggeleng protes pada Chanyeol.
"Kamu nomor satu bagiku dan gak ada yang lain. Kamu pantas bersanding dengan aku. Jangan ngomong kayak gini lagi ya? Kamu pria yang sempurna bagi aku. Gak ada yang mencintaiku seperti kamu. I love the way you love me, Chanyeol."
Hati Chanyeol terenyuh. Ia memeluk tubuh Baekhyun dengan erat. Ia merasa sangat beruntung dicintai oleh seorang Baekhyun.
"Makasih, sayang. Aku jadi pengen cepet lulus lalu dapat pekerjaan yang bagusterus aku bakal rajin menabung supaya bisa nikahin kamu di Eropa. Kamu mau kan?"
Baekhyun mendongakan kepalanya, menatap Chanyeol penuh harap dan tersenyum sangat manis padanya. Baekhyun menganggukan kepalanya. "Aku bakal tunggu sampai saat itu tiba, Sayang."
EPILOG
Tiga jam sebelum kepulangannya ke apartemennya, Baekhyun mampir ke rumah orang tuanya sebentar.
Seharian ini Baekhyun tidak sepenuhnya berkonsentrasi dalam pekerjaannya, beberapa karyawan bahkan ada yang kena omelannya meskipun hanya masalah sepele.
Siapa lagi penyebabnya kalau bukan Chanyeol?
Pacarnya yang super aneh.
'Aneh'dalam artian selalu menolak pemberian mewah darinya padahal jikaorang – orang berada di posisi Chanyeol saat ini pasti tidak akan menolak.
Mau tidak mau, mobil yang baru saja ia beli kemarin harus dijual atau dibuang mungkin karena Chanyeol tidak menginginkannya.
Dan tadi siang ibunya menelpon dan mengatakan ia harus pulang ke rumah malam ini, ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
Baekhyun pikir hanya membicarakan bisnis atau warisan — mengingat ibunya saat ini sedang sakit keras dan beliau adalah satu – satunya keluarga yang ia punya — jika dirasa itu penting tapi Ia salah besar.
Saat ia datang ke rumah, hal pertama yang ia sadari mendadak membuat perutnya sakit. Dua orang tua paruh baya dan seorang wanita muda yang elegan duduk di sofa ruang tamunya bersama sang ibunda. Baekhyun sudah bisa menebak maksudnya.
Ini adalah hal terkonyol yang terjadi dihidupnya.
Dan seratus persen Baekhyun tidak bisa menghindarinya, karena ibunya berkata jika ia ingin melihat anak semata wayang itu menikah sebelum ia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa apalagi usia Baekhyun sudah sangat matang untuk membangun rumah tangga.
Baekhyun bukannya tidak bisa menolak perjodohan ini, ia bisa saja menolaknya. Namun permintaan terakhir dari ibunya membuat Baekhyun tak kuasa untuk menolaknya.
Bolehkah Baekhyun egois kali ini? Ia masih menginginkan Chanyeol untuk tetap menjadi miliknya juga sampai kapanpun.
FIN
Author's Note:HI, Datang lagi membawa satu cerita yg sebenarnya ini ada lanjutannya hehe kalo mau review aja ya, kalo tembus sama sesuai ekspektasi langsung aku update hehe.
Anw, Happy Birthday Chanyeol!
