Summary: Ada tiga orang pria, tiga pinta, dan satu tangan mewakili untuk menoreh tinta.


Dazai bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas dunia alternatif Beast. Hanya saja orang-orang lain lupa untuk menanggung konsekuensinya bersama.


Dazai menghela napas panjang. Port Mafia seharusnya tidak kekurangan dana. Namun, konfrontasi melawan Mimic belakangan ini memang cukup menguras cadangan kas. Kalau terus seperti ini, gaji para eksekutif terancam diambil dari uang pribadinya.

Bos muda Port Mafia itu mengusap dagu, lalu senyum kecilnya terbit. Itu bukan pertanda dia sedang punya ide bagus. Dazai hanya baru kepikiran tentang mengisengi seseorang. Mengeluarkan ponselnya dari saku, dia menekan sederet nomor dan memulai panggilan.

"Halo, Tuan Fitzgerald, apa putrimu baik-baik saja~?"

Pada awalnya pembicara di seberang sempat terdiam. Namun, tidak butuh waktu lama sampai tawa kerasnya pecah.

"Kau itu siapa, bertanya-tanya soal putriku?"

"Siapa, heh ~" Dazai menyeringai. "Yak, apapun itu, jangan pernah izinkan putrimu pergi bersekolah ke Inggris."

"Hmm, dia belakangan ini memang sangat tertarik ke sana. Ada masalah?"

"Ada, tentu saja."

"Huh?"

"Istrimu Zelda akan mengalami gangguan mental kalau kehilangan putrinya. Dan cara paling simpel untuk mencegahnya adalah menjaga putrimu tetap dekat," Dazai berhenti sebentar, "yah, tapi palingan tidak akan ada masalah dalam waktu singkat, sih. Lagipula ini dunia yang memang dirancang untuknya tetap hidup."

Fitzgerald terdiam, lalu memutuskan panggilan. Dia tahu nomor asing barusan benar-benar menyuarakan omong kosong, tetapi entah kenapa keringat dingin tiba-tiba saja mengucuri tengkuknya.


"Kunikida, ada e-mail ancaman, nih," Oda melapor dengan nada datarnya.

"Oh, oke, ntar kusuruh Rokuzou yang ngelacak." Kunikida menanggapi tak kalah tenang. "Jadi, apa ancamannya?"

"Hmm, kayak biasa, ada bom di suatu tempat di pusat keramaian ... Ranpo-san," Oda menoleh ke detektif andalan Agensi. "Tolong beri tahu lokasinya, aku yang akan ke sana."

"Baik ~ " Ranpo melambaikan tangannya yang menggenggam kaca mata.

Kunikida sendiri tampak menelepon dengan telepon kantor. "Halo, Rokuzou, sudah bangun?"

"Berisik, udah, lah. Tetangga sebelah masaknya heboh banget," sahut Rokuzou dengan nada enggan.

"Kau tidak mengganggu Sasaki-san, kan?"

"Mengganggu? Aku cuma numpang makan di rumahnya saja, kok. Aku sudah bosan makan roti bakarmu, Kacamata. Besok-besok jangan siapin lagi."

Kunikida membeku sejenak, lalu menghela napas. "Ini masalah pekerjaan. Tolong lacak alamat pengirim e-mail anonim."

"Mendesak tidak?"

"Memangnya kau sedang ngapain?"

"Ngasih makan ikan."

"... Beri tahu hasilnya dalam tiga jam."

Kunikida lalu menutup telepon. Rokuzou dan hobinya memancing emosi entah kenapa membuatnya merasa bernostalgia. Rasanya dia pernah kenal seseorang yang juga selalu membuat kesal, tetapi entah siapa.

"Akutagawa, ayo," Oda setengah menyeret Akutagawa yang masih betah di depan komputer. "Tangki air pusat perbelanjaan!" serunya, menyebut lokasi yang diperolehnya dari kesimpulan sekejab Ranpo.

"Iya, tanggung, belum control S," gumam Akutagawa setengah menggerutu. Di bawah matanya terbentuk lingkaran hitam akibat kurang tidur. Sepertinya pemuda itu menumpuk laporan sampai mendekati akhir pekan, jadi terburu-buru mengerjakan sampai mesti begadang.

Kunikida membantu menyimpan berkas yang masih setengah jalan itu. Akutagawa mengerjakannya dengan cukup baik, ngomong-ngomong.

"Oda beneran bisa diandalkan, ya ~" senandung Ranpo sambil mengocok botol kaca yang kosong, salah satu dari koleksinya.

Kunikida mengiyakan. "Kalau saja waktu itu dia tidak ada ..."

Kasus hilangnya pengunjung Yokohama, maksud Kunikida. Waktu itu Oda menyelamatkan Rokuzou yang nyaris terkena peluru dari pistol Sasaki. Mereka bernegosiasi selama beberapa jam, dan akhirnya Sasaki sepakat untuk ditempatkan di samping rumah Kunikida biar lebih mudah diawasi.

"Apa kabar bocah pemberontak itu, masih sering merepotkanmu?" lanjut Ranpo. Sejak kejadian itu juga, Rokuzou secara ajaib sepakat untuk benar-benar menerima Kunikida sebagai orang tua asuhnya, termasuk dengan pindah tempat tinggal.

"Begitulah, dia masih ogah lanjut sekolah."

"Tapi dia bisa bekerja dengan cukup bagus, tuh."

"Memang, tapi aku khawatir dengan masa depannya."

Daripada masa depan, sebenarnya Kunikida cukup bersyukur dengan kondisi anak itu saat ini. Mengingat setiap malam, dia selalu bermimpi Rokuzou dan Sasaki saling bunuh. Tidak ada Oda di sana, malah seorang lelaki dengan tatapan beku, yang Kunikida selalu terbangun sebelum sempat mengenali wajahnya.


"Papa, minggu depan ayo jalan-jalan ke wahana permainan yang baru jadi!" kata Scottie--putri Fitzgerald--dengan penuh semangat ketika mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan.

"Boleh, biar Papa beli dulu, ya," sahut Fitzgerald enteng. "Zelda, kamu juga ikut, kan?" tanyanya memastikan. Istrinya itu mengangguk dengan senyuman lebar.

Fitzgerald menikmati kehidupannya yang lengkap itu. Dia yakin memimpikan hal aneh setiap malam, tetapi dia akan melupakannya dengan segera begitu melihat senyum istrinya di pagi hari.

Belum lagi Guild, organisasi yang dipimpinnya, tidak memiliki masalah berarti. Ahli strategi mereka selalu punya cara untuk meningkatkan keuntungan, dan anggota lainnya pun bekerja dengan baik.


"Odasaku, selamat datang!"

Pulang dari kantor agensi, anak-anak akan menyambutnya dengan semangat. Waktu sore ini bisa mereka manfaatkan untuk jalan-jalan singkat ke taman, sekedar makan es krim di kafe murah tepi jalan, atau cukup duduk diam di ruang santai sambil menikmati siaran televisi.

Oda menyukai hari-hari ini. Di mana tangannya tidak perlu kotor oleh darah, masa depan anak-anak asuhnya cenderung cerah, dan tentu saja, dia bisa menulis tentang kehidupan.

Namun, kadang-kadang di tengah inspirasi menulis yang buntu, sekilas dia malah teringat ruangan besar, tetapi kosong. Dia malah seakan familiar dengan semburat sore yang menyelusup dari jendela kaca, padahal kalau ditanya, Oda lebih suka pemandangan laut pada malam hari. Dia malah merasakan perasaan janggal, seolah-olah pernah diratapi. Seolah-olah pernah meratapi.


Hari-hari damai mereka sontak berubah, ketika Dazai Osamu melepaskan diri dari dunia. Bagi Kunikida dan Fitzgerald, kepingan ingatan mereka soal pemuda berambut cokelat itu, serta sehelai kertas dan pena, tiba-tiba menjadi lebih jelas dari sekedar mimpi.


Sebenarnya ini dibikin untuk rarepairing entah berapa bulan lalu-- Tapi kayaknya tiap ada Fitzgerald pasti rada macet. Ada yang baca "Dua Orang yang (pernah) Bangkrut"? Kayaknya tidak-- Itu juga seingatku ditelantarkan tiga bulanan, padahal setelah selesai pun hasilnya cuma pendek~