POV Miyuki Kazuya
"... KAZUYA!!!"Miyuki terbangun dengan banyaknya keringat disekujur tubuhnya.
Ini sudah satu minggu sejak ia mendapatkan mimpi itu. Entah rasanya, mimpi itu tampak terlalu nyata.
Dengan tangan bergetar, Miyuki mengambil kacamata dan memakainya untuk mendapatkan hasil pandangan yang lebih baik.
Miyuki mengernyit ketika mrlihat jam yang berada di meja disampingnya. Sekarang baru jam 4 pagi. Rasanya aneh melihat dirinya bangun pagi seperti ini.
Karena tidak bisa tidur kembali, Miyuki pun melangkah keluar kamar dengan hati-hati, berharap agar tidak membangunkan teman sekamarnya.
Langit masih gelap dan udara pagi membuat tubuh Miyuki menggigil kedinginan. Tidak ada seseorang pun diluar dan ia memutuskan untuk berjalan ke mesin penjual otomatis yang ternyata disana sudah terdapat makhluk yang sangat dikenalnya yang sedang duduk menikmati minumannya.
"Yo, Miyuki. Ada angin apa sehingga dapat membuatmu bangun sepagi ini?" Ucap Kuramochi dengan nada yang sarkas.
Miyuki tidak tersinggung, ia menyeringai dan berbicara dengan suara yang terdengar memuakkan. "Ara~Mochi-kun, kau ternyata selau memperhatikanku~~"
Kuramochi mendengus kesal. "Tidak ada yang memperhatikanmu, dasar tanuki!"
Miyuki langsung duduk disamping Kuramochi setelah mendapatkan pocari kesukaanya dari mesin itu.
Mereka mengobrol disertai dengan menggoda -lebih tepatnya hanya Miyuki yang menggoda Kuramochi- hingga matahari muncul untuk memberikan tanda bahwa sudah waktunya untuk latihan pagi.
Hari-hari berlangsung seperti biasa. Tidak ada perbedaan membuat Miyuki merasakan kebosanan.
Ia duduk dengan bersandarkan pagar melihat teman satu timnya berlatih. Dan terdengarlah suara nyaring yang berasal tak jauh dari tempat ia bersantai.
Miyuki segera berjalan kesana hanya untuk menemukan Rei-chan dan seorang pria yang menggunakan hoodie bewarna kuning yang sedang bertengkar dengan Azuma.
Ia tidak mengenal pria itu. Ia tampak lebih muda darinya dan dilihatnya ia sedang mengolok-olok Azuma yang saat ini sudah berada tepat dihadapan pemuda itu.
Rei menyarankan pria itu untuk melawan Azuma. Karena bosan, Miyuki mengajukan diri untuk menangkap lemparan bocah itu.
"Hei bocah tahun pertama, jangan ikut campur!" Bentak Azuma pada Miyuki.
Miyuki tak menggapinya.
Ia hanya memusatkan perhatiannya kepada bocah yang tak dikenalnya yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan... rindu?
"Kau kembali." Ucapnya pelan tapi Miyuki masih bisa mendengarnya dengan baik. 'Hah?! Apa maksudnya aku sudah kembali. Rasanya seperti aku sudah pernah meninggalkan dia saja.' Miyuki membuang pikiran itu, mungkin dirinya hanya salah dengar lagipula ia tidak pernah bertemu dengannya.
Rei meminta bocah itu agar berganti pakaian dan melakukan peregangan. Sementara bocah tak dikenalnya berjalan menuju ruang ganti, Rei mendekat kepada Miyuki yang saat ini sedang memakai alat penangkapnya.
"Miyuki-kun, aku lega karena kamu yang mengajukan diri. Anak itu punya lemparan yang sedikit unik. Dia sendiri belum menyadari kemampuannya sendiri, apa menurutmu, kamu bisa menarik keluar potensinya?" Tanya Rei sambil memperbaiki posisi kacamatanya.
"Hah, kau menaruh harapan besar padanya, ya." Miyuki menyeringai.
Sebenarnya dirinya merasa kesal dengan Azuma yang sering menindas para juniornya dengan sombong. Tapi dirinya selalu menjaga sikap sebagai junior yang baik untuk senpainya. Melihat tidakan Sawamura -yang namanya ia ketahui dari Rei- yang ingin melawan Azuma, membuatnya bersemangat dan akan membantu untuk mengalahkan Azuma.
Setelah Sawamura selesai berganti, dia segera menuju ke gundukan dengan Miyuki yang berada di belakan home plate untuk menangkapnya.
Memulai dengan pemanasan terlebih dahulu sampai Miyuki merasa cukup, ia pun berjalan ke gundukan.
"Hei apa saja lemparanmu?"
"Aku hanya melempar lurus!"
Eh?! Beneran? Miyuki hampir tersedak tawa saat itu. 'Lemparan lurus? Yang benar saja. Anak ini aangat menarik.' pikirnya sambil tertawa.
Miyuki kembali ke belakang home plate dan Azuma berdiri di kotak pemukul sambil menyeringai.
"Hei, lebih baik menyerah sekarang saja, nak. Atau aku akan membuatmu menangis ketakutan. Hahaha."
"Aku tidak akan menyerah semudah itu." Ucap Sawamura sedikit geram.
Miyuki hanya menyeringai dan bersiap untuk menangkap setelah memberikan sinyal untuk Sawamura.
Miyuki sedikit tersentak saat menangkap lemparannya. Lemparannya berubah arah? Entahlah dirinya tidak terlalu yakin. Ia memanggil nada berikutnya dan melirik ke tempat Rei. 'Jadi ini yang dimaksud menarik, Rei-chan.'
Rei yang sadar bahwa dirinya sedang diamati hanya mengangguk lalu meneruskan untuk menonton Sawamura yang berada di gundukan.
Miyuki menyeringai, dia benar-benar dikejutkan dengan anak ini. Tidak hanya lemparannya yang unik, tapi juga tampilannya yang terlihat berbeda saat berada digundukan. Mata emas yang membara seperti predator yang sedang menyantap mangsa di depannya, mengirim getaram ke punggung belakang Miyuki.
Mereka mengalahkan Azuma dengan 11 lemparan.
Selesai dengan pertandingan yang memuaskan, Miyuki merasakan seseorang mendekat kearahnya. Dia berbalik dan menemukan bocah Sawamura dengan mata emas yang menyala yang sedang menatapnya.
"Erm... Ada apa?" Dirinya merasa tidak nyaman ditatap seperti itu.
"Siapa namamu?" Sawamura bertanya.
"Miyuki Kazuya, dan kamu Sawamura Eijun. Rei-chan sudah memberitahuku tadi." Miyuki merasa agak canggung tapi ia tetap membalas dengan tenang.
"Miyuki... Kazuya!?" Miyuki tersentak mendengar dia berteriak. "Kau sudah kembali, apa kau mengingatku?" Sawamura bertanya dengan senyum penuh harap.
Miyuki bingung. Ia tidak pernah melihat pria ini dan kalaupun sudah pernah, ia tidak pernah mendengar nama Sawamura Eijun.
Melihat senyum Sawamura membuatnya merasa tak nyaman. Tak ingin menghancurkan harapannya, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Miyuki melihat bagaimana senyum Sawamura menjadi sedih. Ia tidak bermaksud menyakiti seseorang yang baru ia temui, tapi dirinya memang belum pernah nertemu dengan pria dihadapannya itu.
"Oh, kalau begitu, kurasa kita harus membuat kenangan lagi." Gumam Sawamura pelan, tapi masih bisa didengar oleh Miyuki karena jarak mereka cukup dekat.
Sebelum Miyuki sempat bertanya apa maksudnya, Sawamura langsung berpamitan untuk pulang. "Kalau begitu, sampai jumpa Miyuki Kazuya! Kita pasti akan bertemu kembali, jadi jangan lupakan aku!"
Dengan itu, Sawamura meninggalkan Miyuki sendirian yang saat ini sedang tercengang sambil melihat punggung Sawamura yang perlahan-lahan mulai hilang dari pandangannya.
Ia menghela nafas, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia berjala menuju tempat latihan untuk melanjutkan istirahat yang tadi ditinggalkannya.
Pada malam hari, Miyuki tidak bisa tidur. Ia sedang memikirkan apa yang di ucapkan Sawamura tadi. Ia tidak bisa mengerti arti sedikitpun dari ucapannya.
Setelah ia bertemu dengan Sawamura, Miyuki mendapati perasaan aneh di dadanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang ia lupakan, tapi ia tidak tahu apa itu.
Miyuki hanya bisa berharap agar Sawamura segera datang ke Seidou untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya.
Bersambung...
Maaf ya kalau typo agak terburu-buru soalnya.
Di wattpad juga ada kok, jadi kalau punya aplikasinya di vote juga ya. Hahaha.
Sampai jumpa di episode berikutnya!!!
