POV Sawamura Eijun

Eijun berpikir ini sudah 500 tahun ia menunggu. Rasanya ia hampir putus asa setiap mengingat sudah beberapa tahun ia menunggu kembalinya Kazuya.

Sekarang Eijun berada dalam keluarga Sawamura. Eijun ingat ia bertemu dengan Sawamura Eitoku saat dirinya hanyalah seorang gelandangan. Lalu Eijun akhirnya bertemu dengan Eitoku ketika Eitoku masih kecil, sekitar 10 tahunan?

Keluarga Sawamura pun mengadopsinya karena Eitoku kecil sangat dekat dengannya. Eijun berpikir ia harus menceritakan segalanya tentang dirinya adalah makhluk bumi -makhluk yang tidak dapat mati- kepada keluarga itu. Tapi, sebelum ia sempat menceritakannya orang tua Eitoku meninggal akibat kecelakaan mobil. Untungnya Eitoku kecil dan Eijun selamat, tapi tetap saja mereka kehilangan seseorang yang mereka cintai.

Akhirnya Eijun menyembunyikannya sampai saat Eitoku berumur 17 tahun. Eitoku tentu saja kaget dan Eijun sudah siap kalau dirinya akan diteriaki atau bahkan di usir karena telah menyembunyikannya selama bertahun-tahun. Tapi yang mengejutkan, Eitoku hanya mengangguk dan terlihat seperti sedang berpikir keras.

"Oh, ini menjelaskan mengapa dirimu masih bisa tampak begitu muda walaupun kita sudah bertahun-tahun disini."

Oke, Eijun memang bodoh. Ia juga tidak terpikirkan hal itu sampai saat Eitoku mengatakannya. Ya, meskipun Eijun sudah berumur 500 tahun atau bahkan lebih, tapi fisiknya terlihat seperti seorang remaja yang berusia 16 tahun.

Lalu Eijun diterima dalam keluarga Sawamura sekali lagi dan kini ia berperan sebagai cucu dari Sawamura Eitoku, Sawamura Eijun.

Rasanya lucu mengingat dirinya merupakan cucu dari temannya dan ia sering mengolok-olok Eitoku tentang itu yang berakhir berupa tamparan keras dipipinya.

Ia juga bermain sebagai seorang pitcher bisbol. Awalnya ia hanya memainkannya saat melihatnya dimajalah dan akhirnya keterusan. Ia membuat tim di SMP nya karena tidak ada klub baseball disana. Untungnya ada teman-temannya yang mau membantunya.


Saat ini Eijun sedang frustasi karena timnya kalah untuk masuk ke koshien. Ia gagal membawa mereka di tahun terakhirnya. Yang membuat Eijun lebih kesal adalah bahwa timnya diejek oleh tim lain dan berakhir Eijun memberinya tamparan keras -yang sering digunakan Eitoku kepadanya- kepada salah satu pemain yang mengolok-olok timnya.

Malu rasanya mengingat bahwa dirinya harus benar-benar membuat kesulitan pihak sekolah atau bahkan teman setimnya yang telah membantunya karena tindakannya.

Eijun berguling kesana kemari ditempat tidur yang tiba-tiba sebuah pintu terbuka keras yang menyebabkan Eijun jatuh dari tempat tidurnya.

Eijun meringis pada kepalanya yang berdenyut-denyut. "Aduh! Ada apa, Eitoku?! Tidak bisakah kau mengetuk pintu seperti orang normal?!" Pekik Eijun yang masih mengusap kepalanya yang sakit.

"Maaf, tapi bisakah kau memanggilku Kakek. Orang-orang akan memberi kita tatapan aneh apabila kau memanggil namaku seperti itu!" Bentak Eitoku disertai dengan sebuah pukulan di kepala Eijun.

Eijun meringis pada kesakitan yang bertambah pada kepalanya dan ia terus menggumamkan kata-kata seperti 'Kau bahkan bukan kakekku' atau 'Dasar kakek tua'. Eitoku hanya memutar matanya, berpura-pura ia tidak mendengarnya.

"Ada seseorang yang datang dari tokyo datang untuk mencarimu." Jelas Eitoku untuk alasan mengapa ia berada dikamar Eijun.

"Tokyo? Aku belum pernah berkenalan dengan seseorang dari tokyo." Eijun merasa heran ada seseorang yang datang mencarinya dari tokyo? Mengingat bahwa ia hanya bermain di wilayah nagano, kalaupun ia ke Tokyo, itu pasti sudah 40 tahun lamanya saat ia dan Eitoku masih tinggal di Tokyo.

Tanpa berpikir panjang, Eijun keluar dari kamar dan berlari menuju ruang tamu dan menukan seorang wanita yang memakai kacamata yang kini sedang berbincang dengan orang tua Eijun. Wanita itu berhenti berbincang ketika mendapati Eijun yang sudah berada dipintu.

Eijun yang merasa diberi dorongan oleh Eitoku pun duduk di sebelah ayahnya, Sawamura Eiji dan Eitoku pun duduk di sebelah kanan Eijun.

"Senang bertemu denganmu. Namaku Takashima Rei." Kemudian wanita yang dikenal dengan nama Takashima itu mendorong kartu ke arah Eijun sebelum melanjutkan. "Aku adalah asisten kepala tim bisbol SMA Seidou."

"Seidou? Apa itu?" Tanya Eijun sambil memiringkan kepalanya.

"Bodoh! Seidou adalah sekolah menengah yang terkenal karena klub bisbolnya! Sebagai seorang pemain bisbol, kamu harus tahu juga tentang hal-hal seperti itu mengingat kamu akan masuk ke SMA!" Dan kepala Eijun pun menjadi korban pukulan Eitoku lagi. Oke, jadi sebenarnya sistem pendidikan Eijun itu agak terlalu membingungkan. Ia harus mengganti namanya jika ingin terjun ke dunia sosial. Bahkan Eijun sampai lupa dengan nama aslinya, 'Tsumori Ei'.

Eijun lalu tersadar dan segera berdiri. "Tunggu? Lalu apa yang membuatmu datang jauh-jauh dari Tokyo kemari?" Eijun bertanya.

Takashima menyeringai. "Pitchingmu sangat menarik perhatianku. Apakah anda tahu? Saya menonton pertandingan terakhir anda dan itu menarik perhatian saya."

Eijun sudah tahu apa yang akan terjadi dan ia tak suka itu. "Dan?"

"Aku ingin mengundangmu ke Seidou dan bermain sebagi pitcher di tim saat anda SMA tentu saja." Ucapnya.

Eijun segera menggelengkan kepalanya demgan kuat. "Tidak, tidak, tidak. Aku sudah membentuk timku disini dan aku berjanji akan ke koshien bersama mereka. Dan..." Lelah berdiri, Eijun duduk dengan alis terangkat memandang Takashima sinis. "Kau menyuruhku untuk pergi jauh-jauh Tokyo hanya untuk bermain bisbol? Aku bisa bermain bisbol disini, jadi mengapa aku harus bermain pergi ke Tokyo untuk meninggalkan teman-temanku?"

"Kalau begitu kapan kamu bisa berkunjung?" Takashima bertanya sambil memperbaiki posisi kacamatanya -meskipun sama sekali tidak miring.

Keluarga Sawamura ternganga. 'Apakah dirinya mendengarkan apa yang kukatakan sebelumnya?' Pikir Eijun.

Tidak mau berdebat panjang, Eijun menerima tawaran itu dan memutuskan untuk pergi 3 hari yang akan datang, karena dirinya juga penasaran, akan seperti apa sekolah pembangkit tenaga listrik seperti Seidou yang dibanggakan oleh Takashima?


Eijun keluar dari kereta dan disambut dengan Takashima.

"Bagaimana perjalananmu, Sawamura-kun?" Tanya Takashima.

"Hmm, itu lumayan meski ada sedikit masalah." Sebenarnya masalah saat Eijun berada dikereta itu tidak bisa disebut sedikit. Ia hampir memasuki kereta yang salah dan malah turun di pemberhentian yang bukan tujuannya yang berakhir harus menunggu selama beberapa menit lagi untuk mendapatkan kereta kembali. Itulah sebabnya Eijun agak terlambat berada disana, tapi Takashima tak perlu tahu apa alasannya.


Mereka akhirnya berada di depan gerbang SMA Seidou yang membutuhkan 15 menit apabila menggunakan mobil.

Sekolahnya memang besar dan juga sangat bagus apabila Eijun bersekolah disini juga. Mereka berjalan menuju lapangan bisbol yang ternyata sangat besar. Mereka memiliki lapangan outdoor dan juga indoor juga banyaknya fasilitas yang menarik perhatian Eijun.

Eijun terkagum-kagum. Menyadari bahwa Takashima menyeringai berada dibelakangnya, ia segera membuang muka dan cemberut. "Kamu tidak perlu peralatan mahal hanya untuk bermain bisbol." Ucapnya berpura-pura tak tertarik.

Mereka berjalan menuju ke lapangan dimana tahun ketiga memukul lemparan tahun pertama.

'Klang'

'Klang'

'Klang'

"Hei, Kawakami!" Eijun menoleh untuk melihat asal dari teriakan itu. "Lemparan buruk macam apa itu? Baru segini sudah lelah?! Kalau kau tidak mau berubah, pulang dan kembali ke ibumu saja!" Teriak seorang pria gendut, yang menurut Eijun adalah tahun ketiga.

Eijun kesal dengan tingkah dari pria itu. "Siapa dia? Dia tidak menghormati rekan setim yang telah membantunya." Desis Eijun.

"Dia adalah monster dengan catatan 42 home run selama SMA, Azuma Kiyokuni. Dia akan ditarik ke liga tahun ini." Jelas Takashima.

Eijun merasa bahwa dirinya merasakan amarah dan ia pun mengambil nafas panjang.

"Dia mau menjadi pemain pro dengan badan itu? Jelas mustahil! Hahaha!!" Teriak Eijun. Takashima yang berada di belakangnya mencoba untuk menghentikannya melihat bahwa Azuma dengan marah datang kearahnya. Tapi Eijun tak menghiraukannya dan malah berteriak lagi.

"Bukankah sudah terlalu tua untuk bermain di sekolah menengah? Lebih baik kau beristirahat dirumah saja, Pak Tua!"

Sekarang Azuma dan Eijun sudah benar-benar berhadapan. Mereka bermain mata sebelum Takashima mulai berbicara.

"Nee~ maafkan anak ini Azuma-kun. Ia berasal dari desa jadi ia tidak tahu apa-apa." Mendengar ucapan Takashima membuat Eijun kesal. "Dia adalah pitcher, apa kamu mau mengajarinya sedikit tentang cara memukul?"

Eijun ternganga mendengarnya dan segera membantahnya. "Hei! Aku tidak bilang ingin bertanding."

Tapi terlambat karena Azuma menyeringai dan berbicara dengan nada yang sinis. "Heh, kau takut bocah?"

"Tentu saja tidak!"

Dengan begitu, mereka setuju dengan pertandingan dadakan, sampai seseorang menyela mereka.

"Nee Rei-chan, bisakah aku menangkap lemparan orang ini?"

Eijun membeku mendengar suara orang ini. Suara yang ia cari-cari selama berabad-abad. Dia muncul disini, dihadapannya.

"Kau kembali." Ucap Eijun pelan.

Eijun terus menatap orang itu dan ia tahu bahwa dia adalah Kazuya nya. Tapi apakah dia mengenal Eijun?

Ia memutuskan untuk berbicara dengan orang yang ia yakini dengan Kazuya saat dirinya diminta untuk berhanti pakaian dan melakukan peregangan.


Suaranya sangat bagus. Ia melempar ke arah mitt orang itu dan itu menghasilkan kepuasan bagi Eijun.

'Jika ini adalah Kazuya, ini pasti takdir karena kita akan menjadi baterai di kehidupan kali ini.' Pikir Eijun.

Mereka menang mengalahkan Azuma dengan 11 lemparan dan ini merupakan hasil prestasi terbesar dari Eijun sebagai seorang pitcher.


Eijun mencari-cari kemana orang itu pergi. Sang catcher yang mengkapnya malah pergi begitu saja begitu pertandingannya selesai.

Akhirnya Eijun pun menemukannya dan segera mendekati orang itu. Merasakan kehadirannya, orang itu berbalik menghadap Eijun. Dan 'Wow! Apakah ini Kazuya versi anak modern!!! Luar biasa!!!' Eijun begitu terpukau hingga ia tidak menyadari bahwa ia sudah menatapnya cukup lama.

"Erm...Ada apa?" Tanya pria itu dan suaranya begitu indah sehingga Eijun hampir terpukau sekali lagi jika ia tidak menahannya.

"Siapa namamu?" Eijun bertanya, karena apabila dia bisa salah mengenai pria muda dihadapannya ini.

"Miyuki Kazuya, dan kamu Sawamura Eijun. Rei-chan sudah memberitahuku tadi."

"Miyuki...Kazuya!?" Eijun sangat kaget sekaligus senang karena pria dihadapannya ini jelas adalah pria yang ia cari selama ini.

"Kau sudah kembali, apa kau mengingatku?" Eijun bertanya, berharap bahwa Kazuya akan mengingatnya.

Jawabannya hanyalah sebuah gelengan pelan yang membuat Eijun menjadi sedih. 'Tentu saja. Kemungkinan dirinya akan ingat denganku hanya 0,01%.' Pikir Eijun.

"Oh, kalau begitu, kurasa kita harus membuat kenangan lagi." Gumam Eijun dengan semangat. Ia merasa dirinya harus bersyukur dengan adanya Kazuya berdiri dihadapannya dan yang perlu ia lakukan hanyalah membuat kenangan kembali untuk mengejar ketinggalan yang mereka buat.

Eijun tersenyum dan melambaikan tangannya pada Kazuya. "Kalau begitu, samlai jumpa Miyuki Kazuya! Kita pasti akan bertemu kembali, jadi jangan lupakan aku!"

Eijun berlari dan menuju ke mobil Takashima dimana ia sedang menunggu Eijun untuk mengantarkannya ke stasiun.

'Miyuki Kazuya, ya. Nama yang bagus. Kurasa aku harus memanggilnya Miyuki-kun? Miyuki-san? Miyuki-senpai? Huh! Terdengar tidak cocok dilidahku. Aku akan memanggilnya Miyuki Kazuya saja kalau begitu.' Pikir Eijun sambil terkikik.

Dan disitulah ia memutuskan untuk menghadiri Seidou dan menjadi baterai dengan Miyuki Kazuya.

'Tunggu aku, Kazuya.'

Bersambung....


Di wattpad juga ada kok, jadi kalau punya aplikasinya di vote juga ya. Hahaha.

Sampai jumpa di episode berikutnya!!!