Sekarang tim Seidou sedang berkumpul di sebuah bus untuk pertandingan melawan Ichidaisan. Para pemain pastinya berapi-api dan berharap kemenangan akan terjadi menjadi miliknya.

Eijun yang sedang berdiri disamping Kuramochi dan Masuko sedang bersemangatnya memberikan kata-kata untuk Kuramochi yang akan bertanding. Tiba-tiba ia teringat bahwa ia melupakan sesuatu dikamarnya. Eijun berlari melewati beberapa pemain untuk kembali ke kamarnya.

Setelah ia kembali, bus yang tadi ada disana sekarang sudah tidak ada.

"Oh Tidak!!! Apa mereka melupakanku? Bagaimana ini mungkin?!" Eijun berteriak sambil mengacak-acak rambutnya, kesal karena tidak bisa menonton pertandingan para senpai.


(Didalam bus)

"Are, Miyuki. Bakamura dimana?" Tanya Kuramochi sambil melihat sekeliling untuk mencari sang kidal tertentu.

"Sawamura? Kupikir dia bersamamu?" Jawab Miyuki sembari mengerutkan kening yang membuat Kuramochi semakin bingung.

"Apa kau mencari Sawamura, senpai?" Tanya salah satu tahun pertama yang tidak sengaja mendengar pembicaraan para senpai itu.

"Uh. Ya begitulah." Balas Kuramochi sedikit kaget dengan kedatangan bocah itu.

"Tadi aku melihat bahwa Sawamura sedang berlari menuju asrama. Sepertinya melupakan sesuatu. Mungkin sekarang dia tertinggal bus." Jelas tahun pertama.

Kuramochi menghela nafas mengetahui betapa bodohnya Eijun. Padahal dirinya ingin menunjukkan aksi kehebatannya pada kohai nya. Bisakah ia memutar bus ini dan menjemput Eijun? Tidak, mereka akan terlambat apabila ia melakukannya.

Dengan frustasi, Kuramochi langsung duduk di samping Miyuki, mengejutkan yang lain disertai dengan protes yang tak dihiraukan oleh Kuramochi.


Karena bosan, Eijun berjalan mengitari lapangan, berharap menemukan sesuatu yang menarik. Melihat sekeliling, Eijun akui bahwa lapangan ini sangat luas apabila tidak ada seorang pun disana. Ia melihat-lihat dan mulai membayangkan sesuatu yang tidak perlu -seperti mengapa awan berbentuk seperti kapas, mengapa tumbuhan hidup dengan tanah yang menopangnya dan lain-lain- sebelum sebuah suara menghentikan pikiran tersebut.

"Apa kamu juga tertinggal?" Tanya seorang pria bertubuh tinggi.

"Em, begitulah. Dan, 'juga'? Apakah kamu juga tertinggal?" Tanya Eijun agak merasa senang bahwa bukan hanya dirinya yang tertinggal disini.

Pria itu menganggukkan kepalanya menandakan bahwa dirinya juga tertinggal.

Eijun tersenyum dan menyodorkan tangan ke pria itu. "Namaku Sawamura Eijun, senang rasanya aku tak sendirian disini."

Pria itu menatap tangan Eijun cukup lama yang membuat Eijun merasa canggung sebelum membalas salam itu yang membuat Eijun menghembuskan nafas lega.

"Furuya Satoru." Ucapnya.

Eijun melihat bahwa Furuya ternyata membawa sebuah bola bisbol ditangannya.

"Apa kau pitcher?" Tanya Eijun.

"Ya"

Eijun semakin bersemangat. "Apa kau ingin bermain lempar tangkap? Aku sudah bosan disini."

Furuya dengan ragu-ragu menjawab. "Erm, tapi sebelumnya tidak ada yang bisa menangkap lemparanku."

"Lemparanku juga susah ditangkap."

Mereka pun bermain lempar tangkap yang dimulai dengan Furuya. Furuya bersiap untuk melempar dan...

'Slam!'

Bola mendarat dengan cepatnya ke sarung tangan Eijun.

"Wowww Furuya. Pitch mu sangat cepat. Baru kali ini aku melihat lemparan sekolah menengah secepat itu. Apa kau benar sekolah menengah?" Tanya Eijun yang begitu terpukau dengan lemparan Furuya.

Furuya yang melihat bahwa bola yang dilemparkan berada di sarung tangan Eijun, gembira karena ternyata ada yang bisa menangkap lemparannya selain Miyuki. Furuya datang ke Seidou hanya untuk menjadi baterai dengan Miyuki yang bisa katanya bisa menangkap segala lemparan. Di sekolahnya dulu, para catcher selalu kesulitan menangkap lemparannya, jadi mengetahui bahwa ada seseorang yang bisa menangkap lemparannya membuat dirinya senang.

"Sawamura, jadilah catcher ku." Ucap Furuya dengan seenaknya.

"Mana bisa? Aku ini juga seorang pitcher. Dan sekarang aku akan melempar, lebih baik bersiaplah!" Teriak Eijun. Sebenarnya Eijun bisa menangkap lemparan secepat itu karena dirinya juga sudah pernah berlatih dengan rekan-rekannya dulu. Ia bahkan bisa menangkap bola yang lebih cepat dari itu.

Akhirnya mereka bermain lempar tangkap selama satu jam lamanya. Mereka berdua kelelahan dan duduk di tengah lapangan.

"Pitch mu menjijikan." Ucap Furuya tiba-tiba.

Eijun merasa tersinggung mendengarnya."Hah?! Maksudmu apa?"

"Pitch mu susah sekali ditangkap, itu sering pecah." Jelas Furuya.

"Oh." Bukan pertama kalinya bagi Eijun mendengar bahwa pitch nya sangat susah ditangkap. Dulu para cathcer dari timnya dulu sering lari apabila Eijun datang untuk meminta menangkap lemparannya.

"Ne, Furuya." Ucap Eijun. "Mari berteman!"

Furuya yang mendengarnya segera menoleh ke Eijun, seolah tidak percaya apa yang didengarnya. Eijun melihatnya.

"Apa kau tidak mau?" Eijun berkata canggung dan takut kalau ia akan ditolak. Sejauh ini, dirinya tidak mempunyai teman di Seidou. Ia akrab dengan par senpai, tapi tidak dengan tahun pertama lainnya.

"Apa aku boleh berteman?" Ucap Furuya mengejutkan Eijun.

"Tentu saja!" Eijun berteriak. "Bahkan jika kamu tidak mau, aku tetap akan menjadikanmu temanku."

Furuya tersentak mendengarnya. Baru kali ini ia diminta menjadi seorang teman. Biasanya semuanya akan meninggalkannya sendirian. Mendengar ucapan kidal membuat Furuya senang.

"Kita bisa." Kata Furuya. "Tapi aku tidak tahu bagaimana cara berteman. Ini pertama kalinya."

Eijun tersenyum mendengarnya. "Kita tak perlu adanya aturan, cukup dengan mengobrol, berbagi hal menarik, melakukan sesuatu bersama, dan menggunakan nama depan." Jelas Eijun.

"Nama depan?"

"Ya. Sekarang kamu bisa memanggilku Eijun, dan aku akan memanggilmu Satoru. Bagaimana dengan itu?"

Furuya mengangguk senang. Sebuah senyuman tipis terlukiskan di wajah datarnya itu dan Eijun melihatnya.

"Satoru, kau tersenyum." Ucap Eijun.

Tangan Furuya dibawa ke atas untuk menyentuh bibirnya dan memang dirinya tersenyum. Ini pertama kalinya ada orang lain yang membuatnya tersenyum kecuali kakeknya.

Furuya segera membuang muka untuk mendapatkan eksperesinya yang lama membuat Eijun tertawa.

Mereka mengobrol ria -tepatnya hanya Eijun dan Furuya hanya mendengarkan- dan menyadari bahwa tim sudah pulang dari pertandingan.

Eijun segera mengucapkan selamat tinggal dan berlari mendekati Kuramochi yang akan menuju ke asrama.

"Senpai, beraninya kau meninggalkan Sawamura Eijun ini disini." Ucap Eijun sambil mengerucutkan bibirnya.

Miyuki yang kebetulan mendengarnya, tertawa yang membuat Eijun kesal.

"Miyuki Kazuya! Untuk apa kau tertawa?!" Teriak Eijun yang langsung dihadiahi tendangan oleh Kuramochi.

Mereka bercanda selama perjalanan ke asrama. Eijun kesal bahwa ia tidak bisa menonton pertandingan Miyuki, tapi dirinya senang mendapatkan teman baru.

Bersambung...