POV MIYUKI KAZUYA
1 bulan sudah berlalu semenjak penerimaan anggota baru. Miyuki merasa senang mengetahui bahwa Eijun juga pergi ke Seidou, tak tahu mengapa. Ia belum bertanya kepada Eijun tentang pembicaraan satu tahun yang lalu. Bukannya Miyuki lupa, melainkan tak adanya celah baginya untuk berbicara kepada Eijun. Dia selalu dikelilingi oleh banyak orang, tidak seperti dirinya. Ia merasa ingin tertawa megingat perbedaan tentang sang kidal dan dirinya yang sangat berbeda. Bukannya ia membencinya, hanya saja rasa iri akan pergaulannya dengan rekan setim yang baik, tak seperti dirinya.
Miyuki sedang berjalan ke kafetaria untuk makan malam. Di sepanjang jalan, ia menebak-nebak apa menu untuk hari ini. Tak berguna, tapi dapat mengurangi rasa bosan yang ada di malam hari. Kuramochi, teman satu-satunya -meski tak mau mengakuinya- akan terlambat untuk makan malam karena ada beberapa urusan yang membuat Miyuki menjadi sendirian.
Memasuki kafetaria, ia segera mengambil nampan, tak lupa mengucapkan terima kasih kepada para juru masak. Kafetaria sudah penuh dengan para pemain. Mungkin sudah tak sabar dengan permainan yang akan datang, pikirnya. Mata amber nya mencari-cari pemain kidal tertentu yang pasti akan menjadi yang paling berisik di beberapa pemain. Tapi, itu membuatnya mudah untuk menemukannya.
"Hahaha!!! Kau tahu? Jika seperti ini…."
Ah, baru saja ia memikirkannya dan suara keras itu muncul. Miyuki melirik ke arah sumber suara dan menemukan Eijun yang sedang tertawa keras walau mulutnya masih penuh dengan makanan. Dia tidak sendirian, ada lelaki jangkung disebelahnya yang sepertinya adalah temannya. Miyuki merasa kagum dengan Eijun yang akan mendapatkan teman dengan begitu mudah, tapi mengingat sifatnya, sepertinya itu bukan hal yang mustahil.
Miyuki mendekatinya dan segera duduk di samping Eijun yang kebetulan kosong. Menyadari kehadirannya, Eijun menghadap ke arahnya dan memiringkan kepalanya. Imut. Pikir Miyuki namun segera ditepisnya.
"Miyuki kenapa duduk disini?"
"Hee~~~ jadi aku tak boleh duduk disini? Jahatnya~~~" Goda Miyuki dengan tambahan seringai miliknya. "Dan juga tambahkan senpai untukku, aku seniormu, lho."
"Bukan seperti itu, hanya saja biasanya kau duduk dengan Kuramochi-senpai." Ucap Eijun yang sepertinya tak mendengarkan ucapan terakhirnya. Miyuki menghela nafas tapi tetap membalas.
"Kuramochi sedang punya urusan, jadi dia akan telat." Jelas Miyuki.
Eijun hanya ber-oh ria saja sebelum kembali menyantap makanannya, dan Miyuki mengikutinya. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Eijun seperti yang sudah direncanakannya, tapi rasanya tidak sekarang. Tempat ini sedang ramai dan juga ada banyak pemain, dan yang akan dibicarakan juga sepertinya bersifat pribadi. Miyuki bukan tipe yang akan membawa urusan pribadi ke tim. Kurasa aku akan menanyakannya nanti setelah selesai, pikir Miyuki.
"Ne, Miyuki-"
"Senpai." Potong Miyuki masih fokus dengan makanannya. Ia mendengar Eijun menggerutu sebelum melanjutkan ucapannya.
"Miyuki-senpai," Eijun memulai dengan sedikit paksaan pada kata 'senpai' yang membuat Miyuki geli. "Semuanya jadi pendiam, apa akan terjadi sesuatu?" Tanya Eijun.
Miyuki menghadap ke arah Eijun dan mengangkat alisnya. "Kau belum tahu? Besok tahun pertama akan bertanding melawan para senpai." Jelas Miyuki.
"Apa?! Kenapa aku tak diberitahu?!!!" Kesal Eijun diikuti dengan berbagai kutukan untuk para senpai karena tak memberitahunya.
Miyuki yang melihat reaksinya bisa menebak bahwa Eijun belum tahu apapun tentang pertandingan ini. Yah, dirinya lupa apabila Eijun itu bodoh, walau para pemain mungkin sering membicarakannya, tapi dia masih tidak tahu dan itu adalah hal yang wajar.
Miyuki menggelengkan kepalanya sebelum melanjutkan. "Tahun pertama biasanya hanya boleh latihan fisik. Mereka masih belum bisa ikut latihan di tim inti. Tapi setelah pertandingan terakhir, semuanya berubah-"
"Miyuki-senpai," Ucapan Miyuki terpotong oleh seseorang yang duduk di samping Eijun yang sudah ia lupakan. "Di pertandingan besok aku tidak akan membiarkan siapa pun memukul lemparanku. Setelah itu maukah kau menangkap lemparanku?"
Dan perkataaan itu membuat para senpai menyerbu meja makan Miyuki. Dan Miyuki sendiri, jujur merasa agak terkejut dengan kepercayaan diri tahun pertama tersebut. Apakah tahun pertama sekarang semuanya kurang ajar?
"Berhentilah mengganggunya." Suara yang tegas menginterupsi mereka. "Satu-satunya tempat kita bertarung adalah di lapangan baseball." Dan dengan itu, para pemain bubar ke tempat masing-masing dan mlanjutkan memakan makanan mereka yang tertunda.
Miyuki merasa lega dengan Tanba yang berbicara kepada mereka, karena Miyuki sedang tak ingin berurusan dengan masalah senpai, apalagi yang membuatnya ialah tahun pertama. Miyuki melirik kohai yang berada di sampingnya. Dia merasa tak terganggu dan masih menyantap makanannya seolah tak ada yang terjadi. Miyuki heran. "Sepertinya kau merasa tak terganggu dengan itu dengankejadian barusan."
Eijun menghentikan sumpitnya dan segera menatap Miyuki. "Bukankah dalam baseball kepercayaan diri itu penting? Jika para pemain tidak percaya diri dengan permainannya, mereka sudah dipastikan akan kalah." Balas Eijun dengan santainya.
Miyuki tercengang mendengarnya. Siapa sangka si kohai bodohnya ini dapat mengatakan hal yang tak terduga seperti ini? Sekali lagi hal itu membuat Miyuki merasa kagum dengan Eijun. Lalu ia pun teringat bahwa ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Eijun nanti.
"Sawamura, setelah mandi nanti ada yang ingin kubicarakan."
Eijun terlihat bingung pada awalnya namun segera mengiyakan. "Boleh, dimana?"
Miyuki berpikir sebentar. Benar juga, jika ini adalah pembicaraan pribadi, ia tidak boleh memilih tempat yang ada banyak orang. Jika itu dikamarnya, itu tidak akan berguna karena ada Kimura -teman sekamarnya yang baru- yang pasti akan beristirahat dikamar karena latihan tadi. Ia tak ingin mengusirnya hanya karena ingin berbicara dengan Eijun.
"Di mesin penjual otomatis, aku akan menunggu disana." Ini adalah tempat yang bagus menurutnya. Tak ada yang aneh apabila melihatnya berbicara dengan Eijun disana. Ia juga bisa mendapatkan minuman, jadi itu adalah tempat yang bagus untuk berbicara.
"Ok, kalau begitu sampai jumpa nanti Miyuki Kazuya." Ucapnya lalu berdiri dengan nampannya yang sudah kosong.
"Itu senpai untukmu." Miyuki memperingatinya, tapi tak ditanggapi olehEijun. Eijun lalu mengembalikan nampan itu sebelum keluar dari kafetaria bersama teman yang tadi ada disampingnya yang tak diketahui namanya oleh Miyuki.Miyuki menghela nafas dan melanjutkan makannya yang masih banyak.
Miyuki menunggu di bangku samping mesin penjual otomatis, menunggu Eijun. Di tangannya sudah ada pocari dingin yang mungkin sekarang sudah tak dingin lagi karena menunggu terlalu lama. Miyuki menghentakkan kakinya, ini sudah 20 menit ia menunggu tapi tak ada tanda-tanda Eijun disana. Miyuki berpikir mungkin Eijun melupakannya, jadi ia berdiri untukberjalan kea rah asrama sebelum suara teriakan menghentikan langkahnya.
"Miyuki Kazuya! Jangan pergi dulu!"
Miyuki berbalik dan mendapati Eijun yang sedang berlari ke arahnya. Eijun berdiri didepannya dengan terengah-engah, membingungkan Miyuki.
"Kau habis lari maraton atau apa?"
Eijun masih terengah-engah mengatur nafasnya sebelum berdiri dengan kedua tangan dipinggangnya. "Kuramochi-senpai menyuruhku untuk bermain game dengannya, talu aku kabur dan seperti inilah jadinya."
Miyuki hanya ber-oh ria saja. Ia tahu sifat Kuramochi dan mempunyai tebakan bahwa dia memaksa Eijun untuk bermain Mario game bersamanya.
"Ngomong-ngomong senpai, kenapa kau mengajakku kemari?"Tanya Eijun membuat Miyuki teringat tujuan ia berada disini. Ia lalu duduk di bangku yang sebeumnya didudukinya juga, danmembuat isyarat agar Eijun duduk disampingnya. Eijun menuruti dan segera duduk di sampingnya sebelum dirinya memulai.
"Aku ingin bertanya apa maksud dari perkataanmu waktu itu. Kau tahu? Aku sering mendapatkan perasaan aneh semenjak kau bicara denganku pertama kali." Miyuki menoleh ke Eijun. "Bisa kau jelaskan padaku?"
Eijun menunduk dan bergumam sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Miyuki.
"Apa?"
"Yah, sebenarnya waktu itu bukanlah waktu kita pertama kali bertemu, Miyuki." Ucap Eijun masih dengan menundukkan kepalannya. Miyuki mengeryit bingung, kalau bukan pertama kalinya apakah ia sudah pernah bertemu dengan Eijun sebelumnya? Itu tidak mungkin, karena ia tidak bisa mengingat orang yang bernama Sawamura Eijun di memori nya.
Melihat wajah bingung Miyuki, Eijun melanjutkan dan kali ini ia berhadapan dengan Miyuki sehingga ia bisa melihat wajahnya. "Kau tak bisa mengingatnya dan aku tahu itu. Itu bukanlah kenangan yang akan ada dalam memorimu." Lalu Eijun berdiri. "Tapi, aku pastikan kau akan mengingatnya dengan aku yang akan menceritakan semuanya kepadamu. Jadi sampai saat itu silahkan menunggu, Miyuki Kazuya!"
Miyuki bingung dengan penjelasan Eijun. Tapi sebelum ia sempat bertanya Eijun sudah kabur entah kemana. Berdiri, ia pun berjalan ke asrama. Daam perjalanan, ia merasa bingung dengan setiap kata-kata Eijun kepadanya.
Apakah aku menderita amnesia? Kurasa tidak karena aku tak pernah berada dalam kecelakaan sekalipun.
Bersambung...
Maaf kalau typo dan kata-kata yang sepertinya kurang jelas.
Sampai jumpa di episode selanjutnya!!!
