POV Sawamura Eijun

Ia benar-benar marah. Besok ada sebuah pertandingan dan ia sama sekali tidak tahu tentang itu? Salahkan saja 2 senpainya yang tidak mau memberitahunya.

Sehabis di kafetaria, ia langsung berlari ke arah kamarnya. Mendobrak pintu kamar dengan begitu keras, mengejutkan Kuramochi yang sudah ada disana.

"Hei! Jika pintu itu rusak, maka kau yang akan menggantinya!" Bentak Kuramochi ketika melihat tingkah laku adik kelasnya.

Eijun tak menanggapinya dan segera berteriak. "Kenapa aku tidak diberitahu tentang pertandingan besok?! Aku hampir tidak akan punya persiapan jika bukan karena Miyuki memberitahuku." Ucapnya cemberut.

Kuramochi diam, tak tahu berkata apa. Ia tidak akan menyangka bahwa adiknya akan begitu bodoh untuk melewatkan info itu. Keheningan mungkin sudah begitu lama karena ia bisa melihat bahwa tingkah laku Eijun yang tampak canggung melihatnya.

"Yah, kupikir kau sudah tahu tentang itu,bodoh." Ucap Kuramochi pada akhirnya.

Eijun hendak memprotes pada bagian 'bodoh' yang diberikan sebelum Kuramochi mulai melanjutkan. "Tapi, pertandingan ini tidak hanya penting untukmu saja. Kau tahu bukan, jika Masuko sering kembali larut malam hanya untuk berlatih?" Eijun mengangguk. "Pertandingan ini adalah untuk membuktikan kemampuan para pemain. Jadi ini adalah pertandingan yang yang sangat penting bagi senpai yang bahkan tak ada di string pertama."

Eijun tersadar. Ia tentunya marah karena tak diberitahu, tapi ia sepenuhnya sadar bahwa para pemain baseball disini sudah sangat menantikannya lebih daripada dirinya. Sebentar para tahun ketiga akan segera lulus, dan apabila mereka tidak dapat membuat string pertama yang hanya beranggotakan 20 orang, karir baseball SMA nya akan habis pada saat itu juga. Berbeda dengan para tahun pertama ataupun tahun kedua yang masih bisa mendapatkan kesempatan pada tahun berikutnya.

Eijun hanya terdiam. Ia mengambil beberapa peralatan pemandian dan segera berjalan menuju pemandian meninggalkan Kuramochi sendirian.


Eijun membuka bajunya dengan sedikit murung. Ia masih memikirkan perkataan Kuramochi tadi. Ia tahu dan sepenuhnya sadar akan itu, mengapa hatinya merasa seperti ada yang janggal?

Membuka pintu pemandian, ia segera ditunjukkan Kataoka yang sudah berendam disana. Eijun terkejut namun dengan cepat pulih kembali sebelum berjalan untuk membilas tubuhnya. Mengapa rasanya déjà vu sekali?

Eijun memilih untuk berendam disudut yang berlawanan dengan Kataoka. Ia menyeringai dan bertanya. "Kau juga tak memberitahuku tentang pertandingan itu, Tesshin."

Kataoka mengerutkan dahinya pada kata 'juga', namun segera mengerti bahwa yang dimaksud adalah teman sekamar Eijun. "Tidak masalah, lagipula kau juga akan melempar melawan mereka, bukan?"

Benar, Eijun selalu menantikan hari dimana ia akhirnya dapat melampar kembali. Ia kembali melamun. "Semakin lama manusia makin tumbuh, ya." Kata Eijun sambil nyengir bodoh.

Kataoka memutar matanya. "Jika yang kau khawatirkan adalah tahun ketiga, maka itu tidak akan masalah."

Eijun mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Dalam baseball, satu pertandingan akan menentukan segalanya. Jika yang kau khawatirkan adalah tahun ketiga, mereka memiliki ambisi yang besar sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan." Kataoka pun bangkit daribak mandi dan meninggalkan Eijun disana.

Eijun berpikir tentang perkataan Kataoka. Ia merasa bersalah karena telah menganggap tahun ketiga itu lemah. Ia lupa bahwa ini adalah Seidou, sekolah baseball pembangkit tenaga listrik di Tokyo dengan puluhan pemain berbakat. Mereka tak akan putus asa hanya karena tak mendapatkan string pertama atau yang lainnya. Ia pun menyudahi acara mandinya dan segera keluar dari bak mandi.


"Oh, kau sudah kembali. Ayo bermain game denganku!" Ucap Kuramochi ketika Eijun sampai dikamarnya.

Eijun ingin mengiyakan namun dirinya segera teringat bahwa ia punya janji dengan Miyuki. "Maaf senpai, aku sudah ada janji dengan Miyuki. Mungkin nanti." Tolak Eijun.

Kuramochi jelas tidak senang. "Hah! Sekarang kau membuat alasan untuk tidak bermain dengan seniormu? Akui saja jika kau tidak mau." Kata Kuramochi sambil memiting kepala Eijun.

"M-maaf senpai, t-tapi aku tak bohong! Tanyakan saja kepada Miyuki!" Teriak Eijun.

"Hah?! Sekarang kau berani memerintah seniormu? Dasar kohai tidak sopan!" Kuramochi mengeratkan pitingannya yang menyebabkan Eijun meringis kesakitan.

Merasa bahwa Miyuki pasti sudah menunggu, ia pun kabur disaat Kuramochi sedang lengah. Ia mungkin akan dimarahi habis-habisan, tapi ia tak peduli.


"Miyuki Kazuya! Jangan pergi dulu!" Teriak Eijun ketika ia mendapati Miyuki yang akan meninggalkan tempat itu.Ia terengah-engah mengatur nafasnya. Ia berpikir ternyata susah juga kabur Kuramochi.

"Kau habis lari maraton atau apa?"

Maih terengah-engah, Eijun pun berdiri dengan kedua tangan dipinggangnya. "Kuramochi-senpai menyuruhku bermain game dengannya, lalu aku kabur dan seperti inilah jadinya." Eijun meringis memikirkan betapa sakitnya kepalanya yang menjadi korban gulat senpai nya.

Miyuki hanya sepertinya mengerti dan Eijun pun bertanya. "Ngomong-ngomong senpai, kenapa kau mengajakku kemari?" Eijun bingung karena mengapa Miyuki memanggilnya kesini juga sepi seperti ini.

Miyuki pun segera duduk dibangku dan membuat isyarat agar ia juga duduk disampingnya. Eijun menurutinya.

"Aku ingin bertanya apa maksud dari perkataanmu waktu itu. Kau tahu? Aku sering mendapat perasaan aneh semenjak kau bicara denganku pertama kali. Bisa kau jelaskan padaku?"

Eijun membeku sesaat. Ia tidak akan menyangka Miyuki akan menanyakan itu. Meski dirinya telah membuat perkiraan bahwa Miyuki akan mengingatnya suatu hari, tapi ia tak akan menyangka jika itu secepat ini. Dirinya tidak tahu harus merasa senang atau sedih.

Ia menunduk, melihat kakinya yang bergerak lucu kesana kemari. "Mungkin ini terlalu cepat, Kazuya." Gumamnya pelan memastikan Miyuki tak bisa mendengarnya.

"Apa?"

"Yah, sebenarnya waktu itu bukanlah waktu kita pertama kali, Miyuki." Jelas Eijun sambil menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang akan turun dari sudut matanya sebelum melanjutkan. "Kau tak bisa mengingatnya dan aku tahu itu. Itu bukanlah kenangan yang akan ada dalam memorimu." Ia berdiri. "Tapi, aku pastikan kau akan mengingatnya dengan aku yang akan menceritakan semuanya kepadamu. Jadi sampai saat itu silahkan menunggu, Miyuki Kazuya!"

Eijun merasa bahwa ia akan menangis saat itu juga. Lalu ia kabur meninggalkan Miyuki disana. Rasa sakit yang ada dalam hatinya memikirkan kenangan masa lalu. Setelah tahu bahwa Miyuki (Kazuya) sudah mati, rasanya ia menjadi sangat hancur. Kenangan-kenangan yang terus muncul dimimpinya menjadikan rasa sakit tersendiri. Rasa rindu, frustasi tak bisa menyelamatkan, dan rasa bodoh karena tak bisa melupakannya.

Ia berlari menuju kekamarnya. Kuramochi terkejut dengan penampilannya dan segera menanyakan mengapa ia menangis. Eijun tak menjawab dan langsung memeluk Kuramochi seperti meminta pertolongan. Sekarang, yang ia butuhkan hanyalah sebuah penghiburan. Untungnya Kuramochi tak bertanya apapun dan menenangkannya sementara ia menangis. Dalam hati, Eijun tahu bahwa ia beruntung memiliki senpai yang baik hati sepertinya.

Bersambung….

Agak membosankan, ya. Yah, ini adalah lanjutan dari chapter 6 dari sudut pandangnya Eijun.

Maafkan kalau ada yang typo dan ada kata-kata yang kurang dimengerti.

Sampai jumpa di episode selanjutnya!!!