Eijun membuka matanya dan mendapati dirinya berada ditempat tidurnya. Sudah dipastikan bahwa ia menangis sampai tengah malam hingga Kuramochi harus membawanya ke tempat tidur. Membuka ponselnya dan sedikit tersentak ketika kecerahan tiba-tiba yang memancar darinya. Saat ini masih sangat pagi, bahkan alarm nya akan berbunyi satu jam lagi. Ia beranjak dari tempat tidurnya adan menemukan para senpainya yang masih tertidur lelap. Keluar dari kamar, bermaksud untuk membasuh wajahnya yang berantakan karena semalam.
Ia meregangkan tubuhnya sambil menghirup udara pagi yang segar. Dirinya sudah terbiasa dengan Seidou sekarang. Meski ia tidak diperbolehkan untuk melempar entah sampai kapan, para senpai sangat baik kepadanya dan itu membuatnya mudah untuk berbaur dengan mereka. Meski saat ini yang dapat ia percayai sebagai teman hanyalah Miyuki, Kuramochi, Masuko, dan Furuya. Tapi berkat keempat orang tersebut, Eijun tidak merasa sendirian.
Saat memasuki kamar mandi, Eijun berjalan menuju wastafel. Melihat wajahnya yang saat ini benar-benar menyeramkan. Dengan mata sembab, rambut yang acak-acakan, dan muka yang pucat. Eijun tidak tahu mengapa ia harus menangis pada malam itu. Namun, ingatan tentang 500 tahun yang lalu terus menghantuinya.
Dirinya senang Kazuya-nya telah kembali, namun tanpa ingatan akan dirinya membuat Eijun merasa bahwa Miyuki hanyalah orang asing. Itu menyedihkan. Eijun menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menghilangkan pikiran itu. Bagaimana pun Eijun sudah berjanji kepada Miyuki untuk membuatnya ingat kembali. Ia sudah sampai sejauh ini dan ia tidak boleh menyerah, tidak ketika tujuannya sudah ada tepat didepan mata.
"Sawamura?" Suara itu mengejutkan Eijun yang sedang berdiri didepan wastafel. Eijun menoleh kearah suara itu untuk melihat Miyuki yang sedang berdiri didepan pintu. Dia masih memiliki rambut yang acak-acakan dan dilihat bahwa Miyuki baru saja bangun. Tapi wajahnya yang tampan, membuatnya tetap keren walau dia masih dalam keadaan setengah bangun seperti ini. Itu membuat Eijun iri.
"Miyuki-senpai, kau sudah bangun?" Tanya Eijun untuk memulai pembicaraan.
"Yah begitulah. Aku agak kesulitan untuk tertidur semalam." Balas Miyuki lalu melangkah untuk berdiri disamping Eijun. Jika diperhatikan, Miyuki memang memiliki kantung mata hitam dibagian bawah matanya. Melihat itu, Eijun merasa bersalah. Pasti karena pembicaraan semalam.
"Kalau begitu aku permisi. Sampai jumpa lagi dilapangan." Setelah itu, Eijun langsung berjalan menuju kamarnya, tak membiarkan Miyuki untuk membalasnya. Ia tak mau membuat Miyuki khawatir karena matanya yang masih merah.
Tapi Eijun tidak sadar bahwa Miyuki sudah melihatnya dan menjadi sangat khawatir karenanya.
0o0o0o0
Latihan sudah dimulai. Pemain string kedua dan string ketiga sangat menantikan pertandingan yang akan datang dengan menatap tajam ke tahun-tahu pertama seperti menemukan mangsa. Sangat berbeda dengan tahun pertama yang sangat lesu. Mereka menganggap bahwa pertandingan ini adalah pertandingan neraka. Bertanding melawan para senpai setelah lulus dari SMP? Itu tidak adil, itulah yang dipikirkan hampir semua pemain tahun pertama.
Eijun yang sedang melakukan pemanasan bertanya pada Furuya yang berada disampingnya. "Apa kau juga gugup, Satoru?"
Furuya menatapnya sebentar sebelum kembali fokus dengan peregangannya lagi. "Tidak." Hanya itu jawaban singkat dari Furuya.
Eijun hanya tersenyum datar mendengarnya. Akan sangat memalukan apabila seorang siswa yang menantang para senpai semalam akan gugup bahkan sebelum pertandingan dimulai.
"Bagaimana denganmu, Eijun?"
Eijun tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. "Aku agak ragu dengan perasaanku. Lagipula ini pertama kalinya aku melempar sebagai pemain bisbol Seidou." Memang benar, ini adalah pertama kali ia melempar –selain bermain lempar tangkap dengan Furuya kemarin- sebagai pemain Seidou. Ia juga agak ragu bahwa dirinya akan melempar pada pertandingan ini. Dengan adanya Furuya yang memiliki lemparan super cepat, Eijun ragu Kataoka akan membiarkan ia bermain dengan posisi sebagai seorang pitcher.
Furuya mengangguk ketika wasit memanggil mereka untuk segera memulai pertandingan.
0o0o0o0
Situasinya benar-benar buruk, atau mungkin sangat buruk bagi sebagian tahun pertama. Mereka memulai pertandingan dengan pitcher bernama Toujo Hideaki, seorang pitcher yang luar biasa di SMP- nya. Namun, meski dia adalah seorang Ace di sekolah sebelumnya, Toujo tetap tidak bisa melawan kekuatan para senpai.
Para senior bahkan tak menahan kekuatan mereka. Dan dapat dilihat pada setiap mata pemain, bahwa mereka mengharapkan Furuya untuk segera mengambil alih gundukan. Eijun dapat mengetahui bahwa para senpai sangat terprovokasi oleh perkataan Furuya yang blak-blakan kemarin.
Suasana di ruang istirahat tahun pertama dapat terlihat sangat suram. Tak ada seorang pun yang berteriak untuk menyemangati rekannya yang berada dilapangan, padahal semua itu dibutuhkan bagi para pitcher agar mereka tidak tegang ataupun kehilangan kendali lemparan mereka.
Melihat ini Eijun menggertakkan giginya. "Apakah kalian ingin berhenti disini dan membiarkan para senpai mengambil alih permainan?" Tanya Eijun tajam mengejutkan semua pemain yang berada disekitarnya. "Apakah kamu bahkan ingin menang dipertandingan ini, atau hanya ingin membuang-buang waktu yang bahkan dapat kita gunakan untuk berlatih? Aku merasa kasihan kepada para senpai." Eijun meninggikan suaranya agar semuanya dapat mendengarnya dengan jelas.
"Apakah dia ingin menimbulkan masalah bahkan dipertandingan?" Kuramochi mendesah berat melihat tingkah laku Eijun. Para pemain string pertama tentunya tak melewatkan pertandingan ini. Mereka menonton pertandingannya dibalik pagar bersama dengan para alumni. Kuramochi yang berdiri agak dekat dengan ruang istirahat, tentunya mendengar pembicaraan mereka dengan jelas apalagi dengan suara Eijun yang keras.
"Hahaha…. Dia benar-benar menarik." Kata Miyuki yang duduk ditanah disamping Kuramochi. Sejujurnya Miyuki agak terkejut melihat tingkah Eijun seperti itu. Pasalnya ia tidak akan pernah menyangka apabila Eijun akan bersikap kasar kepada rekan setimnya, dengan sifat ceria nya itu mustahil. "Kau benar-benar kakak baik yang mengkhawatirkan adiknya, Mochi-nii." Goda Miyuki setelah ketika melihat wajah Kuramochi yang tampak khwatir.
"Diam!" Kuramochi membalasnya dengan tatapan tajam. Jika tatapan bisa membunuh, mungkin Miyuki sudah mati dibawah tatapan Kuramochi sekarang.
Kembali kepada tahun pertama yang saat ini sudah sangat marah atas perkataan Eijun. Si rambut pirang membentak. "Kau tahu apa? Kamu bahkan belum bermain. Jangan berbicara seolah kau adalah yang paling hebat!"
Eijun memandang pirang dengan tatapan tajam. "Apa kau tahu kenapa pelatih mengadakan pertandingan ini?" Dan ruang istirahat menjadi sunyi, tak ada yang berani untuk merespon. "Apakah pelatih menyuruh kita untuk menang? Tidak! Dia ingin menguji kami dalam hal kerja sama tim, tapi lihatlah kalian. Kalian bahkan tak menyemangati tim sendiri yang sedang kesusahan. Bagaimana kita akan menang apabila kita berhati negatif?!"
Para tahun pertama yang mendengarnya saling memandang satu sama lain. Eijun ada benarnya tentang ini. Si pirang ingin memprotes namun segera dihentikan oleh Toujo yang baru saja kembali setelah menyelesaikan satu inning. Dia juga mendengar perkataan Eijun yang menjadi termotivasi karenanya. Menoleh ke Kanemaru, ia tersenyum. "Dia ada benarnya, Shinji. Jika kita ingin menang, kita tidak boleh berkecil hati."
Eijun menyeringai, senang bahwa ada seseorang yang paham akan maksudnya. Ia berteriak. "Kalau begitu ayo kita kalahkan para senpai! Buktikan pada pelatih bahwa kami juga tidak lemah!!!" Tahun pertama memandang Eijun sebelum teriakan semangat ada pada mereka.
Ruang istirahat tahun pertama dipenuhi dengan raungan semangat yang mengejutkan orang disekitarnya.
"Wow, mereka semangat sekali!" Seru salah satu alumni yang sedang menonton.
"Anak muda memang beda." Gumam penonton lainnya.
Para senior mengeluarkan aura yang semakin kuat. Tentunya mereka tak ingin kalah dipertandingan ini, apalagi dikalahkan oleh tahun pertama. Mereka mengeluarkan tatapan intimidasi kepada tahun pertama yang tentunya tak akan berguna karena mreka sekarang sudah dikelilingi dengan semangat yang berkobar, siap untuk bertarung tak peduli siapapun lawan yang akan dihadapi.
"Haha, anak itu benar-benar membangkitkan semangat tim nya." Miyuki tahu bahwa Eijun lah yang membangkitkan semangat tahun pertama dan kagum karenanya. Ia menoleh kearah Kuramochi yang sepertinya bernafas lega karena adik kesayangannya tidak akan dibully, benar-benar kakak yang baik.
"Yosh minna, ayunkan bat dengan kuat!!!" Seru Eijun layaknya seorang pelatih yang sedang menyemangati pemainnya.
"Diam! Kau bukanlah pelatih kami." Gerutu Kanemaru, namun tidak ada perasaan benci dalam nadanya. Sepertinya dia sudah bisa mempercayai Eijun.
Eijun hanya menanggapinya dengan nyengir bodohnya, tak menyadari bahwa ada satu orang lagi yang sedang menatapnya disudut ruangan. Menarik, pikir orang itu.
0o0o0o0
"Ganti pitcher, Furuya Satoru!" Teriak Pelatih untuk pergantian pemain.
Eijun menoleh ke tempat Furuya dan menemukannya sedang tertidur lelap di bangku. Eijun melangkah kearah Furuya dengan jengkel. "Satoru, pelatih menyuruhmu untuk menjadi pitcher selanjutnya!" Teriak Eijun tepat ditelinga Furuya. Ia tidak peduli dengan Furuya yang akan mendapati sakit telinga berkat teriakan keras Eijun.
Furuya segera bangun dan berdiri di gundukan dengan penampilan gagah, meskipun didalam pikirannya dirinya merasa sangat senang bahkan ingin melompat-lompat bahagia karena dimainkan di gundukan oleh sang pelatih. Dia melupakan satu hal yang paling penting, yaitu lemparannya hanya bisa ditangkap oleh penangkap tertentu saja. Ketika ia melempar, bola yang dilemparkannya mengenai wajah pelatih yang mengejutkan semua orang. Bukan karena bola mengenai wajah pelatih, melainkan kecepatan yang ada pada bola itu.
Eijun meringis membayangkan betapa sakitnya wajah Kataoka akibat bola itu. Namun segera mengerutkan keningnya ketika dirinya melihat ada sesuatu yang aneh pada penangkapnya.
Kataoka juga sepertinya memperhatikannya. Ia memasukkan Furuya ke string pertama dengan alasan bahwa tak akan ada yang bisa untuk menangkap lemparannya. Banyak yang memprotes tentang hal itu, khususnya tahun ketiga. Bagaimana bisa hanya dengan satu lemparan saja dia bisa masuk kedalam string pertama? Namun keputusan pelatih sudah bulat, tak bisa dibantah.
Katoka mengarahkan pandangannya kepada Kariba yang saat ini sedang meringis memegang pergelangan tangannya. Sepertinya dia terkena bola cepat itu sebelum mengenai wajah Kataoka. Ia menoleh kearah para ruang istirahat tahun pertama dengan pandangan serius. "Sepertinya penangkap kalian cedera. Kita akan menyudahi permainan atau mencari penangkap lain."
Mereka memandangi satu sama lain dan menyadari bahwa Kariba merupakan satu-satunya catcher di tim mereka. Kataoka yang sepertinya mengetahui apa yang dipikirkan para tahun pertama segera menyatakan. "Baiklah kurasa kita bisa menyu-"
"Tunggu sebentar!" Teriak Eijun memotong perkataan pelatih sementara pemain yang lain hanya bisa memandang Eijun dengan perasaan ngeri, siapa tahun pertama yang berani memotong pembicaraan pelatih jika itu bukan Eijun? "Kita bisa menggunakan Miyuki Kazuya sebagai penangkap kita." Seru Eijun seenaknya sambil menunjuk Miyuki sedang duduk didekat Kuramochi.
Miyuki yang ditunjuk menjadi bingung. "Eh?!"
Bersambung...
Maaf kalau ada yang typo dan kata-kata yang kurang dimengerti. Dukung terus, ya!
Sampai jumpa di episode selanjutnya!!!
