DISCLAIMER: Gundam SEED & Gundam SEED Destiny belongs to Studio Sunrise


SNAPS

A small shot of a strong alcoholic beverage taken during the course of a meal. A Martini should not be consumed alone, although sometimes you must. If you are lucky to be in a congenial crowd, others are bound to follow your epicurean lead. A nice drink is best enjoyed with conversation between sips. The cocktail conversation also lets expression flow more freely, and the gin or vodka often adds to glib but insightful conclusions.

Speed Dial

By Fuyu Aki

Perdamaian sudah diraih. Tidak ada perang besar yang terjadi walau konflik masih saja ada. Untungnya konflik yang terjadi bukanlah konflik yang dapat membuat terjadinya perang dunia -sebutan untuk perang yang sangat besar dan melibatkan Negara atau pihak dalam skala besar-. Namun sebuah konflik yang melibatkan sebuah meja bundar dengan banyak orang yang berdebat mengeluarkan isi pikiran mereka dengan kata-kata.

Konflik dalam forum diskusi sangat melelahkan, lebih lelah dibandingkan konflik yang bisa diselesaikan dengan adu fisik, itulah yang terlintas di pikiran seorang Yzak Joule yang masih berdiri tegak di salah satu sudut ruangan. Alasan dia berpikir demikian karena dia dulu terjun ke medan perang sebelum akhirnya pekerjaannya membuatnya berada di baris pertahanan dan melindungin petinggi di parlemen serta warga Negara dan sesekali terlibat dalam diskusi tersebut. Pekerjaan yang dilakukan oleh Ibunya yang dia sangka dia tidak akan terlibat didalamnya karena dia cukup bersumbu pendek, namun ternyata dia harus terlibat. Dia lupa, sebagai tentara politik juga salah satu bidang yang harus dia kuasai.

Pertemuan hari ini sangat melelahkan bagi Yzak. Diskusi kolot terjadi antara para petinggi PLANTs dan ORB. Mediator Clyne berhasil menengahi mereka sebelum Sang Putri Singa ORB, Cagalli Yula Athha memukul meja parlemen yang putih mulus tanpa cacat itu, walau pastinya yang terluka justru tangan sang Putri bukan meja itu. Sepanjang pertemuan Yzak hanya tersenyum kecut mendengar komentar-komentar pedas dari Sang Goddess of Victory mengenai kebijakan penyelesaian konflik di Bumi. 'Menarik', pikir Yzak.

Sang Putri menolak mentah-mentah pengembangan teknologi yang dikembangkan oleh ZAFT walaupun hal itu untuk alasan pertahanan diri. Bahkan Sang Putri mengatakan kalau pengembangan senjata tetap dilanjutkan di PLANTs tanpa menghasilkan sebuah kondisi yang 'homeostasis' maka mereka tidak lebih dari sosok Gilbert Dullindal selanjutnya. Sungguh gadis ini sangat berani, bahkan di hadapan Mediator Clyne sekalipun yang dimana mereka berdua dikenal sangat dekat.

Lacus mengizinkan Yzak untuk menyusulnya setelah memastikan ruangan pertemuan steril. Dia sebagai salah satu pasukan keamanan para petinggi PLANTs, mau tidak mau diam dahulu di ruangan sebentar. Yzak lalu melihat sebuah map berwarna biru di meja tempat Representative Athha duduk selama pertemuan. Sebuah map yang dengan jelas sangat penting karena tertulis 'Classified' di bagian sampulnya. Seorang tentara ZAFT berseragam hijau mengambilnya dan berbicara dengan rekannya. Kelihatannya mereka bingung kepada siapa map itu harus dikembalikan.

Yzak lalu berdecak karena perwira tersebut seperti kebingungan padahal mereka tahu benar siapa yang duduk di kursi itu selama pertemuan berlangsung. Kesal karena sikap mereka yang tidak sigap, Yzak berinisiatif mendekati mereka dan berdeham. "Biar aku saja yang mengantarkannya, kelihatannya dia belum jauh keluar dari gedung parlemen," ucapnya sambil mengambil map tersebut agak kasar dan segera meninggalkan ruangan.

Dalam hati dia mengumpat. Dia kesal. Mengapa orang setelaten dan setegas Cagalli Yula Athha bisa melupakan benda yang sangat penting? Apakah karena dia seorang Na-, Yzak lalu menggeleng tidak ingin membuat sebuah asumsi tidak masuk akal berdasarkan gen. Pastinya benda ini semestinya tidak tercecer. Dia lalu mempercepat langkahnya dan segera menuju pintu gerbang berharap masih menemukan sang pemimpin Negara netral bersurai pirang itu sambil tidak membalas orang-orang yang hormat padanya.

Ketika dia melihat seorang figur wanita berpakaian setelan jas dan celana panjang berwarna burgundy, dia menghela napas lega. Dia tidak perlu jauh-jauh menyusul gadis itu ke Guest House khusus tamu kenengaraan. Namun Yzak mengangkat salah satu alisnya. Gadis itu seperti sedang kesulitan memainkan smart phone miliknya lalu menaruhnya ke telinganya. Yzak dapat melihat jelas raut wajah gadis itu, dari resah kemudian kesal kemudian menghela napas seperti kecewa. Yzak merasa bingung, siapa yang gadis itu kontak padahal sudah jelas sekretaris dan duta Negara ORB mendampinginya. Siapa yang dia kontak secara personal? Yzak lalu teringat akan sebuah nama. Nama seseorang yang sudah membuang sumpah setianya pada Negara yang dia tinggali demi menjadi bagian dari Negara ORB.

"Representative Athha?" panggil Yzak.

Cagalli yang sibuk dengan smart phone-nya segera mengangkat kepalanya dan iris abu gelap itupun bertemu dengan iris kuning keemasan yang hangat dan panas itu. "Ah ya….Anda…," ucap Cagalli sambil berusaha mengingat-ingat nama yang tentunya tidak akan dia ingat karena dia belum pernah berhadapan dan berkenalan langsung dengannya.

"Joule, Yzak Joule," ucap Yzak, "ZAFT Commander," tambahnya.

"Ah yaa…..Anda yang tadi ada di ruang rapat mendampingi Lacus," ucap Cagalli ringan. "Ah, maaf maksudku Mediator Clyne," koreksi Cagalli mengingat posisi dan lokasi mereka berada sekarang. Sungguh gadis yang profesional. Yzak lalu melihat penampilan gadis itu. Sederhana, berbeda dengan ketika dia mengenakan seragam militer. Seragam pegawai pemerintahaan ORB sangat casual namun formal. Kemeja putih dan setelah jas dan celana panjang dengan bahan twill yang tebal namun hangat berwarna burgundy sungguh bukan warna yang wajar. Malah terkesan, mencolok kelihatannya. Padahal Petinggi Sahaku, salah satu Bangsawan di ORB justru berpenampilan mencolok dan pantas disebut seperti itu dibandingkan Cagalli. Penampilan gadis ini terlalu biasa. Tidak ada yang bisa tahu kalau dia ini pemimpin Negara kalau bukan karena nama ataupun melihat orang yang mendampinginya.

Merasa diperhatikan, Cagalli mengangkat salah satu alisnya. "Apakah ada yang bisa saya bantu, hmmm… Commander Joule?" tanyanya sambil memberikan penekanan pada nama dan pangkatnya.

'Ah, sial,' umpat Yzak dalam hati. Dia sudah berbuat tidak sopan dengan mengamati gadis itu bahkan setelah mereka saling sapa. Dia lalu memberikan map yang dia pegang. "Ah, ini. Anda meninggalkannya di ruangan rapat," ucapnya.

Yzak dapat lihat dengan jelas, mata dan gadis itu membulat sempurna. Wajahnya pun langsung menjadi merah. Dia lalu mengambil map tersebut, "Ah maaf saya sungguh ceroboh padahal ini dokumen yang sangat penting," ucapnya dan langsung memberikannya kepada sekretarisnya.

Gadis itu lalu memukul pelan kepalanya sendiri, "Ah, aku selalu seperti ini apabila sudah ada yang membuat kesal di pertemuan. Athrun biasanya selalu memeriksa kalau aku tidak ketinggalan apapun. Namun hari ini kebetulan kami membagi tugas dan-," Cagalli teringat kalau obrolannya terlalu santai. Tanpa diminta tiba-tiba gadis itu membungkukkan tubuhnya sedikit, "Ah, maaf saya malah berkata yang aneh-aneh, terima kasih banyak atas bantuan Anda."

"Apakah tadi Anda mengontak Athrun euh maksud saya…,"ucap Yzak. "Commander Zala?" sungguh Yzak ingin memukul dirinya sendiri dan seakan-akan tidak mengindahkan urusan personal atau privasi gadis itu. Yzak tahu, kunjungan para petinggi dari pemerintahan ORB hari ini cukup menyibukkan. Mereka datang tidak hanya untuk membahas sistem pemerintahan namun juga sistem keamanan. Tak di duga yang datang memenuhi kunjungan itu salah satunya adalah Cagalli Yula Athha dan ORB's Red Flash, Athrun Zala. Hubungan keduanya datang kemari? Persetan. Yzak tidak perlu tahu gosip-gosip atau rumor picisan yang membicarakan hubungan tentang keduanya. Sungguh bukan sikap yang profesional ketika membawa urusan pribadi seperti topik hubungan ke dalam urusan kerja.

Cagalli lalu melihat smart phone yang dari tadi dia pegang. "Ah ya, aku mencoba mengontaknya namun sulit, kelihatannya rapat di akademi militer ZAFT cukup lama dan aku lupa nomor kontaknya, dia menggunakan nomor kontak pribadi bukan nomor kontak kantor," ucap Cagalli. "Tapi, seingatku kami berencana bertemu disini setelah rapatku selesai daripada bertemu di Guest House dan menuju kediaman Clyne setelahnya. Dia bilang dia akan selesai lebih cepat daripada aku," keluhnya.

Yzak kembali merutuk dalam hati. Dia kecewa. Kecewa karena mantan rekannya dengan mudahnya membuat atasannya menunggu. Pegawai macam apa dia? Apakah dengan posisinya sekarang Athrun menjadi lembek dan tidak mengindahkan perintah atasannya? Athrun pemuda yang profesional. Dia tahu jadwal dan prioritas. Dia seharusnya tahu perintah siapa yang harus dia patuhi. "Apakah Anda tidak mengatur kontaknya di speed dial?" tanya Yzak karena kelihatannya Cagalli sedari tadi menekan layarnya berkali-kali.

"Ini bukan smart phone-ku, ini milik sekretarisku," jawab Cagalli ringan. "Sialnya milikku habis dayanya, sehingga aku terpaksa meminjam," ucap Cagalli. "Athrun selalu mematikan alat komunikasinya bila sedang rapat tapi tidak untuk nomor kontak pribadinya. Dia bilang hanya ada nomorku di ponselnya itu, sungguh aneh bukan?"

'Aneh', pikir Yzak. Apakah memang semua orang belum siap atau apakah karena mereka dan orang-orang belum saling percaya sehingga mereka menjaga jarak bahkan dalam hal komunikasi? Untuk urusan pekerjaan bukankah wajar bila sekretarisnya tahu semua orang penting yang Cagalli kenal? Termasuk Athrun Zala yang dikenal sebagai…kekasih? Pacar? Tunangan? Side kick? Wingman? Aide? Attendant? Entahlah, Yzak tidak mau main menduga-duga karena Athrun sendiri jarang menceritakan hubungan asmaranya bahkan cenderung menghindar, termasuk ketika masih dengan Lacus Clyne.

Cagalli lalu menghela napas dan mengembalikan smart phone itu ke sekretarisnya. Yzak dapat mendengar dia berkata 'Aku menyerah, kita tunggu saja mungkin'. Yzak ikut menghela napas. Kelihatannya hari ini memang bukan hari yang baik untuk bilang hari yang baik karena adanya debat di pertemuan barusan juga bukan pertanda aka nada hasil yang mulus. Justru pekerjaan rumah mereka bertambah. Semua demi dunia yang seimbang dan damai.

"Yah, tapi tidak membantu. Menaruh kontak seseorang dalam speed dial bukan berarti orang itu akan langsung datang detik itu juga, huh? Ini bukan urusan pengiriman kilat ataupun makanan cepat saji," ucap Cagalli tiba-tiba yang membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Yzak. "Kalaupun kau mau berkata speed dial itu praktis, namun nyatanya tidak."

Yzak lalu sekali lagi dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas ditambah dengan senyum manisnya. Gadis ini memang memiliki pola pikir yang menarik. Logika dan gaya pikiran rasionalnya cenderung unik dan menarik, melawan hal logika yang dia ketahui, sesuai dengan perkataan rekan-rekannya yang kenal dengan Cagalli mengenai pola pikir gadis itu yang polos dan apa adanya. Seperti sekarang dia memberikan logika yang menarik mengenai speed dial. Yzak lalu mendengus, "Ya, kau benar."