DISCLAIMER: GUNDAM SEED AND GUNDAM SEED DESTINY BELONGS TO STUDIO SUNRISE
Thank you for Panda Nai and Cyaaz, for the reviews.
SNAPS
A small shot of a strong alcoholic beverage taken during the course of a meal. A Martini should not be consumed alone, although sometimes you must. If you are lucky to be in a congenial crowd, others are bound to follow your epicurean lead. A nice drink is best enjoyed with conversation between sips. The cocktail conversation also lets expression flow more freely, and the gin or vodka often adds to glib but insightful conclusions.
Warm Coffee
By Fuyu Aki
Suatu situasi yang sangat jarang terjadi, ke empat pemuda yang merupakan veteran perang pada tahun 71 CE dan 73 CE berkumpul Athrun Zala, Kira Yamato, Dearka Elsman, dan juga Yzak Joule. Atas permintaan Kira Yamato, Athrun pun mempertemukan dan mengajak Kira untuk bertemu dengan rekannya yang lama, Yzak Joule, Dearka Elsman, dan tentunya Nicol Amalfi. Nicol, bukankah dia sudah meninggal? Tentunya sudah dapat diketahui kalau mereka berkumpul di pemakaman yang berlokasi di October City. Setelahnya? Tentunya Dearka mengajak mereka langsung untuk berjalan-jalan melepaskan kepenatan dan suasana duka dan tegang yang sempat muncul. Padahal hanya sebuah nisan bertuliskan nama Nicol Amalfi, namun sanggup membuka dan membuat konflik batin di diri mereka masing-masing. Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya meributkan hal yang sudah menjadi masa lalu dan sudah ditutup.
"Kau baik-baik saja?" tanya Athrun sambil menyikut pelan Kira yang berjalan disebelahnya. Mereka berempat sudah selesai mengunjungi makam dan memutuskan berjalan-jalan santai sambil meminum kopi hangat yang dibeli oleh Dearka dari mesin minuman. Mereka berempat mendapatkan waktu kosong. Athrun kebetulan sedang dapat jadwal dinas ke PLANTs akhirnya memutuskan untuk mengajak Kira dan 'dikawal' oleh Dearka dan Yzak juga tentunya untuk mengunjungi makam Nicol Amalfi. Tanpa mengenakan seragam mereka tentunya.
Kira menatap lurus dua orang yang dia duga menjadi rekannya di ZAFT sekarang, Yzak dan Dearka padahal mereka dulu itu 'musuh'. "Hmmm…iya, begitulah," jawab Kira. Kira tahu Athrun khawatir padanya.
"Tidak perlu kau pikirkan, kita semua sudah tahu bukan? Masa lalu tidak bisa diubah dan kita hanya bisa melangkah maju untuk hari esok," ucap Athrun yang menepuk pelan kepala Kira.
Yzak dan Deaka pun menghentikan langkah mereka dan berbalik melihat Kira dan Athrun. "Apa yang terjadi pada Nicol dan yang lainnya bukan salahmu Kira, begitu pula…" ucap Athrun yang ragu. Dia teringat kalau dia telah membunuh sahabat Kira yang lain juga, yaitu Tolle Koenig. Athrun lalu melirik Dearka dan Yzak sebelum akhirnya berkata, "…begitu pula dengan kita semua."
Kira menghela napas. "Aku tahu, hanya saja aku tidak menyangka kalau aku, kamu, dan kita semua sekarang justru seperti ini disini, berjalan santai sambil meminum kopi kaleng di tangan masing-masing," lalu Kira menghela napas lagi. "Aku tidak percaya kalau apa yang ada dihadapanku ini nyata, bahkan kadang masih ragu apakah aku layak dan bisa berada di ZAFT dan apakah aku memang berhak ada disana?" ucapnya lagi.
Athrun, Yzak, dan Dearka tidak menjawab. Mereka diam. Sebuah pertanyaan yang sentimentil dan terlalu melankolis. Faktanya, keberadaan Kira Yamato di ZAFT walau sudah berlangsung selama dua atau mungkin tiga tahun bukanlah hal yang mudah diterima untuk para veteran perang lalu.
"Naif," ucap Yzak yang langsung membuat ketiga pemuda memandang lurus-lurus pemuda berambut perak itu.
"Huh?" ucap mereka bertiga.
Yzak menghela napas sambil meminum kopi kaleng miliknya. "Kalau kau masih berpikir demikian, apa yang kau lakukan selama ini? Bukankah kalian yang akhirnya menghancurkan segalanya yang sudah direncanakan oleh Gilbert Dullindal? Demi adanya hari ini dan kesempatan seperti ini," ucap Yzak yang mungkin buat Athrun terdengar kurang ajar. "Kalau kau masih setengah-setengah seperti ini, sebaiknya kau mundur dan pulang. Fakta kau menghindar dari latihan pendidikan dasar militer masih menggangguku, Yamato. Namun, beberapa petinggi termasuk Mediator Clyne meyakinkanku kalau kau layak. Walau aku sebenarnya masih sangat berharap kau mengikuti prosedur, baik kau, aku, dan Dearka adalah contoh yang akan diperhatikan oleh masyarakat PLANTs termasuk para perwira muda," jelas Yzak lagi yang cukup membuat Athrun dan Dearka terkejut dan terkesima mendengarnya.
"Yzak, kau," ucap Athrun.
"Jangan membelanya Zala, ingat posisi dimana kau berada sekarang. Kau tidak bisa mengaturku ataupun memerintahku," tegur Yzak sambil menunjuk Athrun. "Kalau kau masih merasa bersalah seperti itu, hentikan mengucapkan maaf dan ekspresi menyedihkanmu itu dan cukup percaya dirilah kau dengan kondisimu sekarang Yamato," ucap Yzak yang kembali melihat Kira. "Setidaknya sebelumnya kau memiliki kualitas itu ketika di ORB, sebagai salah satu Admiral termuda yang ditunjuk oleh Representative Athha," tambahnya. Kata Athha yang keluar dari bibir Yzak, tanpa sadar menarik perhatian ketiga pemuda itu.
"Kamu ke ZAFT atas rekomendasi dan permintaan dari Mediator Clyne dan juga berdasarkan persetujuan Representative Athha, kau seorang pengecut kalau tiba-tiba mundur dan mengecewakan kedua wanita tersebut apalagi kalau kau beralasan karena masa lalumu lagi. Terlebih lagi, Representative Athha itu saudara kembarmu, kau jangan khianati amanah darinya Yamato," ucap Yzak lagi. "Kalau kau sekarang merasa seperti itu, lalu kami apa? Yang hampir mendapatkan hukuman mati beberapa tahun lalu," tambahnya.
"Yzak, ucapanmu kelewatan," tegur Athrun. "Apabila memang faktanya demikian, jangan kau pojokkan Kira dan kalian sekarang berada di tim dan memiliki posisi yang sama, bahkan Kira bisa jadi memiliki posisi diatasmu," balas Athrun.
"Diam kau Zala!" balas Yzak. "Yamato disini yang kelewatan karena lagi-lagi meragukan dirinya. Dia harus ingat kalau kepindahannya kemari pun tidak gampang dan kalau sekarang dia mau kembali ke ORB, aku tidak yakin secara apakah mereka akan menerima dengan tangan terbuka," ucap Yzak.
"Yzak!" tegur Athrun yang mendekati Yzak dan mulai berhadapan dengan pemuda berambut perak itu.
"Aku yakin Representative Athha akan setuju dengan pendapatku," ucap Yzak dengan nada menantang. "Begitu pula dengan dirimu yang sama naifnya dengan Yamato."
Penyebutan nama Athha membuat Dearka langsung melirik pelan ke arah Athrun. Dia tahu Athrun bukan tipe orang yang senang apabila ada seseorang yang dia kenal dengan baik tiba-tiba disebutkan namanya oleh orang yang tidak kenal baik dengan orang tersebut. Yzak dan Cagalli, sejak kapan Yzak berani menyebutkan nama Representative Athha dengan santai di suasana seperti ini. Namun, menurut Dearka justru yang menarik bukan karena nama keluarga Cagalli namun karena Dearka merasakan suasana nostalgia dan déjà vu. Persaiangan antara Athrun dan Yzak, masalah atau kejadian klasik yang sudah menjadi makanan sehari-hari Dearka dulu. Namun kelihatannya sekarang yang menyebabkannya bukan karena mereka berada di institusi yang sama, namun nama seseorang. Dearka lalu tersenyum kecil.
"Apa?" ucap Athrun yang merasa tersinggung.
"Kau membelanya itu membuktikan kalau kau masih naif, untung saja Representative Athha wanita yang kuat dan dia tahu bagaimana menangani kelabilanmu itu," ejek Yzak.
Athrun mengangkat alis. Obrolan yang Kira yang ada disebelahnya lalu melangkah selangkah sedikit menjauh dari Athrun. Dia lalu mendekati dan menyikut Dearka, "Apa yang terjadi disini?" tanya Kira. Dearka hanya tersenyum-senyum.
"Just an old story, buddy. Mereka seperti itu, kau tidak usah khawatir," jawab Dearka yang ingat dengan jelas hubungan Athrun Zala dan Yzak Joule seperti apa. Kelihatannya, nama Athha atau nama seseorang yang menggunakan marga Athha akan membuat hubungan kedua pemuda ini menjadi lebih seru, itu yang sempat terpikirkan oleh Deraka dan Kira sangat beruntung bisa melihatnya.
