DISCLAIMER: GUNDAM SEED AND GUNDAM SEED DESTINY BELONGS TO STUDIO SUNRISE


SNAPS

A small shot of a strong alcoholic beverage taken during the course of a meal. A Martini should not be consumed alone, although sometimes you must. If you are lucky to be in a congenial crowd, others are bound to follow your epicurean lead. A nice drink is best enjoyed with conversation between sips. The cocktail conversation also lets expression flow more freely, and the gin or vodka often adds to glib but insightful conclusions.

Appreciation

By Fuyu Aki

"Whiskey?"

Salah satu alis Athrun Zala terangkat dan ekspresi penasaran sangat tergambarkan di wajahnya. Mungkin orang yang melihat ekspresinya sekarang akan dengan mudahnya menamparnya karena tatapannya yang terlihat sangat tidak sopan. Tampak seperti meragukan dan merendahkan walau intinya dia itu sebenarnya merasa bingung. Dia bingung dengan pilihan Cagalli Yula Athha untuk minumannya di malam hari sebelum tidur. Segelas whiskey lengkap dengan sebongkah es di gelasnya.

Bukan hal yang aneh untuk seorang Athrun Zala menemani Cagalli Yula Athha menghabiskan waktu istirahatnya di malam hari sebelum tidur. Pemuda itu selalu datang ketika jam kerjanya yang tidak sibuk, atau ketika diminta Cagalli untuk datang, atau di hari-hari tertentu seperti yang mereka sepakati, semacam kencan sederhana mungkin? Mereka tidak tinggal bersama walau sudah tidak memiliki orang tua dan walau sudah yakin dengan keputusan masing-masing. Cagalli Yula Athha tinggal di manor Athha dan Athrun Zala, yang memutuskan memakai nama aslinya sebagai salah satu Commander di ORB Defense Force, memutuskan untuk tinggal di apartemen khusus kemiliteran. Ya, pekerjaannya sebagai tentara tentunya memberikan akomodasi yang baik untuknya khususnya tempat tinggal. Kencan? Terdengar seperti hubungan sepasang kekasih. Apakah mereka sepasang kekasih? Hubungan mereka belum banyak diketahui publik, mereka memang memiliki kedekatan yang spesial dan memang pada faktanya mereka dekat. Namun, bila dibilang mereka kekasih, tentunya mereka akan bilang "NO COMMENT" yang lebih kepada, urusan tersebut bukan atau belum untuk konsumsi publik.

Malam ini Athrun datang ke Manor Athha karena mendapatkan info Cagalli yang marah besar di rapat parlemen dikarenakan kebijakan publik yang diberikan kepada masyarakat tidak sesuai dengat hasil rapat beberapa bulan lalu. Sebuah kebijakan yang membebaskan ranah kesehatan dan pendidikan untuk lebih terbuka dengan adanya ras Coordinators dan Naturals, yang tentunya Cagalli harap tidak ada diskriminasi atau kasus rasis yang justru menjadi meningkat. Namun, nyatanya tidak. Masih saja ada beberapa sekolah dan layanan kesehatan yang bersikap rasis walau alasannya mungkin bisa dikatakan masuk akal, dikarenakan tingkat pemahaman dan tingkat kebutuhan yang berbeda. Walau ORB mengaku dan terdaftar netral, tapi hal seperti itu masih mungkin terjadi dan itulah mengapa alasan adanya sistem pemerintahan. Itulah alasan mengapa ada Cagalli Yula Athha, kalau mau dibuat pernyataan yang hiperbolis.

"Kenapa?" tanya Cagalli yang duduk di salah satu kursi stool di bar counter yang ada di Manor Athha. Bar Counter yang terletak di ruang rekreasi dan hanya ditempati oleh Cagalli atau para anggota keluarga untuk bersenang-senang atau beristirahat melepaskan kepenatan. Walau bar counter tersebut terhubung dengan dapur dan juga ruang makan namun hal itu tidak menjadi masalah.

Athrun menghela napas, dia lalu duduk di kursi stool sebelah Cagalli. Setelah sebelumnya dia mengambil gelas serta memberikan sebongkah es dan menuangkan whiskey ke gelasnya itu. "Penny for your thoughts?" tanyanya lalu meminum whiskey-nya.

Kali ini, giliran Cagalli yang menghela napas. "Just some old geezers who once again doubting the public policy. Padahal beberapa waktu lalu kita mendiskusikannya," ucap Cagalli yang terdengar frustasi.

"Kita?" ucap Athrun yang merasa dirinya terbawa dengan Cagalli menggunakan subjek 'kita'.

"Aku dan mereka yang ternyata masih saja ada yang bersikap keras kepala," keluhnya. Athrun hanya mengangguk. Athrun ingin mengoreksi menjadi kata 'kami' karena intinya Cagalli dan mereka yang keras kepala, Athrun tidak terlibat di dalamnya. Berarti subjek yang harus dipakai adalah 'kami' dan Athrun meresponnya dengan kata 'kalian'.

"I'm all ears," ucap Athrun.

"Apakah sesulit itu untuk menerima? Untuk bisa menyesuaikan dan beradaptasi dengan orang yang jelas kondisinya berbeda dengan kita? Perdamaian mungkin memang sudah kita raih yang dapat kita lihat dengan minimnya perang yang terjadi, berkurangnya kegiatan demonstrasi masyarakat baik di ORB dan dunia. Namun ternyata menerima dan memaafkan menjadi salah satu pekerjaan yang tidak mudah diselesaikan," ucap Cagalli.

Athrun membuka mulut, dia ingin menjawab kalau Cagalli tidak bisa memaksakan orang berubah dan ada juga hal yang tidak bisa Cagalli kontrol pada akhirnya, namun dia urungkan. Justru Athrun tahu, posisi Cagalli adalah posisi yang harus bisa mengubah atau membaut situasi berubah, atau mencari cara agar situasi mau tidak mau berubah. "It takes time, be patient and I'm sure you have your ways to convince them,"jawab Athrun.

"Thank you, soldier," ucap Cagalli.

Athrun masih menatap gelas whiskey yang Cagalli pegang. Cagalli tidak mungkin memilih whiskey yang memiliki kadar alkohol tinggi. Wine, mojito, atau margarita menjadi pilihan gadis itu. Champagne adalah minuman yang cukup sering dia minum ketika sedang kesal namun tidak untuk whiskey yang mungkin dapat membuat gadis itu lupa dengan kekesalannya segera karena kadar alkoholnya yang cukup tinggi.

"Athrun?"

Panggilan Cagalli menyadarkan Athrun dan dia lalu bertatapan dengan Cagalli yang justru sekarang ekpresinya seperti ekspresi Athrun beberapa jam yang lalu ketika melihat Cagalli meminum whiskey. "Ah ya," ucap Athrun kaku dan bingung harus berkata apa. Dia tidak mau terlalu banyak mengomentari pekerjaan Cagalli karena dia tahu, Cagalli hanya ingin didengarkan apalagi kalau dirinya sudah kesal.

"Penny for your thoughts?" balas Cagalli.

"Jadi, kenapa whiskey?" tanya Athrun. Dia ingin mengganti topik pembicaraan tapi dia bingung tentang apa. Dia juga ingin menanyakan beberapa hal mengenai keamanan Negara dan pengembangan beberapa teknologi baru di Morgenroete namun dia urungkan. Dia juga sama seperti Cagalli, banyak hal yang harus dia pikirkan.

Cagalli lalu mengangkat gelasnya ke arah lampu dan memandangi larutan alkohol dan es yang menghasilkan suatu pantulan yang cantik ketika diarahkan ke lampu bar counter tersebut. Menunjukkan butiran-butiran alkohol atau soda yang terbentuk di minuman tersebut serta transparansi larutan alkohol dan es tersebut. "Whiskey is more than a drink, Whiskey tells us a story. It tells a story of a certain time and a certain place, of a distillery and those who work in it. And it tells a story on an individual level, too," ucap Cagalli. "Aku baru tahu kalau kita bisa menikmati minuman seperti ini tidak hanya sekedar meminumnya, ada kejadian, ada pelajara, ada nilai hidup yang kita bisa petik jauh sebelum dari meminumnya namun dari botolnya juga dan juga dari informasi yang tertulis di botol tersebut. Aku harus lebih perhatian dengan detail tersebut," tambahnya sambil melihat botol whiskey yang Athrun taruh. Whiskey yang sama yang dia minum.

Terlalu melankolis, pikir Athrun. "Tapi, apakah ada alasan lain mengapa kau meminum whiskey lebih tepatnya?" tanyanya lagi. Tidak puas dengan jawaban Cagalli yang terlalu melantur buatnya.

"Saran seorang teman," ucap Cagalli ringan.

Kedua alis Athrun bertautan. Dia termasuk yang suka meminum whiskey namun dia bukanlah 'teman' yang menyarankan Cagalli. Dia akan menyarankan sparkling water, champagne, mojito, margarita, atau mungkin white wine atau red wine untuk Putri ORB yang duduk bersebelahan dengannya. Whiskey lebih dikenal dengan sebutan 'Man's drink' namun nyatanya kelihatannya lebih dari sekedar itu. "Siapa?" tanya Athrun.

Cagalli lalu menolehkan wajahnya dan mereka saling memandang. Athrun bisa melihat dengan jelas iris amber Cagalli yang menyala dan wajahnya yang dihiasi sebuah senyuman serta sedikit semburat atau rona merah di area pipi karena efek minuman tersebut. "Seseorang yang tidak mungkin mau mengakui kutipan Haruki Murakami yang berbunyi 'Whiskey, like a beautiful woman, demands appreciation. You gaze first, then it's time to drink'," ucap Cagalli.

Athrun mencoba menebak orang yang dimaksud Cagalli dan ada nama satu orang yang mengganjal pikirannya. Namun tidak ada salahnya mencoba. "Let me guess…..Joule?" ucap Athrun ragu. Dia menyebutkan nama seseorang yang dia sendiri bingung mengapa Cagalli bisa kenal dan dekat dengannya.

"Dia bilang bisa menjaga kesehatanku dan mengatasi stress dan kecemasan. Kurasa dia benar," ucap Cagalli yang langsung meminum habis whiskey-nya yang hanya tinggal setengah di gelasnya.