Aula Besar penuh sesak seperti biasanya dangan suara riuh menggema dari seluruh meja panjang asrama-asrama. Di sini, Hermione duduk di tengah kebisingan meja Gryffindor; Ginny yang duduk cukup jauh darinya, dan beberapa teman tahun ketujuhnya sedang bersemangat mendiskusikan pertandingan final Quidditch antara Gryffindor dan Hufflepuff akhir pekan mendatang.
Seperti yang diketahui, Hermione telah kembali untuk mengulang tahun ketujuhnya. McGonagall mengiriminya surat tepat satu bulan setelah perang berakhir dan perbaikan kastil Hogwarts selesai dilakukan, begitu pula Harry, Ron dan beberapa anak di tahunnya yang tidak bisa menyeleaikan sekolah selama perang. Tapi dari semua anak tahun ketujuh, hanya dia, Dean, Pavarti Patil, dan Seamus Finnigan dari Gryffindor; Susan Bones dan Hannah Abbott, Ernie Mcmillan dari Hufflepuff; Padma Patil, Michael Corner, Terry Boot, dan Roger Davies dari Ravenclaw; dan hanya Draco dan Theodore Nott dari Slytherin.
Pandangannya berlari ke meja panjang Slytherin, dan tidak menemukan apa yang dicarinya di sana. "Apa Malfoy baik-baik saja?" dia tampak khawatir. Setelah meninggalkan Malfoy di asrama Slytherin, Hermione tidak dapat berhenti memikirkannya. Terakhir kali dia melihat Malfoy minum-minum adalah berbulan-bulan lalu, dia selalu dalam keadaan mabuk setiap kali mereka bertemu di Menara Astronomi. Hermione pernah mengatakan padanya bahwa minum bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan, dan dia sendiri tidak percaya, dia tidak lagi mencium bau menyengat alkohol darinya pertemuan berikutnya. Melihatnya mabuk-mabukan lagi cukup membuat perhatiannya teralih. Dia khawatir.
"Hermione..."
Dia mengkhawatirkannya.
"Hermione..." ada yang menyenggolnya, dia tersentak. "Hermione, ada apa?" Ginny telah ada di sampingnya. "Apa yang kau pikirkan, Hermione?"
"Ahh, tidak. Tidak ada." dia mengambil piala berisi jus labu di depannya.
"Kau melamun, Hermione!" Ginny tak sabar. "Apa kau berpikir aku akan membuatkanmu begitu saja?"
"Oh, Ginny, tidak ada yang terjadi, sung—"
"Hermione..." dia mendesah.
Ginny tidak pernah berhenti mengkhawatirkan Hermione semenjak dia tidak pernah lagi menemukannya di kamar setiap malam. Dia selalu menanyakan pada Hermione kemana dia pergi setiap malamnya, tapi Hermione tidak pernah memberikannya jawaban yang memuaskan.
"Alright, Ginny, aku mengaku." dia mencari alibi yang cukup logis dalam pikirannya. "Aku melamun. Itu hanya karena..." jeda. "NEWT. Itu hanya karena aku sangat gugup untuk NEWT. Aku takut itu tidak akan seperti yang aku bayangkan." Itu tidak sepenuhnya adalah kebohongan, karena dia memang gugup akan ujiannya.
Ginny menyipitkan matanya pada Hermione, agaknya kurang percaya. Tapi dia mendesah, "Oh Hermione... Kau tidak harus selalu gugup akan ujian-ujian itu, kau tahu." katanya pengertian.
Dia mencelos, tersenyum tulus. "Yeah, mungkin kau benar." dia mengangguk.
Ginny balas tersenyum. "Dan kau sudah berjanji untuk datang ke pertandingan akhir pekan depan padaku." kata Ginny. Beberapa pertandingan terakhir Hermione selalu saja memiliki alasan untuk tidak hadir di sana, dan dia sudah tidak akan mau menerima alasan lain darinya.
"Of course, aku akan segera melihat tim Gryffindor memenangkan piala kau begitu?" dia sengaja menggoda.
"Terimakasih, Hermione."
Ginny pergi setelah itu, begitu pula dengan anak-anak yang lain. Hari ini adalah kunjungan terakhir ke Hogsmeade di tahun ajaran. Hermione mengasumsikan bahwa sekolah akan menjadi cukup sepi dengan tahun ketiga sampai ketujuh yang pasti tidak ingin meninggalkan kunjungan mereka, dan hanya akan ada tahun pertama dan kedua yang lebih suka menghabiskan waktu dengan bergosip ria di ruang rekreasi.
Aula Besar kini benar-benar telah kosong, tapi Hermione belum dapat beralih dari meja Slytherin. Malfoy benar-benar tidak pernah ke sana saat sarapan, dan tidak ada yang dapat dia lakukan untuk itu. Dia tahu, dia tidak dapat bertanya pada Slytherin di sana, dan satu-satunya orang yang dapat dia tanyai juga tidak hadir. Theodore Nott, dia adalah satu-satunya yang tahu tentang pertemuannya dengan Malfoy. Hermione baru pertama kali berpapasan langsung dengannya dalam perjalanan mengantar Malfoy yang mabuk menuju asrama Slytherin. Dia kaget dan bertanya-tanya, apakah Malfoy menceritakan sesuatu kepada Nott, karena dia sama sekali tidak terlihat terkejut melihatnya dan Malfoy bersama.
Setelah cukup lama dan merasa tidak akan mendapatkan apa pun di sana, Hermione melenggang keluar dari Aula Besar. Perpustakaan terdengar seperti ide yang cemerlang baginya, mungkin ia bisa mengalihkan perhatian dengan beberapa buku bagus di sana. Sejarah Sihir, Rune Kuno, atau apapun itu asal dia bisa mengalihkan perhatian dari kekhawatirannya pada Malfoy. Oh, Merlin!
Pintu perpustakaan sudah di depan matanya, Hermione hanya tinggal membukanya dan dia akan melihat Madame Pince duduk di tempat biasa. Tapi penjaga perpustakaan itu tidak ada di sana. Perpustakaan sepi—hampir kosong—seperti biasanya; hanya ada beberapa Ravenclaw tahun pertama atau kedua yang sedang duduk menyebar mengerjakan tugas mereka. Hermione memilih tempatnya; tempat favoritnya, rak di dekat seksi terlarang. Jarang dari para murid Hogwarts yang akan memilih tempat itu, mereka akan sebisa mungkin menghindari tempat itu. Sangat bagus untuknya sekarang.
Tapi di luar ekspetasinya, ternyata dia tidaklah sendirian di sana. Ada seseorang telah duduk di tempatnya dengan setumpuk buku tebal. Hermione menyipit, dia mengenalinya. "Malfoy?" kata Hermione memanggil. "Kau di sini?" dia dapat melihat keterkejutan Malfoy dari balik punggungnya.
"Ya," dia tidak berbalik.
Hernione duduk di sebelah Malfoy gugup. "Ka-kau akan tinggal?" dia bertanya, melupakan tujuan awalnya. "Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu." kata Hermione. Dia hanya tidak ingin Malfoy salah paham atas itu.
"Tidak," kata Malfoy. Dia masih tidak mau melihatnya. "Bahkan aku akan pergi sekarang—" dia berdiri.
"Apa?" dia tersentak. "Tidak—tolong—" Hermione ikut berdiri, tangannya di lengan pria itu. Dia melihat wajah Malfoy mengeras dan matanya melotot padanya, Hermione melepaskan tangannya takut. "Maafkan aku." katanya menunduk menyesal.
Malfoy tidak bergerak, dia menunggu. Memutar matanya. "Apa yang yang ingin kau katakan, Granger?" kata Malfoy malas.
Bibir Hermione kering, kata-kata tertahan di ujungnya. Dia tidak tahu mengapa dia bisa sangat begitu gugup berhadapan dengan Malfoy. "Apa kau baik-baik saja? Setelah kemarin—" Malfoy mendengus, itu menghentikan Hermione.
"Granger, seriorusly?" Malfoy bertanya, menyeringai. "Kau konyol—"
"Aku tidak konyol!" kata Hermione kesal. Jika ada yang paling dibenci Hermione, itu adalah ketika orang lain mempertanyakan karakternya, dan dari daftar kamus yang dia buat, kata-kata seperti konyol dan bodoh ada dalam urutan kebenciannya yang paling atas—setelah Mudblood tentu. "Dan aku benar-benar serius bertanya padamu, Malfoy." dia benar-benar memasang wajah serius kali ini.
"Well, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." kata Malfoy kurang nyaman. "Jangan menjadi terlalu khawatir padaku, Granger. Itu akan menjadi sangat sia—"
"Aku tidak mengkhawatirkanmu!"
"Ya, kau." Maloy bergumam sehingga Hermione tidak mendengarnya. Dia melihat arloji di pergelangan tangan kirinya, dan jarum-jarum itu menunjukkan dia hampir terlambat untuk pergi. "Baiklah, aku harus pergi sekarang." dia langsung berjalan keluar perpustakaan. Hermione mengejar Malfoy dan berhasil menghentikannya di depan perpustakaan. "Apa sebenarnya masalahmu, Granger?" dia bertanya keras. Dia bingung bagaimana harus menghentikan Granger. Sudah sangat terlambat untuk bertemu Kingsley sekarang.
Pagi-pagi tadi McGonagall kembali memanggilnya ke ruang kepala sekolah. Wanita itu memberikan dua amplop surat padanya lagi. Dia melihat surat pertama dikirimkan oleh Kingsley padanya, dan yang lain adalah dari ibunya. Dia membawa surat-surat itu ke bersamanya, dan dia tidak memikirkan tempat lain selain perpustakaan. Dia memang berencana pergi ke sana hari ini, karena beberapa hari lalu ibunya juga mengirim surat padanya. Ibunya menginginkannya membaca beberapa buku tentang hukum sihir dengan beranggapan itu mungkin akan membantunya di persidangan. Draco tidak merasa itu penting, tapi dia tetap mengikuti keinginan ibunya.
Draco membaca surat dari Kingsley pertama. Itu hanya Kingsley menginginkannya untuk datang ke Kementerian setengah jam sebelum persidangan dimulai. Itu bukanlah masalah jika saja Granger tidak berdiri menghalangi jalannya sekarang. Ini sudah pukul sepuluh duapuluh dan dia masih harus berjalan ke kantor McGonagall untuk menggunakan jaringan Floo. Itu akan memakan waktu. Yang kedua adalah dari ibunya, dia hanya menulis agar dia menerima apa pun yang Kingsley usulkan kepadanya, seakan wanita itu sudah tahu apa yang akan diberikan padanya.
"Menyingkir dari jalanku!" dia membentak tapi Hermione hanya diam seperti tidak akan bergerak dari jalannya. "Get off, Mudblood!" kata-kata itu meluncur dari mulutnya, wajahnya sudah merah padam.
Mata Hermione menghitam dikuasai amarahnya, kata Mudblood itu sudah tidak pernah dia dengar lagi dari Malfoy sejak mereka bertemu kembali setelah perang usai. Tanpa dia sadari bulir-bulir bening tanpa dia sadari telah meluncur turun dari matanya. Ini sama dengan saat pertama kali Malfoy memanggilnya dengan kata itu di tahun kedua mereka, dan setelah saat itu Malfoy lebih sering memanggilnya seperti itu. Tapi dia tidak tahu—dia seharusnya sudah terbiasa—kali ini terasa lebih menyakitkan dari pada sebelumnya.
Di lain tempat, Draco berdiri tegang dengan mulut terbuka. Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya setelah kata itu meluncur darinya. Dia sangat menyesal. Dia menyakiti Granger. Lagi.
"Granger, aku—"
"Kau ingin pergi?" Hermione bertanya.
"Apa?"
Hermione memasang wajah bingung yang dibuat-buat. "Tidak?" dia bertanya lagi
"Aku—Granger—I'm—" Draco baru akan melanjutkannya sebelum Hermione mengangkat tangan menghentikannya. Dia terkejut.
"Kurasa kau memiliki hal penting yang harus diurus." kata Hermione tenang. "Maaf telah menghabiskan waktumu, Mr. Malfoy," dia menekan kata terakhirnya dan kemudian pergi meninggalkan Malfoy sendiri. Hatinya hancur.
