Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.
"Sesshoumaru-sama!" ucap Jaken dan Rin serentak dengan nada iba.
"Kumohon!" menanggalkan seluruh egonya, manusia setengah siluman itu memohon dengan kepala tertunduk pada sang kakak. "Akan kupenuhi apapun sebagai gantinya. Asalkan Kagome tetap hidup," suara Inuyasha tercekat di akhir kalimat.
Pada akhirnya, Daiyoukai itu memalingkan wajah untuk menatap lekat-lekat jasad tak bernyawa yang tergeletak di atas tanah. Racun ular membuat tubuh gadis itu membiru. Raga itu teramat kaku, pertanda ia adalah pilihan terakhir bagi adiknya. Pria berwajah dingin itu menarik Tenseiga dari obi-nya. "Sebuah nyawa untuk nyawa," ucap Sesshoumaru sebelum menebas pedang tersebut di sekitar mayat Kagome.
.
.
.
"Makanan sudah aku siapkan, kau hanya perlu memanaskannya sebentar," terang Kagome dengan ceria.
Inuyasha mengangguk.
"Kau jadi berangkat bersama Miroku ke desa sebelah? Akan aku usahakan pulang sebelum kau tiba di rumah."
"Keh, paling hanya mononoke lemah. Kau tidak usah khawatir. Cepatlah, ia sudah menunggumu."
"kau tidak ingin menemui kakakmu?"
"Tidak."
Mengingat riwayat kedua putra Inu no Taisho yang memang tidak pernah akrab, jawaban pendek itu tak terlalu dipikirkan oleh Kagome. "Kalau begitu, aku pergi dulu," seru wanita ber-kimono putih merah itu sebelum mengecup pipi suaminya.
Baru beberapa langkah meninggalkan pondoknya, Kagome sudah disambut oleh Rin, Jaken, beserta naga berkepala dua yang menjadi tunggangan mereka.
"Kagome-sama, lihat apa yang Sesshoumaru-sama bawa!" seru Rin dengan suara yang menggemaskan seraya menyerahkan pita rambut berwarna jingga dan merah cerah.
"Ah, cantik-cantik sekali," puji wanita bermata biru kelabu itu sepenuh hati.
"Yang warna merah untuk Kagome-sama."
"Ini untukku?" Sesaat, Kagome meniliti barang pemberian bocah perempuan itu. "Terima kasih, Rin-chan." Shikon miko itu menoleh ke arah hutan, dan berkata riang, "Terima kasih, Sesshoumaru."
Muncul dari bawah bayang-bayang pepohonan, Sesshoumaru mendekat dengan elegan. "Ayo!" tegasnya.
Rin dan Kagome sudah duduk manis di atas pelana Ah-Un. Mereka pun menjawab, "Hai!"
Rombongan itu sudah terbang di antara awan. Suara Kagome lembut tatkala bertanya, "Kau sudah siap belajar banyak hari ini?"
"Tentu," sahut anak itu antusias.
.
.
.
Inuyasha duduk bersila di dalam pondok, kedua tangan saling silang di atas dada, dan kedua matanya terpejam. Lututnya tidak berhenti bergerak naik turun dengan cepat. Kegelisahannya semakin menjadi-jadi. Meski dari kejauhan, bau Sesshou-. Ralat, bau feromon Sesshoumaru terasa menyengat hidungnya.
Setelah membangkitkan Kagome dari kematian, Sesshoumaru meminta kesediaannya untuk membiarkan Kagome mengajar Rin tiga kali dalam satu minggu di istana miliknya. Tentu saja hal itu langsung ia sanggupi. Akan tetapi, yang tak pernah Inuyasha terka adalah apa yang bisa saja terjadi antara istri dan kakaknya pada waktu tersebut. Mungkinkah sejak semula memang ada maksud tersembunyi dibalik alasan pendidikan Rin?
Benaknya lantas menyangkal. Sesshoumaru memang terkadang kejam, ia akui, tapi sepengetahuannya inu youkai itu tidak sudi memakai trik kotor.
Selain itu, ia menaruh kepercayaan penuh kepada istrinya. Kendati demikian, badai keraguan lantas melanda. Sebab, dari semua orang yang ada di dunia, mungkin ia yang paling tahu bagaimana dengan mudah hati bisa terbagi.
Kembali mengenang tragedi lampau, praduga memenuhi batinnya. Mungkinkah, 'Sebuah nyawa untuk nyawa' yang dimaksud Sesshoumaru adalah ia pun hendak memiliki Kagome?
Selain itu, Inuyasha pun masih mengingat dengan jelas lisannya kala itu, 'Akan kupenuhi apapun sebagai gantinya. Asalkan Kagome tetap hidup.'
Dengan itu, ia menarik napas dalam-dalam dan membuka mata. Inuyasha melangkah keluar dari tempat tinggalnya bersama istri tercinta demi menjemput nafkah.
Berbekal satu keyakinan, ia berusaha berserah diri pada alur kehidupan. Tak peduli dengan hal tak menyenangkan yang akan berlaku di masa depan, ia akan terus bertahan.
'Asalkan Kagome tetap hidup,' pikirnya.
~Sess/Inu/Kag~
End notes:
- Semoga drabble pendek ini bisa jd awal dari 'my epic comeback' setelah berbulan-bulan hiatus krn shitty life (siapa pula yg hidupnya super duper indah di 2020? I guess none)
- Anggap aja drabble ini salah satu twist atau prequel dari Yashahime. Hei, ini fanfiksi, kan? Jd bisa dan legal aja kalo aku buat Setsuna, Towa, dan Moroha semuanya itu anak Kagome hanya beda bapak? wtf, ikr? XD
- Thanks buat semua yang udah baca fic ini, terutama buat Aiko yg narik aku lagi ke dunia ffn, *ojigi ^^
