"--ak, kak! KAKK!" Aku mengerang, merasakan adanya tangan yang terus menggoyangkan tubuhku hingga membuatnya berputar menghadap pada sang empunya tanpa berniat membuka mata "Kenapa?" Tanyaku dengan suara parau. Aku menunggu, namun dia tetap diam tidak membalas, kemudian dengan perlahan aku membuka mata, dan tidak melihat apapun selain warna putih yang sukses membuatku beranjak kaget. Tiba-tiba sebuah tawa menyadarkanku, segera aku memperhatikannya tidak percaya. Emily Donova, adikku.
"Apa yang kau lakukan- "Aku menatap kearah jam yang tergantung di dinding "Ini jam empat. Kau gila?! Dan-" Aku segera menyambar tangannya yang memegang sebuah kertas "ini apa?" Tanyaku, sembari membolak-balikkan kertas yang merupakan sebuah surat. Seketika pikiranku terhanyut saat melihat sebuah sealed berwarna merah yang menutupinya, "H".
Itu cap resmi Hogwarts, dan itu benar-benar cap resminya, kemudian kulihat ukiran nama di bagian bawahnya
H
Ms. Casey Dawney
Indonesia
Ringe, 24 roadway.
"Alamatnya benar, kok Namanya salah sih?" Aku bergumam.
"Itu untukmu kakakku. Casey Donova, lihatlah itu tertulis dengan jelas! Kau buta?" Aku berdecak kesal "Kau yang buta! Itu Casey Dawney, mana ada Donova?" Dia mengangkat bahu dan melenggang pergi tak peduli.
Apaan sih, 'kan emang Dawney, tapi disini ada marga Dawney ga seh?
Aku manggut-manggut, dan tanpa berpikir lagi aku langsung membuka seal tersebut, menemukan secarik perkamen yang berisikan panggilan ke Hogwarts serta berbagai kebutuhan yang perlu dipersiapkan, dan tak lupa dengan Ms. Dawney.
Aku menatap nama itu sengit merasa iri karena tak ikut terpanggil ke Hogwarts, yah walaupun aku tahu, jauh di lubuk hatiku. Hogwarts mana ada?
Seketika semuanya gelap, dan aku merasa mual setengah mati. Aku terangkat dari daratan dan sepersekian detik mendarat dengan kepala berputar serta rasa ingin meledak, untungnya sebuah tempat empuk mengijinkan aku untuk beristirahat sebentar sambil menutup mata.
Setelah merasa cukup tenang, aku membuka mata, mengedarkannya di seluruh sisi tempat yang baru saja ku darati.
"Bloody hell, where am I?" Aku berdiri, kemudian berjalan di sekitar ruang tamu tersebut, menyadari tidak ada siapapun disana. Kemudian mataku terpaku pada sebuah foto di meja samping televisi. Betapa terkejutnya aku ketika melihat sosok bayi kecil yang sedang digendong oleh seorang wanita "is that me?" kemudian ku tatap wajah kedua orang yang berdiri, wajah mereka dicoret dengan tinta merah.
Aku terus menatap bahkan memegang foto itu, hingga menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Merlin! Aku mengecil?!" Aku cepat-cepat mencari sesuatu yang bisa membantuku untuk menatap wajahku, dan kulihat sebuah kaca yang menggantung di dinding sebelah kanan.
Tubuhku kembali pada masa kanak-kanak, fisikku mengecil, wajahku lebih terlihat anak-anak dan errr chubby.
Ting tong
Aku mendongak masih dengan tatapan ngeri menatap ke lorong menuju pintu keluar, disana dari sebuah jendela satu arah yang bercorak bunga, memperlihatkan seorang pria besar menutupi keseluruhan jendela. Perlahan aku berjalan ke arahnya kemudian meletakkan tangan ke gagang pintu dengan ragu sebelum benar-benar membukanya.
Aku menatap cengo, di hadapanku berdiri seorang Keeper of keys and grounds of Hogwarts, Rubeus Hagrid.
"Hello, dear. May I come in?" Dengan tetap cengo, perlahan aku menyingkir dari pintu mempersilahkan dia masuk, di belakang seseorang yang sangat kuyakini adalah kenalanku berjalan mengikutinya dengan kaku.
"ELLE!" Aku memeluknya, dia terdiam kaget, segera aku melepaskan pelukan dan dia menatapku sumringah, terlihat bahagia ketika menyadari ada orang yang dikenalnya. Elle adalah sahabatku, sahabat kecilku tepatnya, kami masih saling kontak dan betapa kerennya ketika kami berdua bertemu di keadaan yang entahlah.
Jujur saja aku tidak yakin apakah Elle datang di masa yang sama denganku, ataukah dia berasal dari sini. "Casey?! Apa yang sedang terjadi?" Bisiknya padaku bingung, kemudian beralih tatap kearah Hagrid yang senantiasa duduk menatap kami berdua bingung. Aku langsung menarik tangan Elle supaya mendekat ke Hagrid tanpa menjawab pertanyaannya, berharap Hagrid bisa membuka jalan pikiran kami berdua.
"Kalian saling kenal ya? Oh ya, tentu saja, satu perumahan-" Hagrid mengangguk tidak jelas, kemudian mempersilahkan kami berdua untuk duduk di hadapannya.
"Casey dan Elle, dear. Aku sudah lama ingin menjemput kalian ke Hogwarts, tapi Dumbledore melarangku. Tentu saja saat hari ini tepat ulang tahun kalian, aku langsung meluncur kemari. Kalian tidak tahu bagaimana rasanya saat menunggu waktu." Ujarnya dengan bahagia, bahkan jenggotnya pun tak berhenti bergerak ke kanan-kiri, membuatku menyikut Elle pelan.
"Hm, apa—ini maksudnya?" Elle mengangkat tangannya yang sedang menggenggam sebuah surat, yang kuyakini sama seperti milikku, sekaligus menjawab pertanyaan dalam benakku tentangnya tadi.
"Oh. Hey! Orangtua kalian tentu sudah—oh yah tentu saja, maaf aku lupa." Hagrid menggaruk tengkuknya "Hm, baiklah akan ku jelaskan secara singkat. How do I put this?" Dia berdehem pelan, mengambil posisi duduk senyaman mungkin sebelum melanjutkan "You're a witch, Casey, Elle." Dia berkata dengan sudut mata yang tajam, dan kami tak bereaksi. Maksudku, itu bukanlah sesuatu yang besar.
"and—" tanyaku terputus sambil mengangkat kening, menunggu Hagrid untuk melanjutkan. Dia kikuk, sepertinya merasa kurang percaya dengan ekspresi kami yang biasa.
"Okay Hagrid, is that it? Karena, sungguh ini tidak masuk--" Aku cepat-cepat memegang bahu Elle untuk membuatnya berhenti, setelah menyadari tatapan tidak percaya atau lebih tepatnya mengintimidasi dari Hagrid, kemudian aku membalas "no, it is make sense. Just, you know? Things had gotten scarier." Elle menatapku tidak percaya, aku balas menatapnya berusaha mengirimkan sinyal untuk tetap misterius, dia kemudian mengangguk seakan mengerti "uh, sorry." Aku kemudian mencoba menjelaskan kembali "Our mother and Father left us umm letter? Uh yeah, and that's why we knew all of "this"-" Kataku sambil menggerakan jari telunjuk dan tengah seakan memberi kutipan "-and about you too" Hagrid tersenyum sambil mengangguk mengerti kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, mengambil suratku dan Elle, menatap kami berdua dengan binar semangat "Well? Ayo berbelanja."
Dia berjalan kearah pintu luar dan berhenti tiba-tiba -untung saja kami berdua belum beranjak dari ruangan- dia membalikkan badan menatap ke arahku, "Kunci brankas mu, apa kau sudah mengambilnya?" Aku berdiri kikuk saat mendengar penuturannya, bagaimanapun aku baru tiba di rumah ini, tidak tahu menahu letak ini dan itu.
"Coba kau ke upstairs dan temukan kamarmu." Bisik Elle membuatku mengangguk dan segera berlari menuju tangga yang berada di samping lorong jalan keluar.
Di lantai atas terdapat dua pintu yang tertutup saling berhadapan dan yang satu terbuka tepat di bagian ujung, aku langsung mengambil hipotesis bahwa itu ruanganku. Saat sampai di depan pintu tersebut, mataku tertuju pada sebuah ukiran kayu yang menggantung di pintu dengan tulisan tangan yang rapi berwarna putih bertuliskan namaku "Casey".
Kamarnya sederhana, hanya ada kalimat penyemangat dan beberapa foto yang menggantung di dinding, dan bagian pentingnya adalah ketika aku melihat sebuah rak besar berisikan beberapa buku -tentu saja tidak membuatku heran- dan disampingnya adalah lemari pakaianku. Di lantai dekat kasur, sudah ada koper berukuran large dan medium serta tas kecil. Aku mengedarkan pandangan mencoba mencari kunci brankas yang dimaksudkan, dan pada meja belajarku terdapat sebuah handphone, notebook kecil, kunci rumah dan kunci kecil yang kuyakini merupakan kunci brankas. Tanpa berpikir lama, aku langsung meraih keempat barang tersebut, menutup pintu dan berlari kecil ke lantai bawah.
