We're in London. Exactly! England, London. This explains everything. I mean, that house tho?!

Aku terus bergumam menatap sekitar saat Hagrid mengajak kami berbelanja, dan sekalipun aku tidak pernah ke London, bukan berarti aku tidak pernah menggunakan Google Maps untuk melihat dunia, yah walaupun tempat dan suasananya agak sedikit berbeda.

Sambil berdecak kagum aku menyenggol tangan Elle, dia pun menatapku masih dengan tidak percaya.

"Seriously Case, how did we end up here?! Look at them!" Elle menunjuk ke arah orang-orang yang berlalu-lalang, pakaian mereka fashionista tapi lebih sopan dari yang seharusnya.

"I dunno, Elle. But I bet kita sedang, you know? Time travel? Undur waktu?" Jawabku tidak yakin sambil menunjuk ke arah Hagrid.

"You mean, kita sedang berada di tahun 1991? Berumur 11 tahun? Then, we are on the same year where Harry and his friends are on?! It's a book, bloody hell!" Aku tersenyum melihat reaksinya sebelum mengangguk dan membalas "Well? Kalau begitu apalagi? You and me, eleven. Of course! Tubuhku, wajahku, rambutku, berbeda dari yang seharusnya. Aku bahkan bisa melihat dengan jelas sekarang." Tahunku yang seharusnya memaksa aku untuk menggunakan kacamata, yah kata mereka terlihat lebih lucu, tapi itu meresahkan.

"Okay. Kita berakhir disini karena surat itu, seperti portkey? Time-turner? Tapi, kenapa kita kembali berumur sebelas?! I mean, in wizarding world, there is no such a thing." Elle benar. Umur, fisik yang berubah mundur sama sekali tidak masuk akal di dunia sihir.

"Ugh, maybe shifting?" Ujarku menebak asal, Elle langsung memutar bola mata dengan malas, "tidak mungkin Casey, dear." Aku menyengir dan mengangguk, kemudian kami berdua terhanyut pada pikiran masing-masing sambil terus mengekori Hagrid, tanpa menyadari bahwa kami telah di tuntun di jalanan yang sepi.

"We've arrived" Hagrid telah berputar menghadap kami, merentangkan kedua tangannya dan menarik napas dalam-dalam "the-"

"-Leaky Cauldron" Sambungku dan Elle bersamaan, sambil cekikikan geli melihat wajah cemberut Hagrid, "Yah baiklah, kalian tentu tahu. Orangtua kalian hebat sekali bisa memberitahu segalanya secara detail-" sebelum Hagrid melanjutkan ucapan dengan nada curiganya aku langsung memberikan alasan palsu "-oh tidak Hagrid, aku dan Elle membacanya di diary ibu Elle. Kau tahu? Dia menuliskannya dengan lengkap seperti sebuah buku" yang kuakhiri dengan kekehan pelan, Hagrid pun ikut terkekeh mendengarnya. Kemudian dia segera membuka pintu Leaky Cauldron dan mempersilahkan kami berdua untuk masuk duluan.

Selagi masuk ke dalam, Hagrid tak berhenti mengoceh tentang Leaky Cauldron "-it's a famous place, did you know?" "—banyak penyihir tua yang datang dan berkumpul disini" "—tinggal disini pun boleh, asalkan jangan membayar dengan uang muggle—" "-yah tentu saja muggle tak bisa melihat tempat ini, bagi mereka ini hanyalah rumah kumuh—" dan masih banyak lagi yang telah sempurna ditutupi oleh keramaian Leaky Cauldron.

Seperti yang dikatakan Hagrid, Leaky Cauldron dipenuhi oleh para penyihir tua, dalam satu meja bisa saja ada enam, kadang bahkan walaupun saling berseberangan mereka tetap saja berhubungan dekat dengan berbagi canda tawa, yang kerennya lagi hampir semua menggunakan topi kerucut -sangat menggambarkan perawakan mereka sebagai pria-wanita lanjut usia-

"Oh Hagrid! Siapa dua gadis cantik di depanmu itu?" Seru seorang pria yang tertutupi oleh meja tinggi di hadapannya, dengan tangannya yang tetap gesit mempersiapkan pesanan, seperti layaknya dalam sebuah bar.

"The same guy Elle, Tom the bartender of Leaky Cauldron" Bisikku pada Elle "The one who recognize Harry first." Balasnya, membuatku mengangguk sambil menatap lurus pada wajah bartender tersebut.

"Tom! Tentu saja murid Hogwarts, apalagi?" Balas Hagrid sambil melihat dan merapikan pakaiannya yang agak kacau. "Oh, hello dear. Welcome to Leaky Cauldron." Ungkap seorang pria yang duduk berhadapan dengan sang bartender, aku mengangguk pelan dan tersenyum.

Kami terdiam, yang tak lama kemudian sebuah sentuhan pelan di punggungku membuatku tersadar, "Ayo Casey, Elle, kita harus segera membeli keperluan kalian berdua." Hagrid langsung memimpin jalan -lebih tepatnya aku dan Elle mempersilahkannya, mengingat Leaky Cauldron adalah tempat paling membingungkan dalam dunia sihir- setelah lama mengikuti, akhirnya kami sampai di halaman belakang L.C dan menemukan tembok berbata.

"Three up... two across" Gumamnya menatap tembok tersebut sambil menggerakkan tongkat sihirnya menepuk beberapa batu bata, aku dan Elle menunggu sambil menatap khawatir dan sedikit bersemangat.

Hell yeah, we're going to Diagon Alley. I'm going to buy a lot of books! Clothes! Cause, why not? And FIRST PET FOR MEEHH! Teriakku dalam benak, tak menyangka akan segera mendapat properti magis.

Batu bata yang tadinya tersusun rapi tertutup, tiba-tiba mulai membuka seperti mulut hingga membentuk sebuah pintu masuk, di sana aku langsung melihat pemandangan seperti desa kecil dengan pintu-pintu setiap rumah yang terbuka.

"Welcome," Kata Hagrid "to Diagon Alley."

Cauldrons - All Sizes - Copper, Brass, Pewter, Silver - Self-Stirring - Collapsible.

Aku menatap dengan berbinar hingga mendengar sebuah suara yang datar dan terkesan membosankan, "tidak seramai yang kupikirkan Case." Aku langsung berkacak pinggang menatapnya, "Hey, kau tentu tidak lupa memeriksa kalenderkan? Kalau kita datang satu minggu lebih cepat dari Harry?" Balasku dengan berbisik, dia kemudian mengangguk dan langsung mengajakku untuk mengikuti Hagrid.

"Hagrid! Wait!" Teriakku, Hagrid langsung diam dan membalikkan badan, "Where are we going?"

"Gringotts Wizarding World," Jawabnya "tempat bank penyihir teraman. Tentu saja kalian tidak berharap membeli barang tanpa uang resmi dunia sihir bukan?" Hagrid menyengir, membuatku dan Elle tersenyum singkat sebelum melanjutkan perjalanan kembali menyusuri pertokoan, tepat di ujung jalan sebuah bangunan menjulang tinggi berdiri, Gringotts.

Mereka telah tiba di depan bangunan putih-bersih yang menjulang tinggi tersebut. Di sebelah pintu perunggu mengkilap, berdiri tegak makhluk berseragam merah dan emas.

"Yeah, itu goblin." kata Hagrid pelan sementara mereka mendaki undakan batu putih menuju ke tempatnya. Si goblin kira-kira sekepala lebih rendah dari aku -Elle lebih tinggi dariku-. Wajahnya yang hitam tampak cerdas, dengan janggut runcing dan jari-jari tangan dan kaki mereka begitu panjang. Dia membungkuk ketika mereka masuk.

Sekarang mereka menghadapi sepasang pintu kedua, yang ini perak, dengan kata kata berikut terpahat di atasnya:

Masuklah, orang asing, tetapi berhati-hatilah

Terhadap dosa yang di tanggung orang serakah,

Karena mereka yang mengambil apa saja yang bukan haknya,

Harus membayar semahal-mahalnya,

Jadi jika kau mencari di bawah lantai kami

Harta yang tak berhak kau miliki,

Pencuri, kau telah diperingatkan,

Bukan harta yang kau dapat, melainkan ganjaran.

"Bacalah, dan ku ingatkan, gila kau kalau berani merampok di sini," kata Hagrid.

Oh yah, dan Harry bersama Ron dan Hermione malah merampok dengan brilliant. Pikirku geli.

Sepasang goblin membungkuk ketika mereka memasuki pintu perak, dan mereka berada di aula pualam besar.

Kira-kira lebih dari seratus goblin duduk di atas bangku tinggi di belakang meja panjang, sibuk menulis di buku kas besar, menimbang koin di timbangan kuningan, memeriksa batu-batu mulia dengan kaca pembesar. Ada terlalu banyak pintu keluar dari aula itu hingga tak bisa dihitung, tapi ada lebih banyak lagi goblin yang mengantar orang-orang keluar masuk pintu-pintu ini.

Aku berhenti menatap kagum, Hagrid langsung memanggilku dalam diam ketika menyadari beberapa goblin mulai memperhatikanku jengah.

Kami segera menuju ke arah altar yang berdiri di tengah dengan seorang goblin yang tetap setia melihat ke arah kertas di mejanya.

"Halo. Pagi." Sapa Hagrid agak kaku, si goblin tidak bergerak, tetap diam. "Kami datang untuk mengambil uang dari lemari besi Ms. Casey Dawney dan Ms. Elle Torvas." Aku menatap Elle, baru menyadari marganya di sini adalah Torvas.

Si goblin memajukan tubuhnya untuk melihat dengan jelas perawakanku dan Elle, "Apakah, Ms. Dawney dan Ms. Torvas memiliki kuncinya?" Hagrid mengangguk dan memegang bahuku dan Elle, kami berdua bergegas menarik kunci kecil di saku, dan memberikan keduanya pada si goblin. Sang goblin langsung memerintahkan seorang dari goblin untuk menuntun kami.

Si Goblin menuntun kami keluar aula dan kembali bertemu dengan pintu yang sangat besar. Tak lama pintu kemudian terbuka, membawa mereka ke sebuah lorong batu sempit yang diterangi cahaya obor-obor. Lorong itu menurun curam dan ada bekas rel kecil di lantainya. Goblin itu bersiul, lalu muncul kereta kecil yang meluncur ke arah mereka.

Mereka naik—Hagrid dengan susah payah— dan kereta pun berangkat. Awalnya mereka cuma berbelok-belok melewati lorong berbelit-belit. Aku mencoba untuk tetap tenang dan berusaha mengingat, kiri, kanan, kanan, kiri, garpu tengah, kanan, kiri, tapi tak mungkin, perutku bahkan terasa mual karena berusaha fokus.

Kereta yang berderak-derak itu kelihatannya tahu sendiri jalannya, sebab si goblin sama sekali tidak mengemudikannya. Selama di perjalanan -yang lajunya begitu cepat, namun tak kunjung sampai- aku, bahkan Elle sempat melihat semburan atau percikan api dari bawah, membuat kami teringat akan adegan Trio Golden yang harus melawan naga selagi merampok Gringotts.

kami meluncur turun semakin mendalam, melewati danau bawah tanah dengan stalaktit dan stalagmit besar-besar bermunculan dari atap dan dasarnya. Aku mulai mencoba mengingat mantra apa yang bisa membuat perutku tenang dari rasa mual, tapi jelas sama sekali tidak ada yang terpikirkan olehku, selain unforgivable curse.

atau mungkin aku bisa merapalkannya pada si goblin supaya kereta ini berhenti, mual ku hilang, dan kita sebaiknya berjalan kaki? pikirku meracau -tongkat saja belum punya-. Aku mulai memegang tangan Hagrid kuat dan menyandarkan kepala sambil memejamkan mata, untungnya Hagrid tak merasa keberatan sama sekali.

Tak lama, kami sampai. Aku dan Elle turun di depan pintu brankas -milikku- yang cukup mengesankan. "Ouh, pintunya bagus sekali." Ucapnya datar. Hagrid melihat ke arahnya heran, "itu tak terdengar seperti pujian nak."

"Memang bukan" Balas Elle sembari menempel padaku.

Pintu terbuka dan kami masuk, sebenarnya aku tak terlalu peduli dengan berapa uang yang harus kami ambil. Maka dari itu Elle mengambil sejumlah besar koin-koin berwarna itu dan nyengir padaku.

"Casey yang manis? Bagaimana jika untuk tahun ini, kita ambil uang dari brankas mu dan uang dari brankasku tahun depan. Okay?" Padahal aku belum menjawab, tapi dia sudah terlebih dahulu memasukkan uangku ralat, uang kami ke sakunya.

"Seriously Elle? Kunci itu buat apa kalau begitu?!" Kataku menunjuk kunci satu lagi yang dipegang oleh goblin tersebut. "Kau mual dan pusing seperti Hagrid, Casey. Yah, kecuali kamu bersedia untuk menikmati jalannya kereta tersebut." Aku menelan ludah pelan, pikiranku mulai melayang dan perutku mulai kembali terasa mual. Aku langsung mengangkat tangan -tanda pasrah- dan tersenyum ke arahnya.

"Apa kalian juga sudah tahu sistem uang dunia sihir?" Aku dan Elle serentak mengangguk, mudah sebenarnya "Baiklah, ayo kita kembali, dan kuncinya tolong-" Si goblin langsung menyerahkan kedua kunci milikku dan Elle kepada Hagrid, dan mengopernya pada kami berdua, "-jangan mengajak aku ngomong setelah ini, kereta ini sangat tidak bersahabat."

Setelah keluar dari bank, aku melihat sekeliling mencoba memandang dengan jelas bahwa disinilah aku sekarang. Terjebak dalam sesuatu yang sejujurnya aku sukai, kurasa Elle pun begitu karena sekarang dia tersenyum ke arah setiap orang yang lewat sambil berkata 'halo' dalam logatnya.

"Kemarilah kalian berdua." Aku dan Elle langsung menghampiri Hagrid, dia memberikan perkamen yang tadinya dalam surat Hogwarts, "Ini benda yang perlu kalian beli, aku akan menemani kalian tentu saja,"

SEKOLAH SIHIR HOGWARTS

Seragam

Siswa kelas satu memerlukan :

Tiga setel jubah kerja sederhana (hitam)

Satu topi kerucut (hitam) untuk di pakai setiap hari

Sepasang sarung tangan pelindung (dari kulit naga atau sejenisnya)

Empat mantel musim dingin (hitam, kancing perak)

tolong diperhatikan bahwa semua pakaian siswa harus ada label namanya.

Buku

Semua siswa harus memiliki buku-buku berikut :

Kitab mantra standar (Tingkat 1) oleh Miranda

Goshawk Sejarah Sihir oleh Bathilda Bagshot

Teori Gaib oleh Adalbert Wagging

Pengantar Transfigurasi bagi Pemula oleh Emeric

Switch

Seribu satu tanaman Obat dan Jamur gaib oleh Phyllida

Spore Cairan dan ramuan ajaib oleh Arsenius JIgger

Hewan hewan fantastis dan dimana mereka bisa ditemukan oleh Newt

Scamander

Kekuatan gelap : Penuntun perlindungan diri oleh Quentin Trimbel

Peralatan Lain

1 Tongkat sihir

1 Kuali (Bahan campuran timah putih-timah hitam ukuran standar)

1 Set tabung kaca atau kristal

1 Teleskop

1 Set timbangan kuningan

Siswa diizinkan membawa burung hantu ATAU kucing ATAU kodok

ORANGTUA DIINGATKAN BAHWA SISWA KELAS SATU BELUM BOLEH MEMILIKI

SAPU SENDIRI!

Sangat mirip dengan isi surat Harry, oh maksudku yah tentu saja.

"Merlin!" Hagrid mendadak menepuk dahinya -yang selebar telapak tangan- dengan keras. "Aku lupa anak-anak, aku diminta Professor Snape untuk membeli beberapa ramuan, ehm eh ba-bagaimana kalau ku tinggal kalian berdua disini sebentar?" Tanya Hagrid kikuk.

"Hagrid, bagaimana jika kau berikan daftar apa yang harus kami beli. Nanti kami cari sendiri sembari menunggumu disini?" Tanya Elle. Hagrid pun memberikan daftarnya dan menatap khawatir. "C'mon Hagrid, kami tidak akan tersesat ke benua lain. Pergilah" Hagrid pun tersenyum lega, memberikan kertas berisi toko yang perlu kami kunjungi dan pamit pergi ke arah sebuah toko yang aku yakin adalah Apothecary.

Kuali - Potage's Cauldron Shop

Buku - Flourish and Blotts

Hewan (Owl) - Eeylops Owl Emporium

Seragam/Pakaian (Uniforms) - Madam Malkin's Robes for All Occasions

Barang-barang Switch - Obscurus Books

Tongkat - Ollivanders

Selepas perginya Hagrid, aku mencubit lengan Elle sekuat tenaga dua kali dengan keras. "OUCH! What was that for?" Tanyanya tidak terima.

"Karena telah mengambil uang dari brankas ku tanpa permisi dan karena tidak berpikir secara teliti!" Jelas ku dengan nada tinggi. Dia hanya tertawa, seperti ada yang lucu saja.

"Jika maksudmu tidak berpikir secara teliti adalah tidak heran dan mempertanyakan mengapa kita berdua bisa ada disini dan bagaimana dengan kedua orangtua kita yang sepertinya enggan sekali ingin dibicarakan Hagrid. Kita bisa bertanya pada Hagrid nanti, sekarang mari makan es krim" ucapnya diselingi tawa. Aku jadi bertanya-tanya,bukan-bukan mempertanyakan kenapa dia mau es krim tiba-tiba. Tapi mempertanyakan apakah kita berdua berbagi otak yang sama? Hanya saja dia lebih anak-anak dan aku orang yang berusaha menjadi dewasa?

"What happened to you? That's not what i mean Elle." Aku langsung berlagak memeriksa suhu di dahi dan pipi Elle, yang langsung ditepis pelan olehnya "Tidak ada yang salah, kau kenapa?" Elle nyengir -terkesan mengesalkan- "Waktu portkey, sepertinya. Kepalaku sedikit terbentur, atau bergeser." Balasnya singkat, aku langsung menyentil lambungnya, dia melonjak kaget "How did you do that!"

Aku tersenyum geli, "Yah, entahlah. Saat Portkey mungkin. Aku mendapat kekuatan astral." Balasku jahil tertawa dan dengan cepat-cepat berjalan meninggalkannya, yang ku tahu Elle hanya menggerutu sambil bergumam tak jelas.

Kita pun berakhir di Florean Fortescue's Ice Cream Parlour, beli es krim tentunya. Aku dan Elle makan sambil jalan menuju ke Madam Malkin's Robes for All Occasions, kami berdua setuju untuk membeli seragam kami terlebih dahulu. Selanjutnya ke Flourish and Blotts, disana ada begitu banyak buku. Wajah excited ku muncul tentu saja, kami berdua mencari semua buku yang diperlukan. Setelahnya kami ke Obscurus Books, selagi mencari Elle menghampiriku dan membawa sebuah buku yang ditulis oleh Newt Scamander. "Aku kesal sebenarnya," ucapnya dengan wajah cemberut sambil memberikan buku itu padaku, "padahal Newt muda ganteng kenapa aku tidak menikah dengannya?" Lagi-lagi dia mempertanyakan omong kosong.

aku ragu jika otak kita sama Elle.

Ollivanders. Kami tiba di toko terakhir, mengingat ucapan Hagrid sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan kami.

"Jangan jauh-jauh dari wilayah ini! Kita akan bertemu di Ollivanders, okay?" Tanpa menunggu jawaban, Hagrid langsung pergi.

"Tongkat. Aku ingin belajar menggunakan mantra tanpa tongkat." Ujar Elle kecil, aku langsung menatapnya dan dengan makin herannya aku ketika mendapati sahabatku itu sedang menggumamkan mantra Alohomora sambil menggerakkan tangannya. "Elle, sehabis ini kita ke St. Mungo's"

Kami kemudian masuk ke dalam dengan mantap, dan tentu saja tidak menemukan siapapun di sana.

"Hello? Mr. Ollivander?" Seruku sambil terus memperhatikan sekitar, tiba-tiba seorang pria dengan tumpukan kotak kecil memanjang muncul dari rak lantai atas. Aku dan Elle yang melihatnya kesulitan, langsung bergegas naik ke lantai atas dan mengambil beberapa kotak yang telah menutupi penglihatannya.

"Oh dear, thankyou Ms-"

"Ms. Torvas and Ms. Dawney, sir." Balas Elle cepat.

"Ah, yes, sure, Ms. Torvas and Ms. Dawney, I've been waiting for both of you. Mari ke bawah dan kita akan segera menemukan tongkat yang cocok untuk kalian." Kami langsung turun dan meletakkan kotak-kotak tersebut ke meja yang berada di samping tangga.

"Aku masih sangat ingat dengan masing-masing dari orang tua kalian, sangat hebat dan pandai, itu yang kudengar dari rumor sebenarnya-" Dia sibuk melihat kotak-kotak yang tertata di rak, "-oh maafkan aku berbicara omong kosong. Mari, mendekatlah." Mr. Ollivander membawa empat kotak, membaginya dalam dua bagian dan menyuruhku berdiri di sebelah kiri sedangkan Elle berada di kananku.

"Cobalah dengan ini." Aku mengambil tongkat pertama yang dia berikan, kemudian aku langsung asal mengayunkannya ke arah jendela, dan pecah. Aku memberikannya kembali pada Mr. Ollivander, dia meletakkannya ke dalam kotak kembali dan menatap Elle sambil memegang tongkat yang lain. Elle segera melakukan hal yang serupa denganku untuk menghindari kecelakaan besar, dan hasilnya sama.

"Maafkan kami tentang jendelanya, sir."

"Don't worry dear, sudah menjadi konsekuensi bagiku sebagai seorang penjual tongkat, dan tenanglah, tongkat memilih pemiliknya, semakin lama semakin aku bersemangat apa yang menjadi milik kalian masing-masing." Dia kemudian membuka kotak kedua, dan memberikan tongkat tersebut padaku dan Elle. Kami berdua mencoba melakukan hal yang sama -objek bunga-, dan dalam sedetik langsung hancur lebur. Aku tertawa keras, itu terlihat lucu.

"Baiklah, dua tongkat ayah dan ibu kalian tidak bekerja." Mr. Ollivander langsung beranjak dari meja memperhatikan setiap tongkat di raknya sambil berpikir, "sejujurnya beberapa tongkat yang tersebar di sini menyadari kehadiran kalian, dan rupanya mereka masih ingin dicoba." Dia menuju ke salah satu rak, kemudian mendongak mengajak kami untuk ikut.

"Ms. Dawney, cobalah ini." Aku mengangguk dan mengambil tongkat tersebut dari tangannya, kemudian mengayunkannya ke arah tumpukan kotak di meja yang tadi aku dan Elle bawa. Kotaknya langsung terbang berhamburan membuatku semakin merasa tidak enak, "Baiklah, berarti bukan." Dia kemudian memberikan tongkat lain ke Elle, dan Elle dengan wajah tanpa dosanya membuat satu rak jatuh.

"Oh maafkan aku, tongkat ini dengan sendirinya mengarahkan ke arah rak. Kurasa dia kurang senang dengan anda, sir." Jujur saja aku ingin tertawa, tapi menyadari kekacauan yang telah kami ciptakan, membuat aku menyikut Elle.

"Kau membuatku sadar tongkat apa yang sangat cocok denganmu Ms. Torvas." Balasnya dengan tersenyum dan kembali sibuk melihat ke kotak-kotak di rak.

"Apa itu benar, atau sekadar rekayasa yang menyenangkan?" Gumamku pada Elle dengan tatapan meminta penjelasan, "Oh ayolah, kulihat kau menikmatinya." Aku dengan cepat membuang muka, pura-pura tidak mendengarkan.

"Ini." Tanpa banyak kata dia langsung memberikan tongkat tersebut pada Elle, dan sebelum tongkatnya di ayunkan Elle di kelilingi cahaya hangat yang keluar dari tongkat dan kilauan warna keemasan di sekelilingnya. "Yah, tentu saja. tiga puluh setengah senti, rosewood-yah sangat menggambarkanmu-core unicorn hore." Dia mengangguk dan segera mengambil tongkat tersebut, kemudian kembali bersitatap dengan rak-rak penuh tongkat.

"Cobalah yang ini, terakhir, pasti." Dia menatap yakin, kemudian hal yang sama seperti Elle terjadi padaku, bedanya kilauan yang keluar berwarna merah.

"Hebat sekali kalian berdua. Milikmu Ms. Dawney-" Ujarnya sambil mengambil tongkat yang kupegang, "-dua puluh sembilan senti, jenis kayu Beech, inti Dragon Heartcore." Kami segera keluar dari rak dan menemukan Hagrid yang telah menunggu di luar. Mr. Ollivander memberikan bungkusan dua kotak berisi tongkat kami, dan kami meninggal kan sepuluh sickle perak di tangannya, tak lupa mengucapkan terima kasih, "berkunjung lah kembali!"

"Hagrid? Lama?" Bibir Hagrid langsung merekah ketika melihat kami berdua, kemudian membalas dengan gelengan kepala. "Tidak, bagaimana dengan tongkatnya?"

"Terbaik!" Balasku memberi jempol, Elle mengangguk santai, "Tentu saja, aku jadi ingat hari pertamaku membeli tongkat, Ollivanders selalu yang ter-ya ampun kalian belum membeli hewan peliharaan?"

"Belum, kami tidak mungkin masuk ke toko-toko membawa burung hantu Hag" Hagrid mengangguk, kemudian menuntun kami menuju Eeylops Owl Emporium.

"Snowy-" Aku.

"Tawny." Elle.

"Baiklah kalian berdua, aku punya beberapa keperluan di kementrian sihir, aku hanya bisa mengantar sampai jantung London, -kalau aku tidak salah menyebutkan-yah pokoknya hati-hati di jalan- oh dan ini tiket Hogwarts Express kalian. Jangan menghilangkannya! Barang penting!" Ujarnya berbaur dengan para muggle hingga benar-benar menghilang. Meninggalkan kami yang sempurna menjadi sorotan utama di pusat London. Benar-benar Hagrid itu, setidaknya bantu kami membawa barang-barang ini.

Dia tidak lupa, bukan? kalau aku dan Elle menyandang status kaum hawa?

"Hai Zaki." Aku menatap Elle yang sedang asik bermain dengan burung hantunya -barusan diberi nama Zaki- sambil memutar bola mata, merasa jadi penyihir paling waras.

"C'mon Elle, disini tidak menyenangkan." Dengan susah payah aku juga Elle membawa barang-barang yang kami beli -jalan kaki- menuju rumah yang tidak begitu jauh dari pusat kota.

DOUBLE UPDATE! LUVYU