"Case? Aku tinggal denganmu sampai due day, ya?" Aku tersenyum, kemudian mengangguk "Kau pergilah mengambil koper dan pakaianmu selagi disini, kita masih punya enam hari." Elle tersenyum, meninggalkan barang keperluan sekolahnya dan pamit pergi ke rumahnya.
Aku duduk di ruangan tamu, menyalakan televisi dan merasakan bagaimana berbedanya alat elektronik luar, lebih sulit atau mungkin karena aku baru pertama kali memakainya.
Tak lama kemudian pintu utama terbuka memperlihatkan Elle yang susah-payah mengangkat barang bawaannya, aku langsung saja berinisiatif untuk membantu, membawa barang-barang tersebut ke lantai atas dan secara asal membuka pintu kamar -bukan milikku- sebagai kamar sementara untuknya.
Lima hari kami habiskan dengan mencari tahu asal-usul keluarga kami, aku bahkan menemukan banyak informasi tentang diriku sendiri di dunia ini lewat notebook kecil yang ku bawa dari awal.
Keluargaku adalah seorang pureblood, cukup terkenal di dunia muggle begitupun dunia sihir. Ayahku bekerja sebagai Auror di Kementerian sihir, sekaligus menempati atau membantu beberapa bagian dalam pengawasan terhadap witches and wizards. Ibuku malah lebih memilih untuk bersemayam -tepatnya berbaur- dengan kehidupan muggle, dia menjadi seorang artis -penyanyi- yang cukup terkenal.
Keluarga Elle juga seorang pureblood. Orangtuanya bekerja di kementrian sihir, ayahnya juga ternyata seorang auror dan ibunya ternyata adalah salah satu orang di kementrian sihir yang sangat rahasia. Cukup mengherankan mengingat Elle sama sekali tidak bisa menjaga rahasia orang lain untuk tidak diberitahukannya padaku.
Disini kami menjadi lebih sering keluar, atau menghabiskan waktu di taman untuk membaca buku, sekali-sekali menghabiskan waktu dengan beberapa tetangga, hingga tak bisa dipungkiri pria ganteng di luar negeri sangatlah bertebaran.
"Casey, ayo kita pulang."
"Just a moment Elle, Josh ingin memberikan buku." Balasku sengit membuang kasar desakannya. Josh pria yang baik dan lembut.
Begitulah aku dengan setiap fantasiku, yang sayangnya harus segera diakhiri mengingat aku harus fokus menemukan alasan dan jalan keluar dari sini.
"Kau sudah siap Elle?" Teriakku dari lantai bawah, dua koper dan tas kecil sudah ku turunkan dari lantai atas, "Sebentar, dan-" tiba-tiba terdengar suara jatuh yang cukup kuat mengagetkanku, "-TOLONG BANTU AKU!" aku langsung berlari ke atas dengan tergesa-gesa, melihat Elle yang sudah sempurna menduduki kopernya dengan wajah muram di tengah koridor.
"Kenapa kita selalu tidak menggunakan sihir, Elle?" Tanyaku heran sambil memutar-mutar tongkat di tanganku, "karena kita tidak terbiasa Case, lagian hal kecil begini pakai sihir seperti tidak ada tangan dan kaki saja." Kami kemudian turun ke bawah dan mengeluarkan semua barang yang ada ke halaman, setelahnya aku mengunci pintu rumah.
"Sudah pesan taxi?" Aku mengangguk tetap menatap layar handphone sambil menunggu kedatangan taxi yang barusan ku pesan, tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahku dan sang sopir keluar untuk segera membantu kami memasukkan barang-barang ke dalam mobil.
Beberapa menit berlalu -atau jam-, kami akhirnya tiba di King's Cross, dengan dibantu oleh si sopir dan troli, koper kami akhirnya bisa dengan lebih mudah untuk dibawa ke dalam stasiun.
"Oh hey Elle, good news! Tempatnya ramai seperti yang kau harapkan!" Sindir ku halus pada Elle mengingatkannya sewaktu berada di Diagon Alley, dia menatapku sekilas dengan menyipit kemudian lanjut mendorong troli untuk menemukan tembok peron sembilan dan peron sepuluh, aku terkikik sembari melihatnya meninggalkanku.
Sambil berjalan, aku mengedarkan pandangan ke stasiun, berharap bertemu Harry walaupun sebenarnya aku dan Elle sudah bersepakat agar tidak melakukan dengan sengaja pertemuan antara kita dengannya, maka dari itu kami memilih untuk datang satu jam lebih cepat dari waktu keberangkatan.
Kami sampai di tujuan, aku menatap ke arah tembok dengan semangat, kulihat Elle pun begitu, "Baiklah, aku duluan-" Aku langsung berlari dengan troli menembus tembok dan merasakan sensasi seperti biasa. "Jelas tidak begitu menarik" Kataku agak kesal setelah melihat Elle muncul dari tembok, diapun ikut mengangguk.
"Kita datang awal, masih sepi, pasti banyak kompartemen yang kosong, aduh semoga kita tidak mengubah jalan-tempat Harry dan Ron." Aku mengangguk setuju sambil terus melewati beberapa orang sampai tiba di kompartemen kosong di bagian depan -beruntung sekali-. Mula-mula kami mencoba menaikkan Zaki dan Juce, kemudian mulai mengangkat dan mendorong koper lewat pintu kereta.
Kami menghabiskan waktu membaca buku, aku sedang membaca kitab mantra standar oleh Miranda, sedangkan Elle membaca teori gaib oleh Adalbert Wagging, sampai akhirnya kami mendengar suara lokomotif yang menggema, membuatku mendongak ke pintu jendela dan memperhatikan banyak murid berdesakan kesana-kemari sambil beberapa dari mereka mengeluarkan kepala untuk mengucapkan salam perpisahan dengan orangtua mereka.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kompartemen kami, "Permisi" Ucap seorang gadis, Hermione Granger- dengan koper dan tas di pundaknya. Aku menatap horor "Halo?" Ujar Elle, membuatku melambaikan tangan pada Hermione. Dia tersenyum singkat sebelum membuka mulut, "I'm Hermione Granger-" menatap kami berdua secara bergantian, "Casey Do- I mean, Casey Dawney." Balasku cepat-cepat agak gugup, "Elle Torvas."
"Do you mind if I sit here?"
"No, of course." Dia mengambil tempat duduk di samping Elle -mengingat tas kami berdua berada di sampingku-, kemudian tersenyum manis menatap kami berdua yang sudah kembali terhanyut pada bacaan menarik tadi.
"Oh hm, tahun pertama?"
"Yes, and you?"
"Yes, I am. Kalian tahu? Ibu dan ayahku seorang muggle, mereka sangat kaget saat menemukan surat berisikan namaku yang terdaftar di dunia sihir, aku jujur saja sampai di sini karena beberapa bantuan. Prof. Mcgonagall, tahu?" Belum sempat aku membalas mulutnya langsung terbuka kembali "-yah, dia mengajak aku dan orangtuaku membeli ini-itu." Jelasnya panjang lebar, cukup membosankan karena sebagian besar sudah aku dan Elle ketahui.
"Hogwarts. Sekolah yang hebat, bukan?" Gumamnya, aku mengangguk, tapi tidak beralih tatap dari buku yang kubaca, dan tak lama kemudian kereta mulai berjalan.
"Apa kau tahu kalau di danau Hogwarts ada monster laut Gurita raksasa?" Katanya dengan mata berbinar lebih seperti menyombongkan diri karena tahu.
"Oh! Apa kau juga tahu kalau Gurita tersebut bisa menyemprotkan tinta hitam kepada mereka yang mulutnya besar?" Sindir ku yang sepertinya tidak begitu ditanggapi mendalam olehnya, "Benarkah? Kau tahu darimana?"
"Oh, barusan aku merasakan apa yang dirasakan sang gurita." Hermione terdiam sambil menunjukkan wajah bingung, aku langsung pura-pura tidak peduli hingga ia kembali membuka suara dengan bahasan yang lain.
Kami berbicara satu-dua hal tentang Hogwarts, dan segera berharap agar Neville datang menjemput Putri Gryffindor satu ini.
Aku tak tahu dengan Elle tapi, selain itu aku juga berharap ada troli yang lewat dan kami bisa makan sesuatu yang manis tanpa mendengarkan Hermione. "Uhh, aku harus memanggilmu apa? Mengingat kau memiliki nama yang cukup panjang" aku tak mengerti tapi Elle sepertinya tidak mau terdengar sok akrab jika tiba-tiba memanggilnya Mione.
Tak lama kemudian seorang bocah laki-laki yang terlihat a little bit stupid datang ke kompartmen kami. "Uhm, hallo? Has anyone seen a toad? I've lost it." -Neville Longbottom- Dia bertanya agak ragu dan kecewa, sambil terus mendudukkan wajahnya, seperti orang yang melakukan masalah besar.
"No. Hm, can we- I mean, can I help you with something?" Hermione menjawab dan menawarkan diri, "Aku tidak mengganggukan? Bagaimana kalau -boleh, tanyakan kepada yang lainnya apakah mereka melihat katak milikku?" Hermione menggeleng pelan, kemudian menatap aku dan Elle "Tentu saja. Bagaimana dengan kalian?"
"Tidak, kami lebih memilih duduk membaca buku-" Elle terdiam sebentar, memberiku kesempatan untuk melanjutkan "-daripada mencari seekor katak yang tentunya tidak mungkin duduk diam."
"Kalian berdua- terdengar seperti Fred dan George Weasley." Akhir kata Neville menatap bergantian aku dan Elle, kemudian pergi yang disusul oleh Hermione, membuatku bernafas lega.
"I dunno Casey, but-" dia menutup bukunya dan tersenyum ke arahku "-I kinda love it when Longbottom said I sounds like Freddie" aku hanya memutar bola mataku malas. "Jangan sok malas mendengarkanku jika kau pun sama Case," ujarnya lagi
"Elle, aku pikir tidak baik jika kita hanya mengikuti alur tanpa memiliki rencana, maksudku apa kau tidak pernah membayangkan kemungkinan terburuk setelah kita yang seharusnya tidak ada, malah muncul disini?" Tanyaku, Elle mendongakkan wajahnya dari bukunya, kemudian menatapku dengan tatapan berpikir, "aku tidak tahu, dan jelas itu benar. Tapi, aku pikir kita masih punya banyak waktu untuk itu, selama kita sama-sama tahu untuk tidak mengambil jalan beresiko tentunya." Jawabnya dengan melepaskan buku di samping tempat duduknya, kemudian menutup mata. Kurasa kami berdua akan melewati perjalanan ini dengan tidur, karena sejujurnya mataku mulai berat.
