"Hello? Kiddo? I think you want to open your eyes right now" aku mendengar suara ringan seorang lelaki yang asing, aku mengerjapkan mataku beberapa kali dan memandang ke samping -dimana Elle duduk- dan melihat seorang lelaki berambut merah sedang menepuk pipinya. "BLOODY HELL PERCY! Singkirkan wajahmu dari hadapanku!" Elle terbangun dan kaget serta sedikit bodoh dalam ucapannya.
Percy melihatnya dengan tatapan heran, "You know me?" Elle mengusap matanya dan mengangguk. "Tentu Percy, kau adalah prefect Gryffindor siapa yang tidak mungkin mengenalimu?" Ucapku mengalihkan kebingungannya. Percy mengatur jubahnya dan mengumpulkan kewibawaan seorang prefect.
"Nona nona, kita sebentar lagi akan sampai. Aku sarankan kalian berdua segera memakai jubah kalian" tuturnya sambil tersenyum dan pergi. Aku melihat kearah Elle yang masih duduk, "I've changed my mind, Percy boleh juga" dia memandangku dengan penuh arti. Aku melempar buku ke atas kepalanya dan menyodorkan jubah miliknya, "cepat pakai Elle atau harus kusuruh Percy memakaikannya?" Dia menggeleng.
Kami sampai di dalam kastil, saat turun dari kereta menuju kemari dengan perahu kami berdua berusaha tidak terlihat oleh Hagrid. Tapi tentu itu mustahil, dia malah menanyakan kenapa aku dan Elle terlihat seperti pencuri. Alhasil semua anak kelas satu tahu wajah kami berdua, hebat.
"The first years, Professor Mcgonagall." Teriak Hagrid
"Terima Kasih, Hagrid. Biar aku ambil alih sekarang."
Dibukanya pintu lebar-lebar. Aula di belakang pintu luas sekali, dinding batunya diterangi obor obor menyala seperti di Gringotts. Langit-langitnya tinggi sekali sehingga tak bisa dilihat, dan ada tangga pualam megah di depan mereka, menuju ke lantai atas. Kami -murid-murid- mulai mengikuti McGonagall melintasi lantai batu kotak-kotak. Aku dan Elle langsung semangat karena sebentar lagi akan tiba di pintu sebelah kanan yang terdengar agak ramai, tetapi Profesor McGonagall membawa murid murid kelas satu ke kamar kecil kosong di luar aula. Membuatku teringat skenario dari originalnya yang berbeda.
"Selamat datang di Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry," kata Professor McGonagall.
"Pesta awal tahun ajaran baru akan segera dimulai, tetapi sebelum kalian mengambil
tempat duduk di Aula Besar, kalian akan diseleksi masuk rumah asrama mana. Seleksi ini upacara yang sangat penting karena, selama kalian berada di sini, asrama kalian akan menjadi semacam keluarga bagi kalian di Hogwarts.
"Kalian akan belajar dalam satu kelas dengan teman-teman seasrama kalian, tidur di asrama kalian, dan melewatkan waktu luang di ruang rekreasi asrama kalian.
"Ada empat asrama di sini, Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw and Slytherin. Masing-masing asrama punya sejarah luhur dan masing-masing telah menghasilkan penyihir hebat. Selama kalian di Hogwarts, prestasi dan kemenangan kalian akan menambah angka bagi asrama kalian, sementara pelanggaran peraturan akan membuat angka asrama kalian dikurangi.
"Pada akhir tahun, asrama yang berhasil mengumpulkan angka paling banyak akan
dianugerahi Piala Asrama, suatu kehormatan besar. Kuharap kalian semua akan membawa kebanggaan bagi asrama mana pun yang akan kalian tempati.
"Upacara seleksi akan berlangsung beberapa menit lagi di hadapan seluruh penghuni sekolah. Kusarankan kalian merapikan diri sebisa mungkin selama menunggu."
Ada sedikit jeda dari Prof. Mcgonagall sebelum melanjutkan, dia memperhatikan kami masing-masing, "Aku akan kembali kalau kami sudah siap menerima kalian," Akhir kata Mcgonagall, wanita yang terlihat tegas dan sudah cukup tua.
Elle mendadak berbisik padaku, "Lihat? Sepertinya professor McGonagall adalah gambaran yang tepat mengenai masa tuamu Case." Aku mencubit lengannya keras-keras.
Tiba-tiba beberapa hantu datang melewati kami, dan sesekali mengajak anak-anak berbicara, hingga lima menit kemudian Profesor McGonagall kembali sambil mengusir hantu-hantu tersebut. "Come on everyone follow me" perintahnya tegas. Kami pun membuat dua barisan -dimana aku dan Elle berdiri bersebelahan- dan mengikuti professor masuk ke dalam aula besar.
Benar seperti bayangan kami, satu kata untuk menggambarkan tempat ini menakjubkan. Aku melihat lilin-lilin terbang, anak-anak yang begitu banyak dan Dumbledore dimana rambutnya sangat menarik perhatian.
Kami sampai di depan dan aku melihat sebuah kursi, professor McGonagall membawa sebuah topi dan selembar perkamen. "Untuk menentukan kalian akan masuk asrama yang mana, topi pemilih ini yang akan melakukannya. Sekarang nama yang saya panggil harap maju kedepan." McGonagall mulai memanggil nama. "Elle, menurutmu kita akan ditempatkan dimana?" Tanyaku memecah kebosanan yang terlihat jelas di wajahnya. Dia berbalik menatap langit buatan di atasnya, sembari bergumam. Tidak. Kurasa dia sedang memperhitungkan sesuatu.
"Aku sangsi apabila salah satu dari kita akan masuk Hufflepuff, kita berdua tidak sebegitunya bukan?" Ucapnya kemudian yang kubalas anggukan. "Aku mungkin akan masuk Ravenclaw jika otakku diperhitungkan dan kau mungkin akan masuk Gryffindor Casey. Tapi, aku mau masuk Gryffindor. Hanya saja, aku rasa aku akan masuk Hufflepuff. Aku tidak mau menjadi anak asrama si Snape." Jelasnya yang berisi kebuntuan.
"Tch, tidak berguna menanyai mu mate." Aku lalu terdiam menatap kedepan saat melihat Harry Potter berjalan ke arah kursi. Aku dan mungkin Elle mendengarkan dengan seksama, mengingat seisi aula juga mendadak hening.
"Elle, kita harus segera menyusunnya sekarang, masuk mana? jangan biarkan topi itu mengelabui kita, oke? Ingat tujuan kita untuk mencari tahu seaman mungkin. Aku tidak yakin dengan Gryffindor-maksudku, hey aku ingin mengenal asrama lain, mate." Kataku setelah lima orang selesai melakukan seleksi, khawatir jangan-jangan selanjutnya aku atau Elle.
"Aku tahu, tapi aku benar-benar tak ingin masuk asrama Snape." Bisiknya balik padaku, "Hey, kalian berbicara seolah-olah mengenal Prof. Snape sejak lama." Seorang gadis berambut pirang kecoklatan di sampingku tiba-tiba berkata sok akrab dengan kami, "oh asal kau tahu, Snape pernah bilang bahwa dia juga benci seseorang bermarga Brown, aku jadi khawatir kalau dia masuk kelas Snape." Gadis itu -Lavender Brown- langsung merengut dariku dengan wajah yang takut. Aku tersenyum jahil, merasa baru memenangkan lottery.
"Dengar Elle, Snape akan mempertimbangkan kita berdua jika masuk Slyth dan terutama jika kita mencoba menambahkan poin asrama, bukan hanya Draco yang akan jadi murid kesayangannya, kita juga bisa-" Aku menatap matanya dalam, masih menemukan keraguan, "-Huffle. Huffle akan sangat membantu kita menyamarkan diri Elle, mereka agak underrated memang, tapi setidaknya di sana ada Cedric- eh maaf" Aku langsung menutup mulut, pikiranku kalang-kabut, malu tiba-tiba mengucapkan nama pria ganteng itu. Elle malah menatapku sambil memberi tarikan kecil dari bibirnya yang membentuk seringai, "Oh ayolah kau tahu aku lebih senang dengan salah satu dari prankster itu…" Ujarku sambil memelas, dia kemudian menganggukkan kepalanya kanan-kiri sambil memutar bola mata dengan menyebalkan.
"Sudahlah, kita masuk Slyth." Akhir Elle, sebelum aku benar-benar dipanggil.
"Dawney, Casey!"
Jujur saja bukan berarti karena aku pendatang dan tahu alur cerita sehingga aku hanya akan santai saat dipanggil seperti itu, jelas jantungku sedang berdegup kencang. Aku mencoba maju dengan percaya diri, kemudian duduk tepat di bagian tengah altar, tak lama kepalaku mulai terasa dipasangi sesuatu -sorting hat-
Aku segera memutarkan segala pikiran licik, dan capaian yang ambisius untuk mengelabui legilimens dari si topi seleksi, "Dear, kau sangat sulit, darah murni pastinya-hmm-yah berani-oh ambisius tentu saja- hebat, pengetahuanmu-hmm, anak hukum? keadilan, yah baiklah-" Topi seleksi itu terus berpikir, aku bahkan sampai kewalahan untuk mengatur apa yang harus dibayangkan, sekaligus dilihat olehnya, "-dimana aku harus menempatkanmu? -aku melihat itu nak." Aku hampir saja memperlihatkan adegan di mana aku membaca buku Harry Potter, hampir tapi kurasa dia melihatnya. Waktu terus berjalan, mataku dan otakku mulai terasa lelah, "-oh! Kau bisa mengatur pikiranmu, eh? Hebat, yah aku melihat dimana tujuanmu -baiklah kalau kau yakin -SLYTHERIN!" Aku tersenyum menatap sekeliling -agak lama saat tak sengaja melihat Weasley prankster- dan mengakhiri pandangan kepada Elle, sebelum menuju meja Slytherin yang disambut oleh tepukan tangan dan beberapa jabatan dari anak-anak asrama.
"Blaise Zabini." Pria berkulit tan menatapku sumringah sambil memberikan tangannya untuk berjabat tangan, akupun langsung menerimanya.
"Draco Malfoy-" "Vincent Crabbe-" "-Gregory Goyle" dan masih banyak lagi yang mencoba berkenalan denganku, namun nama selanjutnya membuat kami semua kembali duduk terdiam.
"Torvas, Elle!" Aku menatap semangat ke arah Elle, dia sepertinya merasakan hal yang sama denganku, agak gugup.
Waktu berlalu, dan masih berlalu, topi seleksi terus memutar kan dirinya membuat Elle terikut padanya, tak lama kemudian "SLYTHERIN!" Aku langsung bersorak, saat dia datang ke meja asrama, aku menyambutnya dengan pelukan, yang lain juga ikut memperkenal kan diri padanya.
"Kalian berdua mengalami hatstall, apa kalian sadar?" Seorang pria yang kalau aku tidak salah bernama Terence Higgs berkata kepada kami berdua, aku menatap Elle begitupun dia menatapku, "Maybe?" Jawab Elle agak ragu, mereka semua yang mendengarnya mengangguk sebagai tanda akhir pembahasan.
Akhirnya Prof. Mcgonagall menggulung perkamen berisi nama tersebut, digantikan oleh Prof. Dumbledore yang sudah berdiri dari singgasananya.
"Selamat datang!" Katanya. "Selamat datang untuk mengikuti tahun ajaran baru di Hogwarts. Sebelum kita mulai acara makan kita, aku ingin menyampaikan beberapa patah kata. Inilah dia: Dungu! Gendut! Aneh! Jewer! Terima kasih!" Dia duduk kembali. Semua anak bertepuk tangan dan bersorak. Aku tertawa, mengingat bagaimana Dumbledore adalah penyihir paling jenius, tapi tutur katanya sangat berlawanan dengan apa yang dikenal orang-orang.
Seperti yang diharapkan dari dunia sihir, makanan tiba-tiba sudah berada di meja masing-masing asrama -ulah dari para elf- penuh, harum dan tentu saja enak.
"Let the feast, begin" Teriak Dumbledore, semuanya langsung saja mengambil makanan mereka, sedangkan aku dan Elle hanya santai sembari memasukkan beberapa lauk di piring.
"Harry Potter-" Aku mulai mendengar panggilan tidak mengenakkan dari putra tunggal Malfoy, Draco Malfoy "-dia merasa seperti sudah menjadi pahlawan, eh?" Aku memutar bola mata, kemudian menarik pudding yang baru saja ingin dimakannya, "sebaiknya kau makan nasi dan lauk terlebih dahulu, karena ini sudah malam." Kataku sebagai alasan supaya dia berhenti menatap asrama Gryffindor serta berhenti menggerutu tidak jelas. Draco menatapku heran, namun akhirnya tetap mengikuti ucapanku dengan mengambil beberapa ayam di hadapannya. Pudding tersebut ku letakkan di meja, kemudian diambil Elle tanpa aba-aba memasukkannya ke mulutnya, "Kau- hah sudahlah" ucapku pasrah, Elle menyengir melanjutkan acara makan pudding nya.
"Aku jujur saja lebih memilih ke Durmstrang, kalau saja ibu ti-" Aku langsung menepuk bahu Draco, "Yah, Drake- maksudku Malfoy, kami tahu, pureblood thing." Balasku karena merasa tidak menyenangkan mendengar ocehan omong kosongnya, "Kau bisa memanggilku Draco"
"Benarkah, kalau begitu panggil aku Casey atau Case, yah terserahlah, asal jangan menghinaku." Dia mengangguk tanpa membalas karena aku sedang menikmati buah anggur.
"Oh yeah, where's my pudding?" Aku langsung gelagapan menyikut Elle memohon pertolongan, "Aku memakannya, kupikir kau sudah tidak mau, Malfoy. Maaf." Jawab Elle
"Baiklah, tak mengapa, dan panggil aku Draco, kita satu asrama, bukan?" Aku menunduk sambil mendengarkan mereka berdua, pura-pura terhanyut dalam pikiran sendiri.
Aula kembali berisik, banyak yang sudah selesai makan malam, hingga terdengar bunyi tarikan kursi yang rupanya Dumbledore telah kembali berdiri dari tempatnya, "Ehem—cuma beberapa patah kata lagi setelah kita kenyang makan dan minum. Ada beberapa pengumuman awal tahun ajaran yang akan kusampaikan.
"Murid-murid kelas satu harus tahu bahwa hutan di sekeliling halaman itu terlarang untuk dimasuki bagi siapa saja, dan beberapa murid kelas lebih tinggi sebaiknya juga ingat ini.
"Aku juga diminta oleh Mr. Filch, penjaga sekolah, untuk mengingatkan kalian semua, bahwa sihir tak boleh digunakan pada saat pergantian kelas di koridor-koridor.
"Pemilihan pemain Quidditch akan diadakan pada minggu kedua semester ini. Siapa saja yang berminat bermain untuk tim asramanya, silakan menghubungi Madam Hooch.
"Dan yang terakhir, aku harus menyampaikan kepada kalian bahwa tahun ini, koridor lantai tiga sebelah kanan sebaiknya dihindari oleh mereka yang tak ingin mati penuh penderitaan." Aku menyeringai, melihat semua murid agak tegang, hingga terdengar suara cekikikan dari Elle yang membuat beberapa sepasang mata menatap ke arah kami berdua, bahkan para profesor sekalian.
"Shut it, Elle!" Tegurku, "Oh maaf, tak sengaja." Dia kembali fokus mendengarkan.
Setelah segala kegiatan pembukaan untuk siswa tahun pertama, murid kelas satu asrama slytherin diminta mengikuti seorang gadis yang sama sekali tidak ku kenali. Aku melihat Elle dan bertanya, "Dia Gemma Farley, prefect Slytherin." Jawabnya santai.
"Dari mana kau tahu?" Tanyaku sambil jalan menuruni tangga. "I read it in Google" aku menoyor kepalanya pelan. "OUCH" dia menatapku garang.
"Aku mendengar seorang lelaki memanggilnya dengan nama lengkapnya dan karena dia yang mengantarkan kita menuju dungeon, tentu saja dia prefect kita kan?" Jelas Elle dengan nada tinggi, aku hanya nyengir dengan tatapan datar.
"Handphone mu?" Elle menunjuk saku di jubahnya, membuatku mengangguk mengerti.
Kami menikmati jalan menuju ke asrama, mengingat selama ini yang kami tahu hanyalah jalan asrama Gryffindor dan Ravenclaw. Semakin turun ke bawah sampai rasanya kami berada di kaki Hogwarts.
Akhirnya kami tiba di depan pintu Asrama, "Pureblood" ucap Gemma dengan lantang. Pintu terbuka dan kami masuk kedalamnya. Jujur saja aku terpukau dengan betapa misteriusnya tempat ini.
"Welcome to Slytherin common room, kamar anak laki-laki di lorong sebelah kiri kamar anak perempuan kiri lorong kamar putra, barang bawaan kalian sudah ada di kamar masing-masing. Kepala asrama kita adalah Profesor Severus Snape, guru ramuan dan patut ku ingatkan kepada kalian semua. Asrama kita telah memenangkan piala asrama selama 6 kali jadi, kuharap kalian semua-" tunjuk Gemma ke arah kami murid kelas satu "-tidak melakukan hal-hal bodoh yang dapat mengurangi poin asrama kita. Melainkan kalian dapat melakukan hal-hal luar biasa yang dapat membuat poin asrama kita terus bertambah." Kalimatnya sungguh menggambarkan perfect Slytherin yang ambisius.
"Off to bed everyone" perintahnya.
Aku dan Elle berjalan bersama dengan keyakinan bahwa kasur kami akan berdekatan dan ternyata, benar, kami tidur di kamar yang berisi empat orang. Aku, Elle, Pansy Parkinson dan Astoria Greengrass. Sungguh gadis-gadis yang sangat mulia.
Elle masuk ke dalam dan tersenyum kepada mereka berdua yang duduk di tempat tidur masing-masing, aku yakin aku akan menyukai kata-kata Elle sehabis ini. "Hallo nona-nona" ucap Elle riang sambil melambaikan tangan, Astoria dan Pansy melihat ke arah kami berdua lalu membuang muka.
"Aku Elle Torvas dan ini sahabatku Casey Dawney, kalian?" Dia bertanya sok ramah, Pansy mengernyit menatapnya.
"Keluarga penyihir, kah Torvas dan Dawney itu? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya Astoria?" Sebelum Astoria berkata-kata Elle sudah berucap setengah berteriak lebih dahulu. "Iya Parkinson, keluarga kami adalah keluarga penyihir tentu saja. Tidak mungkin bukan, topi seleksi melakukan hal bodoh dengan menempatkan anak keluarga muggle di Slytherin? Lagipula, satu-satunya hal yang bodoh disini adalah kau dan mulutmu." Benar bukan, Elle memang bersifat kekanakan. Tapi soal menyakiti orang lain dengan kata-katanya, dia tidak pernah tanggung melakukannya.
Aku menuju kearah tempat tidurku, kulihat Elle langsung memakai selimut di sekujur tubuhnya. Aku menatap Pansy yang sepertinya merasa terhina, "Semoga kita berempat bisa berteman baik yah? Maafkan temanku, mulutnya memang kasar tapi sejujurnya itu hanya berlaku untuk orang-orang bodoh seperti kalian berdua. Selamat malam."
Aku menutup mataku, mengikuti Elle yang sepertinya sudah berkelana di alam mimpi, sambil berharap besok semuanya berjalan lancar.
