Aku membuka mataku perlahan, kulihat ke sekitar dan tak menemukan apa yang ku cari. "Agak mengecewakan bukan? Aku jadi ingin menyindir kemampuan kita mengacaukan legilimency topi pemilih, karena sekarang kita akan berakhir tujuh tahun tanpa terkena matahari" Suara Elle terkesan mengejek. Aku melihatnya yang sepertinya baru saja selesai mandi, karena rambut yang masih basah. "Jam berapa ini?" Tanyaku turun dari tempat tidur, aku mendekat ke arahnya dan melihat lingkaran hitam yang sedikit muncul. "Jam lima pagi" jawabnya enteng.
"Masih se subuh ini dan kau sudah mandi? Insomnia lagi, eh?" Aku bertanya, Elle selalu insomnia dan sejujurnya itu selalu mengkhawatirkanku. Elle mengangguk "Kau tahu aku akan bilang apa." Balasku mengakhiri percakapan.
"Casey? Menurutmu, bagaimana?"
"Apanya?"
"Kita"
"Iya, kita apa?"
"Lesbian?" Ada suara, kulihat ke arah lain. Ada suara si Astoria disana, menatap kita dengan tatapan hina.
"Obliviate" kaget? Tentu saja, aku melihat Elle baru saja melafalkan mantra dan wajah Astoria berubah lagi.
"Sedang apa kalian berdua menatapku?" Dia bertanya setengah bingung. Aku mengayunkan tongkat milikku ke arahnya, "Imperio" kulihat ke arah Pansy yang masih terlelap. "Tidurlah Astoria" perintahku dan dia pun tertidur.
Aku tak yakin tapi, kurasa Elle akan memarahiku sebentar lagi. "Kau gila?!" Sudah kuduga, "Bagaimana jika Dumbledore tahu, atau kementrian tahu kau baru saja melafalkan satu dari tiga kutukan tak termaafkan?! Kita bisa saja dikeluarkan atau kena detensi." Dia memarahiku dengan satu nada tinggi sempurna.
"Since when you care about detention?" Tanyaku tenang. Dia duduk dan tersenyum, "nah, not really. Aku hanya ingin mengetes rasa takutmu. Sudahlah, ayo bersiap. Ada kelas sihir yang harus kita datangi."
Setelah selesai bersiap-siap memakai seragam yang sejujurnya sangat panas ini, aku lebih dulu melangkah keluar kamar dan pergi ke ruang rekreasi.
"Halo Casey!" Seseorang berteriak kepadaku, ternyata Draco. "Pagi Draco," ucapku ramah.
"Miss Casey!" Suara Gemma memanggilku. Aku berpaling menemukannya yang baru saja memasuki ruang asrama, ada sedikit kemarahan dalam wajahnya.
"Professor Dumbledore memanggilmu keruangannya dan setelah itu keruangan Professor Snape, katanya Slytherin berada dalam masalah karena kau dan temanmu." Tuturnya tergesa-gesa.
"Jam setengah tujuh pagi dan sepertinya Professor Dumbledore sudah merindukan kita berdua Case," Elle datang dari arah belakang dengan santai.
"Baiklah Gemma, terima kasih." Ucapnya dan menarik tanganku. "Wait, memangnya kalian tahu letak ruangan Prof. Dumbledore?" Aku dan Elle hanya mengabaikannya dan melangkah keluar asrama. Kulihat rasa takut di wajah Elle, "Kenapa kau ini? Tidak akan ada yang meng avada kita berdua di hari pertama Elle." Dia menatapku datar.
Sepanjang jalan aku melihat anak-anak lain melihat kami berdua dengan tatapan horor, seolah-olah kami berdua lebih mengerikan daripada death eaters. Cukup lama, sampai kami menemukan ruangan Dumbledore. Jangan tanya bagaimana Elle bisa tahu cara masuk ke dalamnya, karena sejujurnya dia tidak tahu. Kami meminta McGonagall untuk membukanya.
"Selamat Pagi Professor Dumbledore. Ada apa memanggil kami berdua?" Tanyaku pada ruangannya, tak ada Dumbledore disini.
"Hello Miss Dawney, cukup ceria setelah melakukan kesalahan, yah?" Itu suaranya, dari arah yang tersembunyi. Aku melihat Dumbledore mengarah ke mari, semakin dekat guratan-guratan usia di wajahnya terlihat semakin jelas.
"Bagaimana kau tahu Sir?" Elle bertanya dengan nada datar. "Oh Miss Torvas dear, of course I know everything that happened in my school." Jawab Dumbledore halus.
"Kami tahu, aku hanya basa-basi saja." Dasar, setelah ini aku yakin kami akan di avada oleh Snape.
"Hari pertama sekolah dan kau sudah menggunakan the unforgivable-curse pada Miss Astoria?" Aku menatap matanya melihat rasa heran. "Aku tidak akan memberikan kalian berdua potongan poin, tidak pada hari pertama sekolah. Tapi sebagai gantinya kalian berdua harus membantu si kembar Weasley merapikan seisi perpustakaan, tanpa sihir" ucapnya lalu mempersilahkan kami keluar.
Sejujurnya aku bingung, sungguh bingung. Kenapa bisa hukumannya sangat ringan?
"Kau pikir hanya kau yang bisa melakukan Imperius, Case?" Tanya Elle yang membuatku terlonjak kaget. "Ja-jadi?" Elle mengangguk.
Kami pun berjalan ke arah kelas, mengikuti kelas pertama hari ini tanpa sarapan. Mengerikan memang, tapi begitulah. Dulu kukira pelajaran sihir itu mudah, ada beberapa yang mudah. Namun, yang lainnya begitu rumit. Ada begitu banyak yang harus dihafalkan, dilatih dan kerjakan, sangat melelahkan.
Kami melewati beberapa kelas hari ini dengan lancar, hingga saatnya kelas ramuan bersama Professor Snape. Aku melirik Elle, yang baru saja mengajakku untuk bolos. Nekat memang tapi, aku tidak mau melewatkan waktu dengan bolos.
Kami berdua duduk di kelas bersebelahan, di depan sebelah kanan kulihat ada Harry dan Hermione yang duduk bersebelahan. Professor Snape pun masuk dan memandang Harry Potter, lalu kami berdua. "Potong 20 poin dari Slytherin karena Miss Dawney dan Miss Torvas tidak datang ke ruanganku," ucapnya dingin, mengundang banyak pasang mata menatap kami dengan tajam sekaligus kesal. Professor Snape pun mengawali kelasnya dengan mengambil absen, hingga dia terhenti "Ah, ya," katanya pelan. "Harry Potter. Selebriti baru kita."
Draco Malfoy dan teman-temannya, mengejek Harry dengan tatapan aneh mereka. Snape selesai mengabsen dan sekali lagi menatap kami semua.
Snape pun mengatakan beberapa kalimat yang terdengar seperti pidato, mungkin hanya perasaanku saja atau karena aku sudah tahu tentang pelajaran ramuan ini, membuatku merasa bosan, tapi berusaha untuk menjawab beberapa pertanyaan Snape, hingga peristiwa Harry ketangkap basah akibat tidak memperhatikan dimulai.
"Potter!" kata Snape tiba-tiba. "Apa yang kudapat jika aku menambahkan bubuk akar asphodel ke cairan wormwood?" Aku ingat apa yang dijelaskan Snape kepada Harry, waktu itu, tapi aku tetap diam memperhatikan Harry -yang bingung sambil menatap Ron- dan Hermione -yang terus mengangkat tangannya tanpa di gubris-
"Saya tidak tahu, Sir," kata Harry. Bibir Snape meliuk menjadi cibiran. "Wah, wah—terkenal jelas bukan segalanya." Snape terlihat tersenyum dengan puas,
"Miss Dawney?"
"Yes, sir?"
"Jawablah." Katanya singkat sambil terus menatap Harry intens.
"Campuran asphodel dan wormwood menghasilkan obat tidur yang kuat sekali sehingga disebut draught of living death." Jawabku cepat, mengalihkan tatapan saat Snape tiba-tiba menatap padaku.
"Bagus, lima poin untuk Slytherin" Snape benar-benar pilih kasih, kasihan Harry, tapi yah tipikalnya sudah begitu.
"Kita coba lagi, Potter. Di mana kau akan mencari jika kusuruh kau mengambilkan bezoar untukku?"
"Saya tidak tahu, sir."
"Aku tidak menyangka bahwa suasanya akan lebih menyedihkan jika melihat langsung." Bisik Elle, yang mendapat perhatian sempurna dari Snape.
"Miss Torvas! Jawablah." Elle terlihat mempersiapkan diri dengan mengambil posisi duduk tegak, "Bezoar adalah batu yang dapat diambil dari perut kambing dan bisa menyelamatkan hampir semua racun." Snape terlihat tersenyum menatap Harry sambil meremehkan.
"Bagus, lima poin untuk Slytherin" anak-anak slyth tersenyum.
"Apa Harry memang bodoh atau bagaimana?"
"Apa bedanya, Potter, monkshood and wolfsbane?"
Mendengar ini Hermione langsung berdiri, tangannya mengacung ke langit-langit kelas bawah tanah. Aku dan Elle langsung menyeringai, sekaligus malu, berpikir seberapa bodohnya Hermione dulu.
"Saya tidak tahu," jawab Harry pelan. "Tapi saya rasa Hermione tahu, kenapa Anda tidak menanyainya saja?"
Beberapa anak tertawa.
Tapi rupanya Snape tidak senang dengan hal tersebut.
"Sit." Ucap Snape singkat pada Hermione, membuatnya duduk tanpa protes.
"Agar kau tahu, Potter. monkshood dan wolfsbane sebetulnya tanaman yang sama, yang juga disebut aconite. Nah? Kenapa kalian tidak ada yang mencatat?" Aku diam, tidak mencatat, tidak berniat mencari masalah, tapi jujur saja sebelum keberangkatan Hogwarts, aku sudah mencatat beberapa bagian penting dari apa yang akan menjadi pertanyaan Snape.
"Miss Dawney, kenapa kau tidak mencatat?" Snape ternyata sudah berdiri di hadapanku, menatap dalam mataku.
Oh shit, Snape kinda hot. Aku cepat-cepat menggelengkan kepala, "Bukan begitu, sir. Aku tadi sudah mencatat." Aku langsung memperlihatkan buku catatanku padanya sambil tersenyum semanis mungkin, membuatnya diam dan berbalik dariku mengibaskan jubah hitam kebesarannya.
Elle memicing ke arahku, ku kira dia tahu sesuatu. "Snape hot right?" Aku hanya terdiam dan mendengarkan sepanjang sisa pelajarannya. Setelah pelajaran Snape, aku bingung harus kemana. Elle berniat untuk tidur di asrama sampai jam makan malam, aku?
"Miss Dawney dan Miss Torvas, pelajaran selesai tapi tidak untuk kalian." Aku mengernyitkan dahi bingung, menatapnya sambil meminta penjelasan, "Kalian tentu tahu pelanggaran apa yang sudah kalian lakukan -terutama kau Miss Dawney" Aku langsung mengangguk, "Benar, sir. Kami hanya memberi beberapa pelajaran kepada anak seasrama kami yang menyebalkan, bukankah mantra gunanya seperti itu?" Elle menjawab dengan sarkas membuatku mengeluarkan tawa sedikit, sedangkan Snape malah semakin menatap kami berdua teliti, "Satu minggu kalian akan melakukan perjalanan kecil denganku di Hutan Terlarang, tak ada bantahan. Kalian boleh keluar." Aku tersenyum tanda setuju, kemudian menarik Elle pergi dari kelasnya.
Aku dan Elle berpisah di depan kelas, membuatku bingung harus kemana sampai kulihat golden trio berjalan ke arah gubuk Hagrid. Aku ikuti saja mereka, kupikir kami bisa akrab.
"Hey Harry!" Teriakku keras-keras. Mereka bertiga berbalik menghadapku dengan heran.
"Hai, Dawney?" Ucapnya ragu. Aku berjalan mendekatinya dan merangkul pundaknya sok akrab. "Panggil saja Casey, kalian mau ke pondok Hagrid? Mari bersama" ajakku riang.
Mereka bertiga malah menatapku heran dan Harry menyingkirkan tanganku.
"Egh, kau seorang Slytherin Casey. Kau tidak perlu sok akrab dengan kami." Tutur Ron.
"Aku tersinggung Ronald Weasley, sungguh."
Aku berjalan lebih dulu sambil menarik tangan Harry. Katakanlah aku tak pantas, sungguh aku tak peduli.
Kami mengetuk pintu pondok Hagrid dan kami mendengar gonggongan anjing. Aku duga itu pasti Fang, Hagrid menyukai binatang yang bisanya merepotkan saja.
Kami berempat diterima dengan baik di pondok Hagrid, enak sekali dia bisa terlahir dengan sifat ramah dan baik hati seperti itu. Kami bertiga bercakap-cakap cukup lama tentang hal sekolah, Charlie Weasley dan Snape. Aku rasa aku dan Elle bisa akrab dengan golden trio cukup mudah. Hati mereka masih semurni darah unicorn.
"Oh, Merlin. Anak-anak waktu sudah hampir menjelang makan malam, cepatlah kalian kembali ke kastil dan jangan sampai tertangkap Filch. Ehm dan Casey? Jangan lupa bangunkan si putri tidur oke?" Ucap Hagrid akhirnya.
Kami berempat berpamitan pada Hagrid dan berjalan ke arah kastil, benar saja hari sudah hampir gelap. "Case? Siapa putri tidur yang dimaksud Hagrid?" Tanya Harry.
"Teman yang selalu menempel dengannya Harry, jika aku tidak lupa, namanya adalah Elle Torvas. Benarkan Casey?" Hermione bertanya hal yang sudah pasti benar, aku hanya mengangguk.
"Jadi kau akan kembali ke asrama Slytherin dulu?" Tanya Ron. "Tidak, aku akan terus ke aula saja teman-teman." Tuturku sembari tersenyum pada mereka. Mereka bertiga saling bertatapan, "Sejujurnya Casey kau adalah anak ular yang baik, senang bisa berteman denganmu." Kata Harry.
"Teman, eh?" Aku menengok ke belakang, melihat Draco dan Elle dia sudah kelihatan cukup segar sepertinya.
Melihat Draco tatapan Ron dan Harry menjadi tidak suka. "Ah Draco, Hallo. Terima kasih sudah menemani temanku ke aula, ayo kita masuk dan makan." Aku menarik Elle dan Draco lalu melambaikan tangan pada Harry, Ron dan Hermione.
"Temannya terlihat begitu dekat dengan Draco, aku tidak yakin bisa berteman dengan si Torvas itu." Aku mendengar ucapan Ron, sepertinya Elle juga -karena sekarang tatapannya datar.
Kami berdua sudah duduk -agak jauh dari Draco- di tempat duduk asrama Slytherin.
"Tidak adil! Kau membiarkanku tidur sementara kau dekat dengan mereka," ucapnya terlihat kesal.
"Aku mau berterima kasih pada Draco, karena dia aku tidak jadi memanggilmu dengan accio. Lagipula, aku yakin mereka juga bisa akrab denganmu." Jelasku sambil mulai mengambil makanan.
Aku dan Elle makan dengan tenang, sangat tenang. Hingga- "permisi anak-anak ular, apa kalian tahu dua orang gadis? Kalau tidak salah yang satu bernama hukum dan satunya lagi huruf L." Aku dan Elle menoleh ke arah depan dan menemukan si kembar Weasley yang sedang, entahlah, aku ragu, apakah mereka sedang bertanya atau mempermainkan anak asrama kami yang lain.
"Hey bodoh, apa maksudmu Casey dan Elle?" Tanya Draco tidak terima. Si kembar mengangguk dan mendekat ke arah Draco, Draco menunjuk kami berdua.
"Halo, hukum dan huruf!" Sapa mereka berdua terkesan mengejek. Aku dan Elle berdiri, kami tahu mereka mengajak untuk melakukan detensi bersama.
"Wahh, kalian berdua semangat sekali melakukan detensi yah. Rajinlah kena detensi oke? Agar kita bisa sering bertemu" ucap George -atau Fred.
Kami hanya diam sepanjang perjalanan, hanya kami berdua. Tidak dengan si kembar.
"Aku George, jadi yang mana yang hukum, mana yang huruf?" Tanya George nyengir.
Aku tertawa sungguh, tapi tidak dengan Elle. Dia mengambil tongkatnya dan "avada-" dia menggantungkan mantranya.
Si kembar kaget dan tertawa, "Jika kau pikir dengan mengancam, kami akan takut. Kau salah manis" ucap Fred diselingi tawa.
"Terima kasih, aku tahu aku memang manis Fred." Elle tersenyum meremehkan.
Kami berempat sampai di perpustakaan, sangat berantakan. "Aku sebelah sini, Elle dengan Fred di belakang sana. George di sudut sebelah sana." Ucapku memerintah karena sudah lelah. Aku mulai membereskan begitu banyak buku, sebenarnya buku-buku itu menarik, tapi sangat tua dan berdebu.
Aku meniup debu di salah satu buku yang besar dan, "ha- hah-" ada yang menutup mulut dan hidungku dengan sapu tangan.
Itu GEORGE! astagaa, astaga dia sangat tampan dari dekat.
"Sediakan sapu tangan jika ada di tempat berdebu Case. Kasihan buku-buku disini jika harus terkena lendir dari hidungmu yang kecil itu." Ucapnya masih menahan sapu tangan di depan mulutku.
Aku menyingkirkan tangannya dan menatap garang, "tch, kau jahat juga."
George tertawa dan mendekatkan wajahnya denganku, "kau ini lucu tapi, sok galak." dia mengusap kepalaku "Lainkali, berusahalah bersikap manis di depanku yang lebih tua darimu adik kecil." Dia menjauh dan lanjut membersihkan.
Tidak, tidak boleh.
Aku juga lanjut mengatur buku-buku tua dihadapanku.
Jam sembilan malam, kami berempat berhasil membereskan perpustakaan ini seluruhnya tanpa sihir. Melelahkan
"Jadi, kalian akan segera tidur?" Tanya Fred.
Aku dan Elle mengangguk dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua yang sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.
"Sepertinya kau sedang senang Case?" Tanya Elle tiba-tiba. Aku menggeleng, "Aku kelelahan tahu." Jawabku bohong.
Aku sekalipun agak senang tapi rasanya lelahku semakin bertambah, Elle terlihat bugar karena tadi tidur, sedangkan aku?
Elle melihat mataku mulai terantuk segera mengucapkan sandi asrama, mempersilahkan kami masuk, "Casey, Elle, apa yang terjadi?" Draco dan kawanannya langsung menghampiri kami berdua, "detensi-" jawab Elle menggantung, "Well, jika kalian berharap untuk segera tidur, maka tidak. Miss Dawney, Miss Torvas, detensi denganku sekarang. Ayo." Snape yang entah datang dari mana tiba-tiba muncul di belakang kami, aku langsung mendengus kesal, fisikku benar-benar tidak mampu lagi untuk menjalani aktivitas.
"Prof Snape, apa kita akan lama? Tubuhku terasa hancur." Aku memelas padanya, "tidak akan kalau kau cepat." Aku sekali lagi membuang nafas.
"Goodluck Casey, Elle." Teriak Draco saat pintu asrama hampir tertutup. .
Kami mengikuti Snape dari belakang, dan Elle menopangku dengan tangannya sambil menarikku, "Elle, selundupkan aku ke kamar asrama tolong, aku benar-benar tidak kuat." Ucapku padanya mengikuti tarikan Elle sambil menutup mata, "Jangan cerewet Case, kau jelas mendengar kalau Snap- maksudku Prof Snape bilang, detensi akan cepat selesai kalau kita juga cepat." Aku mengangguk lemah, mulai menegakkan badan, tapi tentu saja tidak berhenti menggerutu.
Kami melewati lapangan gelap, kosong dan sampai ke tepi hutan,
"Casey! Elle! Demi Merlin! Apa lagi yang kalian lakukan?" Hagrid lari menghampiri kami, sambil membawa lentera. "Lagi?" Tanya Snape yang sudah berbalik badan menatap kami curiga.
Hagridddd
Aku menatap Hagrid masam, dia membalas dengan senyuman kaku, "-bukan. Omong-omong professor, ini lenteranya." Snape sebetulnya terlihat masih penasaran tapi mencoba untuk tidak peduli, sehingga dia segera mengambil lentera tersebut, menyuruh kami untuk jangan jauh-jauh darinya dan meninggalkan Hagrid dengan lambaian tangan.
"Professor, kita mau apa disini?" Tanya Elle, Snape terus berjalan memasuki hutan yang semakin lebat dan gelap. "kalian harus mencari beberapa bahan herbal yang hanya tumbuh disini, wiggentree dan valerian, aku yakin kalian cukup pintar untuk ditipu oleh tumbuhan beracun." Kami mengangguk, dan Snape mulai berjalan ke depan memetik sesuatu, "Gunakan tongkatmu, mantra accio." Elle mulai merapalkan mantra accio dengan pelan supaya tidak ketahuan Snape kalau dia curang. Sejujurnya kedua bahan herbal tersebut tidak beracun, Snape hanya menakuti kami.
Aku kemudian mulai berpisah dari Elle sambil mengucapkan accio wiggentree, hingga beberapa menit kemudian aku berhasil mendapatkan wiggentree, aku dengan semangat meluncur ke arah Snape dan menemukan Elle yang sudah disana dengan valerian di tangannya.
"Kalian berdua- ayo kita kembali" Aku rasa Snape ingin berkata lain, namun segera mengurungkan niatnya, entah kenapa.
Kami diantar sampai ke asrama dalam diam, dengan aku yang setengah berlari -memimpin jalan- karena ingin cepat-cepat sampai dan tidur.
"Terima kasih, Sna-" Aku terlonjak kaget, sepertinya karena otakku yang mulai setengah sadar membuatku lupa posisi "-maaf prof aku tak bermaksud." Ucapku cepat-cepat sambil menundukkan kepala dan menautkan kedua tangan gelisah, Elle di belakang Snape mengintip dengan khawatir, namun yang kuterima bukanlah detensi berlanjut atau pengurangan poin, melainkan pintu asrama yang terbuka karena Snape telah menyuruh penjaga pintu untuk segera membukanya "masuklah kalian berdua, diluar semakin dingin." Aku tersenyum kecil, mengucapkan terima kasih dan selamat malam bersamaan dengan Elle, kemudian masuk di ruang rekreasi yang kosong sambil berlari menuju asrama putri, dan segera menghempaskan tubuh ke kasur.
