Hari demi hari kami lalui dengan cukup bagus di Hogwarts, apalagi dengan terkenalnya kami berdua karena kutukan imperio di hari pertama. Sedikit kelewatan memang, karena sekarang tak ada yang berani mencari masalah dengan kami.
Hari ini aku bangun dengan semangat, karena ada pelajaran terbang perdana dengan Madam Hooch. Aku tentu bahagia, karena aku ingin sekali bisa pakai sapu. Namun pagi ini, kurasa takkan ku awali dengan saat yang baik. Karena roommate ku, Pansy Parkinson muncul dihadapanku dengan tatapan memelas.
"Uh, what's wrong girl?" Tanyaku. Dia mendekat ke arahku ragu-ragu.
"Uhm, begini Casey. Kulihat hari-hari ini, kau, Elle dan uhm- ehem, Draco sangat dekat. Jadi, bisakah kita berteman?" Sungguh permintaan yang bermodus.
"Kau tau kan Parkinson? Bahwa ucapanmu barusan tidak ada hubungannya?" Seru Elle sementara menyisir rambutnya. Aku tersenyum menggeleng, mencoba menjadi orang baik. "Jika tujuanmu untuk berteman adalah agar bisa mendekati Draco, kurasa tak apa. Aku juga berharap kau dan Astoria bisa berteman dengan kami berdua, mengingat kita sekamar. Setidaknya harus akur, kan?" Jelasku menatapnya.
"Benarkah? Kau serius? Astaga, kau baik sekali Casey!" Dia tersenyum memelukku, begitu pula Astoria yang sama sekali tak kelihatan ada dimana sebelumnya.
Kami berempat berakhir pergi bersama ke aula untuk sarapan pagi ini, senang juga bisa akrab dengan Astoria yang ternyata cukup baik atau begitulah kelihatannya. Maksudku, aku mempunyai masalah soal kepercayaan, Elle saja yang sudah dekat denganku sejak kecil tak bisa aku percayai dalam beberapa hal. Apalagi dua manusia yang menyebalkan ini.
Waktu berjalan begitu cepat, karena sekarang aku sudah ada di lapangan memegang sapu. Aku melihat Harry yang seperti terlihat senang dengan sapu di tangannya.
"Baik semuanya, letakkan sapu kalian dibawah tanah. Taruh tangan kalian di atasnya dan katakan naik" perintah Madam Hooch.
Anak asrama Slytherin dan Gryffindor semua mencoba, tidak denganku dan Elle. Kami menunggu pertunjukkan lucu sambil melihat ke arah Ron dan- "aww" terjadilah. Aku, Elle dan Harry tertawa.
"Diamlah kalian bertiga" bentaknya garang.
Kami semua akhirnya berhasil melakukannya, Madam Hooch kemudian memberitahu apa yang dilakukan untuk terbang. Kami semua mencobanya, aku berhasil. Diikuti oleh Neville yang terbang tanpa bisa mengendalikan sapunya.
"Longbottom! Mr. Longbottom! Mr. Longbottom! Come back this instant" terdengar teriakan Madam Hooch.
Aku berinisiatif mengikutinya tapi, dia begitu susah ku gapai. Aku mengikutinya, meliuk, naik, di udara hingga aku tertabrak sesuatu dan mulai jatuh. Kepalaku pusing dan tak bisa mengendalikan diri, kukira aku akan jatuh dan mati -atau setidaknya kembali ke asalku- hingga aku merasakan dua tangan yang melingkar setengah di bagian pundak dan pinggang ku.
"Hey hukum! Kau jatuh tertabrak atau tertidur? Kenapa tidak kau buka matamu itu?" Aku membuka mata dan melihat George tersenyum jahil ke arahku.
Aku merasa terbang saat melihatnya menangkapku yang hampir jatuh, wait! Aku memang sedang terbang.
Aku dan George sampai ke tanah dan kulihat Elle, Harry, Hermione, Ron dan Draco berlari ke arahku. Sementara Madam Hooch berlari ke arah Neville yang terjatuh di dekatnya.
"JAUHKAN TANGANMU DARINYA, WEASELBEE!" Draco berteriak dari kejauhan, George malah tidak peduli "Caseyare you alright?!" tanyanya terdengar khawatir, Aku mengangguk.
"Beneran tidak apa-apa?!" Nada bertanya Elle meninggi.
"Apakah aku harus membawamu ke Mada-"
Aku menutup mulut George.
"Thankyou George, I'm alright" aku turun dan tersenyum pada George. Aku melihat Draco yang berpaling pergi entah kenapa.
"Anak-anak, aku harus membawa Neville ke Madam Poppy. Dia harus diobati dan jangan ada yang menaiki sapu lalu terbang kesana kemari. Coba saja, sampai ada yang ku lihat. Kau akan keluar dari Hogwarts bahkan sebelum kau bisa mengatakan Quidditch." Madam Hooch berlalu sambil menggandeng Neville.
Aku meninggalkan George -yang juga berlari meninggalkan lapangan- dan langsung mencari Draco, mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya, kemudian menemukan dia dengan bola pengingat di tangannya sambil menyeringai ke arahku, "You do it, Draco." ujarku menantang. Aku tidak akan melarang, karena adegan ini begitu penting bagi Harry. Draco menerima tantanganku dengan menduduki sapu terbangnya. Harry melihat ke arahnya dan mengernyit, "Malfoy! Itu remembrall milik Neville, kembalikan!" Gertaknya cukup lucu.
Draco malah tersenyum menyeringai ke arahnya, menaiki sapu terbangnya dan terbang meninggi. "Ada apa Potter? Jauh dari jangkauan kemampuanmu, huh?" Ejek Draco sukses membuat Harry menaiki sapunya.
"Stop it! You heard what Madam Hooch said,- ucapan Hermione tak didengar Harry. Dia malah terbang mencoba meraih Harry, -what an idiot." Lanjutnya kesal.
Aku melihat Harry yang terbang mengejar Draco, cara terbangnya sungguh tipikal pemula. Tak lama Draco kembali dan ada Harry dibelakangnya, mengangkat tangan menunjukkan remembrall Neville yang berhasil dia ambil. Dia turun kembali ke tanah perlahan,
"HARRY POTTER!" Teriakan Professor McGonagall sungguh mengejutkan, wajah Harry terlihat ketakutan. Kasihan
"Belum pernah, selama aku di Hogwarts..."
Professor McGonagall nyaris tak bisa bicara saking shock-nya, kacamatanya berkilat-kilat. "Berani-beraninya kau, bisa patah lehermu..."
"Bukan dia yang salah, Profesor-"
"Diam, Miss Patil..."
"Tapi Malfoy-"
"Cukup, Mr Weasley. Potter, ikut aku sekarang."
Harry sempat melihat ke arah Draco, Crabbe, dan Goyle yang penuh kemenangan saat dia berjalan dengan perasaan beku, mengikuti Profesor McGonagall menuju ke kastil. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu untuk membela diri, tetapi terlihat tidak sanggup.
Profesor McGonagall berjalan cepat, bahkan tanpa memandangnya. Harry harus berlari-lari kecil agar tidak ketinggalan.
"Kasihan Harry kecil," kata Elle sambil menatapku.
"Ya, dia harus panik dan berubah senang dalam sekejap." Ucapku menambahkan.
Aku melihat ke arah Draco yang tersenyum ke arahku, "Terima kasih telah memberiku hiburan, Case" serunya senang. Aku hanya mengangguk-angguk.
Elle kemudian menyikut lenganku, "Kau tidak ingin ikut? Seingatku, Oliver Wood itu sangat tampan." Aku balas menyikutnya keras-keras, dia hanya nyengir tak berdosa.
Kami berdua berjalan meninggalkan lapangan, bukan bolos. Hanya tiba-tiba aku ingin ke toilet. Aku melihat Elle yang terlihat seperti berpikir keras, tapi tidak berani berkata-kata.
"Say what you wanna say and let the words fall out." Ku harap dia tersindir dengan nyanyianku, dia menatapku malas.
"AKU SEDANG KESAL KAU TAHU!" loh kok tiba-tiba. Dia menarik nafas dan menghembuskannya kasar.
"Aku iri padamu Case, aku juga ingin dekat dengan Fred. Tapi sayangnya kau yang beruntung, George terlihat begitu baik padamu. Kau tahu? Kemarin aku melihat Fred bicara pada Angelina Johnson dan yang paling menyebalkan adalah bagian dia terlihat begitu lembut padanya." Elle mengutarakan isi hatinya. Awalnya aku ingin kasihan, itu sebelum aku melihat Fred Weasley muncul di belakang Elle dengan jarak sekitar tiga meter dan tentunya mendengar semua perkataannya. Fred memberi kode dari jauh agar aku diam.
"You know mate? Kau menyebalkan juga, telingaku bisa rusak tadi astaga. Tunggu saja waktunya, jika kau benar-benar mau akrab dengan Fred. Aku rasa dia akan berteman baik denganmu." Tuturku menenangkan.
Kami pun lanjut berjalan ke arah toilet, dengan Fred yang sudah bersembunyi di sudut. Aku terus menunggu, apa yang dilakukan Fred disaat dia memiliki kesempatan menenangkan Elle?
Ugh, boys.
Entahlah, aku tidak mengerti jalan pikiran mereka.
Saat di toilet aku menyapa beberapa orang yang sama sekali tidak ku kenal.
Aku dan Elle bergantian ke toilet, sampai saat Elle keluar dan berteriak seperti menyadari sesuatu.
"CASEY! Tadi- tadi di lorong. Tidak ada yang mendengarkan bukan? Astaga aku lupa, seharusnya aku tidak mengatakannya padamu di lorong. Orang-orang bisa mendengar astaga." Dia menyadari sesuatu dengan terlambat, dasar.
Aku mengacuhkannya dan kembali ke kelas Madam Hooch, kami mengikuti satu kelas lagi hari ini. Sejarah sihir, tidak begitu menarik. Tapi tiba-tiba aku berpikir sesuatu,
Kapan aku dan Elle akan tahu mengapa kami ada disini?
Waktu makan malam tiba, aku duduk berhadapan dengan Elle. Hari ini cukup melelahkan bagi kami berdua tapi, setidaknya tidak bagi Harry yang terpilih sebagai seorang seeker tim Quidditch Gryffindor.
Sementara makan, ku lihat Fred yang memandangi seorang dihadapanku sambil menggelengkan kepalanya. Seandainya aku punya legilimency
"Kita kekurangan chaser, beberapa hari lagi ada pertandingan melawan Gryffindor." Telingaku langsung menangkap ucapan salah seorang dari beberapa yang berkumpul membentuk kelompok tepat di samping kami berdua, aku tiba-tiba saja nimbrung "Dimana Graham Montague?" Aku sangat hafal anggota quidditch dari setiap rumah Hogwarts, "Montague tak bisa ikut, tangannya patah -walau tak parah, tapi untuk sekarang jadi cadangan tim."
"Ohh-" Aku manggut-manggut kemudian menyadari sesuatu, "-astaga maafkan aku, namaku-"
"-Casey Dawney" Sambung Terence Higgs, ketua tim quidditch Slytherin, aku nyengir, "tentu saja-" salah seorang dari mereka kemudian menyahut, "kau dan temanmu itu tidak luput dari perbincangan, setelah mantra tak termaafkan itu" Adrian Pucey, salah satu pria ganteng di Hogwarts sekaligus seorang chaser Slytherin.
Terence melihatku dari atas ke bawah sambil tersenyum, "kau akan mendapat berita baik hari ini Miss Dawney." Setelahnya aku melihat Madam Hooch berdiri dari tempatnya.
"Malam anak-anak, aku punya tiga berita baik malam ini. Pertama, pertandingan Quidditch antara Gryffindor dan Slytherin akan berlangsung sebulan lagi dan tim bebas menggunakan lapangan quidditch untuk latihan, asalkan mendapat izin dari kedua kepala asrama. Kedua, tim Gryffindor mendapat seorang seeker baru yaitu Mr Potter," tepuk tangan asrama Gryffindor sangat ramai "Ketiga, tim Slytherin mendapat Chaser baru yaitu Miss Dawney." Tepuk tangan asrama Slytherin tak kalah ramai. "Semoga yang terbaik yang menang" Madam Hooch mengakhiri pengumumannya.
"BLOODY HELL! Aku bahkan belum setuju!" Aku berseru dengan nada tinggi. Terence sepertinya tidak mendengarkan, sedangkan Elle memutar bola matanya malas seolah-olah kalimatku tadi hanya untuk pencitraan. Diseberang sana kulihat George yang menatapku tersenyum lalu berkedip.
"Jika kau pikir kau bisa menjadi Chaser karena George, kau salah nyonya." Ungkap Elle santai.
"Karena sejujurnya kau bisa menjadi Chaser karena aku, George dan kemampuan terbangmu- yang membuatku sempat terkesan juga." Jelasnya memuji.
"Tidak saudariku, sama sekali tidak. Rasanya aku ingin menamparmu dengan Scabbers Elle tapi, disisi lain aku juga ingin berterima kasih." Kataku gembira. Semua yang ada di aula kembali riuh dalam makanan mereka masing-masing.
"TROLL! THERE'S A TROLL IN THE DUNGEON. THERE'S A TROLL IN THE DUNGEON." Teriak Professor berturban, Professor Quirrel, dengan wajah panik. "I think you wanna know" dia pingsan dan kemudian semua orang di aula berteriak panik.
"DIAM!" Aku sempat mengira Dumbledore yang berteriak, hingga aku sadar suaranya mirip Elle. Semua orang melihat Elle terdiam.
"FOR MERLIN SAKE! ITU HANYA TROLL ASTAGA, DARIPADA PANIK, BERTERIAK DAN MEMBUAT TELINGA ORANG SAKIT. KENAPA KALIAN TIDAK PERGI KE ASRAMA DAN BIARKAN PARA PROFESOR YANG MENGURUSNYA?!" Bertahun-tahun hidup dekat dengannya. Ini pertama kali aku melihat dia meneriaki orang lain karena kesal.
"Miss Torves benar anak-anak. Prefect, bawalah anak asrama masing-masing kembali ke asrama kalian. Biarkan kami para Professor yang menanganinya." Ucap Dumbledore kemudian.
Kami berdua mengikuti Gemma dengan santay di belakangnya. Terence mendekat ke Elle, "Kau hebat Torvas! Benar-benar sosok yang pantas dikagumi." Ucapnya memuji.
"Pergi, atau kau ingin merasakan cruciatus darinya Terence?" Tanyaku enteng, Terence menghilang takut. Aku melihat Elle berniat untuk bertanya, " I'm alright Case, just wanna show something fun" jelasnya polos.
Menyenangkan apanya bodoh?! Aku hampir takut padamu tadi.
Dijalan semakin dekat ke arah dungeon, Elle menarik tanganku berhenti. "Kita tidak akan membantu golden trio?" Aku menggeleng malas. "Bantu. Setidaknya agar mereka tidak patah tulang atau bagaimana" Elle menganggukkan kepala dan kita melanjutkan perjalanan ke arah asrama.
"Stupid troll-" Selagi di perjalanan aku mendengar Draco menggerutu, Parkinson matanya berair -hampir menangis-, Terence malah menjauh dari kami, untungnya Pucey mau saja berjalan berseberangan walaupun kelihatan sekali kalau dia menjaga jarak. "Great job, Elle. Kita semakin terlihat seperti penyihir jahat." Elle tertawa, semakin membuat mereka yang disekitar kami bergidik ngeri.
Aku dan Elle berjalan semakin pelan saat hampir menuruni tangga, hingga kami berada di bagian paling belakang, kemudian dengan pelan kami membalikkan badan berlari ke arah berlawanan dengan rombongan anak Slyth.
Aku dan Elle menyusuri koridor, mencoba mengingat dimana toilet perempuan berada, dalam perjalanan kami hampir saja bertabrakan dengan para profesor, membuat kami harus lama bersembunyi, "Shit, we're going to run out of time."
Elle tiba-tiba mengeluarkan tongkatnya dan merapalkan mantra.
"Appare Vestigium"
"Revelio" Kami bisa melihat bayangan sang troll yang berjalan dengan pelan dan hilang tertiup seperti abu, kemudian berpindah tempat berlawanan arah dengan para profesor.
Kami sampai, di dalam toilet perempuan agak terlihat kacau, "Casey! Elle! Sedang apa kalian?!" Harry dan Ron tiba-tiba muncul dari belakang, "OH! KAU TAHU?! MENYELAMATKAN TEMAN ASRAMAMU YANG SEDANG KESULITAN KARENA SESEORANG." Jawabku pada Ron dengan berteriak, aku mengeluarkan tongkat dari saku dan bersamaan dengan Elle kami merapalkan mantra tak termaafkan lagi, "CRUCIO!" Troll tersebut langsung meringkuk menjauh dari Hermione sambil berteriak sangat keras, Elle memerintahkan Harry dan Ron untuk membantu Hermione, setelah lama mendengar teriakan, akhirnya aku dan Elle menghentikan kutukan dan melihat Troll tersebut pingsan.
"MERLIN! CASEY DAWNEY! ELLE TORVAS!" Aku langsung bergidik ngeri, tidak menyangka mereka akan datang cepat, padahal dalam cerita mereka lama menyadari keberadaan Troll tersebut, "KUTUKAN TAK TERMAAFKAN! LAGI?!" Ungkap Mcgonagall dengan wajah mengeras, Snape sudah menatap kami berdua tidak percaya, golden trio malah bersembunyi di belakang kami,
"Maaf, Professor McGonagall... mereka mencari saya."
"Miss Granger!" Hermione akhirnya berhasil berdiri.
"Saya mencari troll karena saya... saya pikir saya bisa menanganinya sendiri—karena saya sudah membaca banyak tentang mereka." Tongkat Ron sampai terjatuh. Hermione Granger, berbohong pada guru?
"Jika mereka tidak menemukan saya, saya pasti sudah mati sekarang. Mungkin- yah mungkin Casey dan Elle tidak tahu harus merapalkan mantra apa, jadi mereka menggunakan mantra yang berbahaya untuk menyelamatkanku, Harry dan Ron tidak melakukan apa-apa selain mencariku professor."
"Wah—kalau begitu...," kata Profesor McGonagall sambil menatap kami semua. "Miss Granger, bodoh benar kau, bagaimana mungkin kau mengira bisa menangani troll gunung sendirian?" Hermione menunduk, "-dan kalian berdua… jangan pikir kalian telah bebas dari hukuman nona-nona. Lima poin diambil dari Gryffindor karena kecerobohan Miss Granger, aku akan memberitahu prof Dumbledore tentang kalian berdua. Kembali ke asrama, sekarang!" Aku dan Elle bergegas kembali ke asrama yang dipimpin oleh Snape.
semoga semuanya akan baik-baik saja. Pikirku gelisah.
