Kami sampai di asrama, prefect langsung mengarahkan kami untuk tidur. Saat di kamar -Parkinson dan Greengrass sudah tidur- aku menarik pelan handphone yang hampir berlumut di kantong jubahku, kemudian mencoba menyalakannya.
"Elle-" Aku menatap Elle walaupun pencahayaan di sini agak gelap, "-kupikir ini waktu yang tepat untuk menyusun beberapa rencana. Hanya satu hal, apparate. Aku tidak peduli dengan license, setelah unforgivable curse kurasa tidak ada yang mampu menghalangi kita." Kataku panjang-lebar, Elle beranjak dari kasurnya, dan menuju ke tepi kasurku membawa handphonenya.
"Case, selain itu legilimens itu paling penting." Balas Elle enteng
"Walaupun legilimens sangat membantu, tapi aku tidak punya minat untuk menelusuri ingatan orang lain-tapi yah itu patut di coba." Kami berdua sibuk mencari informasi tentang legilimency.
"Apa aku harus mencobanya?" Elle menatapku ragu, "maksudku, hey aku hanya akan melihat ke dalam pikiranku, dan kau coba untuk melawanku dengan mengubah pikiranmu, okey?" Tidak ada gerakan darinya, membuatku menghembuskan napas, "Aku akan mencobanya Elle, kalau aku tidak berhasil, karena bagian terburuknya mungkin aku akan mual atau pingsan, tolong segera panggil Dumbledore atau bawa aku ke hospital wings."
Aku berdiri dan mendekat ke arah Elle, menatap matanya kemudian mulai mencoba memasuki pikirannya, aku langsung melihat tempat asal kami, tiba-tiba berubah menjadi dia dan Fred, tiba-tiba berubah menjadi kejadian sekarang ini, kepalaku langsung pusing membuat perutku terasa mual, aku keluar dari pikiran Elle dan langsung jatuh dengan penglihatan yang menggelap.
"-jadi Elle?" "-apa?" "-kapan?"
Aku mengerang, suara-suara tersebut langsung hilang, saat merasa sudah tak ada beban aku mencoba membuka mata.
Elle, Draco, Parkinson, Greengrass, Harry, Ron, Hermione, Fred dan George.
Aku mencoba untuk duduk di kasur, tidak ada yang membantu. Jahat sekali mereka, padahal detik sebelumnya bertanya khawatir.
"Case? Bagaimana perasaanmu?" Hermione langsung membuka suara, "ugh, lebih baik sebenarnya, terima kasih sudah bertanya-
"Well? Apa kalian akan terus menatapku seperti itu, sedangkan aku baru sadar dan tenggorokanku rasanya kering?" Mereka langsung beramai mengambil gelas dan air.
"MINGGIR KALIAN!" Madam Pomfrey melambai-lambaikan tangannya mencoba membuka jalan untuknya masuk. "Miss Dawney! Kau berjanji padaku sekarang untuk tidak melakukan itu lagi! Bagaimana kal-"
"Baik Madam Pomfrey. Maafkan aku sudah merepotkanmu." Aku memotong ucapannya, jujur saja kepalaku jadi agak berat saat di tegur seperti itu, entah sejak kapan aku jadi tidak sopan begini.
Madam Pomfrey memberikanku gelas, "Astaga apa itu? Air putih saja Mrs, pleaseee." Kataku memelas, isi gelas itu seperti bubur hijau yang meletup paling menjijikkan. Saat aku ingin mengambil gelas berisi air yang telah disodorkan oleh Draco, tiba-tiba Madam Pomfrey menyingkirkannya, "Tidak ada penolakan! Ini untuk kesehatanmu Miss Dawney. Sekarang, minum." Aku masih menggeleng mengatupkan kedua bibir rapat, hingga pintu rumah sakit sekolah dibuka dengan intens.
"Minumlah Miss Dawney, dan detensimu akan diperpanjang selama dua minggu." Aku melongo, Hutan Terlarang sangat membosankan.
"Kalau ku minum, apa detensiku akan berkurang?" Dia menatapku, "Baiklah." Aku tersenyum gembira, yang lain -kecuali Elle- menatap heran pada Snape dan aku. Dengan cepat ku teguk satu gelas yang penuh dengan bubur tersebut, kemudian tangan kiriku langsung menggapai gelas yang dipegang Elle, hingga tiba-tiba gelas itu menghilang. Aku melongo tidak percaya, disana Snape sudah menyeringai. Mulutku masih terkatup -takut jika kubuka maka itu akan terlihat sangat tidak elit- tanganku mulai memberikan gerakan-gerakan pada Elle untuk membantuku dengan sesuatu, dia pun mengambil permen dari kantongnya, membuatku melempar permen tersebut dan melotot padanya.
Dumbledore yang ada di belakang Snape datang sambil membawa gelas berisi air, membiarkanku untuk minum, "Aku sayang padamu Prof Dumbledore. Terima kasih banyak." Aku memeluknya dan memandang Snape intens. "Aku tidak menyayangimu profesor Snape, anda berbohong." Celaku membuat Snape menaikkan alisnya tak peduli.
"Dear, kau sekali lagi melakukan pelanggaran Miss Dawney, lima puluh poin diambil dari asrama Slytherin-" Aku melongo, itu banyak sekali, "-tidak ada detensi untukmu Miss Dawney, kurasa Professor Snape sudah cukup memberatkanmu."
"Professor Dumbledore, itu sangatlah tidak adil. Aku hanya mencoba untuk legilimens-"
"-tanpa ada yang mengawasi, bahkan belum cukup umur, ah aku jadi ingat diriku yang dulu-" Snape berdehem di belakang menggantikan McGonagall. Kulihat yang lain menatapku tidak percaya -kecuali Dumbledore, Snape dan Elle-. Mendengar penjelasan Dumbledore yang terpotong membuatku menunduk. Dia benar aku agak sedikit kelewatan, tapi tetap saja itu tidak adil.
Poin dan detensi dalam satu hari?
"Merlin, sir. Lima puluh poin itu banyak sekali..." Elle tiba-tiba menyahut dengan nada agak meninggi, aku pun mengangguk setuju. Bayangkan saja, Harry, Ron dan Hermione hanya mendapat kurang poin sebanyak lima, sedang mereka selalu melakukan kekacauan.
"Tidak ada bantahan Miss Dawney." Akhir Snape menatapku tajam.
Astaga kenapa sekarang jadi aku dan Elle yang selalu kena masalah.
Hospital Wings kembali sepi, hanya ada aku, Elle, dan Draco. Pagi ini tidak ada jadwal untuk Slytherin, jadi aku masih punya banyak waktu untuk bermalasan di rumah sakit.
"Elle, apakah aku berhasil?" Elle menangguk, "Berhasil, tapi tidak mulus, kau pingsan tiba-tiba saat aku mencoba mengubah pikiranku, ku pikir kau mati atau apa." Draco melotot, aku tertawa.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba kurasakan gerakan dari perutku yang berbunyi dengan kuat. "Kalian sudah makan? Aku lapar, bagaimana ini?" Fred dan George masuk sambil membawa nampan, ada beberapa jenis makanan disana, membuatku menatapnya dengan bahagia, "Halo hukum, ku yakin sekarang kau sedang kelaparan, duduklah di tepi ranjang dan makanlah." George hendak memegang tanganku, tapi ditepis oleh Draco, "Jangan menyentuhnya"
HEY! DASAR PENGGANGGU! Aku mendesis. Dengan mood yang setengah-setengah, aku mengambil beberapa lauk ke piring, dan dengan lahap menyantapnya.
"George Weasley, bisakah kau jelaskan padaku, kenapa kalian selalu memanggilku hukum?"
"Kau mau ku panggil manis?" Aku langsung gagap, pura-pura tidak mendengarkan dengan terus memakan puding yang mereka bawa "-jangan menghindariku nona, aku bisa mengubah panggilanmu dalam sedetik kalau ku mau." Sialan.
"Diamlah George, aku sedang sibuk makan disini." Aku tidak berani menatapnya, pipiku rasanya mulai memanas, "-ini, kembalikan ke dapur, aku akan tidur." Dengan secepat kilat, aku menutupi tubuhku dengan selimut, dan menutup mata berusaha mengalihkan pikiranku dari perkataannya tadi.
"Elle, Draco, tinggalkan aku sendiri." Aku tidak tahu apakah mereka mendengarku, tapi yang kutahu pintu rumah sakit sudah ditutup.
"Casey Dawney! Kau tidak akan lari dari latihan quidditch, bukan?" Aku terperanjat kaget, semua anggota tim quidditch slytherin masuk ke rumah sakit yang dipimpin oleh Marcus Flint, "Astaga kalian membuatku kaget, aku pikir ada masalah apa, tenang saja aku akan latihan. Jam berapa?" Tanyaku
"Sekarang nona. Sekarang bangun dan kita ke lapangan." Terence menyeret aku, membiarkan kasur yang terlihat kacau.
"Tunggu! Aku ingin mengajak Elle!" teriakku meronta dari pegangan tangannya yang kekar, "Astaga Terence! Aku tidak akan kabur, lapangan quidditch, kan? Aku tahu, tolong lepaskan aku." Terence langsung melepaskan aku, aku memberikan senyuman singkat, melambaikan tangan dan menuju asrama.
"Draco, Elle kemana?"
"Perpustakaan, kalau kau mau mengajaknya menonton latihan quidditch, sebaiknya tidak usah, katanya dia tidak mau. Tapi, kalau kau mengajakku aku akan dengan senang hati ikut." Aku berpikir sejenak, kemudian mengangguk dan menarik tangannya keluar dari asrama, sebelum Terence datang dengan sapu terbangnya memantraiku.
"Kau tentu sudah tahu aturan-aturan dalam quidditch, terutama sebagai seorang chaser, kita akan membagi anggota. Prioritaskan Dawney, okay?" Mereka semua mengangguk, aku menatap Marcus bingung sambil terus memegang sapu terbang dari sekolah yang keluarannya sudah sangat lama. "Kau kenapa?" Graham Montague, chaser yang ku gantikan, "Hanya merasa tidak adil, kau lihat sapu mereka, itu keluaran dua ribu, kan? Punyaku? sebelum abad." jawabku memicing pada sapu yang di pegang Flint, Montague tertawa, "kau tentu tahu mereka sudah masuk quidditch sejak lama, dan kau tidak lupa, kan? Kalau slytherin anak-anak yang kebanyakan memanjakan diri mereka." Aku tertegun, belum ada yang pernah mengakui keburukan dari slytherin sebelumnya, bahkan yang datang dari slytherin itu sendiri.
Marcus membagi kami menjadi dua kelompok, kelompok pertama aku, Flint dan salah seorang chaser cadangan yang tidak ku tahu, dua beaters cadangan, Terence sebagai seeker, dan seorang keeper yang sekali lagi aku tidak tahu siapa dia. Kelompok kedua, ada Adrian dan dua orang cadangan sebagai chaser, keeper Miles Bletchley, beaters, dan seeker yang sama sekali tidak aku kenal.
Kami terbang ke atas, kemudian melihat Draco yang tersenyum ke arahku dari tempat duduk penonton.
Aku sekarang berada di posisi berhadapan dengan Pucey, dia sadar bahwa quaffle akan di oper padaku sehingga dia bertindak sebagai blocker, tapi aku dengan cepat menjatuhkan diri ke bawah, untungnya Flint menyadari gerakanku dan mengopernya padaku, kemudian aku menukik di udara saat sebuah bola bludger melayang ke arahku.
Aku terus terbang menghindari anggota lain yang sibuk dengan bola mereka, tapi kemudian di hadapanku mendadak semua seperti blocker yang sukses membuat keadaanku seakan terdesak, keeper mulai menjaga dua ring atas dan bawah kanannya, seeker diam saja di depan sambil menyeringai, sedangkan Pucey mengejarku dari belakang seperti hewan kelaparan.
"KALIAN GILA?! FOR YOUR INFORMATION, SAPU TERBANGKU BUKAN SEPERTI MILIK KALIAN!" Aku berteriak dengan menyisipkan permohonan bantuan, tapi sepertinya tidak di indah kan oleh mereka.
Aku menatap ke arah salah seorang chaser kelompokku, tapi dia dijaga oleh salah satu chaser, aku menatap ke belakang, Flint sedang berusaha menghindar dari bludger yang selalu dipukul oleh beaters ke arahnya, aku hilang arah hingga akhirnya melakukan rencana gila dengan menukik ke atas dan dengan ceroboh menjatuhkan diri ke bawah setelah itu dengan tajam membuat angin menuntunku mengarah ke ring bagian tengah sebagai pengecoh, tanpa mereka sadari aku tengah sedikit mencondongkan diri ke kiri sambil dengan kuat melempar quaffle tersebut.
"Rencana yang hebat Casey!" Terence berteriak dari belakang, anggota yang lain tersenyum padaku bahkan kelompok lawan sekalipun, "kalian benar-benar membuatku kesusahan, aku curiga kalau ini sudah direncanakan." Mereka tertawa. Benar-benar.
Latihan quidditch selesai saat Terence berhasil mengambil snitch dan tentu saja dimenangkan oleh kelompokku.
"Itu hebat sekali Casey!" Draco yang berlari ke arahku memberiku tatapan kepuasan, hendak memelukku tapi langsung ku larang karena sekalipun tidak berkeringat karena terpaan angin, tapi aku lebih memilih untuk mandi dulu sebelum menjangkitkan kotoran pada orang lain. "Setiap minggu akan ada latihan di waktu yang sama, jangan ada yang terlambat." Aku nyengir saat melihat Terence dengan sengaja menyindirku.
Aku dan Draco berjalan lebih dahulu menuju asrama, kemudian dalam ruang rekreasi aku melihat Elle bersama dengan Blaise, Goyle dan Crabbe, mereka mendongak "Bagaimana latihannya?" Blaise bertanya, "Melelahkan, aku akan mandi. Elle, setelah ini kita ke perpustakaan, ya?" Elle menaikkan keningnya.
"Kuharap kau tidak lupa, sebentar lagi ada kelas mantra." Aku menepuk jidat pelan, lalu mengangguk sambil berjalan menuju kamar putri.
