"Elle, kau harus membantuku. Selama latihan aku mengalami kesulitan dengan kecepatan, mereka dengan cepat menjadi blocker, kau ingat dua kali aku berakhir di rumah sakit karena patah kaki dan tangan akibat harus terus melakukan rencana yang ceroboh, itu sama sekali tidak menyenangkan, Elle. Aku harus ke hogsmeade dan membeli sapu terbang." Jelasku pada Elle saat kami dalam perjalanan menuju kelas ramuan. Tinggal beberapa hari lagi sampai puncak quidditch, dan sampai sekarang aku masih dalam pergumulan.

"Coba kau tanyakan pada Snape, mungkin saja diizinkan." Aku mengangguk, kalau Elle sudah memberi balasan dengan akhirnya yang period, berarti percakapan berakhir.

Kami belajar tentang forgetfulness potion, dengan lancar, tiga puluh poin diraih oleh aku dan elle, lima poin di ambil karena aku sengaja mencampurkan mistletoe berries dan valerian sprigs yang agak banyak, sejujurnya itu kulakukan untuk percobaan, karena ramuan yang sebenarnya bukan berada di kuali percobaanku, tapi sepertinya dilarang oleh Snape.

"Apa, yang, kau, lakukan, Dawney." Ucapan Snape membuatku membuang Valerian Sprigs lebih banyak di kuali percobaan. "Itu- aku hanya mencoba- maksudku mencari tahu apa yang akan terjadi kalau keduanya ku campurkan dengan bulu Jobberknoll-"

"Nonsense Miss Dawney. Apa kau ingin tanganmu meledak?" Aku terdiam menatap horor, "buang itu, dan lanjutkan tugas yang ku berikan." Aku ragu-ragu mengangkat kuali percobaan tersebut, kemudian membuangnya dengan rasa bersalah.

Saat kembali ke meja, aku melihat Elle yang sudah menyeringai, "Kulihat kesempatanmu pada Snape semakin berkurang." Aku mendengus sebal, tidak tahu harus bagaimana lagi saat quidditch.

"Harry, kau akhir-akhir ini seperti banyak pikiran." Aku dan Elle yang sedang menyusuri koridor menemukan Harry yang duduk di bangku koridor.

"Halo Casey, Torvas-"

"Tidak, panggil aku Elle." Harry mengangguk, "hanya ada sedikit masalah, apa kalian tahu tentang bank Gringgots yang dirampok?"

"Hey, itu berita masal, bagaimana mungkin kami tidak tahu-" Aku menatap Elle singkat, dan mengajaknya mendekat kepada Harry, "-kurasa kami tahu apa yang akan diambil." Elle menyeringai, Harry terlihat kaget, "kalian tahu?"

"Tentu saja Harry, tapi ku sarankan sebaiknya kau fokus pada perlombaan mu, walaupun aku anggota tim slytherin, tapi tidak melepas kemungkinan kalau beberapa dari kami akan curang, oke?" Dia mengangguk, "ini sudah makan siang, kau tidak ikut?" Harry beranjak dari tempat duduknya dan segera mengikuti kami. Selama perjalanan aku dan Elle mencoba untuk lebih dekat dengannya, jadi kami sekali-sekali mengangkat kehidupan pribadi, bertanya warna atau makanan kesukaan dan sebagainya.

"Miss Casey dan Miss Elle, kalian berdua dipanggil oleh Profesor Dumbledore." Aku membalikkan badan, melihat ketua asrama Hufflepuff, Cedric Diggory.

"Harry, kau sebaiknya duluan." Ucap Elle, Harry mengangguk, memberi kami semangat sebelum pergi.

Cedric menuntun kami ke kantor Dumbledore, jujur saja Cedric benar-benar terlihat ganteng, "nona-nona jangan menatapku seperti itu, yang ada aku malu." Sahutnya tiba-tiba dengan singkat, aku dan Elle membuang muka, dia terkekeh pelan.

Kami akhirnya sampai di kantor Dumbledore, berdiri di patung burung yang besar melingkar, mengucapkan sandi kemudian dibawa entah kemana.

"Selamat siang, sir. Saya sudah membawa Miss Casey dan Miss Elle"

"Yah, terima kasih Mr Diggory, kau bisa kembali" Cedric menatap kami bergantian dan segera keluar dari ruangan.

"Kalian mau kopi? Atau teh?"

"Kopi"

"Teh" Elle.

Detik kemudian di meja Dumbledore muncul dua gelas yang telah terisi penuh sesuai dengan pesanan, "Elle, kita benar-benar harus mempelajari itu."

"Kalian seperti anak ayam yang dalam sehari menjadi seorang induk." Elle tertawa.

"Aku tidak akan mengingatkan kembali kesalahan besar apa yang telah kalian perbuat.

"Cruciatus, aku tidak menyangka akan mendengarnya dari murid kelas satu, beruntung kalian tahu cara mempertanggung jawabkan pengetahuan dan kekuatan kalian." Dumbledore yang tadi berdiri di samping meja langsung menuju ke singgasananya.

"Maafkan kami, sir. tapi itu murni untuk menjaga diri."

"Aku tahu-aku tahu, untuk sekarang tidak ada detensi, tapi lima puluh poin diambil dari Slytherin, dan-" Dumbledore menggantung kalimatnya selagi meneguk airnya.

"-sekali lagi kalian menggunakan kutukan tak termaafkan, maka aku tak segan-segan menyita tongkat kalian untuk beberapa minggu kedepan." Aku lebih suka Dumbledore yang ambigu daripada serius, aura kantornya tiba-tiba berubah.

"Dan perlu kuingatkan, jangan pernah berniat menggunakan kutukan avada, anakku."

"Tentu tidak sir, satu-satunya yang ingin ku avada hanya Voldemort," karena dia sudah membunuhmu. Profesor memberikan tatapan iba, "Baiklah, kalian boleh pergi."

"Baik sir, kami permisi." Aku dan Elle bergegas keluar dari ruangan Dumbledore, kemudian menuju ke aula besar untuk makan siang.

"Kau kenapa Casey?"

"Kau tahu pasti kalau Dumbledore adalah karakter favoritku Elle, aku akan menghalangi Voldemort dalam membunuhnya."

Kami sampai di meja asrama dan langsung diberi pertanyaan yang bertubi-tubi terutama dari Parkinson dan dengan santai membuat aku memberikan mantra penghilang mulut secara non-verbal.

Oscausi, semua murid slytherin berteriak, para profesor langsung melirik ke arah kami membuatku dengan cepat menghilangkan energi sihir mantra tersebut dari Parkinson.

"CASEY MEMANTRAIKU PROFESOR!"

"Dasar bodoh!" Elle mendesis pelan di sampingku, aku langsung menundukkan wajah, dan berdiri "Maafkan aku Pans, tanganku kelepasan." kemudian menuju ke meja Snape, "aku akan bertemu dengan anda di kelas, sir." Snape mengangguk membiarkanku kembali ke meja dan makan.

"Brilliant Case! Terima kasih sudah menggantikanku untuk memantrai Parkinson." Draco tiba-tiba menyahut di sampingku, sedangkan Pansy dan Astoria mulai menjauh.

Sangat hebat, membangun pertemanan yang baik, eh Casey?

"Sama-sama Drake, dan kalau kau tidak keberatan, tolong ambilkan aku sayur." Draco langsung memberikan piring berisi sayur kepadaku, dan tanpa omongan lagi kami menyantap makanan dalam diam.

Saat makan siang berakhir aku menyuruh Elle untuk memberitahu professor sprout bahwa tidak bisa hadir mengikuti kelas karena dipanggil Snape, jadi sekarang disinilah aku, depan kelas Snape. Aku mula-mula masuk dengan perlahan, akg berjinjit, memperhatikan kelas dan mendapati Snape yang ternyata sudah menatapku, "maaf Prof, kukira anda masih di luar."

"Miss Dawney, kupikir Potter dan kawannya yang akan menjadi biang kerok selama tahun pertama, namun yang ada malah sebaliknya, menurutmu apa yang harus aku lakukan terhadap tindakanmu akhir-akhir ini?"

"Tidak ada, sir." Snape mengernyitkan keningnya, "kau merasa sudah cukup hebat untuk merapalkan sihir hitam, membuat percobaan di kelas tanpa seizinku, dan melakukan banyak hal ceroboh selama quidditch?" Aku tersenyum kaku, menyadari betapa banyaknya kesalahan yang telah kuperbuat, "Baik, sir. Aku mengaku salah, tapi sebagai pertimbangan, akan ku jelaskan." Aku mengambil kursi dan duduk di hadapan Snape dengan manis, "Kutukan imperio aku rapalkan pada nona Parkinson karena berada dalam keadaan terdesak-"

"Dan keadaan apakah itu?" Aku memperlihatkan wajah masam, "sabarlah dulu Prof Snape. Aku dan Elle sedang ada dalam pembicaraan rahasia yang tentunya anda tidak bisa tahu, dan ya terpaksa aku harus menidurkan Parkinson kembali, lagian prof aku tidak menggunakan mantra itu untuk yang tidak-tidak, sekali flick maka selesai, tidak lebih. Mantra crucio anda tentu tahu kalau sekali lagi itu terpaksa, saya dan Elle agaknya lebih cenderung mengetahui beberapa sihir gelap professor, bukan berarti dengan tujuan untuk melukai, tapi melindungi-"

"Kau salah besar, sihir gelap menarik para penyihir pada jalan kegelapan-"

"Saya pikir tidak begitu, sir. Sihir itu bergantung pada para penggunanya, selama mereka tahu yang benar dan yang salah, dan tentu saja tidak di salah gunakan. Saya dan Elle masih punya kewarasan untuk tidak membunuh Troll menggunakan kutukan avada. Oscausi hanyalah sihir ringan professor, gelap? Mungkin-"

"Kau belajar dari mana mantra itu?"

"Intinya sir, aku hanya berniat untuk sementara menghilangkan mulut nona Parkinson karena tidak menghargai kehidupan privasi saya dan Elle, anda tentu tahu bagaimana rasanya.

"Selanjutnya aku melakukan percobaan di kelas anda murni kesalahan saya, maka dari itu, mohon maafkan saya. Untuk peristiwa kecerobohan saya selama latihan, jujur saja saya terpaksa melakukan hal tersebut karena sapu terbang anggota tim lain memungkinkan bagi mereka untuk menjadi penghalang bagiku, sir, anda sendiri tahu sapu terbang seperti apa yang saya miliki." Snape diam, dia masih menatapku, "intinya sir, saya kira detensi yang anda berikan pada saya selama ini cukup bagi saya untuk kewalahan, anda tentu sadar beberapa kali saya -dan Elle, pingsan di hutan terlarang karena kelelahan, dan anda menambah hukuman saya dua kali lipat, sir. kalau anda berniat menambah detensi, akan saya terima, tapi asal anda tahu, fisik seseorang tidak selalu sama." Akhirku.

Snape menghela napas pelan, "Dalam beberapa hal -pengecualian, akan aku serahkan beberapa kasus kalian berdua pada professor Dumbledore, dan jangan berharap lagi untuk merapalkan mantra sembarangan sesuka hati atau kalian akan benar-benar dikeluarkan dari sekolah." Ancamnya, kemudian memberikan tumpukan perkamen padaku, "aku sadar kau punya kelebihan di kelas ramuanku Miss Dawney, maka detensimu adalah membantuku memberi nilai kepada para murid." Aku mengangguk dan segera membaca setiap perkamen dengan teliti.

Waktu mulai menunjukkan pukul sore, Snape sedang memeriksa kembali dengan cepat penilaianku, "Tidak mengecewakan."

Aku menyeringai, "Apanya, sir? Cara penilaian ku atau nilai mereka?" Snape sepertinya menangkap maksudku, sehingga dia tidak menjawab, "Kau sebaiknya kembali ke asrama Miss Dawney" Aku mendengus, berdiri dari tempat duduk tanpa berniat mengembalikannya di tempat asal, kemudian keluar kelas dengan menarik napas dalam-dalam.

Saat hendak membalikkan tubuh, Elle, Fred dan George datang bersamaan. Fred dan George sedang memegang sapu terbang.

Aku menatap mereka bergantian saat ketiganya berhenti tepat di hadapanku, dan George tak lupa untuk menyeringai, "Hal-" Aku mengangkat tangan menyuruh George untuk diam, sedangkan mataku menatap Elle dalam "Inikah maksudmu dengan sahabat Elle? kupikir kau tidak ikut menonton latihanku karena itu membosankan, tapi ternyata Fred lebih menarik untuk diperhatikan, eh?" Aku tersenyum dengan makna, Elle terlihat gelagapan.

"Jangan seperti itu padanya Casey, dia tadi hanya lelah menunggumu, hingga akhirnya aku mengajaknya." Aku memutar bola mata, kemudian beralih tatap ke George sebelum membalikkan badan meninggalkan mereka yang membeku.

"Apa di tubuh kalian mengalir darah yang sama? Sarkasnya sama."

"I can hear you Georgie!" Diundang dengan tawa oleh si kembar.

"Hogwarts bridge is falling down, falling down, falling down-" Aku mendengar sebuah suara nyanyian di ujung koridor, dan menemukan seorang hantu yang menuju ke arahku. Matanya begitu gelap dan mulutnya lebar, dengan pakaiannya yang agak mencolok. Aku langsung berputar saat menyadari bahwa hantu tersebut adalah Peeves sang poltergeist Hogwarts, si pengacau.

Hell! Kenapa peeves bisa muncul secepat ini?!

George menatapku khawatir, menunggu di ujung koridor dengan Fred dan Elle, aku benar-benar akan mengalami masalah yang sebenarnya. Kalau lari itu akan mengundang perhatiannya, tapi kalau tidak dia akan segera menyusulku.

mati aku.

"Peeves" Aku mendengar suara berat tepat di belakangku, membuatku menoleh takut. Itu Bloody Baron, dia memiliki wajah yang kasar dan mata kosong, serta jubahnya yang diwarnai dengan darah perak.

"Kembalilah ke tempatmu." Peeves terlihat takut, pelan-pelan mundur dan segera berbalik menghilang.

"Thank you so much, Bloody Baron." Dia menatapku tapi tidak menjawab, membuat suasana yang agak canggung, "Casey!" Elle, Fred dan George datang menghampiri aku sambil berlari, "Jangan berlari." Mereka bertiga secepat kilat mengubah langkah menjadi jalan, membuatku terkekeh.

Saat aku ingin menatap bloody baron kembali, dia sudah menghilang.

"That's terrifying, you lucky bloody baron is around." Ungkap Elle, aku tersenyum kemudian mengajak mereka untuk segera ke asrama masing-masing, karena aku tahu jam kelas setiap asrama saat sore tidak ada, tapi rupanya Elle langsung ditarik oleh Fred ke arah gubuk Hagrid, tidak mengindahkan panggilanku dan meninggalkan George denganku. Entahlah, apakah itu buruk atau tidak.

"Kau beruntung tidak dirasuki Peeves." Dia berkata "Bagaimana kalau kita mengintip salinanku?" Tawarnya, aku tidak sebodoh itu untuk tidak memahami arti salinan.

Aku mengangguk dan berjalan berdampingan dengan George dalam diam, aku sempat mengira dia akan memegang tanganku. Perkiraan bodoh

Elle dan Fred ada di depan kami, sedang berjalan menuju gubuk Hagrid. Sampai Fred menarik tangan Elle dan membelokkannya ke Hutan Terlarang, aku panik sebenarnya. Bisa saja si kembar ternyata merencanakan sesuatu pada kami.

Hari sudah hampir malam, sampai aku melihat ada yang aneh dari tatapan George padaku. "Begitu menawan kah aku sampai kau memperhatikanku begitu George?" Tanyaku bingung, dia menggeleng dan memperhatikan Fred yang cukup jauh didepan.

"Aku kenal Fred sejak masih embrio, setahuku Fred tidak menyukai gadis manapun. Dia bukanlah tipikal orang romantis yang akan menembak seorang gadis di malam hari dalam hutan terlarang. Apalagi kau tahu, Elle sama denganmu dan adik kami Ron. Kalian masih anak-anak, apa tujuannya kemari?" Penjelasan George cukup mengiris hati. Aku menggelengkan tidak tahu dan kembali memperhatikan mereka berdua.

Semakin dalam dan kulihat ada yang aneh, telinga Fred berubah, lalu ke tangannya, hingga ke rambutnya yang perlahan mulai habis. Aku kaget sungguh, begitu pula George.

"Wha-what?! Itu bukan Fred?" Kaget George

Kami melihatnya, kami melihat bagaimana Fred palsu berubah menjadi- QUIRREL?

Aku melihat Elle yang berbalik ke arah Fred, maksudku Quirrel, lalu kaget dan spontan menamparnya. Quirrel tidak menggunakan turban tapi, belakang kepalanya di tempat dimana seharusnya Kau-Tahu-Siapa berada malah polos.

"Itu Professor Quirrell?!" Aku dan George berlari menghampiri Elle dan Quirrel.

Kulihat Quirrel yang mulai mendekati leher Elle, apa-apaan dia?!

"Berhenti!" George berteriak, membuat Quirrell teralihkan. Quirrell mencoba menyerang kami berdua dengan kutukan kematian tapi meleset. Dia pun berlari menjauh meninggalkan Elle yang sepertinya sedang dibawah pengaruh Imperius, aku berlari mengejar Quirrel.

"Jaga Elle disitu!" Teriakku pada George. Aku berlari dan melemparkan Crucio, Stupefy, dan Avada Kedavra berulang-ulang pada Quirrel.

"HEY SIALAN! BERHENTI" Teriakanku diacuhkannya, tiba-tiba saja dia ber-disapparate.

Aku sungguh kesal, maksudku sejak kapan Voldemort berubah menjadi vampir penghisap darah?

Aku berlari kembali ke arah George dan Elle yang sepertinya pingsan, "Dia tak apa?" George melihatku dan melemparku dengan tongkatnya. Aku melotot ke arahnya dan melemparkan kembali tongkat miliknya.

Dia menarikku duduk dan meletakkan kepala Elle di pahaku. "Are you out of your mind Casey?! Ho-wha- arghh, what were you thinking? He can kill you anytime you know!" Benar dugaanku, dia memarahiku.

"Terima kasih sudah peduli, aku terharu George sungguh." Ucapku mengecek keadaan Elle.

"Kau kira aku sedang bercanda? Kau seharusnya membantu sahabatmu yang kelihatannya trauma ini, tapi kau malah bersikap sok pahlawan!" Dia membalasku dengan amarah yang lebih banyak.

"Hah?! Aku? Bersikap sok pahlawan? Kau kira dia tadi siapa?! Aku ingin tahu kenapa dia melakukan itu kepada Elle?! Kau kira aku tidak mengkhawatirkan sahabatku?!" Aku balas membentaknya.

Dari belakangku, terdengar suara lari beberapa orang.

"Stop! Both of you! What happened here?" Itu Hagrid dan trio golden.

"Sesuatu yang buruk Hagrid, aku akan menjelaskannya tapi kumohon. Bantulah aku mengantar Elle dulu ke Madam Pomfrey" Ucapku memohon, mencoba mengabaikan George.

Hagrid menggendong Elle keluar dari Hutan terlarang, diikuti aku, George, Harry, Hermione, Ron, kurasa mereka baru menanyai tentang Fluffy -anjing kepala tiga.

"Casey? Apa yang kau, Elle dan kakakku lakukan di hutan terlarang? Apa kalian..." Ron bertanya dengan wajah jijik. "Ceritanya panjang Ron dan kumohon, berhenti berpikir yang tidak-tidak." Jawabku kesal. Kulihat Harry ingin mempertanyakan hal yang sama tapi, mengurungkan niatnya.

Kami sampai ke Madam Pomfrey dan melihat Fred bersama Angelina Johnson di salah satu tempat tidur, aku bersyukur Elle pingsan. Karena bisa saja dia akan meng-avada dirinya sendiri.

"Astaga, apa yang terjadi padanya Hagrid?! Baringkan gadis itu kemari, kalian menjauhlah." Madam Pomfrey histeris melihatnya, dia semakin histeris lagi setelah memeriksanya. "Apa dia baru saja terkena Cruciatus?!" Madam Pomfrey lebih membentak dari sebelumnya.

"Hah?!"

"Bukan Madam tapi, Imperio." Jawabku.

Aku membenarkan kesalahannya tapi, dia malah melotot. Aku melihat disebelahku ada George yang sedang ditanyai oleh Fred, wajahnya terlihat khawatir.

"Kalian berdua sungguh tidak beruntung Miss Dawney…" Professor Dumbledore masuk bersama dengan Professor Snape. Professor Snape menatapku lama, aku tahu apa yang dia lakukan. Maaf saja professor, aku tidak ingin kau tahu.

"I think you always know what happened in your school right, Sir?" Tanyaku sinis. Aku tiba-tiba kesal dengan Quirrel.

"But it's happened outside the school Miss Dawney. Could you explain it to me?" Dia bertanya lembut, aku menggeleng.

"Peristiwa ini murni karena harus melawan itu, sir. Tolong jangan sita tongkat saya, aku tidak akan tahu kapan dia kembali lagi menyerang Elle." Profesor menatapku dalam, mataku agak berair, kemudian dia mengangguk mengerti.

"Miss Torvas sepertinya terkena trauma pada otaknya. Apa dia mempunyai trauma tertentu Miss Dawney?" Tanya Madam Pomfrey.

"Ya, dia trauma pada lelaki cabul" jawabku asal. Madam Pomfrey mengerutkan kening, tahu aku kesal akan sesuatu. Professor Dumbledore menyuruh semuanya kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.

"Ehm, a-aku" ku lihat Fred mendekat kearahku.

"Tidak! Kau dan kembaranmu yang menyebalkan itu lebih baik kembali, aku bisa mengurusi sahabatku. Lagipula bukankah kau harus mengurusi si Johnson?" Aku memblokade jalan Fred. Si kembar -dengan Fred yang setengah hati- pergi meninggalkan aku, Elle dan Snape.

"Miss Dawney, apakah kau dan Elle mempunyai kemampuan Legilimency?" Tanya Snape melihatku.

"Tidak Professor, aku bahkan tidak tahu apa itu." Jawabku bohong. Snape baru saja ingin keluar dan terhenti karena pertanyaanku.

"Professor? Apakah Prof Quirrel itu vampir? atau Voldemort?" Ucapku sambil berakting seakan-akan sedang berpikir keras tentang kejadian tadi. "Maksudmu?"

"Tidak, aku hanya ingin minta tolong padamu professor. Kumohon katakan pada professor Quirrell bahwa dia tidak akan mati karena Harry Potter, tapi karena kutukan cruciatus dariku." Jelasku melihat Snape yang bingung, dia mengangguk dan pergi.

Aku menutup mata mencoba tidur di dekat Elle, cukup lama kurasa hingga terdengar suara-suara di sekitarku atau kami, membuatku memaksakan diri untuk membuka mata.

"-diamlah! Kau tak ingin membangunkan Casey, bukan?"

"Selamat, aku sudah bangun." Kataku dengan suara parau sambil mengerjapkan mata beberapa kali, disana ada Fred, George, golden trio dan Elle yang sudah sadar dan sedang duduk.

"Apa yang kalian lakukan disini" Kataku menajam memperhatikan mereka satu persatu, mengakhiri pandangan pada George dengan semakin menajam

"Aku minta maaf, Ca-"

"Kalau kau berpikir dengan bersikap manis bisa membuatku merubah pikiran terhadap fitnahmu tentangku, maka aku perjelas bahwa itu tidak akan mempan, Weasley." Jelasku dengan memberi penekanan. Dua orang Weasley menatapku dengan melotot dan George malah menatapku terluka, sejujurnya aku tidak rela marah padanya, tapi fitnah bukanlah gayaku dan dia sudah sukses membuatku kecewa karena tidak percaya padaku.

Aku menoleh ke arah Elle, "Bagaimana keadaanmu? Jangan terlalu memikirkan hal tadi, fokuslah untuk sekarang dan jangan lupa aku selalu disisimu. Aku harus mengurusi beberapa hal mate, baik-baik disini oke." Aku memberi sedikit nasehat pada Elle, dia mengangguk, aku tersenyum padanya, lalu memalingkan pandangan ke arah Harry dengan kecewa.

"Tak semua orang yang terlihat jahat, itu memang jahat Harry. Beberapa di antara mereka hanya menyembunyikan kebaikan, agar tidak dimanfaatkan secara sembarangan." Tuturku padanya, kemudian keluar rumah sakit sekolah.

Maafkan aku Elle, tapi untuk sementara aku harus memberikan kemajuan dari tiap karakter yang bersangkutan dengan Quirrell.

Aku menuju ke kantor Dumbledore, dan masuk dengan sandi.

"Professor Dumbledore, anda benar-benar harus mempertimbangkan keamanan batu bertuah, karena aku juga yakin Harry dan yang lain akan mencoba mencarinya, Quirrell juga sedang berusaha menemukannya untuk voldy itu" Dumbledore terlihat kaget tapi langsung memperbaiki raut wajahnya.

"Jangan khawatir Miss Dawney-"

"Aku serius, sir. Professor Quirrell terlihat sedang bermain-main denganku, dia bisa saja melemparkan mantra kematian pada Elle waktu itu -dan tolong profesor, perhatikan unicorn di hutan terlarang, anda tentu tahu apa yang terjadi akhir-akhir ini.

"Satu lagi professor, Quirrell tidak berada di aula utama selama insiden Troll bukan karena tidak disengaja." Akhirku sebelum berbalik keluar tanpa menunggu jawaban. Persetan dengan sopan santun, walaupun aku tahu keadaan akhirnya akan baik-baik saja, tapi voldemort sudah bertingkah agak jauh dengan melibatkan kami dalam masalahnya.

Malam ini aku ditunggu di depan kastil oleh Snape, hari terakhir detensi ku dengannya, seperti biasa dia memberikanku kertas berisi list bahan herbal yang perlu kucari, dan dalam diam kami mencari bagian kami masing-masing, tentu saja aku tidak tahan,

"Profesor Snape, saya tahu anda sudah curiga sejak lama pada Quir-"

"Mulutmu Miss Dawney"

"Saya rasa dia tidak pantas dianggap sebagai guru sir. Tapi saya serius sir, cara anda mengancam Quirrell sama sekali tidak membuatnya goyah. Aku tidak tahu apakah anda tahu tujuan Quirrell, tapi batu bertuah itu benar-benar tidak aman." Akhirku sambil memberi bahan herbal terakhir padanya, Snape tetap diam dia malah memimpin jalan untuk kembali ke kastil.

Aku masuk ke ruang rekreasi asrama kemudian duduk di kursi dekat perapian, sambil merenung "Bagaimana keadaan Elle, Case?" Draco bertanya padaku

"Baik, hanya saja dia harus beristirahat di hospital wings selama minggu ini Drake, aku harap dia akan baik-baik saja."

"Case, ini mungkin menyinggung tapi, apa hubunganmu dengan para Weaselbee itu?" Draco tiba-tiba bertanya, "Apa urusanmu antara aku dan mereka?"

"...tidak, aku hanya-oh omong-omong apa kau ingin melihat hal yang menyenangkan malam ini?"

"Apa?"

"Aku akan melaporkan pada Profesor Mcgonagall kalau Potty, Weasel dan Mudblood itu sering berkeliaran malam." Aku menepuk jidat, teringat masalah bodoh karena tujuan yang juga bodoh oleh Draco.

"Jangan Drake, kau hanya akan menambah masalah dengan poin asrama Slytherin" Draco menggeleng. Dasar keras kepala.

"Tidak akan Casey, percayalah padaku, kalau kau tidak ingin ikut, aku saja." Aku teringat sesuatu

"Tuan Malfoy, apakah kau berusaha menghindari pertanyaanku sebelumnya?" Aku menyeringai, dia gelagapan.

"Ti-tidak"

"Oh? Kalau begitu apa kau punya bukti bahwa mereka sering keluar malam?"

"Tidak, tapi aku pernah melihatnya" Jawabnya diakhiri dengan suara yang agak mengecil, aku tertawa kecil.

"Sudahlah Drake, sebaiknya kau istirahat. Selamat malam." Aku kemudian meninggalkannya di ruang rekreasi, menuju kamar putri dan segera tidur.

Keesokan paginya, aku dan Draco bersama menuju ke Hospital Wings untuk menjenguk Elle.

Aku melihat Fred yang sedang duduk membelakangi jalan masuk, sedangkan Elle makan di atas kasur.

"Selamat pagi, dan Fred jangan terlalu sering mengambil makanan di dapur, kau hanya menyusahkan para elf." Fred tidak menjawab, dia tetap membelakangi aku dan Draco, sedangkan Elle menatapku khawatir, "Fred? Kau mendengarku? Ini belum jam sarapan dan kau sudah masuk dapur dengan diam-diam."

"Ada apa, Casey?" Sebuah suara dari belakang membuatku menoleh, itu Fred. Aku kembali memutarkan tubuh dan mendapati George yang sudah membalikkan badan sambil tersenyum padaku, "-aku pikir - astaga maafkanku- uh, anu, Elle aku akan menemuimu malam nanti." Aku langsung menarik Draco untuk segera pergi dari situ, "Tunggu Case, ada yang perlu kusampaikan"

Saat aku hendak menjawab, Malfoy langsung membalasnya "Kau tahu jawabannya, Weasley."

George tertegun, tapi masih tetap teguh menutup jalan keluar kami, "Kalian mau kemana?" Draco menatapku, "Aula besar,"

"Aku ikut."

"Terserahlah." Aku kemudian mencoba menyingkir dari George, dia mengikuti kami berdua, berjalan berdampingan denganku, tapi aku tetap menempel pada Draco.

Maafkan aku Draco, untuk sementara izinkan aku menjadikanmu pelampiasan.