Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.
Warning: oneshot drabble.
.
.
Pembunuhan di Ruang Klub
by Fei Mei
.
.
Ukai dan Takeda meneguk ludah susah payah dan melirik satu sama lain seakan bertanya apakah mereka tetap harus masuk ruang klub saat ini. Pintu ruang klub tidak tertutup rapat, jadi terdengar jelas perbincangan yang ada di dalam sana. Masalahnya, hal yang membuat dua orang pria ini ragu mau masuk ruangan atau tidak adalah obrolan ganas yang mereka dengar dari luar pintu.
"AHAHAHAH MATILAH KAU!" Itu seruan Tanaka, terdengar sangat riang dan puas.
Sontak saja dua orang yang menguping dari luar langsung berkeringat dingin. Walau pintu tidak tertutup rapat, mereka tetap tidak bisa mengintip apa yang terjadi di dalam karena celahnya sangat sedikit.
"Gak usah ganas-ganas gitu, Tanaka." Kali ini suara Sugawara. "Nishinoya, kamu juga!"
"Habisnya mereka reseh!" sahut si Libero.
"Temen-temen, yang satu ini masih gerak, lho," sahut Kinoshita.
"Hebat bener, udah keluar darah banyak begitu, masih hidup," timpal Ennoshita.
"Tanaka, pinjem dong, aku pengen coba bunuh satu," pinta Narita. Iya, bahkan trio nama berakhiran '-ita' itu ikutan menyeramkan.
"Jangan! Jangan! Coba kasih Asahi-san dulu!" Suara Nishinoya lagi. "Asahi-san juga merasa sebal, kan? Hajar mereka! Jangan ragu-ragu!"
Ukai dan Takeda sempat mendengar suara 'eeeehh' ragu dari Azumane, tapi kemudian mereka mendengar gedebak-gedebuk kencang.
"A-Asahi-san sereeem!" Hinata terdengar ngeri. "Darahnya sampai kena di tangan begitu …"
DARAH SIAPA, SIH?!
"Gak masalah, kan? Toh, memang mereka berdua sangat menyebalkan," tutur Kageyama.
"Sudah beres, kan?" Akhirnya muncul suara sang kapten.
"Nah, karena mereka berdua sudah mati, segera beresin, yuk." Itu suara Azumane.
Tidak ada lagi obrolan, adanya hanya grasak-grusuk pelan. Takeda memasang wajah ngeri, memikirkan apa yang barusan mereka dengar.
"Sensei, sensei, kok gak ada suara Tsukishima dan Yamaguchi, ya?" bisik Takeda.
Mendengar itu, si guru langsung ingin pingsan. Ia bahkan tidak mampu mengatakan apa-apa.
Melihat pria yang lebih tua itu tampak sangat ketakutan, Ukai membuka cepat pintu di depan mereka. Ia merasa ngeri juga, sih, tapi pembunuhan dan penyiksaan itu harus mereka ketahui!
"KALIAN PADA NGAPAIN, HAH?!" teriak Ukai sambil menerobos masuk, dengan Takeda yang bersembunyi di belakangnya.
Anak-anak tim voli putra SMA Karasuno mengerjap melihat kedua orang itu. "Hmmm, beresin ruang klub …?" jawab Sugawara bingung.
"Saya tahu Tsukishima menyebalkan tapi bukan berarti kalian boleh membunuhnya dan Yamaguchi juga—"
"—kami?" Itu suara Yamaguchi—
"AAAAAHH!"
Ukai dan Takeda berteriak kaget dengan histeris, karena ternyata Yamaguchi dan Tsukishima sedang duduk di pojok, tampaknya terutama Tsukishima itu terlalu malas ikut dalam keambiguan yang terjadi.
"Sepengennya saya bunuh Tsukishima, gak bakal, lah, kita masih butuh dia, kok," ujar Tanaka.
"O—oh…"
"Tapi, tadi yang sampai darahnya keluar banyak dan masih hidup itu, apaan?" tanya Ukai.
Nishinoya mengangkat tongkat kayunya, ada bekas peperan darah sedikit. "Nyamuk."
Takeda mingkem. "Nyamuk?"
"Daritadi gangguin banget, terus kupikir bakal seru kalau bunuh nyamuk dengan selain telapak tangan dan raket nyamuk," jawab Nishinoya.
…
…
"Kalian tuh, kalau ngomong, jangan ambigu gitu deh," hela Ukai. "Untung banget yang denger tuh aku sama sensei, bayangin kalau yang denger adalah Kepala Sekolah, bisa ditutup klub ini!"
"Maaf, tadi saya juga udah bilangin, merekanya aja yang haus akan darah," sahut Sugawara.
Daichi menepok dahi sendiri. "Suga—"
"NYAMUKNYA!" lanjut Sugawara. "Maksudku, nyamuknya yang haus darah! Hehehe."
Takeda menghela juga. "Kalian, lain kali kalau di ruang klub, pintunya ditutup rapet aja ya. Kalau perlu entar pasang peredam suara."
"Jangan, jangan peredam suara, entar yang ambigu itu malah jadi nyata."
.
.
Selesai
.
.
A/N: Mamanya Fei sudah biasa akan keambiguan Fei saat bunuh nyamuk, wkwkwk, terus Fei jadi kepikiran tentang fict ini hahahah /cukupfei
Review?
