[ Chapter 00 ]
#Namjin #Taekook #Yoonmin #HopeGyu #Mature #Adult #Hurt #Romansa #Probleminlife #Yaoi #Namjoon #Seokjin
.
.
.
.
Seokjin berjalan menaiki tangga menuju lantai atas, setelah seharian berada di tengah-tengah para tamu undangan dan menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata, Seokjin merasa dirinya sangat kelelahan dan butuh istirahat sesegera mungkin.Seokjin masuk ke dalam kamar yang di dalamnya telah didekorasi menjadi sedemikian rupa. Lantas mengambil napas dalam-dalam saat aroma mawar merasuk ke dalam penciumannya. Jujur saja, harum mawar itu tak sedikit pun membuat Seokjin merasa tenang.
Seokjin tidak menunggu, ia membuka tuxedo juga melonggarkan dasi yang cukup mencekiknya sedari tadi dan menaruhnya pada sangkutan.
Seokjin hendak segera menutup separuh tubuhnya yang setengah telanjang dengan jubah mandi yang telah disediakan di atas ranjang itu setelah ia membuka celana bahan yang membungkus kakinya hingga meninggalkan kemeja putih sebatas paha, saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka setelah didobrak kasar dari luar.
Seokjin terkejut dan jubah mandinya terjatuh di bawah kakinya, saat sosok laki-laki berwajah mengerikan dengan bekas luka bakar di sekitar dahi sebelah kirinya tiba-tiba menerjang Seokjin dan menjatuhkannya di atas ranjang.
Tubuh besar itu telak menghimpit tubuh Seokjin yang setengah telanjang. Napas Seokjin mulai sesak dan ia tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah kata pun lantaran kerongkongannya terasa tercekat.
"Aku sudah memperingatkanmu, Jalang!" Geraman itu sarat dengan amarah yang jelas terpancar dari onix kelam yang tanpa ragu menatap benci pada Seokjin.
Mulut Seokjin terbuka, dia ingin berbicara dan menjelaskan tentang semua kesalah pahaman yang membuat lelaki di atasnya kini terlihat begitu murka dan menakutkan.
"A-a--"
"Diam!" Seokjin terbatuk karena cengkeraman pada tangannya kini berpindah ke atas lehernya. Selapis air mata mulai menggenang di atas irisnya yang serupa karamel.
"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi!" Suara itu merupakan sebuah perintah untuknya dan Seokjin sudah tidak bisa berbicara sekalipun ia ingin, karena kondisi lehernya yang sudah tidak baik-baik saja. Laki-laki itu terlihat seperti siap mematahkan lehernya kapan saja.
Seokjin melihat urat-urat wajah yang mencuat di dahi lelaki yang mengukungnya, wajah dan matanya terlihat merah seperti ingin menangis, tetapi hanya raut kebencian yang terpancar di sana.
Ya, lelaki itu menangis pada akhirnya. Setetes air mata lelaki itu jatuh di atas pipi Seokjin. Atas alasan yang tidak Seokjin ketahui, seolah Seokjin dapat merasakan rasa sakit yang di alami oleh orang itu dan matanya mulai mengabur. Laki-laki itu tampak begitu hancur, mungkin lebih hancur dari perasaan Seokjin saat ini.
Dalam sekejap, wajah itu kembali menatap bengis ke arah Seokjin dengan amarah yang tampak berkali-kali lipat lebih besar dari sebelumnya. "Kau sengaja melakukan ini padaku. Kau sengaja menjebaknya, kau membunuhnya agar kau bisa berada di rumah ini untuk menggantikan posisinya. Kau sangat menjijikkan, Seokjin."
Jantung Seokjin berdegup kencang. Sakit, rasanya sakit saat sebuah pernyataan sekejam itu ditunjukkan tepat di atas wajahnya.
Seokjin mengerang, salivanya mengalir melewati celah bibirnya yang seolah dipaksa tertutup dan terbuka saat pipinya dicengkram dengan semakin kuat.
"Selama ini aku membiarkanmu, dan aku menyesal telah membiarkan jalang sepertimu menyusup ke dalam rumahku." Kalimat itu terdengar begitu rendah, penuh penekanan dengan irama merendahkan yang terselip di sana. Lalu laki-laki itu menghempaskan wajah Seokjin begitu saja dan bangkit dari atas tubuhnya.
"Dengar, Seokjin.." Suara itu sarat dengan ancaman. "Mulai dari detik ini dan seumur hidupku, akan kuhabiskan hidupku untuk membenci dan menyiksamu. Tidak ada seorang pun yang bisa menolongmu, dan ..." Tatapan itu menghunus tepat ke dalam netra Seokjin yang baru saja meluruhkan liquid beningnya. "Tidak ada jalan keluar untukmu di neraka ini."
Kemudian laki-laki itu pergi meninggalkannya dengan debaman pintu yang seperti akan terlepas dari engselnya. Seokjin berjengit, lantas membawa telapak tangannya untuk menutupi wajah. Hingga suara tangis yang meraung-raung mulai menggema di seluruh sudut di kamar itu.
Seokjin menjerit, menangis terisak-terisak. Salju yang turun dengan semakin lebat diluar sana seolah ikut membekukan hatinya. Di dalam kamar pengantin itu yang sekarang nyaris terlihat seperti kapal pecah, Seokjin terus menangis sembari mengingat setiap kalimat yang mampu menghujam ke relung jiwanya, menghancurkan sisa-sisa harapannya.
Di sela isakannya, Seokjin menggerakkan rahangnya yang sakit sembari tergugu-gugu. 'J-jangan, hiks! Kumohon jangan ... jangan benci aku. Hiks! Jangan!.'
Tangannya mengepal dan mulai memukul-mukul dada. Di dalam sana terasa begitu sakit dan sesak, bahkan untuk bernapas pun rasanya ia tidak mampu.
'Jangan benci aku, Namjoon ... jangan! Hiks..' Seokjin tidak mampu meraih oksigen lebih dalam saat dadanya terasa semakin sesak dan kepalanya terasa berdenyut, dan lalu seperti dipukul dengan palu.
Kesadarannya hampir sepenuhnya menghilang saat samar-samar ia kembali mendengar suara dobrakan pada pintu kamarnya serta seseorang yang memanggil-manggil namanya dengan panik.
"Seokjin! Astaga! Apa yang telah terjadi di sini? Di mana Namjoon?"
Seokjin menggeleng lemah, dan kain hangat terasa membungkus tubuhnya saat ia benar-benar menutup mata dan tidak mampu mendengar suara apapun lagi.
"Ya Tuhan! Dia pingsan."
Kelopak mata sembab dan bengkak itu tampak bergerak dan sedikit demi sedikit mulai terbuka. Mengerjap pelan saat seberkas cahaya mulai merangsek masuk menyapa retinanya.
Seokjin masih diam tak berkutik sambil sesekali mencoba menelan salivanya. Namun tenggorokannya terasa perih, kering kerontang. Pelipisnya tiba-tiba berdenyut nyeri saat ingatannya tentang sebuah pesta yang mana dirinya menjadi salah satu mempelai di sana kembali hadir, perlahan-lahan ingatannya kembali teringat pada sosok laki-laki yang selama ini selalu ia kagumi secara diam-diam, dan sosok itu baru saja mengatakan sebuah kalimat yang mampu menghancurkan seluruh pertahanannya.
Keping mata itu terbuka sempurna. Seokjin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan serba putih itu. Jemarinya sontak mengepal, dia dibawa ke rumah sakit. Tidak, Seokjin benci rumah sakit. Sejak hari itu Seokjin bersumpah untuk tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat ini.
Seokjin ingin pulang, dia ingin berbicara dengan Namjoon dan Namjoon harus mendengar penjelasannya. Laki-laki itu sudah salah paham padanya dengan begitu fatal. Seokjin tidak bisa membiarkan Namjoon--seseorang yang telah menjadi suaminya, kini membencinya dengan sedemikian rupa.
"Seokjin?"
Seokjin menoleh ke asal suara, ia melihat Jungkook berdiri di ambang pintu sedang menuju ke arahnya.
"Seokjin, apa kau baik-baik saja?" Jungkook tampak begitu khawatir, mata bulatnya yang terbiasa berbinar cerah kini tampak sendu, memerah dan berkaca-kaca. Jungkook menyentuh dahi dan pipi Seokjin dengan hati-hati. Kemudian berkata dengan nada yang terdengar sedikit lega. "Syukurlah, aku pikir kau diserang hiportemia. Taehyung menemukanmu pingsan di atas ranjang di rumah bibi Kim dan dia tidak menemukan Namjoon di manapun untuk saat ini."
Seokjin ingin sekali mengadu pada Jungkook tentang apa saja yang telah ia alami di rumah keluarga Kim sebelum Taehyung mendobrak pintu kamarnya dengan panik. Seokjin tidak yakin bahwa Taehyung mendengar apa yang telah dikatakan Namjoon kepadanya dan Seokjin berharap agar Taehyung lebih baik tidak mendengarnya.
Seokjin mengerjap karena matanya kembali memanas dan setetes cairan hangat kembali mengalir dari sana. Seokjin bisa melihat wajah Jungkook yang kembali berubah khawatir sekaligus bingung.
"Seokjin, apa kau sakit? Bagian tubuhmu terasa sakit? Kau kenapa, Seokjin? Katakan padaku, mengapa kau menangis?" Jungkook bertanya dan pemuda itu mulai meneteskan air matanya. Keadaan Seokjin yang seperti ini sungguh membuat sebagian hatinya merasa terluka.
Akhirnya Seokjin menangis hebat, ia tidak mampu membendung semua rasa sakit itu, perasaan takut dan rasa bersalah yang menghujamnya bertubi-tubi. Kembali meraung seperti di kamarnya beberapa saat lalu. Jungkook reflek mendekap tubuh Seokjin yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit itu.
Jungkook terus mengusap bahu dan punggungnya yang tampak ringkih dan gemetar, sementara Seokjin terus bergumam. 'Aku sakit, hatiku sakit, Namjoon membenciku. Dia bilang seumur hidupnya akan dihabiskan untuk membenciku. Namjoon membenciku, Jungkook! Dia membenciku! Hiks.'
Tapi Jungkook tidak mendengarnya, karena pemuda itu mulai melonggarkan pelukannya seraya berkata. "Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter untukmu. Kau tidak baik-baik saja, Seokjin. Aku akan menghubungi Namjoon mengenai keadaanmu saat ini. Aku akan mengatakannya pada Taehyung terlebih dahulu, aku yakin Namjoon masih sedang berbincang dengan tamu undangan saat ini. Di mana terakhir kali kau melihat Namjoon?" Jungkook berharap agar Seokjin segera menjawabnya, tapi ia lupa bahwa Seokjin tidak dapat berbicara.
"Ya, aku akan memanggilkan dokter terlebih dahulu. Aku akan segera kembali, Seokjin." Dan Jungkook benar-benar meninggalkan Seokjin dalam ruangan yang membuatnya ingin membunuh dirinya sendiri.
Air mata mengalir dengan semakin deras. Semuanya percuma. Dokter itu tidak akan bisa menyembuhkannya atas rasa sakit yang menderanya saat ini. Jungkook salah jika mengharapkan Namjoon akan datang menjenguknya selayaknya pengantin baru yang mengkhawatirkan mempelainya.
Namjoon membencinya. Suaminya sendirimembencinya, dan Namjoon telah bersumpah untuk Membencinya seumur hidupnya.
.
.
.
.
.
.
TBC
Rabu, 25 November 2020
