God of Fate

Pairing: Hendery Lucas x Xiaojun

Length: Oneshot

Rating: M (18)

Genre: Fantasy, spiritual

Note:

Ini pernah kupublikasikan di Twitter 23 Agustus 2020. Dan kupublikasikan lagi di sini 24 November 2020. Selamat membaca, semoga suka


Sejak kembali dari perjalanannya ke Beijing, Dejun tidak pernah bisa memejamkan mata dengan tenang.

Setiap malam, ia dihantui oleh mimpi yang sama— tentang seorang lelaki muda asing yang mengagahinya. Itu benar-benar aneh mengingat bahwa Dejun tidak tertarik kepada pria. Namun, adanya mimpi itu membuatnya berakhir menyentuh dirinya sendiri, meracau tidak jelas, dan bertingkah seperti jalang dalam tidurnya.

Ia pikir seseorang telah mempraktikkan ilmu gaib kepada dirinya. Atau mungkin ada makhluk tak kasat mata yang menempelinya. Maka dari itu, ia bertemu dengan Yangyang, adik tingkatnya yang mereka bilang anak dengan indera keenam. Namun, anak itu hanya tertawa dan berkata 'kau hanya terlalu stress kuliah' dengan santai.

Si Xiao menggeliat dalam tidurnya.

"Uh—"

Nah, mulai lagi, ia meracau. Dalam mimpinya, wajah laki-laki itu terlihat jelas sekali. Lelaki itu kira-kira seumuran dirinya dengan kulit sepucat kertas dan rambut sehitam arang. Jangan lupa matanya memiliki lipatan mata yang indah dan hidung mancung yang mencolok. Lelaki itu tampan. Tidak seperti manusia—dan tampaknya memang bukan manusia.

Ketika mimpi dimulai, Dejun akan berdiri di sebuah ruang gelap tiada ujung. Kemudian, pria asing itu duduk di hadapannya dengan senyum kecil yang lucu. Pria itu bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana panjang yang terbuat dari kain sutra berwarna putih cerah. Ia akan menepuk pahanya, mengisyaratkan Dejun agar dirinya menempatkan diri di sana.

Si manis anehnya akan selalu menurut.

Lelaki itu akan menciumi belakang lehernya, menjilat telinganya dan menyentuh setiap inci dari kulitnya. Dejun yang memang di dunia nyata sangat sensitif terhadap sentuhan pun tetap sama di dunia mimpi. Setiap belaian dari si lelaki membuat Dejun terasa di surga. Rasanya terlalu nyata untuk sebuah mimpi, tapi terlalu luar biasa untuk sebuah kenyataan.

Ia akan berakhir menunggingkan bokongnya untuk lelaki itu dan mendesahkan namanya.

Ah ya, lelaki memiliki sebuah nama.

Dan mereka banyak berbincang ketika bersetubuh.

Namun, setiap Dejun terbangun dari mimpinya, ia akan lupa detailnya. Yang ia ingat hanya wajahnya dan bagaimana lelaki itu membuatnya mengalami mimpi basah untuk kesekian kalinya. Matanya mengerjap pelan melihat kasurnya basah lagi—

Ia memegani kepalanya yang pusing.

Sebenarnya, dirinya kenapa?

Dejun merasa tidak melakukan apapun yang salah selama liburannya ke Beijing. Ia hanya pergi ke beberapa lokasi wisata, menikmati kuliner, dan menghabiskan waktu dengan bahagia. Mengapa ketika kembali ke rumah, ia justru seolah digentayangi lelaki tampan itu?

Tidak mungkin itu mimpi basah biasa.

Karena Xiao Dejun yakin orientasi seksualnya adalah heteroseksual. Pria itu menyukai lawan jenis. Lebih tepatnya, wanita yang lengkap dengan vagina. Jika ia disuguhi dada besar di depannya, ia juga suka. Namun, mengapa mimpinya yang homoerotis itu bisa muncul?

Karena sudah tidak tahan lagi, ia memutuskan menghubungi Yangyang kembali. Menanyakan tentang ahli ilmu gaib yang bisa dihubungi. Barangkali anak indigo itu mengenali seorang dukun yang bisa membantunya mengusir pria itu dari mimpinya.

"Kau yakin ingin bertemu dukun ini?"

"Iya, aku sudah tidak tahan dengan mimpi burukku."

"Mimpi apa sih sebenarnya? Aku sama sekali tidak bisa melihat 'sesuatu' yang mengikutimu. Aku rasa, itu hanya faktor lelah. Pergi mencari dukun itu terlalu berlebihan."

"Sudah. Cepat berikan aku alamatnya."

Dan di sini lah dirinya, di depan sebuah rumah bergaya Eropa besar yang berlokasi di dekat bukit. Agak jauh dari perkotaan dan terpencil. Itu membuat Dejun ngeri sendiri karena rumah ini memiliki aura yang tidak ia sukai.

Ia pun menekan bel dan menunggu dengan gugup di depan pintu. Dari film-film yang ia lihat, dukun itu menyeramkan dan sangat tradisional. Harus Dejun akui, ia takut dengan hal mistis. Bagaimana kalau Yangyang memerangkapnya dan mengirimnya ke alamat dukun yang jahat?

Ngeri.

Pintu pun terbuka.

"Kau!" serunya.

"Uh, maaf?"

MENGAPA DUKUNNYA MALAH MIRIP DENGAN PRIA DI MIMPINYA?


"Uh, maaf atas reaksiku tadi. Aku hanya terkejut

karena kau terlihat mirip seseorang. Oh, ya, namaku Xiao Dejun. Aku dengar kau adalah dukun kan?" tanya Dejun.

Ia menggaruk tengkuknya pelan dengan canggung. Matanya tidak berani menatap lelaki di hadapannya ini. Wajahnya —ah, semuanya— benar-benar mirip dengan orang di mimpinya itu. Hanya saja, ini versi lebih santai dengan mengenakan kaos hitam biasa dan celana jeans. Dan otaknya tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal yang terjadi dalam mimpinya.

Sinting!

Lelaki itu kemudian hanya membalasnya dengan lembut, "Iya, aku Guanheng atau secara Cantonese dipanggil Kunhang. Kau bisa memanggilku Hendery kalah kau mau. Aku sudah dengar dari Yangyang. Kau mengalami mimpi buruk?"

Dejun mengangguk pelan dengan perasaan janggal di dadanya. Pria ini familiar seperti dalam mimpinya, tapi juga berbeda sekali. Netranya masih enggan melirik Hendery. Baginya, pria itu sangat mengintimidasi sekali. Entah apa maksud semesta mempertemukan dirinya dengan lelaki ini!

Kalau begini ceritanya, ia bukannya lebih tenang —justru akan semakin terngiang-ngiang.

"Kenapa kau menunduk begitu?"

"Uhm, aku takut," cicitnya.

Hendery hanya tertawa, "Loh kenapa?"

"Sudah! Bagaimana kalau kita mulai konsultasinya?"

Dejun pun menceritakan tentang mimpinya tentang pria tidak dikenal yang sama setiap malam. Ia tidak menjelaskan detailnya karena ia terlalu malu untuk mengatakannya! Namun, dukun tampan itu tampaknya mengerti-mengerti saja. Kemudian memberikannya sebuah kertas yang entah ditulisi apa, dilipat, dan dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik kecil.

Sangat simple sekali?

Dejun pikir lelaki itu akan menyemburkannya air atau menyuruhnya mandi bunga. Namun, ternyata untuk mengusir mimpi buruknya, ia hanya harus menyimpan jimat itu di bawah bantalnya. Dan kertas itu tidak boleh terbuka dan terbaca lagi sesudahnya. Hendery bahkan tidak meminta imbalan sepeser pun untuk itu.

"Aku benar-benar tidak butuh uang darimu. Namun, kau harus ingat, jangan sesekali membuka kertas itu dan membaca isinya. Itu demi keselamatanmu sendiri!"

"Terima kasih, Hendery."

Itu benar-benar membuat si manis berspekulasi buruk.

Mungkinkah dukun ini memasang ilmu gaib yang lebih parah? Mungkinkah dirinya ditumbalkan tanpa ia ketahui? Jujur, ia masih takut mengingat bagaimana dukun itu memiliki wajah yang persis sama seperti dalam mimpinya. Bisa saja lelaki ini menjebakkan dalam halusinasi dan berniat mencelakai dirinya.

Namun, sepulang dari saja, yang benar saja.

Ia tidak mengalami mimpi itu lagi.

Seminggu, dua minggu, tiga minggu—

Dejun benar-benar tidak mengalami mimpi-mimpi erotis itu lagi. Sepertinya, jimat yang diberikan Hendery benar-benar bekerja dengan baik. Ia pun menjalani kesehariannya dengan santai seperti biasa.

Sampai suatu saat, ia dilanda rasa penasaran.

"Kau tahu kan jimat yang Hendery berikan itu?"

"Iya, itu yang membuatmu bisa tidur nyenyak."

"Dia menyuruhku jangan membuka kertasnya, tapi aku penasaran. Memangnya apa yang dia tuliskan di sana sampai-sampai bisa menghilangkan mimpi burukku? Pasti ada sesuatu."

"Sepertinya, itu mantra yang sudah disegel. Kalau dibuka, segelnya akan rusak dan mimpimu akan datang lagi," jelas Yangyang melalui ponsel.

"Ah, omong kosong. Sudah, aku mau mencoba membukanya dulu!"

Ia mematikan ponselnya dan meraih kertas yang ia sembunyikan di balik bantalnya. Ia membuang sembarang bungkus plastik yang melindunginya kemudian membuka lipatan demi lipatan dengan gugup. Namun, tulisan di atasnya membuat kedua alis tebal Dejun naik keheranan.

'Seorang dewa memiliki perasaan terlarang untukmu. Dia bisa masuk ke mimpimu dengan wujud jodohmu. Tolong langsung hubungi aku jika kau membuka kertas ini. Karena kau bisa berada dalam bahaya lagi.'

"Hah?"

"Padahal jodohmu itu sudah bilang— jangan buka kertas itu, sayang."


"Dewa, tolong berikan aku jodoh!~"

Sang dewa menatap Dejun yang memohon di altarnya yang dibangun megah di kota Beijing. Untuk ukuran seorang pria, wajah si manis itu cantik. Tubuhnya sedikit pendek dan ekspresinya lugu. Ia bisa melihat bahwa kelinking lelaki itu telah terikat oleh benang merah dengan lelaki lain bernama Hendery yang bekerja sebagai cenayang.

Sang dewa hanya mengernyit aneh.

Untuk pertama kalinya, ia tidak suka takdir antara kedua manusia itu. Sang dewa menyukai Xiao Dejun. Ia ingin memiliki anak itu, tapi ia tidak bisa terlalu banyak ikut campur dengan hidup manusia. Namun, ia bisa melakukan satu hal— mampir ke mimpi anak itu dengan wajah seperti Hendery dan mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Ah— tuan!"

Dejun mendesah pelan ketika Xuxi menghentakkan pinggangnya. Sang dewa dalam wujud Hendery hanya tersenyum kecil mendengar desahan itu. Setiap suara yang keluar dari mulut si manis seperti penyemangat yang membuatnya semakin bergairah. Ia pun membisikkan sesuatu di telinganya, "Namaku Xuxi, sayang."

"Xuxi, tolong jangan berhenti—"

Xuxi benci mengakui bahwa ia menyukai lelaki ini. Lelaki mungil yang selalu mendesahkan namanya setiap malam. Walau dirinya harus menggunakan wujud Hendery. Karena sebagai dewa cinta, ia hanya bisa masuk ke alam mimpi manusia dengan wujud jodoh dari manusia itu.

Namun, sekitar seminggu setelah ia memutuskan mengunjungi Dejun setiap malamnya, ada sesuatu menghalanginya. Ia mengernyitkan dahi kemudian menemukan bahwa manusia kesayangannya telah bertemu dengan jodohnya —Hendery. Dan anak itu sangat pintar dalam membuat jimat dan mengucap mantra untuk melindungi Dejun.

Xuxi benar-benar murka.

Pada akhirnya, ia hanya bisa menatapnya dari jauh.

Beberapa minggu berlalu.

Xuxi benar-benar menunggu detik-detik lelaki itu membuka jimatnya. Ia yakin Dejun yang manusia itu memiliki rasa penasaran dan mematahkan mantra pelindung yang Hendery pasang. Dan yang benar saja!

Sang dewa tertawa kecil melihat si manis yang kebingungan membaca isi kertasnya. Ia tidak sabar lagi menunggu lelaki itu tidur dan masuk kembali ke alam mimpinya. Ketidaksabarannya itu membuatnya melakukan pelanggaran terbesar yang dilakukan seorang dewa.

Muncul di hadapan manusia dalam wujud asli secara fisik dan menculiknya.

Karena hanya dengan itu, Xuxi bisa memiliki Xiao Dejun selamanya.

Dan Hendery, manusia itu, tidak bisa melakukan apapun selain menangisi takdir yang dipermainkan oleh sang dewa takdir sendiri.

END.