"Hmn, aku ragu untuk mengatakan ini, tapi …," Furuichi Takayuki sengaja menggantung kata-katanya. Ia sempat melepaskan bingkai kacamata yang sedari tadi telah berlabuh pada batang hidungnya—pegal merajai pelupuk mata, lalu ia sedikit menjauhkan diri dari hadapan meja sebelum beralih pada kedua kawannya dan lanjut berujar, "… sebelum mengataiku—dengarkan dengan tenang; aku dan Lamia akan bertunangan."
Kunieda Aoi tanpa sengaja—sungguh, ia tidak bermaksud—mematahkan pensil kayu yang terselip pada jemarinya.
Oga Tatsumi hanya mengerjap, meloloskan kuapan.
"Lolicon."
"Sudah kubilang jangan mengataiku!"
Beelzebub © Ryuuhei Tamura
Warnings! Canon, straight pairs, Furuichi x Lamia, Oga Tatsumi x Kunieda Aoi, drama, romance, cheesy, possibly OOC, EyD semoga betul seluruhnya, dsb.
Talk by Saaraa
"Tu—tunangan, ya? Hmn, aku paham … tentu saja," Aoi bergumam sendiri. Di tengah musim dingin yang mengulang, salju yang melingkupi buana, serta udara dingin penusuk tulang, hal ini menjadi topik yang berhasil membawa hangat pada wajah si gadis bersurai biru gelap.
Takayuki mendengus, ia berdiri dari mejanya dan duduk di dalam kotatsu bersama dua kawannya. Entah sejak kapan—ini menjadi rutinitas. Mengerjakan pekerjaan bersama-sama dan menjadikan rumahnya semacam markas—meski dari dulu Tatsumi telah melakukan itu dengan seenak hatinya.
"Aku sudah umur 25 dan Lamia 22. Kau tidak bisa mengataiku 'lolicon', Oga."
Ada dengusan yang diloloskan oleh Tatsumi. Pada dekapannya, Nico terpulas dengan ritme napas yang teratur. Lelaki itu mengusap-usap kepala sang balita sebelum lanjut berujar, "Sekali lolicon tetaplah lolicon. Lagipula—bagaimana ibunya mengizinkan hal ini?"
"Kita berkunjung ke Neraka setengah tahun lalu, kan? Karena Maharaja ingin bertemu Beel dan Nico."
"Ah!" Tatsumi menuding Takayuki dengan jari telunjuk. Namun sadar suaranya meninggi dan ia tak ingin ambil resiko anak perempuan dalam genggamannya terbangun, ia merendahkan volume suara. "Pantas kau tiba-tiba menghilang di hari kedua, dasar sialan."
Takayuki mengangguk. Lalu, bola matanya bergulir pada Aoi yang—entah bagaimana, mendadak dirasuk kebisuan. Ah—baiklah, ini wajar. "Uh. Kak Kunieda?"
"Eh?!" Aoi terkesiap. Begitu sadar, dua pasang mata telah terarah padanya. "Oh! Ya, selamat, Furuichi. Meski kau selalu terkesan mesum, tidak berguna, dan—"
"Hei, Kak—"
"Sampah."
"—Oga, jangan ikutan—"
Aoi berdeham, "—intinya, selamat, ya. Kurasa waktu benar-benar merubah, ya … tidak terasa kita sudah mengenal sejak dari SMA."
Tatsumi mengangguk-angguk—sok bernostalgia. Kemudian, ucapan bodohnya yang hanya seperti biasa terlontar, "Ah, rindunya masa-masa sederhana itu ketika kerjaku hanya belajar dan bermain."
"Apanya! Kau sedari dulu kerjanya bertengkar, memungut calon raja iblis, dan berperang dengan neraka. Bagian mananya sederhana?"
Aoi terkekeh tipis. Barangkali setelah selama ini, satu hal yang tak berubah adalah relasi kedua sahabat ini, bersama dirinya. Meski, tentu—Tohoshinki sendiri sudah banyak yang sibuk dengan aktivitas serta kesehariannya masing-masing. Ini sebuah kesederhaan yang luar biasa ketika Aoi bisa mengerjakan kerjaannya di rumah Takayuki bersama Tatsumi. Karena sebagian besar ia bekerja sebagai desainer grafis secara online, maka ia memiliki waktu luang lebih.
Di luar dugaan, Takayuki menjadi seorang penulis novel dan Tatsumi bekerja sebagai guru anak TK. Aoi tersenyum tipis kala mendengar itu dari mereka—waktu betul-betul merubah orang. Namun dipikir lagi; itu masuk akal. Takayuki adalah orang dengan kalkulasi dan imajinasi yang tinggi. Membuat novel misteri adalah hal yang tampak selaras dengannya. Begitu pula Tatsumi. Meski tampak galak dan menyeramkan—mengasuh Beel dan Nico adalah bukti nyata bahwa ia sebetulnya baik dan peduli pada anak-anak.
Himekawa Tatsuya telah menikah pula dengan Kugayama Ushio dua tahun lalu. Tojo Hidetora dan Nanami Shizuka di luar ekspektasi sepertinya berjalan cukup lancar—meski kepala lelaki itu sama batu dan tidak pekanya dengan lelaki bersurai jelaga di sebelah Aoi. Kanzaki Hajime dan Hanazawa Yuka juga seperti itu—sepertinya gadis itu sedikit kerepotan karena perkara kehidupan mafia dan ia perlu beradaptasi, namun sepertinya relasi mereka berjalan baik.
Kunieda Aoi kini menghela napas panjang.
Bahkan Furuichi juga sudah pasti dengan Lamia. Berarti memang hanya tinggal aku saja, ya ….
Tak lama, pintu dibuka. Tampak seorang bocah umur sepuluh menyembul dari baliknya. Senyumnya terbit dan seruan sederhana terucap, "Dad!"
"Beel-boy," Tatsumi memanggil. Ia menggerakkan tangannya—intruksi bagi si anak untung datang dan duduk di dekatnya. "Kau kenapa di sini? Hilda mana?"
Wanita yang dipertanyakan selanjutnya terlihat dari balik daun pintu pula. "Oga, Misaki mengajakku dan yang lain untuk pergi. Tuan Muda memilih di sini denganmu."
"Heh," Tatsumi merespon. Mengacak-acak surai limau cerah milik Beel. "Baiklah. Sana pergi."
Hilda mendengkus kasar. "Aku juga tidak mau lama-lama di sini, tahu. Kamar ini bau kemesuman."
"Astaga—aku bahkan tidak berkata apa-apa!"
"Kunieda, kau hati-hati, ya."
Aoi tergelak. "Selamat jalan, Hilda."
Seusai pintu tertutup, Tatsumi kini beralih pada putra angkatnya. Seusai bertahun-tahun—ia juga sudah pasrah kalau pada nyatanya anak ini tidak akan kembali pada ayah kandungnya. Lagipula, ia sudah terbiasa. Jadi, biarlah begini saja.
"Tapi, lucu juga, ya," Takayuki berujar. "Waktu itu, Beel tampak tidak tumbuh sama sekali, tapi lalu pertumbuhannya drastis. Sepertinya memang biologis manusia dan iblis itu jauh berbeda."
Beel mengangguk. Ia mengusap-usap pipi Nico sebelum berbicara, "Kata Ayah, aku dan Kak En mirip. Tapi, Nico berbeda—ia lebih seperti manusia."
"Oh, En. Aku penasaran bagaimana kabarnya," Aoi berujar. "Sudah lama tidak melihat."
Tatsumi mengangkat bahu, cuek. "Kudengar dia membantu si Maharaja menjabat di pemerintahan."
"Dad, aku mau es krim."
"Musim dingin begini?"
Beel mengangguk. Tak lama seusai pintaan itu, seolah paham apa yang tengah terjadi, Nico bangun dari tidurnya dan meraih-raih Beel riang—minta dipeluk. Tatsumi mengusap tengkuk, lalu berujar, "Baiklah, sana pakai sepatu kalian. Aku akan turun lima menit lagi, lalu kita ke minimarket."
Maka seruan bahagia terlontar dari sepasang kakak-adik itu. Beel menggendong Nico, membuka pintu, dan menuruni tangga. Aoi menendang sudut-sudut bibir—menggemaskan. Kau tidak akan mengira bahwa mereka—mereka semua adalah mantan berandal yang urakan, yang begitu binal, serta tidak taat aturan.
Kini, mereka hanya terlihat seperti manusia biasa. Manusia yang menjalani hari dengan teduh dan damai—tanpa iblis, atau sihir, atau segala sesuatu yang rumit.
Takayuki sempat melirik pada Tatsumi dan Aoi melalui ekor mata. Si lelaki dengan dua anak angkat kini tengah memeriksa dompetnya dan memastikan seluruh hal yang ia perlukan ada di sana.
"Kau tahu, Oga," Takayuki memulai. "Di umur segini, tidak aneh kalau kau juga mulai mencari seseorang."
"…. Eh …. Apa-apaan."
Ah—Aoi nyaris selalu membenci topik ini. Sebab, setelah sekian tahun pun, perasaannya tak lesap terhadap si lelaki dan rasanya sulit sekali mengetuk pintu hati seorang Oga Tatsumi.
Yah, lagipula …
"… Oga, kan, punya Hilda."
Di sana—hening sontak menyelimuti. Aoi mengedip heran. "Eh?"
Tatsumi menggeleng-geleng, mengibaskan tangan dan dahinya jelas berkerut. "Itu kesimpulan dari mana?"
Aku sudah bosan dengan pola pengelakan ini.
"Eh? Maksudku—kau selalu ada di sisinya kan? Kau bertarung, berlatih, dan menyelamatkan dia. Mengusahakan yang terbaik untuknya—sedari dulu pun begitu."
Tatsumi memicingkan mata lalu memiringkan kepala. "Duh, itu, kan, jelas karena dia sering bikin susah."
Kini Aoi yang gelagapan. Takayuki yang memerhatikan hanya tersenyum tipis—mengawasi reaksi kakak kelasnya memang tak pernah membosankan.
"Tapi, maksudku, dia adalah ibu dari Beel dan Nico secara tak langsung—"
"Hn … kalau dia ibu Beel-Nico dan aku ayah mereka, bukan berarti aku pasangannya Hilda, kan?"
Aoi mengerjap. Ia memijit pelipis. Sebentar, kok, ini malah membingungkan?
"Kenapa?" kali ini, Oga yang bertanya. Nada suaranya itu membuat Aoi kini lurus menatap iris kecoklatan si mantan begundal. Pandangannya hanya seperti dulu, 1 dekade lalu ketika kali pertama mengenalnya—begitu teduh, tidak ada beban, serta entah bagaimana, tulus meski tampak apatis. "Kalo Kunieda sedang kesusahan, juga pasti kubantu, kok?"
"Aku tahu, tapi—"
"Ah, tapi asal jangan terperangkap para iblis, soalnya itu lumayan merepotkan."
"Hmn—oke, tunggu, bukan itu poinnya …"
"Dan lagi—aku tidak berlatih dengan Suiten Ikaruga dan Saotome hanya untuk melindungi Hilda. Ada kau juga, kan, dan kau bisa berdiri di belakangku."
Darah Aoi naik hingga ke ubun-ubun. "Eh … uhm. Aku— … a—aku juga ingin beli es krim!" Aoi mendadak berseru, berdiri dari kotatsu dengan tenaga berlebih, dan keluar dari kamar.
Tatsumi yang melihat itu kembali memiringkan kepala. "Cewek itu membingungkan, ya. Kenapa dia tidak bilang langsung saja, ya, apa maunya?"
Takayuki terkikik kecil. "Oga, dia tidak pernah berubah. Kau yang berubah. Jangan menggodanya terus, kasihan Kak Kunieda."
Padahal, kau sudah sadar perasaannya sejak satu tahun lalu.
Si lelaki beriris kastanya mengusap tengkuk. Cengirannya terbit. "Aku tahu. Ah, sudah tua nih, ingin pensiun saja."
"Sebelum itu, carilah istri."
"Ya, ya."
"Jangan bikin Kak Kunieda menangis, loh."
"Tidak bakal."
"Lalu—"
"Bawel, Furuchin!"
Takayuki mengukir kurva pada bibirnya. "Titip beli pudding, ya."
"Bye-byeeee."
Saat akhirnya ruangan itu tersisa sang lelaki bersurai keabuan, ia menoleh ke arah jendelanya. Salju lembut turun satu per satu, menyisakan keheningan yang menyenangkan. Helaan napas lega ia loloskan, uap yang mengepul di hadapan bibirnya perlahan memudar dan bersatu dengan udara.
Pada musim dingin yang mengulang, percakapan yang ada begitu hangat—serta membangkitkan kenangan lama.
Dan mulai hari ini, rasa-rasanya, menjalani hari seperti biasa saja terdengar baik.
END
Epilog 1
"Oh, selamat, ya. Tidak disangka, kamu yang seperti adikku sendiri kini sudah bertunangan, Lamia."
Lamia dengan surai yang kini ujung-ujungnya menyentuh punggung dan dikepang; mulai terisak. Ia mendekap pinggang Hilda. "Kak Hildaaaaa."
Takayuki terkekeh. Ia mengulurkan secangkir cokelat panas di hadapan keduanya dan ia mulai menyesap isi cangkirnya sendiri.
"Hmn. Kalau Lamia sampai menangis sedih akan kukebiri kau, Furuichi."
"Jangan bicara seram begitu, ah. Lagipula … bagaimana menurutmu sendiri, Hilda? Soal Oga dan Kak Kunieda."
"Ah, iya!" Lamia mengangkat wajah. "Aku juga penasaran soal itu."
Hilda mengukir senyum tipis pada bibir merah muda pucat. Surai pirang yang menutupi mata kiri itu bergoyang seiring ia meniup cokelat panas. "Rasa sayangku pada Tuan Muda dan Nona Muda jauh lebih besar dari apa pun juga. Siapa yang lelaki dekil itu pilih bukan urusanku—akan menjadi urusanku ketika ia merebut Tuan Muda dan Nona Muda dariku, itu saja."
Sesederhana itu.
Takayuki menghela napas pendek, menarik sebelah sudut bibir.
Sesederhana itu, eh ….
Epilog 2
"Eh, Iblis Susu."
"Eh, Cowok Dekil. Apa?"
Tatsumi mengusap tengkuk. Hari ini ialah reuni dengan para murid Ishiyama dan syukurnya—sebagian besar telah beranjak dewasa. Tak ada lagi adu pukul karena impulsif, atau keinginan membuat rusuh nihil alasan.
"Apa di Neraka ada yang namanya konsep pacaran, menikah—semacam itu? Atau hanya berlaku bagi anggota kerajaan seperti ayahnya Beel-Boy?"
Hilda mengangkat dagu, berpikir sejenak. Ia tahu jawabannya—ia hanya butuh menyusun kata-kata yang pas. "Ada, tapi tidak umum. Maksudnya—pernikahan di dunia manusia terjadi karena adanya kebutuhan regulasi, kan? Kartu Keluarga, pendataan penduduk, dan sebagainya. Namun, tentu saja beda dengan neraka yang lebih bebas. Kalau ada individual yang, katakanlah—jatuh cinta, maka biasanya mereka akan bersama. Sesederhana itu saja. Tapi, memang khusus untuk aristokrat seperti Tuan Muda dan 7 Dosa Besar, biasanya upacara pernikahan dilakukan untuk menegaskan penyatuan pemimpin negara dan utamanya; peneguhan kelahiran pewaris takhta. Kenapa bertanya?"
Tatsumi menggeleng. Ia menatap pandangan di hadapannya—begitu sarat akan hiruk-pikuk dan kemeriahan yang biasa. Sementara Nico ada di pelukan Hilda, Beel memilih dekat dengan Lamia yang juga tengah bertukar konversasi bersama mantan anggota Red Tails lainnya.
"Entah."
"Hmn. Apa ini karena Misaki bertanya kenapa kita tidak tercatat pada buku pernikahan; padahal ia mengira kita telah memiliki anak?"
Tatsumi mendengus. "Mungkin. Aku tidak peduli pada hal beginian—biasanya."
"Lalu, apa yang kaupusingkan, Tatsumi?"
Tatsumi terdiam sesaat. Jarang-jarang Hilda memanggil dengan nama kecil. Tanda bahwa ia menuntut penjelasan dan ada keseriusan dalam pembahasan—tak lagi dipenuhi sarat mencibir dan panggilan menghina. "Tidak ada."
"Tidak ada? Kau yakin? Atau ini soal Kunieda Aoi dan kau mulai bertingkah seperti manusia normal pada umumnya?"
Tatsumi mengernyit dan menatap Hilda sengit atas pernyataan itu. Sebagaimana ia tidak mau mengakui—mungkin ada benarnya. Mungkin memang waktu begitu merubahnya, mengikis kebodohannya, dan memunculkan rasa dewasa serta kepekaan yang tadinya tak pernah ada dalam inti jiwanya.
Sebab melihat seorang gadis di umur dewasanya, dengan helaian biru kehitaman yang membingkai wajah mungil, serta senyum yang loyal berkembang kala melihat si berandal-beranak-satu—mau tak mau Tatsumi jadi berpikir tentang hal-hal kompleks yang memang butuh untuk dipikirkan.
"Apa kausayang dia?"
"Aku tidak mengerti definisi sayang," Tatsumi mengakui. "Apakah itu seperti Ayah dan Ibu yang lebay dan menjijikan? Kalau itu arti sayang—persetan banget, deh."
Hilda menggeleng-geleng mendengarnya. "Kenapa? Kau harus menerima bagaimana pun kalau kau punya perasaan. Iblis pun punya—kalau tidak, maka aku tidak akan di sini, menjaga Tuan dan Nona Muda."
"…. Beel-Boy dan Nico sudah punya kau sebagai ibu mereka."
"Ini dan itu adalah dua hal yang berbeda. Lagipula—apa itu menjadi alasan bagimu untuk berbohong pada dirimu sendiri?"
Kini Tatsumi mengacak-acak surai hitam frustrasi. "Kau membuatku pusing!" tuduhnya pada Hilda, yang mendapat delikan kesal dari wanita itu.
"Terserah, deh."
Maka, mereka berdua menjauhi topik ini. Namun belum lama seusai topik itu kelar, Kunieda Aoi menghampiri Tatsumi. Senyumnya timbul dan ia menyahut ceria pada mereka, "Hei, kenapa kalian di sini? Bergabunglah dengan yang lain! Hilda, Nene membeli bakpao super pedas kesukaanmu, tuh."
Hilda mengerjap. Tanpa berkata-kata dan dengan mata berbinar, ia berjalan pergi, menjauhi Tatsumi dan Aoi, serta menuju makanan kesukaannya.
Aoi terkikik. Bahkan iblis macam Hilda pun akan luluh kalau menyangkut makanan favorit. "Oga?" tanya Aoi—melihat si lelaki masih melamun. Itu jarang dan langka.
"Ya?"
"Ayo ke sana?" tanyanya, memiringkan kepala—lagi-lagi kirimkan senyum tipis yang teduh.
"…. Baiklah, ayo."
Tatsumi dengan reflek meraih lengan Aoi, lalu melangkah bersamanya.
