Jump to The Cliff
Disclaimer: DMM
Warning: OOC, typo, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
"Pengen lompat ke jurang, deh, rasanya."
Hari damai itu mencatat, bahwa Akutagawa Ryuunosuke tidak memiliki jadwal delving untuk sekarang, dan ia bersantai di perpustakaan yang selalu begitu-begitu saja. Akutagawa tak menikmati lima kue beras seorang diri. Tepat di sampingnya Kikuchi Kan tengah tersambung dengan kisah Hana. Bukunya ditutup perlahan, usai mendengar Akutagawa bergumam secara jelas. Kan menatap lurus pada iris aquamarine yang terpaku akan langit-langit.
"Habis baca apa sampai mau lompat ke jurang?"
Beberapa waktu terakhir hasrat Akutagawa berkobar-kobar ingin menuliskan unsur-unsur supernatural, setelah membaca buku yang berbau demikian. Telunjuk Akutagawa hanya mengarah pada buku yang menjadi pusat dunia Kan. Anggukannya sedikit-banyak paham yang sederhananya; Akutagawa sedang merasa tidak pantas di hadapan jejaknya; karyanya yang ia tinggalkan.
"Aku enggak mau dengar pujian atau apa pun."
Langsung ditegaskan begitu Kan sempat mengerjap-ngerjap. Meyakinkan bahwa Akutagawa adalah penulis ulung, hanya ia yang bisa menciptakan Rashomon, Hana, Jigokuhen, dan jika orang lain yang melakukannya tidak akan tercipta Rashomon, Hana, atau lain-lain, mungkin sudah basi. Kata-kata baik yang terlalu diulang-ulang lama-lama memang membosankan. Butuh pendekatan lain daripada memuji-muji saja, apalagi keras kepalanya Akutagawa ini super.
"Kenapa lompat ke jurang?"
"Kepikirannya itu." Lagi-lagi sekadar anggukan Kan yang terasa mengambang yang tampak di permukaan. Hojicha yang kini lebih bersahabat diteguk oleh Kan. Rasa khasnya menyelimutinya tenggorokan dengan kelembutan. Akutagawa setengah penasaran setengah segan, mengenai bagaimanakah respons Kan yang mungkin ... positif?
Sebab Kan masih menikmati teh-nya dengan hati yang penuh. Perasaannya tidak menjadi bulan sabit atau berberaian menjelma serpihan-serpihan, membuat Akutagawa justru keringat dingin. Memang salahnya yang kurang mengatur kata-katanya. Padahal sejak kematian Akutagawa, bukanlah takdir melainkan menurut Kan, dialah yang paling salah. Siapa tahu Kan diam-diam terganggu. Masalahnya lidah Akutagawa telanjur terjebak dalam kalimat, "tidak tahu.".
Ketidaktahuannya membuat Akutagawa ingin menunggu untuk mencari tahu. Semoga bukan kekeliruan yang menerima undangannya, seperti–
"Ide bagus, tuh." Daun telinga Akutagawa bergerak akibar diterpa keterkejutan. Sekilas melirik pada Kan yang senyumannya seperti garis lengkung yang melengkung saja. Tidak mencurigakan, menyembunyikan rahasia, atau apa pun, tetapi Akutagawa tetap waspada.
"Yuk. Pergi hiking."
"... hiking? Kok jadi hiking?"
Hiking dan melompat ke jurang secara mentah-mentah adalah dua hal yang maknanya berbeda 180 derajat. Kini giliran Akutagawa yang mengerjap-ngerjap. Rak di belakang mereka Kan telusuri menggunakan jemarinya. Mengambil salah satu buku yang judulnya entahlah apa, tetapi Akutagawa tahu ia akan menyesal jika penasaran.
"Hiking, kan, tidak hanya berjalan kaki sambil menjelajah alam. Bisa mencari tantangan dengan memanfaatkan kontur alam kayak memanjat, merayap, mendaki, sama turun tebing. Ryuu mau lompat ke jurang, 'kan? Sama saja, kok, seperti turun tebing."
"Turun tebing, mah, pelan-pelan. Mauku langsung loncat."
"Waduh. Sayang banget itu. Pemandangannya pasti indah-indah. Lebih baik dinikmati dengan hiking. Habis hiking boleh, deh, kamu loncat ke jurang."
"Capek duluan atuh. Mana bisa lompat." Malah berputar-putar begini, membuat Akutagawa menggaruk belakang kepalanya melampiaskan bingung. Halaman yang Kan buka asal-asalan memperlihatkan ilustrasi gunung. Ingin sekali Akutagawa menepuk jidatnya, karena Kan sudah tidak terhentikan.
"Nah. Justru bagus itu. Biar orang enggak sembarangan mau lompat ke jurang. Hiking bisa bikin ketagihan, lho. Nanti Ryuu malah mencari tempat lain buat dijelajahi."
"Yakin banget. Memangnya Kan pernah hiking?"
"Belum, tetapi setelah ini aku akan hiking denganmu. Asal kita bersama, kenangan se-melelahkan apa pun pasti jadi indah, Ryuu. Aku percaya itu."
Keyakinan itu menyentuh Akutagawa dengan kelembutan yang teguh, tetapi dibandingkan terharu dan rindu menghirup kenangan, Akutagawa cenderung ingin kabur. Kan mencerocos tentang tempat hiking yang harus mereka tuju. Akutagawa beralasan perutnya sakit untuk tancap gas. Suara Kan yang terakhir kali Akutagawa dengar adalah, ia akan mengabari Akutagawa secepat mungkin.
"Daisetsuzan bagus, nih. Ada onsen terpencil lagi. Cari Ryuu, ah."
Kata siapa Kan tidak tahu Akutagawa kabur, gara-gara ia malas berkutat dengan outdoor? Apalagi jika mendengar ada onsen. Bisa-bisa Akutagawa pura-pura mati.
"Numpang bentaran, ya, Dazai-kun. Kan lagi seram banget."
Teko berisi hojicha–para bungou tengah menggandrunginya mumpung diskon–terus dituangkan ke dalam gelas tanah liat yang sudah penuh, menyebabkan isinya luber dan likuidnya yang masih panas mengenai celana Dazai Osamu. Padahal semalam Dazai bermimpi Sakaguchi Ango menjadi cupid, dan memamerkan belahan pantatnya yang bikin jijik. Jadilah Dazai pikir akan dikutuk seharian, tetapi nyatanya ia diberkahi oleh kehadiran Akutagawa.
"Diminum dulu, Sensei. Hati-hati masih pa– PANAS! KULITKU PERIH BANGET."
Celana yang terkena teh Dazai tiup-tiup, sementara Akutagawa menyemburkan minumannya gara-gara kepanasan; melewatkan peringatan Dazai. Setelah agak mengontrol diri, pertama-tama mereka sama-sama menarik napas, dan menghembuskannya perlahan-lahan. Akutagawa meneguk lagi. Senyuman Dazai bisa benar-benar lebar sekarang, mendapati ia menjamu idolanya secara nyata.
"Menyeramkan kenapa, Akutagawa-sensei? Apa Kikuchi-sensei jadi monster yang mau menerkammu?"
"Fantasi yang bagus, Dazai-kun. Aku juga kepinginnya begitu, tetapi yang menyeramkan dari Kan adalah dia tiba-tiba mengajakku hiking, setelah mengatakan aku ingin lompat ke jur–", "Jurang?! SENSEI MAU LOMPAT KE JURANG?! IH. ENGGAK BOLEH!" potong Dazai setangkas kilat. Lagi-lagi Akutagawa menyemburkan teh-nya. Terbatuk-batuk mendengar suara Dazai yang terlampau kencang, dan Akutagawa agak kecewa.
"Lho. Kukira Dazai-kun bakal bilang, 'ayo lompat bersama-sama, Akutagawa-sensei.' Ternyata enggak."
"Lagian, kenapa tiba-tiba ingin lompat ke jurang? Shiga-sensei jahat, ya, sama Akutagawa-sensei? Aku bisa membayangkan Shiga-sensei jadi nenek sihir yang mau merebut ketampanan Akutagawa-sensei!"
Yang dipanggil Shiga-sensei itu mendadak bersin-bersin. Musha yang menemaninya berbelanja mengelus-elus punggung Shiga. Segelintir cemas mengkhawatirkan Shiga yang Musha kira, sahabatnya ini terserang flu, tetapi Shiga bantah dengan cerita absurd bahwa ia tiba-tiba membayangkan menjadi nenek sihir yang iri akan ketampanan Akutagawa, sehingga ia mengaduk ketel berwarna ungu.
"Enggak, kok. Saat melihat Kan membaca ceritaku, rasa-rasanya aku malu dan tidak tahan. Tiba-tiba kepikiran mau lompat ke jurang, deh. Kayaknya seru juga. Sayangnya di dekat sini enggak ada jurang."
"Tetap saja enggak boleh! Entar Sensei tidak bisa menulis lagi, dan aku tidak bisa membaca karya barumu."
"Justru enak enggak melakukan apa-apa lagi." Kalau sekarang Akutagawa masih bisa merasai lelah gara-gara delving. Perlu makan juga. Tiap hari dipaksa mandi. Akutagawa harus kabur, atau dia akan berakhir berendam di dalam air. Kemudian Shimazaki Touson yang menyebalkan tiba-tiba menceletuk, zodiak Akutagawa adalah pisces.
Mentang-mentang lambang pisces ikan, dan ikan menyukai air bahkan menggantungkan hidupnya padanya, Touson berujar begitu tanpa memikirkan Akutagawa. Lagi pula Akutagawa ini manusia. Masa iya kalau zodiaknya scorpio, nantinya harus sengat orang? Memang Touson ini tidak pakai otak, menurut Akutagawa seorang berdasarkan dendam pribadi.
"Kata siapa enggak perlu melakukan apa-apa lagi? Di dasar jurang bertahan hidupnya sulit, lho."
"Memangnya tidak langsung mati?"
"Karena ceritanya berubah genre jadi adventure! Jadi, Sensei tetap hidup dan harus bertahan sampai bantuan datang."
"Ehhh?! Kemampuan bertahan hidupku di alam nol besar. Namun, intinya sama-sama mati, sih."
"Tentu saja Sensei tidak mati, karena tadi Kikuchi-sensei mengajakmu hiking. Kikuchi-sensei pasti mempelajari tentang alam terlebih dahulu, dan aku enggak mau kalah juga. Jadi, bakal belajar mengenai alam juga."
Kepala Akutagawa miring ke kanan, ketika rasa-rasanya ia semakin tidak mengerti, kenapa bisa begini? Seseorang mengetuk pintu kamar Dazai. Tatkala dibuka selebar mungkin, senyuman pada sosok seorang Kan tetap menjadi mimpi buruk Akutagawa. Tanpa rasa bersalah Kan langsung bertanya, apa yang mereka lakukan? Dazai menjelaskan dari A sampai Z. Gestur menepuk kening Akutagawa ulangi lagi.
"Dazai mau pergi bareng kita?" Tawaran dari Kan mula-mula ditanggapi dengan anggukan antusias. Rasa-rasanya Akutagawa tahu seluruh skenarionya. Setelah ini mereka pasti merencankan tanggalnya, musim apa yang cocok, bulan berapa, harus membawa apa saja, perlengkapan, peralatan … karena Kan pasti sudah menemukan destinasi yang ingin mereka tuju. Benar-benar hari yang sangat panjang, ya?
"Mau banget, Kikuchi-sensei! Sudah menemukan tempatnya?"
"Rencananya aku ingin membawa Ryuu ke Daisetsuzan di Hokkaido. Ada onsen-nya, lho, pasti segar banget."
"Asyik! Aku enggak sabar mau menggosok punggung Akutagawa-sensei."
"Aduh. Tabrak aku pakai truk, dong," keluh Akutagawa yang tampaknya masih kurang diajari. Dahi yang mengernyit seperti itu seolah-olah Kan berkata, mana bisa demikian. Namun, bukan gara-gara Akutagawa akan dicegah, melainkan baik Kan maupun Dazai tidak mampu mengendarai truk. Perpustakaan pun tak menyediakan fasilitas yang begituan.
"Di tempat seperti itu menemukan kendaraan juga sangat sulit, Ryuu. Mustahil, mustahil." Terus ditambah ini. Sudahlah. Akutagawa angkat tangan dan pasrah saja.
Namun, membenci kegiatan outdoor macam hiking pun, menontoni Kan dan Dazai mempersiapkan rencana dengan semangat, entah kenapa Akutagawa tidak bisa tidak tersenyum. Ini adalah kejutan yang Akutagawa kira pahitnya lebih mendominasi, tetapi ia tak boleh terus menyesalinya, bukan? Membayangkan tiada lagi yang begini pada Akutagawa, mungkin itulah kesepian yang sebenarnya.
(Karena mereka adalah teman-teman Akutagawa, dan baik Dazai maupun Kan hanya mencoba menjawab Akutagawa dengan cara yang berbeda, karena tidak selalu harus menceramahi menggunakan kata-kata klise, dan sebenarnya sudah diketahui jua oleh Akutagawa.).
Apa yang Akutagawa butuhkan bukanlah diberitahu mengenai apa yang sudah ia ketahui, seperti karyanya bagus dan lain-lain, tetapi sesuatu yang sangat berbeda, nyeleneh, pintar sekaligus menyenangkan Akutagawa dengan jalan yang tak ia sangka-sangka. Makanya dibandingkan mengeluh lagi, Akutagawa akan berterima kasih setelah semua ini selesai. Berkata ia pun senang. Tidak sabar untuk pergi hiking. Namun, tetap meminta keringanan mengenai mandi di onsen.
Tamat.
A/N: Inspirasinya dari chat wa sih ya. aku gak tau gimana, tapi kemarin pas abis publish buat ultah kume, aku bikin sw yang kira2, "mau loncat ke jurang terdekat", dan ternyata ada yang bales. bisa dibilang yang dazai katakan ke aktgw soal jgn lompat dll bener, cuma aku tambahin beberapa hal biar nyambung sama bta. dan ya aku kecewa karena di sini gak ada jurang. aku juga bingung, "emangnya kalo lompat ga langsung mati?". tapi aku takut tinggi sih, jadi gak akan bener2 lompat juga. cuma kuharap ada orang yang dorong aku kalo gitu. sayangnya nyari org buat dorong aku ke jurang mustahil juga.
Soal Kan sama aktgw juga based on wa chat. abis aku nanya jurang terdekat di mana, tetiba malah diajakin hiking dan ya ... bingung. sebenernya itu cuma sw remeh. kupikir itu cuma bakal dianggap angin lewat aja, kayak aku bercanda doang, dan ya ... lucu juga ada yang bales, tapi di satu sisi aku seneng juga. bahkan ga nyangka malah nyasar ke hiking. aku bikin ini, karena ini katakanlah sesuatu yang buatku berharga. ya bukan berarti aku bakal bener2 lompat atau apa. mending berkhayal ketabrak dan mati di tempat sih. sama, kalo aku gak males aku bakal bikin genre adventure soal aktgw, kan sama dzi yang ke daisetsuzan.
Thx buat yang udah baca fic ini, fav, follow, review, atau numpang lewat aja. mari bertemu di fic lainnya.
