Off the Life Line
[ ushioi, bxb, sengoku!au, nsfw ]
Seluruh karakter milik Haruichi Furudate. Pitik hanya bikin FF, tidak mengambil keuntungan apapun selain rasa senang
.
.
.
Ruangan sulung Oikawa masih diterangi cahaya bulan. Gesek antara gerak kaki dan alas tidur mengiringi malam. Begitupun geram rendah dua insan yang memutuskan untuk mengakhiri hari dengan bergumul. Jemari saling meraba dan bibir tak jemu mencicip.Purnama bergerak tinggi di langit, menyambut hadirnya musim gugur. Namun perang antar klan belum menunjukkan tanda-tanda usai. Pedang, tombak, dan panah saling beradu, pulang dengan lumuran darah.
"Ushiwaka—," sebut si sulung seraya mengusap pipi pemuda di atas tubuhnya, "—pelan."
Kata-kata tadi adalah sebuah permintaan yang tak terpenuhi. Sosok yang dipanggil Ushiwaka seolah memiliki tenggat waktu, batas tak kasat mata yang membuatnya berpikir tidak akan ada momen lain.
Sulung Oikawa melenguh pelan. Jari-jarinya mencengkram bahu lebar yang terbuka, menahan segala perih yang tercipta ketika taut berubah semakin intim.
Dalam.
Sebuah kecup mendarat pada kening, menyiratkan kata-kata penenang yang tak sempat terucap. Ada air mata yang mengaliri pipi, membuat sang dominan terketuk dan melambatkan gerak. Jemari tegasnya menyeka area basah itu, kemudian bibirnya menghampiri lagi, memberi pelipur.
"Kau tidak akan mati—hn—besok," isak sang pemilik kamar.
"Kau—ahn—juga tidak akan mati lusa."
Degup penuh kekhawatiran seolah mengisi ruang. Sulung Oikawa tidak bisa menutupi rasa was-was. Tidak akan pernah bisa selama ia harus menetap di kediaman.
Selama sosok Ushiwaka harus turun ke medan peperangan demi klannya sendiri.
"Kau tidak akan—," ucapan Oikawa menggantung di udara, terhenti karena sebuah cumbu pada bibirnya.
Rasa sesak dan kehampaan menautkan keduanya, membuat suasana malam semakin sendu.
"Aku akan kembali untukmu," bisik pemuda itu pelan. Manik olive-nya menatap lekat, seolah berkata bahwa kalimat tadi adalah sebuah sumpah.
"Aku pasti akan kembali."
.
.
.
The End
Yak, kembali lagi dengan nganu singkat bersama Pitik.
Aku habis nulis k*nktober sebulan penuh jadi entah—sulit banget disuruh nulis panjang, walaupun cuma oneshoot.
Jadi ya, segini-segini dulu
