Matahari sudah beranjak, mulai pulang kembali pada peraduannya. Namun hujan masih belum mau meninggalkanku sendiri. Beberapa orang tetap setia ditempat ditemani secangkir kopi di meja. Beberapa yang lain sudah pergi, menerobos hujan yang masih jatuh dengan derasnya. Hembusan angin membawa wangi petrichor menembus indra penciumanku, perlahan membawaku masuk kembali pada sosok itu.

Sosok tinggi dengan telinga perinya. Tepat delapan tahun. Dan aku masih duduk di tempat yang sama, di tempat terakhir kita berjumpa. Hanya payung biru miliknya yang masih setia bersamaku.

Kenangan itu masih segar menghiasi ingatan. Senyum idiot sekaligus manis itu masih terbingkai apik dalam benak. Debarannya pun masih sama, masih bisa kurasakan hingga detik ini. "Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja disana".

"Kau menangis lagi?" suara itu berhasil menarikku kembali dari lamunan. "Kenapa kau selalu menangis di hari hujan seperti ini?" Tanya pemuda berkulit pucat itu. Menarik kursi untuk mengambil duduk dihadapanku.

"Terbawa suasana, mungkin" jawabku seadanya, sambil mengusap air mata yang tanpa sadar mulai menggenang di pelupuk. Ia berdecih

"Kau selalu melakukannya setiap tahun, dihari yang sama, tempat yang sama bahkan payung bodoh itu masih sama" ucapnya dengan air muka yang masih sama datarnya.

"Kau masih menunggunya? Dia tak akan pernah kembali" ujar pria tampan itu, mengeluarkan kamera besar dari tas miliknya. Menyingkirkan beberapa titik air yang mencoba masuk ke dalam lensanya ."Tak bisakah kau melupakannya? Ini bahkan sudah tahun ke-8"

Aku hanya diam, enggan menjawab. Sudah terlalu bosan, lagi-lagi pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama yang selalu ia lontarkan. Sudah ribuan atau bahkan jutaan kali kudengar. Dan jawabanku tetaplah sama. Tidak. Aku tak bisa melupakannya

"Kenapa dia mengingkari janjinya? Dia bilang akan menungguku disini. Menantikan jawaban dan meminta payungnya kembali" lirihku dengan pemikiran yang tengah menerawang jauh entah kemana.

Ini sakit. Benar-benar sakit. Sampai kapan aku harus menahannya? Kau bilang akan selalu ada disisiku. Tapi apa? Kau marah padaku? Kau marah karena aku selalu menghindarimu?

Kau orang pertama yang selalu meyakinkan untuk tidak takut lagi jatuh cinta. Kau yang menyuruhku agar bisa membuka lagi hatiku. Kau juga yang meyakinkanku jika semuanya akan baik-baik saja. Tapi apa? Kau sendiri yang kembali menyakitinya. Menyisakan luka menganga yang tak kunjung terobati.

Aku tahu orang-orang sering mengataiku bodoh karena mengabaikan pria sepertimu. Ya, Mereka benar. Tapi aku sudah meminta maaf, aku menyesal. Sebegitu marahnya kah sampai kau tak pernah muncul kembali?

Asal kau tahu sampai sekarang aku masih sering datang. Ke toko buku, lapangan basket, stasiun bawah tanah, dan tempat-tempat lain yang sering kau kunjungi. Aku menunggu, sambil terus berharap menangkap siluetmu muncul.

Itu takkan terjadi.

Aku paham.

Aku mengerti

Karena sekeras apapun aku mencari dan selama apapun aku menunggu, Ini hanyalah sebuah penantian tak berujung. Kau tak akan pernah muncul di manapun.

Andai ada sebuah keajaiban atau mungkin jika Tuhan sedang berbaik hati mau mengabulkan keinginanku. Aku ingin memutar kembali waktu.

Kembali pada hari itu. Berada disampingmu dan takkan pernah melepasmu pergi. Mencium bibir penuhmu itu sambil mengucapkan kata yang tak pernah sempat kau dengar "Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol"

"Kau harus mengikhlaskannya, Baek. Chanyeol sudah tenang diatas sana." Sehun menatapku teduh, pria yang sama. Yang selalu ada disampingku sejak kepergiannya. "Bagaimana dia bisa bahagia? Sedangkan kau masih berduka akan kepergiannya"

Chanyeol a kenapa begitu tega meninggalkanku sendiri didunia yang kejam ini?

-END-

..

.

.

Terimakasih banyak untuk yang sudah menyempatkan membaca.Jangan lupa tinggalin jejak ya kasih kritik dan saran juga.️️️