Hai semuanya , maaf kerna baru bisa kembali kesini bersama chapter yang baru setelah berapa juta tahunnya ㅠㅠ maafin aku ya teman - teman!! terimakasih juga buat yang sentiasa mendukungku lewat komentar . jujur dari komen kalian buat aku lebih semangat mau nerusin ff ini ㅠㅠ semangat teman teman!! saranghaeyo!!!!


We're Different : Chapter 1

CAST :

Xi Lu Han (GS)

Oh Se Hun

happy reading!


Luhan merebahkan dirinya dikasur empuk satu - satunya yang berada didalam rumah itu. Untung saja peralatan didalam rumah itu masih bisa digunakan olehnya. Setidaknya Luhan tidak perlu membuang waktu , tenaga serta uang untuk membeli peralatan - peralatan yang baru. Gadis itu memejam matanya seketika. Penat lelah setelah membereskan hampir— eum maksudku kesemua ruangan yang ada dirumah itu sendiri. Ya , dia melakukannya sendirian.

Oh ya! Sehun. Dimana anak itu ? Entah dimana anak itu berada sampai waktu ini dia masih belum menunjukkan dirinya dihadapan Luhan. Luhan melepaskan nafasnya kasar. Jauh didalam hatinya memikirkan adakah dia akan berjaya 'survive' sendirian di Korea tanpa orang tuanya. Luhan bangun dari acara baringan-baringan diatas kasur itu. Dia menggapai tuala yang digantung di hujung kasurnya.

Sehun yang baru sahaja pulang dari entah mana langsung memasuki bilik Luhan. Tanpa aba-aba , Sehun langsung buru-buru keluar dari bilik Luhan.

"Ya Tuhan , hampir saja. Ini masih awal untuk memikirkan yang tidak-tidak tentang Luhan. Gila kau Sehun , sedarkan dirimu bodoh!"

Namja itu menampar-nampar pipinya berulang kali. Terdengar bunyi yang dihasilkan dari bilik mandi Luhan. Sehun memandang bilik Luhan dengan tatapan horror. Jujur selama dia menjadi hantu , tidak pernah sekalipun dia mengintip anak gadis. Oh Tuhan , maaffkan Sehun atas pemikiran mesumnya tadi. Sehun duduk diruang tamu menunggu Luhan keluar dari biliknya.

00000


"Oh shit , aku ketiduran"

Luhan terjaga dari tidurnya. Dia menghela nafas panjang apabila jam dinding masih menunjukkan waktu pukul 9 malam. Malam ? Gadis itu berlari ke arah jendela kemudian menyibak gorden jendela itu dengan cepat. Sekali lagi dia menghela nafasnya sambil mengurut pelan dadanya.

'Krukk'

Perut mulutnya sudah menegluarkan bunyi aneh-aneh menunjukkan cacing didalam perutnya sudah kelaparan. Gadis itu melangkah kaki jenjangnya keluar dari bilik itu dengan malas sambil menggaru-garu perutnya berharap rasa lapar itu akan menghilang.

'Bodoh kau Xi Luhan , tidak ada yang bisa kau lakukan selain memasak agar rasa laparmu hilang' Luhan membatin.

Perlahan-lahan dia menyalakan kompor didapur , dan memasak sebungkus ramen yang sudah menjadi peneman setia dirinya sejak dari diri dulu lagi. Luhan itu kurus , tidaklah terlalu kurus seperti tiang lampu yang bertengger dijalan. Setidaknya lekuk tubuhnya juga lumayan bagus untuk anak gadis seusianya. Baginya duduk sendirian tidak buruk seperti yang diperkatan orang-orang. Ah mungkin merela saja yang belum terbiasa sama suasana sendiri , bagi Luhan itu adalah masalah sepele. Ya pada akhirnya kita sendirian juga kan ?

Dan Luhan masih belum sadar akan makhluk yang sedang duduk dihadapannya sambil memerhati gadis itu menghabiskan ramennya. Entah apa yang merasuki Sehun , hatinya kuat mengatakan bahawa dia harus menjaga sosok yang berada dihapannya ini.

'Tuhan , adakah aku mempunyai kesempatan untuk menjadi manusia dan terlihat nyata dihadapannya ? Jika ada , aku berjanji dengan sepenuh hatiku untuk melindunginya sehingga akhir hayatku'

00000


"Jadi saya harap kalian semua bisa menjadi anak yang baik sepanjang kalian berada disini. Pastikan nilai kalian semua layak dengan kelulusan kalian berada di universitas ini , kalian fahamkan maksud saya ?"

"Faham saem!"

"Bagus , kalian anak yang kompak. Kekalkan prestasi serta semangat kalian sehingga tahun yang terakhir. Jadi saya akhiri kelas buat hari ini. Kalian bisa pulang siapin diri buat hari esok"

"Kamsahamnida saem"

Luhan mengemas buku-bukunya diloker. Beberapa buku ditinggal untuk pelajaran esok. Pada hari pertamanya dia masih belum mendapatkan kawan memandangkan semua bisa dikatakan sibuk akan hal masing-masing. Luhan mengangkat bahunya menandakan dia tidak terlalu mengambil pusing akan hal itu dan meneruskan langkahnya menuju kerumah. Gadis itu bersenandung beberapa buah lagu buat menemani dirinya disepanjang pertengahan jalan. Dan dibelakang dirinya terlihat seorang namja yang tidak terlihat oleh mata kasar. Untung saja namja itu tidak bisa dilihat oleh orang , jika tidak Sehun sudah yakin dan pasti ada yang mengejarnya atau menunggunya dihujung lorong untuk mengutarakan hasrat hati.

Sehun tersenyum disela-sela perjalanannya. Memori lama seperti itu tidak dapat diputar kembali. Mungkin ia bisa , tetapi seandainya dia masih di dalam bentuk manusia. Bunyi tapak kaki berlari kedengaran dari jauh menandakan seseorang sedang berlari menuju ke arah Luhan. Sosok gadis yang bermata sepet berlari menembusi badan Oh Sehun menepuk bahu Luhan perlahan. Sehun berdecak sebal sambil menggosok bahunya.

"K-kau hahh yang tadinya , oh ya tuhan sebentar benarkan aku bernafas terlebih dahulu" ujar gadis bermata sepet itu termengah-mengah sambil coba menghirup oksigen yang berada disekitarnya. Luhan yang masih terkejut mendiamkan dirinya sebentar sambil melihat gadis bermata sepet dihadapannya itu bernafas.

"Hai , namaku Byun Baek Hyun. Aku sama jurusan denganmu. Kebetulan aku melihatmu lalu dijalan ini jadi aku pikir kau tinggal mungkin didaerah perumahanku juga. Senang berkenalan dengamu. Oh ya , aku hampir lupa! Apa namamu ?"

Luhan tertawa kecil. Sungguh gadis dihadapannya ini becok sekali. Luhan mengulur tangannya pada Baekhyun. Tersenyum ramah , 'setidaknya aku mempunyai teman untuk waktu kedepannya'. Luhan membatin.

"Aku Xi Luhan , senang bertemu denganmu"

00000


Hari ke-7. Luhan pulang kerumah bersama Baekhyun. Baekhyun pula adalah warga tetap yang duduk dikawasan perumahan itu sejak dari kecil. Rumah Baekhyun terletak selang beberapa rumah dari Luhan. Kebelakangan ini juga dia selalu 'diganggu' dengan pergerakan dan bunyi aneh. Entahlah , terkadangnya Luhan merasakan bahawa dia hanya penat. Mungkin itu adalh salah satu faktor yang menyebabkan dia bisa berhalusinasi ditahap itu. Luhan memicit pangkal hidungnya dengan perlahan. Dia melempar tas ranselnya ke sembarangan arah.

'Sial , pekerjaanku semakin menumpuk'

'Kretttt'

Pintu bilik Luhan bergerak dengan sendirinya. Luhan yang sedikit terperanjat dengan pergerakan pintu itu lantas mendudukkan dirinya. "Ya! Nuguya ?!" jerit Luhan. Luhan menghela nafasnya kasar. Pintu kamarnya terbuka sedikit membuat Luhan merasa risih. Persetan dengan apa yang akan berlaku , gadis itu berjalan ke arah pintu dan merentapnya dengan kasar. Mata Luhan membulat , dia membekap mulutnya.

"AAAAAAAAAA!!"

'Am I human now ? She can see me through her eyes , right ?'

Sehun masih lagi berdiri dihadapan Luhan tanpa mengatakan apa-apa. Wajah Luhan pucat dan kini Luhan sudah terduduk diatas lantai. Sehun coba menggapai tangan Luhan membantu gadis itu bangun. Tangan Luhan yang dingin itu dapat dirasa oleh Sehun , tangan Luhan seolah-olah nyata didalam genggamannya. Sehun menuntun Luhan untuk duduk dikerusi ruang tamu itu.

"Ehem , mianhae"

Suara bass itu memenuhi indra pendengaran Luhan. Luhan memandang Sehun dari atas kebawah. Shit , apa lagi yang terjadi ini. Luhan buntu , gadis itu kehilangan kata-kata.

"Dengarkan aku. Aku tidak ada niat jahat terhadapmu mungkin kau tidak percaya tapi-"

"Diam! Apa aku menyuruh kau berkata-kata ? Siapa kau ? Bagaimana kau bisa kesini"

Luhan emosi. Entah apa yang merasuki pemikirannya , dia sendiri tidak tahu. Dia tidak pernah berada dalam situasi ini. Seorang lelaki yang datang darimana dia sendiri pun tidak dapat memastikannya. Luhan bangun dari tempat duduknya mengecek setiap pintu dan tingkap dirumah. 'Semuanya sudah kukunci rapi , tapi bagaimana ? Jangan-jangan' , Luhan membatin. Dengan cepat dia menggapai payung yang berada disebelah rak sepatu. "Katakan , apa maumu. Soal uang , aku memang tidak mempunyai uang jutaan won. Pergi sebelum aku memanggil polis kesini".

Sehun mengerutkan keningnya. Dia menghela nafas kasar. Otak lelaki itu berfikiran keras ayat apa yang pantas dikatakan untuk menerangkan perihal dirinya.

"Aku pe-pemilik rumah ini , dulu"

"Mwo ? Apa yang kau cuba katakan ?"

Luhan bertambah bingung. Pegangannya pada payung itu dieratkan. Shit , lelaki dihadapannya ini bikin masalah. Luhan memandang lelaki itu dengan tatapan nanar.

"Benarkan aku bercerita dulu ? Kau tidak perlu memegang payung itu , sedangkan kita bisa duduk manis disofa dan saling bersikap terbuka antara masing-masing"

Luhan diam. Dia meletakkan kembali payung itu. Dia menggumamkan kata maaf atas perlakuannya tadi. Dia agak keterlaluan , yah sedikit keterlaluan.

"Duduk disitu , kau tetamu. Aku ke belakang sebentar"

"Tidak perlu , aku tidak makan dan minum"

Luhan berpaling mengangkat sebelah alisnya , masih tidak mengerti maksud lelaki dihadapannya ini.

00000


Rumah Baekhyun

Luhan berbaring disebelah tubuh Baekhyun. Pikirannya runsing. "Baek , kau tahu siapa yang tinggal dirumahku dulu ?" tanya Luhan.

"Apa yang menggangumu rusa ? Kau melihat hantu ?"

"Benar , aku melihat hantu ? Entahlah , aku sendiri juga tidak percaya dengan apa yang aku lihat"

Baekhyun melongo. Gadis bermata sepet itu cuba mencari kembali kepingan memorinya yang lama tentang rumah itu. Mata gadis itu meliar , kemudian dia langsung keluar dari biliknya membawa eommanya ke dalam bilik.

"Eomma kan sudah lama disini , jadi aku yakin eomma pasti tahu tentang kawasan rumah ini!" ujar Baekhyun semangat . Luhan yang mendengarkannya juga mengangguk tidak kalah hebat. Heh , anak-anak ini yang benar saja."Maksudmu , rumah yang dihujung jalan itu ?"

Luhan mengangguk lagi. Tebakan ibu Baekhyun benar dan tepat sekali. Luhan yakin , pasti ada yang tidak beres dengan rumah itu.

Flashback

"Oh Sehun imnida , aku juga tidak tahu mahu menjelaskan dari mana. Semua ini berlaku secara tiba-tiba. Mungkin kau tidak tahu akan kewujudan aku selama ini , maafkan aku jika kau merasa risih. Yah , mau bagaimana lagi aku juga masih dalam sosok tidak terlihat mata kasat. Ya, aku yang membuat ulah. Bunyi , pergerakan dan segala yang aneh. Aku lakukan itu supaya kau bisa melihatku."

Luhan membekap mulutnya. "Jadi , kau hantu ?"

Sehun mengangguk. Dia juga bingung bagaimana dia bisa dilihat oleh Luhan. Adakah Tuhan sudah mengabulkan permintaannya ? Secepat ini ? Jadi , perannya disini untuk menjaga Luhan ?

"Mungkin ini juga terdengar gila dan mustahil , tapi aku berdoa kepada Tuhan untuk menjadi manusia. Tapi mengapa secepat ini ? Oh ya , aku mulai saat ini tinggal disini"Luhan membulatkan matanya. Bertengkar juga percuma , fikirnya.

Akhirnya Luhan akur , membenarkan Sehun disini. Apa benar semua dapat melihat Sehun ? Atau cuma dirinya saja ? Ah molla! Bisanya dia gila kalau selalu memikirkan soal ini.

"Kau tidur dikamar sebelahku!" kata Luhan tegas. Benar saja , dia tinggal bersama seorang pria sekarang. Aahh , kepalanya semakin berdenyut.Sehun menunduk. Mungkin kali ini dia patut diam , tidak banyak bunyi seperti selalunya

End Flashback

"10 tahun lalu , pembunuhan seorang anak laki-laki. Usianya pada waktu itu sekitar 19 tahun, dibunuh pada waktu malam. Tapi sehingga sekarang polis masih tidak bisa menemukan pelakunya. Tidak berapa lama selepas itu , rumah itu dihuni semula oleh penghuni baru. Hmm , rumah itu seperti mempunyai semangat atau 'penghuni' lain. Entahlah , eomonim pun tidak pasti soal itu. Banyak tetangga yang mendengar bunyi-bunyi aneh"

"Seolah-olah dia memberitahu bahawa dia masih ada didalam. Menghuni rumah itu dengan utuhnya , sehinggakan penyewa-penyewa lain tidak betah disitu. Akhirnya , rumah itu kosong tidak berpenghuni sehingga kamu masuk." ujar eomma Baekhyun panjang.

"Eomonim , apa eomonim bisa jelasin bagaimana figurenya ?" tanya Luhan. Jantungnya berdebar kencang. Dia seolah-olah tertampar hebat dengan kenyataan yang dijelaskan oleh wanita seumur ibunya ini. Ibu Baekhyun terdiam sebentar. Mungkin sedang berusaha mengingati bagaimana sosok anak lelaki belasan tahun yang dikenalnya pada waktu itu.

"Tinggi , tampan , berwajah tirus , oh ya kulitnya juga mulus seperti bayi. Dia bisa dibilang matang dari rata-rata anak seumurannya" ujar ibu Baekhyun.

Dan , BINGO! Itu , ya apa yang dijelasin sama ibu Baekhyun persis sekali dengan apa yang Luhan lihat.

"Ahh eomma , aku jadi mahu melihat laki-laki itu!" Baekhyun mem'pout'kan bibirnya. Berbeda sama wajah Luhan yang agak terkesan dengan penjelasan ibu Baekhyun.

"Luhan , apa kau baik-baik saja ?" tanya ibu Baekhyun lembut sambil memegang lengan gadis itu. Luhan menggeleng pelan sambil bergumam bahwa dia dalam kondisi yang baik, tapi tidak untuk hatinya.

•••••

To Be ContinuedJjaaaa jjaaaaaa , annyeong semuanya!! Maaf ya aku akhir-akhir ini telat update fanficnya , terima kasih buat kalian yang meninggalkan komentar bagus dan mendukungku agar melanjutin fanfic ini. Harap kalian semua suka sama update yang baru ini!! Kamsahamnida yeoreobun!! *bow*