We're Different : Chapter 2

CAST:

Xi Luhan (GS)

Oh Sehun


'Ting'

Pintu rumah Luhan berbunyi menandakan ada orang yang baru sahaja memasuki rumah. Sehun yang sedang membaca buku pelajaran milik Luhan diruang tamu lantas bangun melihat manusia manakah yang memasuki rumah ini selain dia dan Luhan.

"Nah, milikmu"

Luhan meletakkan kantong berisi pakaian namja diatas meja. Sehun terdiam tidak percaya akan Luhan. Sehun membuka kantong kertas itu, beberapa helai pakaian lelaki yang pas sama tubuhnya ada didalamnya. Bagaimana Luhan bisa tahu size tubuhnya.

"Oh ya, jangan salah paham. Aku bertanya sama toko kedai itu pakaian yang selayaknya untuk namja umur 19 tahun"

Sehun mengangguk sambil membelek-belek bajunya. Lumayan bagus , Sehun membatin. Dia meletakkan baju itu kembali kemudian memandang ke arah Luhan. Gadis itu sedang leka memandang ke arah ponselnya. Sehun terdiam. Dia memegang jarinya. Hangat.

Dia seolah-olah merasa hidup kembali. Tubuhnya yang dulunya dingin , menghangat kembali seperti manusia yang darahnya masih mengalir didalam tubuh. Berdiri dengan kukuh selayaknya manusia biasa.

Atau memang dia benar-benar hidup kembali ? Dia menghela nafas perlahan kemudiam memejamkan matanya. Dia terlalu pusing memikirkan semua ini.

"Sehun ?" Luhan berdiri sambil menggoyangkan jemari mungilnya dihadapan wajah tampan Sehun. Risau menghampirinya apabila melihat namja itu tiba-tiba sahaja memejamkan mata.

Namja itu membuka matanya kembali. Wajah manis Luhan menerpa penglihatannya. Perlahan Sehun menarik Luhan didalam pelukannya. Memeluk tubuh gadis itu dan meletakkan wajahnya didalam potongan leher Luhan. Aroma manis vanilla yang menguar dari tubuh gadis itu langsung dihirup olehnya.

Luhan terdiam. Hatinya mengatakan bahwa ini salah , namun tubuhnya tidak memberi reaksi apa pun. Justru , dia hanya mendiamkan diri. Tiba-tiba sahaja Luhan merasakan pundaknya basah.

Tidak mungkin , tidak mungkin dia menangis. Luhan bingung , dia tidak tahu dia harus melakukan apa sekarang. "Tetaplah diam seperti itu, dengarkan apa yang aku mahu katakan sekarang". Suara Sehun serak. Airmata masih sedia menuruni mata elang namja itu.

"Terima kasih, terima kasih karna wujud. Terima kasih karna sudah hadir dan mau membantuku. Aku seperti hidup semula Luhan-ah. Aku kembali merasakan hangatnya suhu badanku, suhu suasana disekelilingku, suasana bagaimana rasanya hidup seperti manusia biasa. Aku terasa nyata Lu..." ujar Sehun sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Luhan. Luhan terdiam.

Ya, lelaki itu menangis dipundaknya. Meletakkan kepalanya diantara potongan leher jenjang Luhan dan membiarkan airmata menitik jatuh dipundak sempit yeoja itu. Luhan membawa tangannya keudara. Coba menenangkan namja di yang memeluk dirinya. Tangan hangat gadis itu menggosok punggung Sehun perlahan. Menepuk dengan lembut berusaha menenangkan Sehun. Luhan mengeluh perlahan. Hatinya sedikit tidak enak melihat lelaki ini menangis tersengguk sehingga terlihat lemah begini. Eum, sedikit mungkin

"Hey hey, tenanglah. Ada yang mengganggumu ? Kenapa Sehun ? Jangan menangis Sehun-ah, aku disini bersamamu. Kita lewati bersama oke"

Luhan mengelus rambut hitam Sehun perlahan. Mulutnya terus menggumam perkataan 'gwaenchanha' pada Sehun. Hatinya tidak tega untuk membiarkan lelaki itu terendam didalam kesedihannya seorang diri. Luhan tahu bagaimana rasanya apabila kau didalam kesedihan namun tiada yang hadir untuk memenangkan dirimu.

Luhan mengaduk sup ginseng itu perlahan, menunggu sehingga sup itu matang. Gadis itu mencicipi sedikit sup itu. Hmm, lumayan rasanya. Dia tersenyum meletakkan sendok itu bersebelahan. Dia menata meja itu dengan rapi. Tidak lupa juga menyediakan nasi, dan kali ini porsi untuk dua orang. Luhan memandang pintu kayu bersebelahan kamarnya. Berdoa kepada Tuhan agar dia sentiasa dilindungi dari segala bahaya yang mendatang. Gadis itu menggigit bibirnya perlahan. Dia kehabisan idea tentang apa yang berlaku. Luhan perlahan-lahan meraup wajahnya. Memikirkan kejadian yang bisa dianggap gila dan kurang diterima logika manusia jika kau berterusan coba mencari jawapannya.

"Adakah kau merancang untuk membunuh dirimu Luhan ?" suara baritone Sehun memecah lamunan Luhan. Gadis itu seperti bingung ucapan Sehun. Namja itu menunjuk sup ginseng Luhan. Oh God, aku melupakan sup itu. Luhan mencelos ketakutan didalam hati sembari mengaduk sup itu perlahan. Dia mendesah lega, sekurang-kurangnya sup itu tidak hangus terbakar.

"Aku keluar dari kamarku barusan. Dan kulihat kau sedang termenung manakala api kompornya masih menyala. Mujur saja supmu bisa diselamatkan. Jika tidak, aku mungkin menjadi hantu yang lebih mengerikan dari sebelum ini"

Sehun menarik kerusi duduk dihadapan Luhan. Dia mengernyit melihat Luhan menyediakan makanan yang berporsi untuk dua orang. Aku bahkan tidak bisa makan pun sebelum ini jadi untuk apa Luhan menyiapkannya ? Lelaki itu memandang Luhan dengan mata elangnya. Gadis itu masih menunduk. Hell no, apaan dengan muka itu. Jangan bilang-

"Mianhae, aku hah. Ya sudah, lupakan yang tadi. Kau dan aku masih selamat bukan ? Aku sudahkan siapkan makanan untukmu. Makanlah"

"Lu, kau tahukan aku sudah-"

"Ya, aku tahu itu. Setidaknya tubuh manusiamu memerlukan nutrisi. Ingat, kau bukan lagi gentayangan seperti dulu" Luhan meletakkan beberapa potongan ayam di dalam piring milik Sehun kemudian menuangkan sup ginseng ke dalam mangkuk kecil untuk namja dihadapanya ini. "Tapi Lu ba-"

Ucapan Sehun terhenti apabila satu sendok nasi selamat memasuki mulutnya. "Makan, jangan banyak bicara. Apa kau tidak tahu tentang hantu yang akan menganggu kau di waktu makan ? Hantu apa sih kau jika tidak tahu kaumnya sendiri tch"

Sehun mendengus. Gadis dihapannya ini sedikit sebanyak mengikis tingkat kesabarannya. Setidaknya dia bukanlah semangat jahat yang dimaksudkan Luhan sebentar tadi. Luhan meneruskan acara makannya dengan tenang. Hatinya bersorak girang melihat wajah Sehun yang bungkam kerana perlakuannya. Dia melihat namja itu mengunyah perlahan nasi didalam mulutnya. Mencoba terbiasa dengan makanan itu. Setelah 10 tahun, akhirnya dia bisa merasakan nikmatnya makan. Dia sedikit tersenyum.

"Mau lagi?" tanya Luhan. Dan lelaki dihadapannya mengangguk sambil tersenyum menampakkan eye-smile miliknya.

"Dasar anak kecil"

Luhan menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulut Sehun. Dan lagi, namja itu tersenyum girang. Membuat Luhan turut tersenyum, tanpa sadar.

Luhan menepuk-nepuk bantal miliknya. Gadis itu mengumatkan sesuatu, doa tidur mungkin. Luhan masih tidak sadar bahawa Sehun sedang memperhatikan dirinya di pojok paling hujung kamar itu. Dia menarik selimut sebatas leher dan memeajamkan matanya, bersedia untuk pergi ke alam mimpi.

"Selalunya kau tidak seawal ini"

Suara baritone milik Sehun menyapa pendengaran Luhan, sedikit sebanyak membuat gadis rusa itu kaget dan langsung bangun dari baringannya.

"Bodoh, apa kau punya cita-cita untuk membunuhku ?" Luhan menjeling, Sehun pula terkekeh perlahan.

Dia mengangkat bahunya berulang kali, berpura-pura tidak tahu. Tiba-tiba satu bantal mendarat indah di kepala Sehun. Kekanakan sekali, namja itu membatin.

"Kenapa kau bisa disini ? Mau melihat aku tidur ? Atau mau tidur bersamaku ?"

Oh shit, bakarlah mulut munggil Luhan kerana bisa berbicara sevulgar itu.

"Aku tidak tahu kau mempunyai sisi yang itu. Aku pikir kau hanya mempunyai sosok seperti singa jadian, tapi pemikiranku meleset"

Sehun bangun, menggapai bantal yang dilempar gadis itu untuk dibawa bersamanya. Sehun menempatkan diri disebelah tubuh Luhan. Mehenyakkan bokongnya di atas kasur empuk milik gadis itu. Ya tuhan, Luhan membatin didalam hati.

Biarpun Sehun itu hantu yang menjadi manusia, namun lelaki tetaplah lelaki!

Perlahan darah Luhan berdesir karna bibir Sehun sudah berada tepat disebelah telinganya. Tubuh kurusnya dikongkong oleh tangan perkasa milik Sehun. Nafas lelaki itu terasa hangat menyentuh cuping telinganya. Kini Luhan sudah separuh mati merinding akibat Sehun. Ini,

Ini sangatlah tidak selamat baginya...

Tapi gadis itu memilih untuk diam. 'Sabar kau Oh Se Hun, kau fikir aku tidak tahu bahwa kau sedang mengerjaiku eoh ?'Luhan membatin sekeras-kerasnya didalam hati. Persetan dengan keadaannya yang, err sedikit intim dengan tubuh lelaki milik Sehun diatasnya. Ah ya sedikit mungkin. Heol, otaknya mula bertindak liar. Sedarkan dirimu wahai Xi Lu Han.

"Kau perlahan-lahan mencair seperti es, dan kau seperti rusa betina yang liar" suara Sehun memberat dengan nada yang rendah. Luhan menegang, ya dia sedang menegang ketika mendengar geraman suara namja diatasnya ini. Biarpun bernada rendah namun itu cukup untuk menakutinya, katakan Xi Lu Han gila karna suara Sehun yang mulai memberat itu adalah petanda awal bagi segalanya.

"Se-sehun.."

"Hmm? Ada apa Lu?" Hell no, jauhkan Luhan dari Sehun sekarang.

"A-apa yang kau cuba lakukan" Suara gadis itu menciut. Sehun tersenyum tanpa suara. Menatap lekat wajah Luhan yang pelahan-lahan mengisi hatinya. Adakah secepat ini rasanya pada Luhan? Ani, apa yang dirasakannya sekarang adalah sejak dari awal dia menemukan Luhan.

"Sehuuuunn" Gadis itu menolak dada Sehun menjauh, tapi hasilnya nihil. Seumpama ranting yang sedang menolak kayu balak jatuh menghempap bumi. Sehun semakin gencar mengerjai gadis didalam kokongannya. Aroma kayu-kayuan, sitrus dan ocean semakin menerpa Luhan. Jujur, Luhan juga menikmati aroma miliknya. Tetapi masih aja memilih untuk bertindak munafik.

"Hahahahaha!" Sehun menghamburkan tawanya negitu sahaja membuatkan Luhan mengerjap matanya bingung dengan tindakan Sehun barusan.

"Sial kau" gumam Luhan. Dengan sigap Luhan bangun dari tidurnya kemudian menolak Sehun sehingga namja itu membentur lantai keras rumah itu. Luhan memukul tubuh lelaki itu berulang kali menggunakan bantalnya, lagi. "Nappeun namja! Mati kau, mati kau" pekik Luhan. Huh, namja ini benar-benar menguras tenaganya.

"Lu, sebentaaarr. Aduh, Lu ini benaran sakit"

"Pergi kau dari kamarku sebelum aku potong kepalamu" Luhan menunjuk pintu kamarnya. Sehun masih dengan senyum tampannya itu melenggang ke arah pintu kamar Luhan. Pintu sial yang memisahkan dirinya dan Luhan. Dia menoleh semula kearah Luhan.

"Aku ramal suatu saat nanti kau akan tidur bersamaku diatas kasur itu. Selamat malam Luhan"

"Gila"

Luhan bergumam ringan sambil disela-selikan bersama cacian khas untuk seoarang Oh Se Hun yang menyebalkan. Membenarkan kasur miliknya dan memulakan semula ritual doa-doa sebelum tidur yang sentiasa disematkan olehnya sebelum melelapkan mata. Dan Sehun yang sudah berbaring diatas kasur kini sedang terkekeh tanpa suara memngingat kembali momen dimana dia mengerjai Luhan sebentair tadi. Semu merah yang menghiasi wajah Luhan tadi membuat dirinya rasa puas. Pada mulanya dia hanya ingin mengganggu Luhan, tapi tidak sangka dia akan berakhir diatas tubuh Luhan bersama suara seperti itu. Sehun juga tahu itu sangatlah tidak sihat dan selamat untuk dirinya, toh siapa yang memulakannya? Luhan, kan? Salahkan rusa liar itu karna perkataan vulgarnya.

Terima kasih untuk Luhan karna malam ini Sehun bisa tidur dengan tenang, sebagai manusia semula.

"Are you real? Because you seems like unreal for me to touch and claim as mine"


TBC


Thankyou buat semuanya yang setia mendukung We're Different hingga saat ini. Sila dikomentar ya guys, mau diperbaiki apa yang kurang dan apalagi yang ngga sempurna T.T Akhir-akhit ini pekerjaan dirumah sakit semakin menumpuk, doakan agar fanfic ini bisa berakhir cemerlang dan lulus dengan jayanya amin! Jumpa lagi ya guys