Colour
TaeKook / VKook
Cast :
Jeon Jungkook (GS)
Kim Taehyung
Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin
Genre : Random
Disclaimer :
Cast(s) belong to god, their entertainment, and their parent but the story line belong to mine
.
.
.
Chapter 3 "Kuning Berkilau "
HAPPY READING
.
.
.
Hari ini hari yangmelelahkan untuk seorang Jeon Jungkook. Mengapa gerangan? Mimik wajahnya memang sudah terkenal datar tapi kali ini tampaknya jauh lebih parah. Sudah datar ditambah masam. Membuat aura hitam menguar dari sana.
Apakah perihal mata kuliah? Iya betul. Dimarahi dosen karena tidak fokus? Iya betul juga. Tetapi semua itu tidak akan terjadi bila seseorang yang dianggapnya sebagai pengganggu tidak muncul silih berganti sepanjang hari. Semua membuat konsentrasinya buyar.
"Menyingkir"
Si pengganggu, alih-alih menepi malah menghadapkan tubuhnya menghalangi pandangan Jungkook. Jungkook menatap tepat di mata orang itu.
"Setelah kau terima ini aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi"
Jungkook melirik sesuatu yang diulurkan si pengganggu. Tampak tak tertarik. Sesungguhnya sejak ia menginjakkan kaki di kampus ini, ia sudah banyak memiliki sesuatu itu. Baginya itu tampak tak berarti.
Dengan cepat tangannya menerima sesuatu itu. Dan benar saja, si pengganggu itu dengan cepat menepi dan membiarkan Jungkook melewatinya.
'Sampai kapan aku akan menerima ini?' batin Jungkook.
Jungkook melanjutkan langkahnya ke arah kantin. Perutnya lapar, minta diisi. Di ujung koridor ia melihat Taehyung berjalan didepannya, badan yang sedikit tambun itu selalu membungkuk tiap kali berpapasan dengan senior ataupun para dosen. Dengan senyum secerah mentarinya ia melenggang lebih dahulu memasuki kantin, menghampiri kakaknya.
Beberapa detik kemudian Jungkook berjalan lagi, berbelok ke kiri dan mulai mengantri untuk membeli sesuatu disana. Roti melon dan susu strawberry adalah menu yang selalu menemani makan siangnya. Setelah 2 menit mengantri dan mendapat apa yang diinginkannya ia beranjak keluar kantin menuju tempat yang menurutnya nyaman.
Jungkook mendudukkan dirinya di bangku taman dekat air mancur. Disana sepi, Jungkook menyukainya.
"Hai. Jungkook-ssi"
Jungkook tidak menoleh. Ia tahu persis siapa pemilik suara ini.
"Pengganggu satu hilang sekarang datang pengganggu lain"
Jungkook menggerutu. Sedang yang duduk dihadapannya hanya terkekeh geli. Hei, dirinya bukan pengganggu. Ia hanya ingin lebih dekat dengan Jungkook. Lagipula ia tulus. Tidak ada maksud jahat.
"Ah, dapat surat cinta lagi? Kali ini dari siapa?"
Yang dihadapannya melirik surat yang sedari tadi dipegang Jungkook. Biarpun Jungkook sifatnya buruk, tapi ia tak akan membuang surat cinta itu dihadapan orang yang memberi. Yah setidaknya ia bisa membuangnya dirumah.
"Kim Young Hoon itu populer loh. Kau yakin akan mengabaikannya juga?"
Jungkook diam tak bereaksi. Entahlah. Malas mendengarkan mungkin. Ia lebih memilih melanjutkan makan siang yang sempat tertunda itu. Sedangkan yang dihadapannya tersenyum simpul melihat reaksi dirinya.
"Apa kau tuli? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tidak menyukai lelaki tambun seperti mu, Tae?"
Sosok yang disebut namanya malah sumringah. Seharusnya bila orang normal yang mendengar akan sakit hati bukan? Sebenarnya ada sedikit rasa sakit tapi itu tertutupi dengan rasa senang yang membuncah bagi dirinya. Ini semua karena Jungkook menyebut namanya, garis bawahi, namanya.
Jungkook melirik lelaki dihadapannya. Ia memperhatikan senyum bodoh milik Taehyung. Lelaki macam apa ini yang sudah dihina berulang kali tetapi masih saja memasang senyum sebahagia itu? Ya. Cuma Taehyung yang begini.
'Luar biasa' batin Jungkook.
"Tapi kau juga tidak menerima satu pun pernyataan mereka, sekali pun mereka populer. Itu artinya kau bisa saja memilih lelaki tambun sepertiku kan? Haha"
Taehyung mendongak melihat Jungkook berdiri dan memasukkan surat cinta yang ia terima tadi. Jungkook menyampirkan tasnya di bahu kanannya dan membereskan sampah sampah sisa makan siangnya. Sebelum beranjak dari sana, ia menatap Taehyung sekilas.
"Dalam mimpi mu"
Taehyung tersenyum. Ia menatap Jungkook dari belakang. Gadis cantik dengan tubuh proporsional seperti dirinya wajar kan bila memiliki banyak penggemar. Pasti banyak yang menginginkan dirinya untuk menjadi kekasih. Tak jarang Taehyung merasa tak pantas. Ia terkadang hanya berani menatap gadis impiannya dari jauh. Meskipun ia juga berani mendekat walau hanya sekedar menyapa dan itu bisa dihitung jari.
Taehyung tahu semua apa yang terjadi pada Jungkook. Mayoritas laki-laki di kelasnya selalu sibuk membicarakan Jungkook. Meski Jungkook tampak tak bersahabat dengan siapapun , tetap saja mereka men-dewi-kan Jungkook. Yah, memang sudah sepantasnya bila tipe seperti Jungkook banyak yang mengincar.
Puk
"Ku cari-cari ternyata kau ada disini"
Taehyung menoleh. Jimin rupanya yang menepuk. Taehyung memasang wajah bertanya. Sebelum menjawab , Jimin mendudukkan dirinya disebelah Taehyung terlebih dahulu. Mengatur nafas. Sebab mencari Taehyung kini tak semudah dulu.
Mereka memang satu jurusan namun mendapat jadwal berbeda di tingkat 3 ini. Hanya ada beberapa sub yang mengharuskan mereka berada di kelas yang sama. Itulah alasan mengapa Jimin tampak kesusahan mencari sahabatnya ini. Padahal semester-semester sebelumnya mereka selalu tampak menempel karena memang jadwal mereka sama persis.
"Jihoon. Dia membuat ku terlambat lagi. Sudah kemarin, hari ini juga. Dongsaeng kurang ajar"
'Ternyata ini alasan anak itu gugup tempo hari' batin Taehyung.
Taehyung terkekeh. Jihoon, anak itu selalu senang membuat Jimin kesal. Taehyung menepuk punggung Jimin, menenangkannya.
"Seharusnya ibu membelikannya motor juga. Jadi ia tak perlu membawa kabur motor ku tiap pagi. Arghh aku jadi tak bisa menjemput Yoongi noona"
Jimin menarik-narik rambutnya frustasi. Ia duduk menghadap Taehyung selagi bercerita dengan semangat atau bisa dibilang kesal yang membara. Seharusnya Jimin bangun lebih awal dari adiknya bukan?
"Hei, Tae. Kau yakin tak mau ku bantu?"
Taehyung meregangkan tubuh bagian atasnya lalu menoleh. Ia tersenyum hangat pada sahabatnya membuat Jimin mengerti dengan apa jawabannya.
"Kau tahu, Yoongi noona itu sepupu Jungkook. Kau sempat bertanya perihal tempo hari di taman pada ku kan? Ya, walau tak begitu dekat, tetapi Yoongi noona tahu segala sesuatu yang mungkin ingin kau ketahui. Aku bisa menanyakannya untukmu"
"Terimakasih Jim, tapi mungkin kali lain"
Jimin mengangguk paham. Sahabatnya ini memang benar-benar membuatnya seperti sahabat yang tak berguna. Jimin menghela nafasnya perlahan. Ia melirik jam tangannya.
"Eum, Tae. Apa lebih baik kita membolos saja?"
Taehyung menoleh, memiringkan kepalanya. Tampak bingung dengan tawaran Jimin. Ia membiarkan otaknya memproses. Seberkas ingatannya mulai terbuka. Ia pun ikut melirik jam tangannya. Menatap dengan was-was.
"Jim, apa 5 menit cukup untuk sampai kelas dengan selamat?"
Mereka saling bertatapan. Ada beberapa bulir keringat memenuhi kening mereka.
"Tae! Ayo cepat! Lari atau dosen itu akan memberikan nilai D untuk kita berdua!"
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Hi!
Welcome back to my story!
Gimana? Aneh ya cerita ku?
Yah, seaneh apapun kalian harus tetap fav dan komen ya
Hehe, maksa dikit gapapa lah ya
Okayyhh see you on my next chapter
Bubye
