Colour

TaeKook / VKook

Main Cast :

Jeon Jungkook (GS)

Kim Taehyung

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Random

Disclaimer :

Cast(s) belong to god, their entertainment, and their parent but the story line belong to mine

.

.

.

Chapter 4 "Hijau Muda "

HAPPY READING

.

.

.

Sebuah kapal pesiar berdiri kokoh diatas lautan. Melabuhkan diri untuk menjemput banyak orang, termasuk orang-orang yang Jungkook cintai. Ayah dan Ibunya akan pergi mengarungi lautan lepas bersama dengan kekasihnya. Mereka pergi bukan tanpa alasan yang jelas, melainkan ada sesuatu yang sangat penting yang harus mereka urus. Pernikahan. Iya, Jungkook akan menikah dengan kekasihnya.

Jungkook berdiri di ujung kapal. Menikmati semilir angin yang menerpa lembut wajahnya. Tangannya bergandengan dengan calon suaminya yang berdiri disebelahnya. Matanya menangkap sosok orangtuanya yang sedang berjalan mendekat. Begitu orangtuanya berada tepat dihadapan mereka, sang kekasih bertanya sedikit tentang keadaan sang calon mertua.

"No need to worry, Vernon. We'll fine. Barang-barang itu tidak berat. Terimakasih kau sudah menemani Jungkook"

Vernon. Hansol Vernon Chwe. Lelaki berkebangsaan 2 negara ini memiliki keluarga yang menetap di Amerika. Meskipun sang ayah berkebangsaan Korea, sang ayah sedari muda memang sudah menetap di Amerika untuk mengejar mimpinya. Perlu diketahui, kedua orangtuanya adalah pelukis. Bahkan mereka bertemu saat adanya pameran yang melibatkan mereka berdua didalamnya.

Orangtua Vernon ingin pernikahan mereka dilaksanakan di kota kelahirannya, New York. Atas dasar itulah, Vernon beserta orangtua Jungkook pergi ke benua seberang untuk membahas lebih lanjut detail pernikahan mereka. Terkecuali Jungkook. Ia tidak diizinkan ikut serta karena akan segera diadakannya ujian masuk kampus yang sudah lama menjadi impiannya. Jangan tanyakan tentang latar belakang pendidikan Vernon. Vernon itu memiliki otak yang sangat encer sampai-sampai diusia yang hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Jungkook itu sudah lulus dengan gelar Magister dan bahkan sudah dipercaya sebuah perusahaan besar untuk memegang jabatan yang sangat penting diperusahaan tersebut.

Jungkook tampak senang melihat keakraban kekasihnya dengan keluarga intinya. Awalnya ayah Jungkook bersikeras melarang Jungkook bersama seorang laki-laki saat usianya baru menginjak 15 tahun. Terlebih lagi sang lelaki bisa saja sewaktu-waktu membawa Jungkook pergi jauh darinya. Ayahnya hanya tak mau berjauhan dengan putri semata-wayangnya.

Kedua orangtuanya berpamitan, ingin pergi membeli camilan dikantin sebentar. Menyisakan Jungkook dan Vernon di sana. Jungkook membalikkan badan dan berjalan lebih dekat ke tepi pembatas kapal dan mau tak mau Vernon pun mengikuti.

Vernon meraih jemari Jungkook yang berada bebas disamping tubuhnya. Mata itu. Mata yang penuh kekhawatiran dan Vernon bisa melihatnya. Dari samping, ia menyentuh pipi Jungkook dengan sebelah tangannya yang lain, mencoba menyalurkan rasa sayang disana.

Jungkook menoleh. Sentuhan lembut yang sangat disukainya menyapa hangat pipi chubby miliknya. Ia pun ikut meletakkan tangannya diatas punggung tangan sang kekasih. Matanya mengamati seluk beluk wajah oriental milik Vernon. Tampan. Satu kata yang mampu Jungkook pendam selama 3 tahun mereka bersama.

"Everything's gonna be alright, babe"

Jungkook tahu, satu kata yang mampu memberikan ketenangan. Baginya Vernon adalah dunianya, porosnya, bagaikan bulan yang mengitari bumi. Kata-kata kekasihnya selalu tepat dan tidak pernah sekalipun tak akurat. Namun, kali ini, sekalipun dirinya merasa tenang, tak dapat dipungkiri bila ada sedikit rasa khawatir di dirinya.

Vernon mendekat, matanya mengamati wajah Jungkook, seolah tak rela meninggalkan sang kekasih sendirian. Vernon pun tersenyum, ia semakin mendekatkan wajahnya, dan hanya berselang 2 detik sebelum mereka berciuman. Tidak. Mereka berpagutan mesra meski banyak sekali penumpang yang ada disana. Mereka tampak tak memperdulikannya. Tak lama setelahnya, Vernon melepas ciuman memabukkannya dan beralih memeluk erat tubuh Jungkook.

"Anak muda, bersabarlah sampai kalian resmi"

Jungkook dan Vernon menoleh ke arah sumber suara. Kali ini sang ibu sedang menggoda mereka. Tampak raut memerah dari sang anak sedangkan Vernon hanya tersenyum lembut. Lima menit lagi orang terkasihnya akan berangkat. Sebelum Jungkook turun dari kapal Jungkook memeluk kedua oraangtuanya erat erat.

Tuut...

Tanda bahwa kapal akan mulai berangkat. Jungkook menatap kepergian mereka bertiga dari bawah, melambaikan tangan dan bibirnya merapalkan 'I love you' untuk orangtua juga kekasihnya. Sekarang, Jungkook hanya sendiri, tidak sepenuhnya sendiri. Sebenarnya ada sepupunya yang sedang menunggu Jungkook di parkiran sana.

Brak

"Sudah lovey-dovey dengan kekasih bule mu itu?"

Jungkook melirik. Ia tak begitu dekat dengan sepupunya yang satu ini. Entah karena ucapan sepupunya yang begitu tajam atau memang karena kepribadiannya yang introvert.

"Daripada kau jomblo abadi"

"Aku sedang dekat dengan seseorang"

"Tetap saja sekarang masih jomblo"

Suga meringis sembari melirik Jungkook. Sepupunya ini kenapa bisa-bisanya punya mulut tajam begitu. Hell no! Hey, kalian sepupu, ingat?

Selama diperjalanan tak banyak obrolan yang keluar. Suga lebih memilih nge-rapp dan Jungkook mendengarkan lagu lewat iPod merah kesayangaannya.

30 menit berlalu. Suga menurunkan Jungkook di pekarangangan rumahnya. Sebelum pergi, Suga bertanya.

"Jeon, kau yakin tak mau ke kota bersama ku? Esok kau juga akan ke kota untuk ikut tes kan?"

Jungkook menggeleng. Masih banyak yang harus dipersiapkannya. Ia harus mengepak baju, buku, dan lain sebagainya. Lagipula ia sudah memesan tiket menuju kota. Sisanya ia bisa minta Suga untuk menjemputnya. Toh, sepupunya itu tidak akan bisa menolak.

.

.

.

Chirp Chirp

Kicauan burung membangunkan Jungkook dari tidur lelapnya. Ia melirik jam di atas nakas dan mulai mendudukkan diri sesaat sebelum berdiri.

Jungkook membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam agar semuanya benar-benar siap. Ia menarik kopernya keluar rumah. Sebelum itu, Jungkook mengecek layar ponselnya sejenak.

'Mungkin sedang tak ada sinyal'

Cklek

Jungkook mengunci pintu rumahnya dan kakinya melangkah ke arah dimana stasiun terdekat berada. Sesampainya disana ia duduk menatap kearah luar jendela. Ia harus tiba siang ini karena tes akan dilakukan sore nanti.

Jemari mungil Jungkook menari di atas layar ponselnya. Membuat ketukan ketukan yang berirama asal. Mengirim pesan untuk sepupu tersayangnya.

Sesampainya di stasiun yang Jungkook tuju, Suga sudah berada disana, berdiri di pilar besar diujung peron dekat pintu keluar. Suga langsung mengamit satu tas bawaan Jungkook dan berjalan mendahului sepupunya itu. Jungkook yang sudah terbiasa pun tak terlalu ambil pusing.

Suga berhenti tepat di depan kampusnya. Ia menurukan Jungkook disana. Ini sudah pukul 1 siang dan sebentar lagi tes ujian masuk untuk Jungkook akan dimulai.

"Masuklah. Aku tunggu di kafe diujung jalan ya. Kalau sudah selesai hampiri saja"

.

.

'Selesai juga' batin Jungkook.

Jungkook mengaktifkan ponselnya. Ia melihat siapa yang memenuhi kotak panggilan masuk ponselnya. 'Bibi? Suga?'. Dahinya mengernyit. Ada apa Gerangan sampai bibi dan sepupunya menghubungi?

Tiin Tiin

Jungkook terkejut saat Suga sudah berada di depan gerbang kampus. Bukankah seingatnya Suga berpesan setelah setelah selesai ujian, Jungkook lah yang harus menghampirinya ke kafe?

Jungkook segera berlari untuk segera masuk ke mobil saat Suga meneriakkan namanya begitu heboh. Raut wajah Jungkook menunjukkan kebingungan. Pasalnya Suga tak pernah begitu penuh ekspresi seperti saat ini.

"Jeon mereka hilang. Pa paman , bibi dan Vernon menghilang saat kapal pesiar yang mereka tumpangi terbalik diterjang ombak besar dini hari. Jeon_"

Suga menoleh menatap Jungkook. Namun ia mendapati Jungkook dengan tatapan kosongnya. Suga memeluk Jungkook dengan sigap, memberikan belaian sayang dipunggungnya. Suga tahu apa yang dirasakan Jungkook. Sedari kecil Jungkook hanya memiliki orangtuanya, Jungkook tak pernah bisa berteman, atau tepatnya tak pernah mau berteman. Jungkook hanya akan menempel pada dirinya. Memang kedekatan yang bahkan mereka berdua sering pungkiri. Jungkook anak yang tak pernah menangis ataupun merengek. Dimatanya, Jungkook anak yang kuat. Tapi kini, ia melihat Jungkook seperti anak berusia 5 tahun yang lolipopnya diambil paksa. Jungkook menangis meraung-raung didalam mobilnya sampai air matanya membasahi bajunya. Sungguh, ia tak pernah melihat Jungkook begitu hancur.

.

.

.

"Melamun lagi?"

Jungkook menoleh dan mendapati Taehyung disampingnya. Taehyung mengulurkan roti melon dan susu strawberry kesukaannya. Hei! Apa Taehyung mengikutinya? Tapi ini kan masih didalam kelasnya.

"Tempo hari aku melihat mu berjalan kesini. Dan aku tak mendapati mu di kantin padahal sudah jam makan siang. Makanlah. Tak baik melamun terus"

Jungkook menelisik. Matanya terarah kepada beberapa buku yang Taehyung jinjing. Rupanya setelah ini Taehyung ada kelas disana juga. Saat Jungkook ingin melangkah pergi, Taehyung menahannya. Sontak, Jungkook terduduk kembali. Baru saja Jungkook ingin protes bila saja Taehyung menahannya tanpa alasan yang jelas. Namun kali ini Jungkook tercenung karena Taehyung mengusap sudut matanya dengan ibu jarinya.

"Berbagi akan membuat perasaan kita lebih lega Jungkook"

Jungkook terdiam. Ia melirik tatapan lembut milik Taehyung. Tahyung terenyuk dan segera meraih makan siang yang tadi ia beli untuk Jungkook, memaksa Jungkook untuk menerimanya. Taehyung tahu, Jungkook merasa tidak nyaman dengan segala perlakuannya, tapi Taehyung terlalu peduli sehingga tak bisa sedikit pun mengabaikannya. Segera setelah menerima itu, Jungkook berjalan keluar dari kelas itu.

'Semangat Jungkook. Jangan menangis lagi' batin Taehyung.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Hai!

Chapter 4 up nih

Gimana menurut kalian?

Kalian bingung ga si aku kasih judul dengan warna-warna?

Sebenernya ada arti tersendiri dari warna-warna itu

Kya warna hijau muda ini , artinya adalah stabilitas, harapan dan simpati

3 arti itu cukup untuk menggambarkan apa yang ada dalam kisah kali ini

Dimana stabilitas khidupan Jungkook terhadap keluarga serta kekasihnya

Harapan Jungkook agar orang tersayang bisa cepat kembali dan berada segera disisinya

Serta Simpati yang ditunjukkan Taehyung terhadap kesesihan yang dirasakan Jungkook meskipun Tae blm tau apa hal yang membuat Jungkook dapat menangis selagi melamun

Nah, jangan lupa fav dan komen ya

Terimakasih

See you on next chapter

Bubye ~