Colour
TaeKook / VKook
Main Cast :
Jeon Jungkook (GS)
Kim Taehyung
Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin
Genre : Random
Disclaimer :
Cast(s) belong to god, their entertainment, and their parent but the story line belong to mine
.
.
.
Chapter 5 "Lavender "
HAPPY READING
.
.
.
Perkuliahan dimulai sore hari, setidaknya ini untuk jadwal kelas Taehyung. Hari ini ia mendapat jadwal yang lebih lapang karena dosen yang mengampu dua mata kuliahnya tidak bisa mengajar dan tidak ada yang bisa menggantikan kedua dosen pengampu tersebut. Alhasil, jadwal Taehyung sedikit lebih free.
Taehyung berjalan menuju ruang kelas dimana seseorang yang teramat bawel sedang menunggunya, merengek untuk minta bantuan mengerjakan tugasnya.
Suasana siang ini tampak teduh atau mungkin bisa dibilang sedikit mendung. Mungkin tak lama lagi hujan akan turun menyapu bumi. Ah, ya, tak terasa Taehyung sudah berada di depan kelas itu. Sungguh, rasanya ia sangat malas meladeni orang itu, kalau saja ia tak ingat bahwa mereka bersahabat, ia akan datang beberapa menit sebelum kuliah sorenya dimulai.
Bruk
Taehyung menjatuhkan beberapa buku yang dibawanya untuk sekedar menjadi referensi bagi tugas sahabatnya itu. Jimin tampak tersentak saat mendengar bunyi gaduh disebelahnya. Ia menatap Taehyung dan buku-buku tadi secara bergantian. Matanya tampak seolah mengeluh.
Taehyung mendudukkan dirinya disamping Jimin. Ia memutar laptop sahabatnya dan melihat apa yang sedang dikerjakan Jimin.
Sepersekian detik, manik hazel Taehyung membola. Bukannya Jimin tadi ribut sekali di telepon dan merengek untuk dibantu tugasnya? Lalu ini apa? Kenapa sahabatnya ini malah asyik meratapi foto milik Suga? Taehyung menoleh dan mendapatkan cengiran khas Jimin yang sebelas dua belas mirip dengan Jihoon, adiknya. Taehyung gemas. Tangannya terangkat dan mendaratkan jitakan sayang kepada Jimin. Benar-benar, Jimin sudah tak waras.
Taehyung sedikit memaki sahabatnya karena sikap sahabatnya sungguh membuatnya tampak bodoh. See? Taehyung rela berangkat 2 jam lebih awal hanya untuk sang sahabat yang merengek seperti anak kecil. Namun sahabatnya itu malah asik melihat foto perempuan sedangkan dirinya harus mencari-cari referensi tambahan dari perpustakaan kampus.
Jimin yang merasa bersalah pun hanya bisa memohon maaf berulang kali. Tampak tangan Jimin terulur memberikan sesuatu pada Taehyung. Sebuah kertas. Untuk apa Jimin memberikan selembar kertas padanya?
Taehyung menarik kertas itu dan membaliknya. Itu bukan sebuah kertas biasa. Ada sebuah potret yang familiar disana. Sebuah foto. Jungkook bergandengan tangan dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang wajahnya oriental dan tampan. Tubuh si lelaki itu tampak sangat bagus. Taehyung mengangkat kepalanya. Sebelum sempat bertanya, Jimin sudah memberitahunya.
"Calon suami Jungkook, namanya Vernon"
Taehyung kembali menurukan pandangan pada potret di kertas itu. Matanya menyiratkan kesedihan. Calon suami bukan kekasih. Perasaan Taehyung sedikit terluka.
Jimin melihat perubahan ekspresi Taehyung. Jimin merasa bersalah. Tapi ia juga ingin membantu Taehyung untuk sedikit mengenal Jungkook. Meskipun ada kesedihan diawal, Jimin tahu bahwa Taehyung nantinya akan merasa lebih baik bila mengetahui kelanjutan ceritanya.
"Calon suaminya hilang bersama kedua orangtua Jungkook di laut saat ingin membicarakan perihal pernikahan mereka di Amerika. Itu membuat Jungkook sedikit depresi"
Taehyung terkejut. Hatinya sedikit senang. Tapi apakah boleh ia merasakan bahagia diatas penderitaan Jungkook?
Jimin melanjutkan cerita singkatnya tentang masalah itu. Tentu saja ia tahu semuanya dari Suga. Sebenarnya Suga tak ingin membeberkan masalah Jungkook, akan tetapi Jimin terus menerus merengek padanya. Alhasil Suga memberitahunya. Dan Suga juga tahu bahwa Taehyung menyukai Jungkook karena kerap kali Suga memergoki Taehyung yang berusaha berteman dan mengakrabkan diri dengan sepupunya itu. Jimin juga sudah meyakinkan Suga bahwa Taehyung adalah lelaki yang sangat baik.
Suga mengenal baik kepribadian Jin dan Jin pun sering bercerita tentang adiknya. Iya, Taehyung. Bila sudah membahas Taehyung, Jin sudah seperti incest. Padahal itu hanya adik terlebih mereka satu gender. Tapi yang Suga tahu, sepenglihatannya, Taehyung memang sosok lelaki yang baik. Karenanya, Suga mau membuka mulutnya mengenai Jungkook.
Taehyung terdiam mendengar penuturan Jimin. Ternyata begitu kisah cinta Jungkook. Ia sungguh simpati dengan hal itu. Sejak mendengar kisah dari Jimin, Taehyung menjadi tahu mengapa Jungkook selalu memasang ekspresi kosong, hampa, sedih, atau semacamnya selama mereka bertemu.
Selesai mendengar cerita dan membantu Jimin, Taehyung melangkahkan kaki keluar sebentar. Ia ingin membeli kopi untuk menyegarkan matanya. Baru setengah jalan, Taehyung berhenti. Ia mendengar suara sayup-sayup dari arah kamar mandi perempuan.
"_jalang. Jangan sok kecantikan. Dirimu bahkan tak bisa apa-apa saat ini. Dasar Jeon Jungkook ja_"
Brak
Taehyung membuka kasar pintu kamar mandi itu saat mendengar nama Jungkook disebut. Benar saja, Jungkook yang disebut ternyata sama dengan Jungkook yang ia kenal.
Pembulian. Jelas sekali ini pembulian bukan? Taehyung melihat rambut panjang Jungkook ditarik dan Jungkook tampak berjengit kesakitan. Namun Jungkook tak semudah itu mengalah. Tangannya tampak sedang menarik kasar ujung blouse dari gadis satunya.
Taehyung menatap kejadian didepannya dengan takjub. Jungkook menatap kosong Taehyung yang berdiri diambang pintu. Meski kesakitan dirinya tak mau meminta tolong pada lelaki dihadapannya itu.
Taehyung beranjak masuk dan menghentikan pertengkaran yang terjadi. Setelah memisahkan mereka, Taehyung menarik Jungkook menjauh dari sana. Ia menggiring Jungkook ke taman yang biasa Jungkook sambangi.
Jungkook tampak kacau. Rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga menjadi lusuh. Berbeda dengan dua gadis pembuli tadi yang tampak masih tergolong dalam keadaan rapi.
Taehyung melepaskan genggamannya dan berbalik menghadap Jungkook. Tangannya tergerak untuk merapikan rambut Jungkook, mencoba menatanya agar tampak cantik kembali.
"Berteriaklah lain kali. Kau tidak mau bila wajah cantik mu ini rusak kan?"
Jungkook menatap tepat di bola mata Taehyung. Ia melihat ketulusan disana. Taehyung juga selalu tersenyum seburuk apapun perlakuan yang ia berikan padanya. Jungkook tahu ia salah karena memperlakukan orang sebaik Taehyung dengan kata-kata menusuk miliknya tempo hari.
Jungkook menunduk. Bibirnya merapalkan sesuatu. Karena merasa mendengar sesuatu, Taehyung merendahkan dirinya dan menatap Jungkook dari bawah. Ia bertanya perihal apa yang digumamkan oleh Jungkook. Jungkook terkejut saat melihat wajah Taehyung berada tepat dibawahnya, meskipun sedikit tertutupi oleh beberapa helai rambut panjangnya. Dengan segera ia pun berbalik memunggungi Taehyung.
"Terimakasih gendut"
Taehyung mendengarnya dengan jelas. Itu membuat senyumnya merekah semakin lebar. Ia pun kemudian berlari kecil untuk menyamakan langkahnya dengan Jungkook. Mereka melangkahkan kaki ke arah lain. Jungkook ingin makan karena memang ia lapar. Seharusnya ia sudah mengisi perutnya kalu saja dua gadis pembuli itu tidak muncul dan menyeretnya ke kamar mandi.
"Kenapa kau selalu mengikuti ku?"
Taehyung memposisikan dirinya untuk duduk dihadapan Jungkook. Bibirnya menyesap Coffee Latte yang baru saja ia beli. Mata teduhnya menatap Jungkook dengan lembut, kemudian ia tersenyum.
"Karena kau butuh teman"
Jawaban sederhana Taehyung mampu membuat Jungkook mencelos. Bila diingat-ingat, dirinya memang tidak memiliki teman. Sama sekali. Kecuali sepupunya. Akan tetapi sepupunya juga sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Ah, dan juga Vernon. Jungkook jadi sedikit terbawa suasana bila mengingat Vernon. Vernon kurang lebih sama seperti Taehyung. Sama-sama tak pantang menyerah untuk mendekati dirinya.
Taehyung melihat Jungkook tersenyum. Demi apapun, saat itu Taehyung benar-benar terpana. Meski hanya senyum simpul yang tak begitu jelas, namun itu sudah cukup untuk membuat jantungnya berpacu dengan hebat.
"Kau cantik bila tersenyum, Jungkook"
Atensi Jungkook kembali tertarik. Ia menatap Taehyung lagi. Entah atas dasar apa pipinya itu merona. Karena mengingat Vernon kah? Atau karena pujian dari Taehyung?
"Kau tahu aku tidak menyu_"
"_gendut. Iya aku tahu. Lalu apakah bila aku bisa seperti Young Hoon kau akan menyukai ku? Ya maksud ku aku ingin berteman dengan mu"
Taehyung mengusap tengkuknya, ia sedikit gugup dan takut salah berbicara. Sementara Jungkook mengedikkan bahunya seolah tak perduli. Sesungguhnya Jungkook juga penasaran apakah bisa si gendut dihadapannya itu menjadi kurus dan memiliki six packs? Entahlah. Mungkin akan menarik bagi Jungkook untuk melihat perubahannya.
"Ya, ya, boleh saja_"
"_kalau kau berhasil, gendut"
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Hi everyone!
Ketemu lagi sama saya
Ada yang penasaran ga sama arti warna Lavender atau Ungu Muda ini?
Nih maksud aku buat judul chap kli ini dengan Lavender adalah karena Lavender melambangkan ketenangan, kelembutan dan juga kepintaran
Ketenangan dari segala sikap yang Jungkook tunjukkan
Kelembutan dari setiap perlakuan Taehyung pada Jungkook
Dan kepintaran mereka dalam menghadapi sifat mereka masing-masing
Ya intinya sih ini chapter lebih menunjukkan gimana sikap Jungkook kalo lagi ada masalah
Nah, gmna mnurut kalian?
Habis baca jangan lupa fav dan komen ya
See you again everyone
Bubye
