Colour

TaeKook / VKook

Main Cast :

Jeon Jungkook (GS)

Kim Taehyung

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Random

Disclaimer :

Cast(s) belong to god, their entertainment, and their parent but the story line belong to mine

.

.

.

Chapter 6 "Heliotrope "

HAPPY READING

.

.

.

Akhirnya, jadwal Taehyung hari ini selesai tepat pukul 7 malam saat langit sudah berubah menjadi biru keunguan. Tehyung menengadah ke langit yang sudah cerah itu. Kakinya menapaki jejak bekas hujaman hujan yang begitu lebat sore tadi. Taehyung memejamkan matanya, mencoba meghirup aroma petrichor yang begitu menenangkan. Sensasi aroma yang khas ketika air hujan menyapu tanah yang kering. Hampir setiap orang menyukai aroma ini.

Taehyung masih setia berdiri disana, ditepi lorong yang mengarah ke parkiran. Ia masih terhanyut dalam suasana khitmatnya. Perlahan,ia mengerjapkan matanya dan menyunggingkan seulas senyum manisnya. Tangannya ia masukkan ke jaket parka hitam miliknya. Bibirnya sedikit bergetar berkat adanya sapuan angin yang datang melewati dirinya.

Taehyung melangkahkan kakinya menuju parkiran. Ia tampak mencari-cari keberadaan mobil sang kakak. Namun ia tak mendapatinya dimana-mana.

"Mau menumpang, Tae?"

Tawar seorang gadis blasteran Wales bernama Shannon, gadis ini terkenal sering menyapa Taehyung dan selalu bertanya tentang pelajaran yang tak ia mengerti kepada Taehyung. Dimana ada kesempatan, Shanon pasti akan mengahampiri Taehyung. Bila Taehyung sedang bersama Jimin, gadis itu akan sekedar lewat dan menyapa Taehyung. Entah Taehyung yang tidak peka atau memang Taehyung merasa itu tak penting, sehingga seringkali perkataan Jimin tentang Shannon yang menaruh hati pada Taehyung selalu diabaikan olehnya. Perlu diketahui, Shannon berada di tingkat yang sama dengan Taehyung dan seringkali mendapat jadwal kelas yang sama. Gelagat Shannon ini sudah dimulai sejak tahun pertama mereka bertemu, lebih tepatnya saat Taehyung membantu Shannon berdiri setelah terjatuh akibat diselengkat oleh temannya yang tidak suka dengan dirinya yang berdarah campuran.

Taehyung tersenyum sembari menggeleng, bibirnya merapalkan kalimat penolakan yang sangat halus. Shannon pun ikut tersenyum dan menutup kacanya. Belum sempat tertutup sepenuhnya, Shannon menurunkan kacanya lagi.

"Tae, aku lihat tadi kakak mu mengendarai mobil dengan tergesa-gesa. Aku tak sempat bertanya padanya. Ia pergi tak lama setelah kelas ku selesai"

Taehyung mengangguk dan berterimakasih pada Shannon. Taehyung membalikkan tubuhnya saat mobil Shannon sudah berlalu menjauh. Sesaat setelah berbalik, matanya bersitatap dengan manik obsidian milik Jungkook. Jungkook tampak diam dan memperhatikan dirinya. Dengan segera, Taehyung menghampiri Jungkook.

"Sedang menunggu sepupu mu, eum?"

Jungkook mendesah pelan, kepalanya mengangguk dua kali. Taehyung pun ikut mengangguk paham. Otaknya mencoba mencari cara agar ia bisa tahu dimana Jungkook tinggal.

Jungkook sepertinya tahu apa yang ada di pikiran Taehyung. Belum sempat menawarkan, Jungkook malah sudah lebih dulu berkata dan ia juga berjalan mendahului Taehyung. Bukan Taehyung namanya bila menyerah secepat itu. Taehyung tetap menemani Jungkook, namun ini bukan menemani dalam hal yang benar. Tetapi ia seperti penguntit Jungkook.

"Hei, Tae. Kau pikir aku tidak tahu kau membuntuti ku? Selain gendut kau ini stalker rupanya. Ck"

Taehyung menghentikan langkah kakinya. Rupanya ia sudah ketahuan dari awal. Taehyung mengusap tengkuknya dan berjalan ke sisi Jungkook. Ia terkekeh dan meminta maaf atas perlakuan tak menyenangkannya barusan.

Jungkook melirik dengan ujung matanya. Ia tak habis pikir dengan mindset milik Taehyung. Entah terlalu lelah untuk berargumen atau memang ia membiarkan Taehyung menemaninya saat itu.

Selama misi 'mengantarkan Jungkook', Taehyung bersenandung. Ia menyanyikan lagu yang sedang disukainya saat itu, Nothing Like Us. Tanpa sadar, Jungkook pun turut serta berpartisipasi dalam nyanyian itu. Taehyung yang mendengar suara merdu milik Jungkook tampak senang dan mereka pun bernyanyi hingga lagu itu habis. Tidak ada bantuan musik. Hanya suara mereka saja.

"Good voice, Tae. Really masculin"

Satu pujian dari Jungkook. Apakah hubungan yang Taehyung bangun ada kemajuan? Apa ini tanda bahwa Jungkook mau berteman dengannya?

Tak terasa mereka berjalan beriringan sudah lebih dari 30 menit dan Jungkook pun berhenti disebuah rumah yang cukup besar. Mata Taehyung tampak tertuju pada satu kendaraan yang tak asing dimatanya.

"Jungkook, ini rumah tinggal mu? Kau kenal siapa pemilik motor itu?"

Jungkook melirik kearah telunjuk Taehyung bermuara. Ia menggumam.

"Sahabat mu. Bukankah seharusnya kau sudah tahu?"

Taehyung mengangguk perlahan. 'Benar Jimin', batinnya. Taehyung ikut melangkah memasuki pagar rumah Jungkook dan mendapat tatapan protes dari empunya.

"Ah, aku hanya ingin pulang bersama Jimin. Rumahku lumayan jauh dari sini, dan kebetulan sekali searah dengan Jimin"

"Whatever"

Cklek

Jungkook memasuki rumah itu. Dirinya berjalan ke arah dimana Suga dan Jimin berada. Ia menyumpah serapahi sepupunya yang tiba-tiba meninggalkan dirinya sendiri dan mencari-cari mobil putih kesayangan sepupunya itu. Sementara Taehyung masih berada diambang pintu rumah Suga karena masih sibuk melepaskan sepatunya. Beberapa saat setelahnya, ia pun mengikuti Jungkook untuk masuk ke ruang tamu mereka.

"Selamat malam, noona"

Suga menoleh, matanya membola. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Jungkook, sepupu angkuhnya pulang diantar seorang Taehyung?

Jimin pun sama terkejutnya dengan Suga. Meski begitu, sebagai sahabatnya, ia merasa bangga terhadap kemajuan yang diperoleh Taehyung.

Taehyung mendudukkan dirinya disebelah Jimin bersamaan dengan Jungkook yang datang membawakan teh hangat untuk Taehyung.

"Minumlah sebelum pulang. Kau tampak kedinginan"

Taehyung tersenyum dan menyesap teh hangat buatan Jungkook. Lidahnya merasakan manisnya gula bercampur dengan rasa peach yang sangat pas. Matanya melirik Jungkook yang sedang duduk bersila sambil memeluk bantal kelinci pink disamping Suga. Pose yang bagi Taehyung menggemaskan.

Mereka tampak berbincang-bincang. Lebih tepatnya hanya Taehyung dan Jimin saja yang berbincang. Karena duo sepupu angkuh ini lebih banyak diam ketimbang mengeluarkan suaranya.

Taehyung melirik jamnya. Bibir atasnya menggigit bibir bawahnya. Sudah malam. Sudah sepantasnya mereka pulang, akan tetapi saat ia melihat air wajah Jimin yang begitu bahagia saat berbincang dengan Suga, ia tak sampai hati mengganggunya juga.

Drrt Drrt

'Penyelamat' batin Taehyung

"Ha_"

"KAU DIMANA TAEHYUNG?!"

Refleks Taehyung menjauhkan ponselnya dari telinganya. Kenapa suara hyung satunya itu begitu cempreng? Itu menyakiti telinganya. Suara Jin bahkan membuat percapakan antara Suga dan Jimin terhenti. Mereka ditambah Jungkook menjadi menatap dan memperhatikan Taehyung dengan seksama.

"Aku ada di_"

"Cepat pulang! Ini sudah jam 10!"

"I iya hyung. Jangan berteriak. Aku bisa tuli"

"Yak! Aku tidak mau tahu! Cepat pulang!"

"Baik hyung"

Klik

Taehyung menghela nafas sebentar. Matanya menatap Jimin. Memohon agar ia juga mengerti dan mengantarkannya pulang.

"Pulanglah. Kami lelah dan ingin beristirahat"

Ucap Suga dan Jungkook bersamaan. Saat itu Taehyung dan Jimin langsung berdiri dan berpamitan. Bila Suga mengantar Jimin dan Taehyung sampai ke depan pintu gerbang, Jungkook hanya melihat kepergian mereka dari ambang pintu.

Taehyung membonceng Jimin dan Jimin menggumamkan kata-kata yang tak jelas sepanjang perjalanan.

"Hey Tae, kenapa kau tidak mengendarai motor mu lagi?"

Taehyung mendengung. Ia menjawab pertanyaan sahabatnya itu dengan setengah malas. Hey, ayolah, Jimin tahu persis apa alasannya.

"Jimin, kau bisa bantu aku satu hal?"

"Tentang Jungkook?"

"Bukan. Aku ingin seperti Young Hoon"

"Bukankah kau sudah populer ya? Oh, aku ingat. Ada Irene, Shannon, dan banyak lagi. Sadar atau tidak, penggemar mu banyak"

"Bukan yang seperti itu maksud ku. Aku ingin memiliki badan seperti Young Hoon atau pun seperti mu"

"Oh, kau ingin punya six packs maksudnya?"

Taehyung mengangguk. Jimin menghentikan laju sepeda motornya. Ya. Mereka sudah tiba di rumah Taehyung.

"Datanglah ke rumah ku setelah perkuliahan mu usai. Sebelum itu, hubungi aku dulu ya"

Taehyung melihat Jimin menjauh, kemudian ia beranjak memasuki rumahnya. Ia membuka pintu rumahnya dan menyalakan lampu. Disana, tampak Jin yang sudah bersedekap dada dengan mata yang sudah seperti ingin keluar. Taehyung menegak ludahnya susah payah.

"Selamat malam hyung. Aku lelah. Aku ke kamar ya"

"Tidak secepat itu Tuan muda Kim Taehyung"

Oh Tuhan. Gendang telinga Taehyung akan benar-benar bermasalah setelah ini.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Hai hai

Ketemu sama saya lagi nih

Oh ya, kali ini bahasannya itu Heliotrope

Kalian prnah lihat versi bunga nya kah?

Buat yang belum tahu apa sih warna heliotrope

Heliotrope itu kurang lebih warnanya perpaduan antar biru gelap keungu-unguan. Mirip seperti warna dilangit malam. Cantik banget

Nah klo artinya sih kedinginan , keraguan , dan sebagainya

Sedih sih ya tapi disini aku ga buat image seperti itu ko

Aku buat lebih manis

Nah, kalian yg sdh baca coba jgn lupa fav dan komen yah

See you on my next chapter everyone

Bubye