Colour

TaeKook / VKook

Main Cast :

Jeon Jungkook (GS)

Kim Taehyung

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Random

Disclaimer :

Cast(s) belong to god, their entertainment, and their parent but the story line belong to mine

.

.

.

Chapter 7 " Merah"

HAPPY READING

.

.

.

Suasana tenang menyelimuti damainya latihan yang diberikan Jimin untuk Taehyung. Meskipun terasa berat, namun itu semua tak menyurutkan tekatnya yang sudah bulat demi mendapatkan perhatian dan lampu hijau persahabatannya dengan sang gadis pujaan.

Disela-sela kegiatan, Jimin menghentikan latihannya. Yah, karena memang sudah masuk break time. Taehyung mengamit handuk kecil yang disampirkan di atas matras. Ia mengusap peluhnya yang lumayan banyak. Taehyung mendudukkan dirinya disamping Jimin dan menegak habis air mineral yang ada di botol besar milik sahabatnya.

"Itu milik ku kalau kau lupa"

"Nanti ku belikan yang lain sebagai gantinya. Aku benar-benar haus Jimin"

Jimin menghela napas perlahan dan berdiri membawa tasnya menuju kamar ganti diikuti Taehyung 5 menit kemudian.

Selesai berganti pakaian, mereka segera keluar dari tempat itu dan menuju parkiran dimana ada motor Jimin yang sudah bertengger disana.

"Kau ada kelas yang sama dengan ku kan hari ini? Mau nebeng tidak?"

"Sebenarnya masih 2 jam lagi sih. Tapi tak apa. Aku bersama mu saja. Aku juga sudah bilang Jin hyung sebelum kesini"

Jimin mengacungkan jempolnya setelah setelah memakai helm. Berhubung jarak dari tempat itu ke kampus mereka tak begitu jauh dan bisa ditempuh dengan melewati jalan di perumahan, jadi Taehyung yang tak memakai helm pun tak masalah.

Selama perjalanan, Jimin banyak sekali bercerita tentang perkembangan hubungannya dengan Suga. Tampaknya ia sudah mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

Dua sahabat ini memang harus tahan betul dengan sikap dan kepribadian duo angkuh itu. Tapi Jimin sudah ada dua langkah didepan Taehyung. Sedangkan Taehyung? Mungkin ia hanya bergerak seperempat langkah saja.

"Mau sampai kapan kau begitu Tae?"

Jimin membuyarkan lamunan Taehyung. 'Oh. Sudah sampai rupanya'

"Hehe. Maaf. Kau kelas saja. Aku masih ingin disini"

Jimin memandangi area parkiran di kampusnya. Matanya menangkap sosok Jungkook. Jimin memutar bola matanya malas dan bergerak menjauhi Taehyung.

Taehyung masih setia berdiri disana. Ia tak tahu bahwa tak jauh dari sana juga ada Jungkook. Jimin pun hanya berspekulasi bahwa sedari tadi Taehyung sedang mengamati Jungkook. Padahal kenyataannya, Taehyung bukan melamun karena mengamati Jungkook, melainkan karena pikiran lainnya.

Disana. Jungkook menangkap Taehyung yang berdiri dalam diamnya. Angin lembut menyapu surai auburn-milik Taehyung, memperlihatkan dahinya yang terdapat satu tahi lalat kecil. Kepalanya menengadah, matanya terpejam. Hidung yang mancung sempurna disertai garis rahang yang tampak begitu jelas. Wajah yang sangat ideal.

Jungkook terpana. Dirinya tanpa sengaja menangkap sosok Taehyung, pria tambun yang selalu bersikeras ingin menjadi temannya. Ia meneliti seluruh sudut wajah lelaki itu. Sempurna. Hampir tak ada celah yang terukir disana. Sungguh maha karya Tuhan yang terindah. Setidaknya itu pendapatnya sampai si pemilik wajah menyadari tatapan darinya.

"Hai Jungkook! Sedang apa disini? Tak ada kelas?"

Jungkook melangkahkan kakinya menjauhi Taehyung. Hatinya berdesir halus. Ia berusaha menutupinya dan terus saja berjalan mendahului Taehyung.

"Aku masuk 1 jam lagi. Bagaimana kalau ke air mancur waktu kau makan siang itu?"

Jungkook mengabaikan tawaran itu namun kakinya tetap melangkah beriringan dengan Taehyung. Dirinya sadar, ia ingin menghindar tapi kakinya tak mau mendengar perintah otaknya untuk menjauh.

.

Terlihat Jungkook sedang duduk di kantin bersama dengan Suga. Bukan hal biasa bila Jungkook ada di kantin yang ramai seperti itu. Mengingat Jungkook tak menyukai tempat ramai, pastilah membuat stalker sejatinya ini bingung. Iya. Disana ada Taehyung yang baru saja melangkah masuk ke kantin setelah mata kuliah yang membosankan baginya usai. Meski Taehyung tergolong murid berprestasi tapi ia juga manusia biasa yang bisa merasa bosan. Terlebih lagi apabila dosen pengampunya sudah tua dan suaranya tak begitu jelas terdengar.

Taehyung memperhatikan Jungkook yang sedang menyesap susu strawberry kesukaannya. Tangannya senantiasa menggenggam roti melon favoritnya. Disampingnya juga ada Suga yang sedang memakan set lunch-nya dengan khidmat. Bagi Taehyung, tak ada hal yang lebih menyenangkan selain mengamati gadis pujaannya itu.

"Hyung. Sedang apa berdiri disini? Kau ini sedang jadi stalker ya?"

Taehyung menoleh dan mendapati Jihoon ada dibelakang punggungnya. Ya, Taehyung memang tampak seperti stalker. Lihat saja, sedari tadi bukannya masuk dan mengantri, ini malah sembunyi di balik pilar besar disana.

"Jangan jangan kau menyukai Suga noona? Tidak! Jangan rebut gebetan Jimin hyung!"

Taehyung melongo mendengar perkataan Jihoon. Siapa yang menyukai Suga? Suga bukan tipenya. Taehyung melayangkan jitakan halus di atas kepala Jihoon.

"Pelankan suara mu. Lagi pula aku tidak tertarik dengan gebetan kakak mu"

"Ooh. Berarti yang disebelahnya ya?"

Taehyung mengangguk mantap. Mata hazelnya kembali mengamati Jingkook dengan detail. Mata bulat itu sungguh menggemaskan dimata Taehyung.

"Oh ya hyung. Tadi Jimin hyung mencari mu. Ia bilang kalian ada kelas sekitar 30 menit lagi"

"Ah, iya benar! Kenapa kakak mu tidak menelpon saja?"

Taehyung segera mengeluarkan hp nya dan ya, ternyata Jimin sudah menghubunginya berkali-kali namun karena Taehyung terlalu fokus kepada Jungkook, jadilah ia mengabaikan semuanya.

"Nah kan, sudah ada 3 panggilan tak terjawab dari Jimin hyung. Sudah ya hyung, aku mau beli makan siang. Bye"

Taehyung memasukkan kembali ponselnya. Ia melirik sekali lagi ke arah Jungkook yang ternyata sedang menatap ke arahnya juga. Taehyung menyunggingkan senyumnya dan beranjak menjauhi kantin. Ia punya kelas yang akan dimulai sebentar lagi.

.

Hari ini hari yang melelahkan bagi Taehyung. Namun semelelahkan apa pun, bila ia teringat akan kata-kata itu, ia akan kembali bersemangat. Darahnya akan kembali berdesir dan menghangat. Semangatnya sudah bagaikan darah yang berwarna merah. Semerah dan sepekat perjuangannya.

Kalian pasti tahu, berjuang mendapatkan hati seseorang itu tidak mudah. Mungkin bagi Taehyung, perkataan sarkasme yang diluncurkan gadis pujaannya tak berarti ia harus menyerah. Tapi ia menjadikannya sebagai motivasi untuk bisa lebih baik dan tentunya agar si pujaan hati bisa melihat ke arah dirinya.

Seperti saat ini, disana, Taehyung sedang berlari mengitari lapangan outdoor. Tasnya ia letakkan di sisi lapangan.

Tepat setelah 5 putaran usai, Taehyung berhenti. Terlihat disana, peluhnya bercucuran dan wajahnya yang memerah. Ia merendahkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang disandarkan pada lutut guna menopang berat tubuhnya.

Lelah. Taehyung mengambil air dan meminumnya dengan rakus. Setelah itu ia merebahkan dirinya di atas lapangan. Cuaca sedang mendung, jadi ia tak harus menghadapi teriknya matahari kala itu.

"Hey, Tae! Kau sedang apa?"

Taehyung mendudukkan dirinya dan mengamati orang yang menyapanya tadi.

"Shannon?"

"Ya. Kau sedang apa Tae?"

Shannon menempatkan dirinya disebelah Taehyung. Ia menatap wajah Taehyung lamat-lamat.

"Ah, aku ada saputangan di sini"

Shannon mengeluarkan saputangannya dan mulai mengusap peluh Taehyung yang terlihat jelas diwajahnya. Taehyung dengan segera meraih saputangan itu dan mengusap peluhnya sendiri. Sedangkan Shannon menunduk malu setelah mendapati senyuman manis Taehyung sesaat sebelum meraih saputangan miliknya.

"Akan ku kembalikan setelah ku cuci. Terimakasih Shannon"

"A_ah, it's ok Tae. You can keep it"

Taehyung mengangguk dan tersenyum ramah, membuat Shannon semakin salah tingkah dibuatnya. Tak lama setelah itu, Shannon berpamitan karena ada yang harus ia lakukan di tempat lain. Mungkin ini alibi agar ia bisa pergi secepatnya karena ada yang bergemuruh di sana dan ia tak ingin Taehyung mendengarnya.

Disaat yang sama, tanpa disadari, ada sepasang mata yang menatap dengan pandangan yang tak bisa ditebak. Pemilik sepasang mata itu adalah Jungkook. Ia mengeratkan kepalan tangan yang bertengger di sisi tubuhnya walaupun ekspresi wajahnya tetap datar, tak menunjukkan emosi yang berarti.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Hai! Masih ada yg nunggu lanjutan ini?

Aku rasa ga ada ya huhu

Oh ya, untuk seri ini spertinya bakal lama selesainya krna butuh timing yg pas untuk merangkai crta nya

Btw, thanks buat kalian yg sudah ngikutin COLOUR ini ya

SEE YA LATER