Colour
TaeKook / VKook
Main Cast :
Jeon Jungkook (GS)
Kim Taehyung
Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin
Genre : Random
Disclaimer :
Cast(s) belong to god, their entertainment, and their parent but the story line belong to mine
.
.
.
Chapter 9 " Hitam"
HAPPY READING
.
.
.
Disudut ruang disalah satu bagian rumah, terdapat 4 pasang mata yang saling bersitatap. Dua diantara penuh dengan amarah, salah satunya penuh kekalutan, dan satu lainnya berusaha keras agar tetap tenang.
Brak
Satu dari dua orang yang penuh amarah itu menggebrak meja dengan kuat. Wajahnya sudah merah padam. Ia menatap salah satu lainnya dengan nyalangnya.
"Kim Seok Jin! Jaga ucapanmu! Kau menyakiti hati ibu mu!"
Jin, lelaki yang dibentak pun mendecih. Ibu macam apa yang selalu diam tak membela anaknya? Setidaknya itu yang ada dipikirannya.
"Semua yang ku ucapkan berdasarkan fakta. Ibu bahkan tak berkilah. Dan ayah, jangan coba membawa Taehyung setelah apa sudah yang kau lakukan selama ini padanya"
Sang ayah menatap Taehyung, putra bungsunya yang sekarang sudah masuk dalam kualifikasi untuk menjadi anaknya. Ia berjalan ke arah Taehyung yang masih duduk manis di sofa dengan pandangan tertunduk.
Taehyung melihat kaos kaki hitam dibawah sana. Ada yang mendekat. Tapi, kakaknya tadi memakai sandal rumah. Sontak ia mendongak, melihat siapa yang ada dihadapannya.
Matanya terkunci. Pandangan ayahnya seolah meremehkan dirinya. Sama. Semua yang ada dalam pancaran mata ayahnya masih sama seperti dulu.
"Tae, ikutlah dengan ayah. Ayah sudah memikirkan untuk menempatkan mu menjadi brand ambassador suatu produk relasi ayah. Kita akan dapat uang banyak dari sana. Ayo. Bersiaplah kemasi pakaian mu dan kita terbang kembali ke Jepang"
"Ayah!"
Jin berjalan mendekat dengan mata berkilatnya. Ia menarik kerah kemeja ayahnya. Dengan pongaknya, sang ayah hanya menyeringai dan tatapan merendahkan itu lagi-lagi ia tunjukkan pada putra sulungnya.
"Heh. Kenapa? Merasa iri karena sekarang bukan kau lagi yang ayah inginkan? Ingat 2 tahun lalu kau dengan angkuhnya menolak tawaran ku dan kabur kesini dengan alibi ingin kuliah? Kau membohongi adik tersayang mu, bukan?"
Cengkraman Jin melemah. Pupil matanya bergerak resah. Bukan. Sungguh Jin tak bermaksud berbohong pada adik yang ia bela seumur hidupnya.
Sang ibu mendekat. Ia menarik lembut lengan sang suami namun segera ditepis.
"Tae, putra bungsu ayah, tak perlu ragu. Ikutlah dengan ayah. Kita bisa mencetak banyak uang bersama"
Taehyung menatap mata ayahnya lalu beralih ke kakaknya yang tampak mematung. Sepasang matanya kini terarah pada mata hazel sang ibu. Ibunya mengernyit. Matanya seolah memohon.
Taehyung kembali mengarahkan pandangannya kepada sang ayah. Ia menatap obsidian itu dengan tatapan elangnya.
"Aku tidak akan mencetak uang untuk mu. Maka, pergilah"
Taehyung berdiri. Emosinya masih stabil. Ia menghampiri Jin yang berdiri kaku menatap dirinya.
"Kenapa kau datang kemari? Kenapa anak yang tidak kau inginkan selama ini tiba-tiba menarik perhatian mu? Aku akan tetap bersama kakak disini"
Taehyung menatap kakaknya dengan penuh senyuman. Jin pun merasa terharu dengan keputusan sang adik.
'Kakak sudah membela ku sejak kecil. Kali ini biarkan aku membela mu'
"Dasar anak tak berguna!"
Taehyung melihat sang ayah keluar dan membanting pintu dengan keras. Ia juga melihat sang ibu mendekat kesisinya.
"Tae, maafkan sikap ayah mu"
"Pergilah bu. Ibu tak membantu sama sekali. Ibu juga tak pernah membela ka_"
Taehyung menyentuh lengan kakaknya. Sang kakak pun segera membungkam mulutnya. Ia juga berjalan menjauhi kedua orang tersebut.
"Ibu. Sedari kecil aku selalu menunggu pembelaan dari mu. Sekarang pun ibu masih tidak berubah. Aku tahu ibu menyayangi ayah, tapi bu, aku ini anak mu. Tak pernahkah sekali saja terbersit untuk melindungi anak mu ini dari kekerasan psikis suami mu?"
"Tae ibu hanya tak ingin ayah mu memukuli ibu. Tatapan mematikannya itu bagai alarm akan pertanda buruk bila ibu melawan"
Ibunya menunduk. Menangis. Taehyung sudah sering melihat hal itu. Juga mendengar alasan yang sama tiap kali ibunya merasa bersalah.
Taehyung meraih wajah ibunya dan menghapus air mata yang sudah menganak sungai di pipinya. Taehyung mendesah kecil.
"Don't cry mom. I'm ok"
"I'm a bad mom. Forgive me, hon"
Taehyung memeluk sang ibu dengan erat. Biar bagaimana pun ia sangat menyayangi sang ibu. Ia juga tak bisa menyalahkan keadaan karena memang ayahnya seperti itu. Taehyung juga tak bisa menyalahkan kakaknya yang sangat tidak menyukai sang ibu.
Taehyung mengusap punggung ibunya dengan lembut, mencoba membagi ketenangan yang ia miliki.
"You have to be strong, mom. I'll always love you. No, but we'll always be by your side no matter what"
Sang ibu semakin mengeratkan pelukannya dan menangis tersedu sedu. Jin yang melihatnya pun mendekat.
"Pergilah bu. Jangan buat ayah marah dan memukul ibu lagi"
"Maafkan ibu, Jinnie"
Jin melangkah menjauh tanpa mengucapkan kata apa pun.
"Sudahlah bu. Kakak selalu peduli pada ibu. Jangan di ambil hati. Pergilah, hati-hati di jalan bu"
.
.
.
Seminggu sepeninggalan orangtua Taehyung dan Jin, kadaan rumah terasa canggung. Jin selalu berusaha meminta maaf pada sang adik. Dan Tae selalu disibukkan dengan banyak hal. Saat sedang ingin membuka mulut selalu saja ada hal lain yang harus dikerjakan Taehyung.
Pagi ini, Jin menunggu Taehyung di depan pintu rumah mereka. Ia sengaja melakukannya untuk menyelesaikan kecanggungan yang terjadi diantara mereka.
"Oh, Tae! Aku ingin membicara_"
"Jangan sekarang hyung. Jimin sudah menunggu di warung depan"
"Tapi_"
"Nanti malam saja hyung di rumah. Aku akan pulang sekitar jam 7. Aku duluan hyung"
Jin mendesah. Ia sedikit kecewa. Kesempatannya gagal lagi. Yah, setidaknya masih ada nanti malam. Taehyung juga sudah mengatakan nanti malam bukan? Jadi, ia tak perlu kecewa lagi.
Disisi lain, Taehyung bergerak terburu-buru memasuki kelas bersama dengan Jimin. Taehyung memang berangkat bersama Jimin karena ia tahu sang kakak sedang tidak ada kelas pagi.
"Hei, Taehyung! Ayo masuk! Jangan melamun terus"
Taehyung menampakkan cengiran khasnya dan mengekori Jimin. Sedari awal pelajaran dimulai, Taehyung tak pernah memperhatikan dengan benar. Atensinya berpusat pada Jungkook.
.
"Akhir-akhir ini kau sering melamun. Ada apa Tae?"
"Jung_"
"Jungkook masih sakit, kau kan tau itu. Kenapa kau tak menjenguknya saja supaya rasa penasaran mu itu berkurang?"
Taehyung menimang ucapan Jimin. Benar. Ia hanya perlu datang dan menjenguknya.
"Menurut mu, apa Jungkook mau bertemu dengan ku?"
SREK
Jimin menarik kursi panjaang di kantin. Dua gelas Caramel Macchiato yang dibawanya ia letakkan di atas meja. Satu untuknya, satunya lagi ia suguhkan kepada Taehyung, mengisyaratkan untuk diminum.
Taehyung berterimakasih. Setidaknya satu cup Caramel Macchiato dapat mengalihkan sedikit kecemasannya. Perlahan ia menyesap dan merasakan lembutnya busa dan manisnya karamel yang berpadu dengan sedikit pahit espresso yang menyapu indra perasanya pertama kali.
'Kompleks. Seperti... Jungkook'
Jimin memperhatikan Taehyung, melamun. Sepertinya ia tahu apa isi lamunan itu. Namun ia menghiraukannya.
"Oh! Hei, Tae, belakangan ini aku lihat dirimu tidak pernah menempel dengan Jin hyung. Apa kau sedang ada masalah?"
"Tidak. Aku memang sedang sibuk dengan tugas melimpah ku dan jam kuliah kami banyak yang bertolak belakang"
Jimin mengangguk kecil beberapa kali. Tak lama, Suga datang menghampiri dengan menepuk keras bahu Jimin sehingga ia sedikit tersentak.
Suga mengambil posisis duduk di depan Jimin dan Taehyung. Matanya menatap tajam Taehyung.
"Nuna, jangan menatap Tae seperti itu. Kau seperti ingin memakannya"
"Memang"
Taehyung tekekeh. Ia menatap Suga dengan tatapan lembut, khas miliknya seorang. Suga pun mendesah dan mengalihkan pandangannya ke kanan.
Taehyung mengernyit. Bingung dengan tingkah gebetan sahabatnya itu. Tanpa menunggu lama, ia pun membuka suara.
"Ada apa nuna?"
"Pulang nanti datanglah ke rumah. Kunjungi Jungkook"
Taehyung tersenyum dan mengangguk kecil.
Lihatlah. Judes itu tak berarti acuh. Bisa jadi, sebenarnya dialah yang paling peka dan memperhatikan keadaan.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Hai!
Aku balik lagi ^^
Semoga kalian suka sama chapter ini
See on the next chapter!
Bubye~
