Colour

TaeKook / VKook

Main Cast :

Jeon Jungkook (GS)

Kim Taehyung

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Random

Disclaimer :

Cast(s) belong to god, their entertainment, and their parent but the story line belong to mine

.

.

.

Chapter 10 "Magenta "

HAPPY READING

.

.

.

Lembayung senja menampakkan dirinya. Mengikat banyak pasang mata agar tertuju padanya. Taehyung tampak melenggangkan kakinya membuntuti dua sejoli didepannya. Mereka menuju tempat parkir.

"Noona, apa yang Jungkook sukai saat sedang sakit seperti ini?"

Suga menyipitkan matanya, otaknya menerawang jauh dan kilasan masa lalunya membawa ia mengenang masa berharga itu.

"Hei, mana ada orang sakit diberi permen? Mau membuat batuk ku semakin parah ya?"

Jungkook kecil memberi sindiran pada Suga kecil. Yang satu berusia 8 tahun dan yang satu berusia 10 tahun.

"Eh, dulu kau selalu suka permen bahkan selalu merengek pada ku sekalipun sedang sakit."

"Aku kan sudah besar sekarang. Aku tahu kalau permen akan membuatku semakin sakit, eonni."

Suga kecil terkekeh geli. 'Umur 8 tahun tahu apa, sih' , batinnya.

"Daripada permen, belikan saja es krim."

Tawa Suga meledak. Jungkook memiringkan kepalanya, ia bingung.

"Kok tertawa?"

Suga menggeleng. Ia menjulurkan tangan lainnya yang membawa 1 goody bag kecil. Ia menyerahkannya pada Jungkook.

"Permen dan es krim sama saja, Jeon. Tidak baik untuk batuk mu. Lebih baik makan saja apa yang ada di dalam tas itu. Ibu ku yang membuatnya untukmu."

"Bibi? Wah, pasti enak." Jungkook membuka tas itu. Bibirnya seketika mengerucut.

"Aku tidak suka kue beras!"

"_na? Noona?!"

"Oh, ya! Kenapa berteriak, sih?!"

"Noona melamun. Jangan salahkan Tae bila ia berteriak."

Suga tertawa singkat. 'Benar. Aku melamun, ya.' Batinnya.

"Soal Jungkook bagaimana, noona?" Taehyung berjalan sejajar dengan Jimin dan Suga.

Brak

"Jimin, kau bawa motor. Sana naik motormu."

Taehyung hanya melirik Jimin. Matanya menangkap kesenduan si pemilik motor besar itu. Ia pun menepuk pundak sang sahabat.

"Aku masuk ya, Jim."

Jimin mengernyit. Apa-apaan sahabatnya itu? Mengejek atau memberi semangat? Sudahlah, Jimin berjalan berlawanan untuk mengambil motornya.

"Jadi, bagaimana noona soal tadi?"

"Oh ya, sepertinya Jungkook suka apapun kecuali kue beras."

Taehyung mengangguk singkat. Ekor matanya melirik spion. Sosok Jimin terlihat mengikuti di belakang.

"Oh ya noona, jangan terlalu judes padanya."

"Jimin? Aku tahu. Justru itu cara ku agar dia tetap berjuang dan tidak bosan. Tenang saja, aku ini pemain handal."

"Noona! Berhenti!"

Ckiitt

"Duh! Apa-apa an itu?!"

"Hehe maaf, aku ingin membeli sesuatu. Noona pergi saja, tidak perlu menunggu. Beritahu saja pada Jungkook kalau aku akan menjenguknya."

Brak

Taehyung melihat mobil itu menjauh dan ia melihat motor Jimin berhenti tepat didepannya.

"Duluan saja, Jim. Aku mau membeli sesuatu."

Jimin mengangguk lalu pergi melajukan motornya kembali setelah mendengar ucapan Taehyung. Tanpa buang waktu, Taehyung pun memasuki toko itu. Ia membeli setangkai mawar putih dan beberapa buah tangan lainnya.

.

Taehyung tiba setelah 45 menit berlalu. Ia langsung masuk dan menuju kamar Jungkook. Ini bukan inisiatifnya, melainkan saran dari Suga untuk segera masuk ke kamar Jungkook saja.

Tok Tok

"Masuk."

Serak sekali. Sekiranya itulah yang ada dipikiran Taehyung.

"Hai. Kau sudah lebih baik?"

Jungkook mendudukkan dirinya di tepi kasur. Ia melirik Taehyung dengan mata sayunya, khas orang sakit.

"Ini, aku tidak tau kau suka apa. Jadi, ya begitulah."

Jungkook menerima pemberian Taehyung dan membuka isi goody bag itu. Sementara Taehyung meletakkan mawar putih itu di atas meja dekat lampu tidur.

"Kau pikir aku anak kecil?"

"Maksud mu?"

"Permen, kue berlemak tinggi, es krim, dan semua yang kau bawa ini. Kau tahu kan sakit ku bisa semakin parah dengan semua ini?"

"Tapi kau hanya demam, bukan?"

"Orang pintar seperti mu ada bodohnya juga rupanya."

Jungkook melirik Taehyung. Menangkap sorot mata yang seperti penyesalan.

"Tapi terimakasih sudah peduli. Dan yang paling penting kau tidak membelikan ku kue beras."

Taehyung tersenyum. Rasa menggebu-gebu itu memenuhi relung hatinya.

"Aku pamit pulang ya, Kook. Kau harus banyak beristirahat. Cepat sembuh ya. Selamat malam."

Cklek

Taehyung sudah keluar. Jemari mungil Jungkook meraih setangkai mawar putih di atas nakas. Ia memandangi helai mawar yang sudah merekah sempurna itu.

Vernon.

Jam yang melingkar di pergelangan tangan Taehyung sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah berbincang sedikit dengan kakak sepupu Jungkook, ia pun izin pamit. Ia tidak bersama Jimin karena tampak sekali bahwa Jimin tidak ingin diganggu.

Taehyung melangkahkan kakinya menuju halte terdekat. Ia akan pulang dengan bus. Jalanan yang cukup sepi menghantarkannya ke rumah dengan waktu yang cukup singkat, setengah jam.

Cklek

Taehyung masuk dan menghampiri sang kakak.

"Maaf aku pulang telat. Hyung ingin bicara apa?"

Jin melirik singkat. Ia meneguk air yang dibawanya sambil berjalan ke arah sofa.

Taehyung mengikuti sang kakak yang duduk di sofa. Mata elangnya tepat menusuk sang kakak.

"Kau marah pada hyung?"

"Untuk?"

"Soal ayah yang bilang bahwa itu hanya alibi hyung."

"Untuk apa marah? Hyung selalu membelaku. Kalaupun memang alibi, aku maklum, hyung pasti juga sangat tertekan."

"Kau benar. Hyung minta maaf karena sempat meninggalkan mu dengan ayah dan ibu. Pasti berat."

Taehyung mengangguk dengan pasti. "Sangat. Tapi aku bukan orang lemah. Lihat! Sekarang bahkan ayah sudah mengakuiku, bukan?"

Jin tersenyum. Ia tahu adiknya tidak lemah. Adiknya hanya butuh pembuktian saja.

"Ya, ya. Berterimakasihlah pada gadis itu. Secara tidak langsung ia mengubah pikiran mu. Mana tahu dimasa depan ia akan lebih banyak membantumu lagi."

Taehyung tertawa. Benar. Kalau tidak berkat Jungkook ia tidak mungkin berpikiran untuk mengidealkan bentuk tubuhnya. Perjuangan itu memang benar adanya.

"Oh ya, sebenarnya ayah dan ibu menetap disini selama proyek yang ayah tangani berlangsung. Mungkin kau akan kesulitan karenanya."

"Aku tidak terkejut akan hal itu. Aku pernah tanpa sengaja melihat mereka turun dari mobil tak jauh dari hadapanku."

"Kenapa tak beritahu?"

"Bukan hal penting juga, kan? Yang terpenting mereka tidak tinggal satu rumah dengan kita."

"Soal itu sebenarnya ayah mengusir kita."

Taehyung menghela nafas gusar. Ia tak habis pikir. Ayahnya benar-benar keterlaluan.

"Tenang saja. Kita tidak akan keluar dari sini. Aku sudah menanganinya."

"Caranya?"

"Tak usah dipikirkan. Bukan hal yang penting."

Jin mengeratkan genggaman tangannya yang entah sedang mengepal apa. Yang jelas, terlihat gumpalan bekas kertas yang diremas dibawah kakinya.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Hai!

Aku balik lagi ^^

Semoga kalian suka sama chapter ini

See on the next chapter!

Bubye~