Colour

TaeKook / VKook

Main Cast :

Jeon Jungkook (GS)

Kim Taehyung

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Random

Disclaimer :

Cast(s) belong to god, their entertainment, and their parent but the story line belong to mine

.

.

.

Chapter 11 "Marun "

HAPPY READING

.

.

.

Jungkook terbangun saat matahari telah tepat berada di ubun-ubun. Ia melenguh dan sedikit melakukan peregangan bangun tidurnya. Matanya masih terpejam, jemarinya menyentuh sidut matanya yang berair dan satu tangannya menutupi mulutnya yang sedang menguap.

Jungkook mendudukkan dirinya ditepi kasur. Bening matanya melirik jam di atas pintu kamar. Sudah jam satu siang rupanya, pikirnya. Pasang matanya menoleh kesamping. Pusat atensi beralih pada setangkai mawar putih yang bertengger manis di tengah apitan buku dongeng klasik.

Tidak. Cukup ingat Vernon, Jungkook.

Jungkook menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Mencoba menghapus dan menyembunyikan kenyataan bahwa sebenarnya bahwa ia sedang ragu.

Tok Tok

Jungkook menoleh. Alisnya mengernyit bingung. Pikirnya, untuk apa mengetuk, mengapa tidak langsung masuk saja seperti biasa? Ia beranjak dari kasur dan membuka kenop pintu kamarnya.

Suga berdiri dengan wajah super datarnya. Alih-alih bertanya, ia malah memukul kepala Jungkook.

"Bisa tidak tidur mu tidak seperti orang mati?" Jungkook mendengus. Matanya berotasi, jengah.

"Aku sedang sakit bila kau lupa."

Kali ini Suga yang tampak merotasikan bola matanya. "Tidur mati mu semakin menjadi saat sakit. Kurangi kebiasaan itu. Kau itu perempuan, Jeon."

Jungkook masuk dan duduk ditepi kasurnya lagi, diikuti Suga. Suga tahu pasti kemana pikiran Jungkook. Lantas, sekalian saja ia memastikannya.

"Jeon, masih teringat calon suami bule mu itu?"

Jungkook menoleh. Pandangan jatuh tepat pada manik kembar sepupunya. Tentu saja, ia selalu memikirkan Vernon.

"Aku berharap mereka selamat dan kembali ke sisi ku."

Suga melihat tatapan itu menyendu. Rindu yang kian membuncah akan menyiratkan rasa sakit yang begitu nyata. Satu yang ia tahu, sepupunya betul-betul tulus, namun ada yang mengganjal perasaannya.

"Ku pikir kau tadi membayangkan Taehyung."

Celetuk Suga cukup untuk membuat Jungkook terkesiap. Faktanya memang benar. Jungkook memikirkan Taehyung, bukan Vernon.

Jungkook menolehkan kepalanya agar tidak tertangkap pandangan Suga. Sedangkan Suga yang kelewat peka dapat dengan mudah mengetahuinya. Gerak-gerik seperti itu adalah sesuatu yang sangat mudah dibaca, menurutnya.

"Aku hanya memikirkan Vernon, kekasihku, calon suamiku."

Suga menghela nafas perlahan. Sepersekian detik ia bangkit dan meletakkan tangannya di bahu Jungkook. Caranya menatap pun melembut, ia berkata.

"Bila Vernon kembali, apa pun keputusan mu, bulatkan. Kau harus belajar memperjuangkan dan mengikhlaskan pada waktu yang sama."

Suga melangkah keluar. Sementara Jungkook tercenung. Sampai mana? Sampai mana kau tahu, eonnie? Jungkook membatin.

Sepekan berlalu dengan damai. Setidaknya untuk Jimin. Karena sang adik, Jihoon, sudah dibelikan motor oleh ayahnya setelah merengek selama hampir 5 hari. Jadilah Jimin dengan leluasa menjadi ojek pribadi bagi Suga.

"Maaf Jim, Jungkook sudah sehat. Jadi, mulai sekarang aku akan berangkat bersamanya lagi."

Jimin mendesah. Ia tidak akan dapat pelukan dari gebetannya lagi.

"Jangan jadikan aku sebagai alasan. Aku bisa pergi sendiri." Sanggah Jungkook yang muncul dari belakang Suga. Ia mengunci pintu.

"Tidak. Kau baru saja sehat. Jadi, tidak boleh lelah."

"Berikan saja kunci mobil mu. Aku bisa menyetir sendiri."

Satu alia Suga terangkat. Ia ragu. Sempat ia menoleh pada Jimin dan di beri anggukan oleh Jimin.

'Akhirnya.' batin Jimin penuh suka cita.

Suga setuju dan menyerahkan kunci mobilnya pada sepupunya. Sebelum pergi ia mewanti-wanti Jungkook agar hati-hati.

Pukul sembilan tepat. Kampus masih terbilang sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang disana. Tampak Jungkook berjalan menyusuri koridor. Tangannya menyisipkan sebuah hairpin sederhana yang senada dengan blouse turqoise yang dikenakannya. Ditengah lorong ia berhenti dan sedikit menunduk. Rambut hitam panjangnya tampak bercahaya saat sinar mentari pagi tepat mengenai sebagian tubuhnya.

"Cantik seperti biasa."

Jungkook menoleh. Ia melihat pria jangkung dengan wajah visualnya. Ia membuaang nafasnya kasar.

"Terimakasih, Young Hoon."

Aalih-alih pergi, pria itu malah mengikuti dan mengajak Jungkook berbicara. Yang pasti, Jungkook hanya membalasnya dengan jawaban singkat, bahkan dengan hm saja.

Tanpa basa-basi, saat Jungkook melihat Taehyung yang berjalan dari arah berlawanan, ia menarik cepat lengan itu dan beralasan pada Young Hoon.

"Syukurlah kau sudah sembuh."

Percakapan itu dibuka oleh Taehyung. Sontak Jungkook melepaskan tangannya dan melangkah mendahului Taehyung. Tipikal seorang Jungkook sekali.

"Sebentar. Ada yang ingin ku bicarakan."

Jungkook melirik genggaman tangan Taehyung yang berada apik di tangannya. "Bicara saja".

"Tidak. Jangan disini. Ikut aku sebentar."

Keheningan menyambut. Getaran lembut merasuk kedalam hati keduanya. Tak ada satupun yang berusaha melepaskan eratnya genggaman tangan itu.

Sesampainya di tempat tujuan, akhirnya Taehyung melepas genggamannya. Ia mendudukkan dirinya di bangku panjang dimana pertama kali dirinya memberikan roti melon serta susu strawberry untuk Jungkook. Kilasan kenangan itu berlalu dipikirannya. Seketika ia tersenyum singkat.

"Kau mengerikan."

Taehyung tersentak. Ia pun menoleh ke arah sang gadis. "Oh ya? Aku hanya sedang mengingat sesuatu secara tidak sengaja. Lucu sekali."

"Aku tidak bertanya alasan mu."

Jungkook mengambil posisi tepat di depan Taehyung. Matanya menatap manik hazel Taehyung. Tangannya tertata rapi di atas meja.

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Tidak ada. Aku hanya ingin memberikanmu ini."

Pasang mata Jungkook berpendar indah. Tangannya menerima apa yang diberikan oleh Taehyung.

"Stalker."

Richard terkekeh. Bukan stalker. Hanya terlalu memperhatikan sampai hapal hampir semua rutinitas si gadis pujaan.

"Tidak. Roti dan susu itu memang kesukaan mu. Aku memperhatikannya. Lalu syal itu kuberikan karena hari ini dingin dan kau tipe yang acuh untuk menyadari itu. Ingat, kau baru saja sembuh."

Jungkook menarik sudut bibirnya, samar. Bentuk perhatian itu, sama seperti yang ayahnya berikan. Ayahnya memang tipikal ayah dengan rasa khawatir yang berlipat kali lebih banyak dari sang ibu.

"Terimakasih."

Taehyung mengangguk. Sedetik kemudian, ia bangkit dan mengambil alih syal itu. Tangannya terulur untuk melilitkan syal itu ke leher Jungkook.

'Nah. Hati, ku mohon, jangan goyah.'

Jin merenggangkan tubuhnya. Hari ini dirinya punya banyak sekali tugas. Tubuhnya terasa terlepas dari tulangnya. Ingin sekali rasanya ia segera merebahkan diri di kasur empuk miliknya.

Jin melangkahkan kakinya memasuki pekarangan. Ia melihat adiknya sedang di ambang pintu, menatap ke arahnya. Ia pun segera menutup pintu gerbang dan berjalan ke pintu masuk.

Adiknya, Taehyung, bingung. Raut wajahnya kakaknya menampakkan keletihan yang berlebih. Setahunya, sang kakak tidak ada jadwal kampus sampai selarut ini.

Maksud hati, Taehyung ingin sekali bertanya. Namun ia mengurungkannya. Wajah letih itu tampak tak sedang ingin ditanya. Dan benar saja, kakaknya menyapa sebentar lalu berjalan melewatinya dan langsung menuju kamarnya.

'Apa tingkat enam sebegitu sibuknya? Oh ya, kakak seharusnya sudah mulai melakukan penelitian.' batin Taehyung menerka.

Taehyung mengunci pintu dan berjalan memasuki kamarnya yang berada di lantai dua. Sedangkan sang kakak, kamarnya ada di lantai bawah, tepat disebelah ruang keluarga.

Taehyung berjalan ke balkon kamarnya. Ia dapat melihat jalanan di depan rumahnya yang tak terbilang ramai. Suasana komplek perumahannya memang lumayan sepi. Tapi itu yang disukai Taehyung. Ia dapat menenangkan pikiran dan melepas segala penat yang seharian hinggap di dirinya.

"Kerumitan seakan menyukai diriku. Jungkook, ayah, ibu, bahkan Jin hyung."

Pendarnya menerawang jauh ke angkasa. Teduhnya langit disertai taburan bintangnya menghipnotis dirinya. Ia sangat menyukai astronomi tapi malah terjebak di jurusannya yang sekarang.

Ia mendesah. Kecewa. Tapi apa lagi yang mampu diharapkannya? Ia sendiri yang memutuskan untuk beralih mengambil jurusan bisnis. Padahal kala itu, ia sudah diterima saat tes masuk jurusan astronomi.

"Aku bersyukur. Setidaknya banyak yang berubah dan semua itu hal positif."

Taehyung tersenyum. Ia menerawang lagi. Bila saja ia diterima di jurusan astronomi, ia mungkin tidak akan bertemu pujaan hatinya yang notabene pengubah hidupnya.

Sesungguhnya Tuhan punya cara yang indah agar rasa kecewa itu berimbang dengan rasa bahagia, atau bahkan lebih.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Hai!

Aku balik lagi ^^

Semoga kalian suka sama chapter ini

See on the next chapter!

Bubye~