Colour

TaeKook / VKook

Main Cast :

Jeon Jungkook (GS)

Kim Taehyung

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Random

Disclaimer :

Cast(s) belong to god, their entertainment, and their parents but the story line belong to me

.

.

.

Chapter 12 "Biru Safir "

HAPPY READING

.

.

.

Ibarat batu yang bila berulang kali ditetesi air pasti akan berlubang, sama halnya hati. Sekeras apapun ia akan luluh. Gigihnya perjuangan seseorang pasti akan mampu menggugah nurani sosok yang berkeras hati.

Layaknya Jimin yang perasaannya berbalas. Suga, gadis menjadi incarannya sejak tahun pertamanya di universitas. Tak peduli bahwa gadis itu lebih tua, judes, ketus, cuek, dan irit kata-kata. Ia hanya tahu bahwa hatinya tertarik. Tahu nama dan fakultasnya saja tidak. Berbekal hanya dengan pertemuan yang tak disengaja, itu pun hanya sekali, Jimin selalu mencari tahu tentang gadis itu. Saat ia sudah mengetahui fakultas yang didiami si gadis, ia lantas dengan cekatan berkenalan.

Kesan pertamanya buruk. Ya, karena saat pertama bertemu, Jimin tak sengaja menubruknya hingga buku yang dipapah gadis itu jatuh berantakan. Kesan kedua, ia berkenalan dengan nada yang bagi si gadis sok bersahabat. Si gadis pun mengernyit dan meninggalkan Jimin begitu saja tanpa menjabat tangannya. Tanpa tahu, ia mempermalukan dirinya sendiri.

Tapi lihatlah sekarang. Cintanya berbalas. Suga menerima pernyataan cinta dari Jimin, 15 menit yang lalu, di bangku taman belakang yang cukup sepi. Usahanya yang gigih membuat Suga melihat kesungguhan itu. Sebetulnya Suga cuek bukan berarti tidak peka. Gadis ini justru memiliki kepekaan diatas rata-rata. Suga tidak buta untuk melihat bahwasanya Jimin berusaha mendekatinya sedari awal bertemu.

Suga pun memiliki rahasia. Dibalik topeng berwajah stoic itu, nyatanya hatinya pun terikat oleh Jimin sejak pertama sekali ia melihat lelaki itu mengikuti tes masuk kampusnya. Saat itu, tanpa sengaja, tes yang kebetulan diadakan di gedung fakultas nya berada. Ia yang sedang kebetulan lewat pun berjinjit untuk mengintip ke dalam ruangan yang biasa disinggahinya. Lelaki itu, tersenyum lepas bersama lelaki yang duduk tak jauh di sisi kanannya. Dan saat itu juga, semburat merah menjalar hangat melewati pipi chubby-nya. Suga jatuh pada pandangan pertama.

Bukan. Bukan karena Suga sok jual mahal atau sejenisnya. Ia hanya tak ingin salah pilih. Ia tahu, ia tak perlu bersusah payah mendekati lelaki itu karena sejatinya lelaki itu sendiri yang datang padanya. Ingin sekali ia menyapa hangat, namun dirinya yang memang tak pandai berekspresi menjadikannya sulit berinteraksi, bahkan dengan teman sekelasnya. Ia hanya akan berdehem atau menggerakkan anggota badannya. Ia hanya leluasa saat berbicara pada orang yang benar-benar dirasanya nyaman.

Disinilah ia sekarang. Ia baru saja menerima pernyataan lelaki dihadapannya. Ia bukam gadis yang munafik. Setelah melihat ketulusan yang dimilikinya, ia pun mengangguk dan mengatakan rentetan kata yang mampu menghipnotis lelaki dihadapannya itu. Jimin senang bukan main.

Jimin memeluk Suga dan sesaat setelah melepasnya ia tersenyum hangat. Tangannya terulur memberikan belaian lembut pada pucuk kepala Suga. Gadis itu miliknya sekarang.

Suga menunduk. Wajahnya semerah tomat. Ia tak tahu bahwa rasanya akan seperti ini. Afeksi yang diberikan Jimin berimbas besar pada psikologinya. Bukan hal buruk memang, tapi ia tetap harus belajar mengontrol emosinya lagi agar tak tampak seperti manekin.

"Noona manis sekali. Terimakasih sudah mau menerima pernyataan cinta ku."

"Ka_kau jangan memuji dan jangan berterimakasih berkali-kali."

Suga menghindari belaian yang sedari tadi bertengger apik dikepalanya. Ia malu, sungguh. Itu membuatnya tampak kehilangan kata-kata.

Jimin terkekeh. Ia tak menyangka sifat yang biasa ada pada diri kekasihnya itu berbanding 180 derajat dengan saat ia sedang tersipu begini. Ah, jangan salahkan Jimin bila ia jadi ingin terus menggoda Suga.

"Ayo ku antar kau ke kelas, sayang."

Merah semerah tomat rebus. Jimin menahan tawanya. Dengan segera ia menggenggam jemari Suga dan menariknya menjauhi taman belakang.

Seminggu berlalu. Kabar Jimin dan Suga yang menjalin kasih pun terdengar juga di telinga Jungkook dan Taehyung. Mereka memberi selamat dan mendoakan yang baik-baik. Tidak, bukan mereka. Sebenarnya hanya Taehyung yang mendoakan. Jungkook hanya berdehem saja disetiap doa yang dipanjatkan oleh Taehyung.

Jungkook berpikir. Suga tidak memberitahunya itu adalah hal biasa. Sepupunya itu memang irit bicara. Tapi Taehyung? Apa benar Jimin tidak bercerita apa-apa padanya? Mengingat mereka adalah sahabat, rasanya mustahil bila Jimin menyembunyikannya. Sudahlah, urusan mereka.

Taehyung mengikuti Jungkook dari belakang. Ia tersenyum manis dan balas membungkuk saat berpapasan dengan siapa pun. Jungkook pun menoleh, alisnya terangkat satu.

"Kau mengikuti ku?"

Taehyung mengangguk. "Aku tidak sedang mengikuti mu dalam artian buruk."

Jungkook berhenti tepat di depan kelasnya. "Lalu?"

Taehyung mengangkat buku panduan serta daftar absensi kelas yang akan dihadiri Jungkook. "Aku diminta menggantikan Pak Park untuk mengajar. Beliau sedang berhalangan hadir. Penanggung jawab kelas mu seharusnya sudah memberi kabar, bukan?"

Taehyung berjalan masuk mendahului Jungkook. Fakta yang sempat Jungkook lupakan adalah Taehyung ini berotak encer dan seorang asisten dosen. Bukan cuma di satu bidang studi, ia mampu menjadi pion saat ada dosen yang membutuhkan bantuannya, di bidang apa pun yang tentunya berhubungan dengan jurusannya.

Kelas menjadi riuh. Suasananya jadi tidak kondusif untuk belajar. Meskipun penanggung jawab kelas sudan menginteruksikan untuk diam, tetap saja, keberadaan Taehyung-lah yang membuat kelas menjadi gaduh. Tujuannya mengajar tapi malah berisik seperti itu.

Taehyung menoleh ke belakang saat tulisan yang ia buat di papan tulis telah selesai. Ya, ia membuat bagan dengan beberapa penjelasan singkat disana. Tanpa dijelaskan pun seharusnya para adik tingkatnya sudah paham.

"Oppa, mau tidak jadi pacar ku?" celoteh salah satu mahasiswi yang duduk ditengah. Parasnya imut sekali.

Taehyung tidak menanggapi pertanyaannya. Ia hanya tersenyum dan mengomando agar seisi ruangan mencatat yang ada di papan tulis selagi ia menerangkan dengan sangat detail namun mudah dipahami.

Jungkook melihat gerak gerik Taehyung di depan sana. Ia duduk di bangku paling belakang. Tangannya tak menulis sama sekali. Ia hanya memasang telinga, mendengarkan dan juga memperhatikan Taehyung.

Jungkook menghela nafas berat. Jatuh cintakah dirinya pada lelaki di depan sana? Hatinya belakangan ini selalu berdetak tak karuan meskipun hanya melihatnya dari jauh. Ya, Jungkook sudah jatuh. Namun perasaan bersalah membuatnya enggan mengakui itu.

Sepanjang pelajaran berlangsung banyak sekali perempuan yang bertanya seputar status Taehyung, profil, keseharian, dan sebagainya. Bila Taehyung merasa pertanyaan itu masih di ambang kewajaran, ia akan menjawabnya. Namun karena banyak sekali perempuan yang bertanya, para lelaki penghuni kelas pun menjadi berang. Tak jarang banyak yang memarahi dan menasihati para perempuan yang berisik itu.

Jungkook langsung keluar kelas tepat setelah bel itu berbunyi. Karena ia tidak mengeluarkan buku, ia menjadi orang pertama yang keluar dari kelas. Panas rasanya berada di kelas yang isinya banyak perempuan genit. Telinganya bisa tuli.

Jungkook tak sengaja menangkap siluet gadis yang diketahuinya bernama Sharon, satu tingkat dengan Taehyung. Gadis itu, gadis yang dilihatnya sewaktu di lapangan saat tengah hari bolong; yang memberikan sapu tangan dan mengusap peluh Taehyung yang sehabis berlari. Jungkook tahu betul, gadis itu menyukai Taehyung, tulus.

Jungkook tanpa sadar memperhatikan interaksi keduanya. Tampak cocok sekali. Taehyung sudah bertransformasi menjadi the most wanted di kampusnya dan bila disandingkan dengan Sharon yang blasteran, mereka sangat serasi. Bak pangeran dan putri di negeri dongeng.

"Ayo ke kantin, asisten dosen Kim!"

Sharon terkekeh. Taehyung yang mendengar pun ikut tertawa. Sharon mengalungkan lengannya pada lengan Taehyung. Taehyung tampak tak terganggu dengan hal itu. Namun selang beberapa detik, ia melepasnya perlahan. Ia tak mau membuat Sharon tak nyaman dengan penolakannya. Sharon terkejut namun sama sekali tak menunjukkan raut wajah sedih.

"Maaf kebiasaan buruk ku kambuh lagi."

Taehyung tersenyum tipis. Ia merapikan buku dan absensi. Sebenarnya banyak sekali yang mengerubungi Taehyung sesaat setelah selesai kelas, namun setelah Sharon datang, mereka pun pergi begitu saja. Kebanyakan mereka tidak menyukai keberadaan Sharon.

"Ayo, Sharon. Jadi tidak ke kantin?"

Jungkook mendengar ucapan Taehyung. Hatinya, entah kenapa berdenyut nyeri.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Hai!

Aku balik lagi ^^

Semoga kalian suka sama chapter ini

See on the next chapter!

Bubye~