Warning :(Sebelum baca cerita ini) Settingan cerita adalah Akhir perang dunia ninja, dan unsurnya setengah diambil dari Naruto-online, dan digabung dunia dari kisah Naruto-real. Jadi mari saya kenalkan tokoh utama saya dicerita kali ini.

Warning :
Beberapa plot dirubah [dengan sengaja] untuk membuat ceritanya sedikit nyambung jadi mohon pengertianya

Budayakan Vote/Komen sebelum baca


Part 6 : Kesiapan Hati


Dairy :

Taruhan itu muncul dihadapan kami
Layaknya merubah cerita dalam sebuah Alur
Kami mengikuti alurnya, untuk bertahan hidup.


Normal Pov :

"Huh.."Suara desahan tertahan dari Naruto terdengar pelan menatap sosok pria tua tegap, berkepala plontos memiliki kumis sedikit lebat diatas bibirnya, ia nampak menahan tangan Granosus dengan tubuh sigap dan mengumbar sebuah senyum aneh pada Eren dan lain.

"Ini luar biasa,"Gumanya. "

"Eh,"Ucap Naruto dengan kening mengkerut.

"Kau belum berubah sedewasa apa-pun dirimu, masih saja gampang merasa takut Felman,"Ucap seseorang itu masih menahan tanganya dengan kuat dari belakang. Granosus terkaget bukan kepalang menatap sosok yang menahanya.

"General Pixi,"Suara tercekat terdengar dari sosok Pemimpin bernama Felman yang memandang Horror, membuat semua kembali terbisu dengan suasana yang begitu canggung.

"Apa kau tak lihat bertapa, sempurnanya pemberian hormatnya itu,"Pandangan General mengacuh pada Armin. "Aku baru sampai, dan aku menerima semua informasi mengenai Situasinya,"Ucapnya serius namun seulas senyuman teka-teki. Ia memandang orang-orang baru disekitar para Cadet dan nampaknya menimang sesuatu.

"Kumpulkan para bantuan,"Ucapnya tersenyum pada Felman. "Menurutku kita bisa mendengar penjelasan mereka, akan berguna untuk kita,"Ucap General Pixi yang tersenyum, sementara Armin terjatuh lemas dengan rasa lega diwajahnya, begitu pula Mikasa, Eren, Naruto Sakura, Vasuf, sementara Shino menatap sosok Jacob yang ternyata datang bersama General Pixi, tersenyum lega, serta memberi kode dengan kedipan mata.

'Dasar, pantas saja dia tak ada tadi'

Seru Shino menyengit lega bersamaan para Cadet yang nampak mendekati mereka bertuju, bertujuan untuk melakukan pemeriksaan.

Setelah Eren, Mikasa, Armin Naruto, Shino, Sakura dan Vasuf mendapat pemeriksaan, sebelum mereka akan dipertemukan secara pribadi dengan General Pixi.

Namun selama pemeriksaan itu terjadi hal yang kurang nyaman serta tidak menyenangkan bagi dua Konochi dan Kunoichi yang datang dari Konoha itu Yaitu Sakura dan Vasuf yang membuat mata para Cadet bertuju pada rambut-merah muda, milik Sakura dan Vasuf memiliki mata merah sewarna darah segar. Untuk ciri Khas milik Naruto yang memiliki rambut pirang bermata biru, atau Shino yang berambut hitam dan bermata Coklat sudah sangat sering dijumpai pada warga atau manusia yang tinggal dalam dinding yang jadi pemandangan yang biasa.

"Liat matanya sangat mengerikan, warnanya seperti darah segar benarkah dia manusia,"

"Lihat rambutnya sangat aneh aku tak pernah melihat rambutnya itu seumur hidupku, apa rambutnya beracun,"

Mendengar bisik-bisikan para Cadet membuat Sakura dan Vasuf menghelah nafas, tak aneh bagi mereka memiliki Ciri seperti ini, karna di Konoha yang memiliki rambut atau mata seperti itu hal yang biasa. Kemungkinan tempat dimana mereka terpental ini tak ada yang memiliki genetik seperti rambut atau mata berwarna berwarna-warni milik mereka.


[Sakura here]
"Kau baik-baik Saja,"Suara terdengar lembut dan penuh sedikit kecemasan, mata Sakura melirik Ke-samping melihat sosok Eren yang nampak memandang Canggung, sementara Vasuf didekatnya hanya terdiam dan sibuk menatap sesuatu yang lain.

"Ya, kau sendiri bagaimana keadaanmu,"Tanya Sakura memandang datar, mata emerald Sakura memandang tatapan caggung dari Eren, mungkin karna Eren belum terlalu kenal dengan gadis itu dan ketiga rekanya, atau pemikiran lain.

"Aku merasa lebih baik, namun perasaanku tidak bisa merasa lega dengan mudah,"Ucap Eren menunduk menatap batu dipijakanya.

"Sangat wajar,"Ucap Sakura menghembuskan nafas memandang langit dan menatap sekumpulan burung berterbangan keangkasa. "Oh ya! Aku sudah melihatmu saat menjadi monster yang disebut Tittan itu, kau besar sekali,"Ucap Sakura mencoba mencari topik untuk membuat situasi yang tak secanggung ini.

"Ah!,"Eren tersendak lalu menatap bingung pada Sakura. "Aku sendiri bahkan tak menyadari hal itu,"Ucap Eren dengan nada murung, terliput beban rasa bersalah dimatanya."Aku merasa menyesali segalanya, bahkan menyeret masalahku sendiri pada Armin dan Mikasa,"Ucap Eren.

"Kau takut?! Juga Ragu untuk kedepanya,"Sakura memandang Eren dengan tatapan Serius, sementara Eren berusaha mengalihkan tatapanya kearah berbeda. "Nasi sudah jadi bubur, Masalah sudah tak bisa dirubah kembali jadi sekarang adalah waktunya untuk menghadapinya ,"Ucap Sakura singkat. "Jika kau tak ingin menambah rasa rasa bersalahmu pada mereka, ditengah neraka ini maka lindungi mereka,"Ucap Sakura panjang kali lebar.

"Aku tahu,"Ucapan Eren terdengar kecekik ditenggorokanya, sementara Sakura hanya tersenyum tipis saat itu, melihat pancaran mata Eren dia tahu jika Mikasa dan Armin adalah orang sepesial dihatinya. "Aku akan melindungi semuanya dengan kekuatan ini, untuk Mikasa dan Armin juga,".

"Jadi kau tak perlu ragu,"Celetuk Sakura meninju bahu Eren pelan, dan Eren yang menatapnya dengan mata yang tertotok. "Jika dengan langkah ini yang kau pilih maka, tak perlu ada rasa penyesalan, simpan penyesalan itu untuk sesuatu yang lain,"Ucap Sakura.

"Terima kasih Haruno,"Ucap Eren membari tersenyum tulus menatap gadis unik didepanya dengan tampa rasa canggung lagi diraut wajahnya.

[KETERANGAN : Dalam penyebutan Tradisi nama pada Attack on tittan identitas panggilan seseorang harus menggunakan nama keluarganya dulu baik untuk teman atau Formal, untuk menghargai orang itu, sementara seseorang yang memanggil nama kecil dari seseorang maka itu termasuk seseorang yang sudah dekat dengan pemilik Nama]

"Kau tak perlu memanggilku Haruno, aku tak suka terlalu formal, jika dengan situasi seperti ini,"Ucap Sakura menyengit. "Panggil saja Sakura,"Ucap Sakura lalu menyilangkan tangan kedepan.

"Baiklah, Sakura panggil saja aku Eren, kalau kau tak suka aku terlalu memanggilmu dengan formal maka panggil namaku juga,"Ucap Eren membuat Sakura tersenyum tipis, tak ada yang tahu dimana aura canggung itu menghilang dengan sendirinya, dan mencairkan suasana mereka lebih baik.


[Vasuf Here]
Sementara disudut tempat sosok Vasuf tengah menghelah nafas menatap sekeliling ia melihat sosok Armin, Naruto dan Shino tengah berbicara usai pemeriksaan, hingga mereka berkumpul diatas gedung pemeriksaan sekarang. Namun mata merahnya menangkap sosok Mikasa mendekat kearahnya dengan tatapan datar.

"Sedang melihat sesuatu,"Ucap Mikasa menyengit terlebih menatap mata merah milik Vasuf, membuat ninja sensorik itu menghelah nafas atas kewaspadaan Mikasa, ingatanya kembali teringat pada wanita berScarf merah, yang melewatinya begitu saja saat pertama kalinya mereka bertemu, ia tersadar disekitar para kawanan Tittan.

"Waspada dengan mataku,"Ucap Vasuf terang-terangan. "Semua lokasi kalian adalah hal yang baru untuku wajar bagiku untuk melihat sekitar,"Ucap Vasuf membuang pandangan sebal, sifat gadis yang pernah ditemuinya waktu itu masih membuatnya kurang nyaman.

"Matamu kenapa mengapa semerah darah,"Ucap Mikasa membuat Vasuf menatap Mikasa penuh, datar seperti dugaanya memang tempat mereka disini tak ada memiliki genetik mata seperti miliknya.

"Ditempat ku memiliki mata seperti ini, dan pancaranya normal seperti mata orang normal lainya,"Ucap Vasuf. "Mungkin saja genetik miliku sedikit berbeda dengan kawasan kalian,"Ucap Vasuf menjelaskan.

"Apakah masih ada dunia diluar dinding?!,"Ucap Mikasa menyengit penasaran membuat Vasuf menatap penuh selidik.

"Apa Maksutmu,"


[Shino, Naruto dan Jacob Here]
Jacob, mulai menanyai keadaan Mereka dengan antusias setelah Armin meninggalkan kedua pemuda itu karna Armin dipanggil seorang Cadet untuk membicarakan sesuatu.

"Jadi kau pergi untuk menemui General Pixi, dan memberikan laporan prihal kami pada beliau, terima-kasih kami tertolong,"Ucap Naruto menatap sosok Jacob yang tersenyum ramah, dan dibalas senyum oleh Jacob juga.

"Itu sudah menjadi tugasku memberi laporan pada atasan, tapi Felman memang bertindak sangat cepat sebelum mengabari kami semua,"Ucap Jacob.

"Tampa laporan anda General Pixi tak mungkin datang kemari, untuk itu kami berutan-budi padamu,"Ucap Shino menatap datar.

"Bukan masalah,"Ucap Jacob tertawa pelan. "Kalian juga sudah menolong para pasukan kami waktu itu, dan oh ya salah satu Cadet kami juga mengucapkan rasa terimakasi padamu tuan Uzumaki,"Ucap Jacob.

"Eh siapa,"Ucap Naruto dengan pandangan menyengit.

"Nama Cadetnya adalah Lina Cornelina,"Ucap Jacob membuat mata Naruto berbinar dan dengan senyum lega.

"Lina,"Ucap Naruto antusias namun Jacob menyengit saat Naruto menyebut nama kecilnya bukan nama Formalitas.

"Yupz..Saat ini gadis itu sudah dibawa kemarkas utama dalam, untuk mendapat perawatan, dia mengalami cedera patah tulang parah dilenganya membuatnya harus menjalani perawatan berbulan-bulan sebelum bisa kembali kepasukan,"Ucap Jacob.

"Syukurlah.."Ucap Naruto menghela nafas lega mendengar itu. Bayangan wajah ketakutan gadis berkuncir dua itu membuat ia teringat kembali, namun pandanganya berubah cepat saat sosok Armin nampak memanggil mereka semua, karna katanya komandan Pixi ingin bertemu mereka semua.


[Dinding gerbang Torst bagian dalam]

Mata keriput General Pixi memandang pemandangan warna sepia, diatas langit dengan pandangan datar, ia bergerak pelan memandang kebawah dengan pundak tegapnya melirik dibawah, mendapati Tittan-tittan mencoba memanjat namun tak berhasil.

"Aku belum menemukanya,"Desisya sebelum merasakan langkah kaki mendekat. "Andai ada Tittan sangat cantik disana, aku dengan rela dimakanya,"Ucapnya lalu berbalik menatap sosok Jacob menuntun tuju orang yang harusnya dipertemukan denganya.

"General saya membawanya,"Ucap Jacob dengan senyuman ramah, tak lupa dengan salam hormatnya.

"Bagus sekali Sir Lee mari kita bertanya,"Ucap General Pixi tersenyum sembari menatap serius ketuju orang itu. Mikasa nampak masih terjungukuk membantu Eren yang duduk ditanah, sementara Armin, Sakura, Vasuf, Naruto, dan Shino masih dalam posisi berdiri.

"Aku sudah mendengar semuanya, dari beberapa orang,"Ucap General Pixi dengan serius, lalu menatap serius keempat ninja dengan pandangan penuh minat. "Menurut saksi para Cadet kalian berempat memiliki kemampuan hebat diluar nalar, dan kalian tak datang dari dinding kami,"Ucap General Pixi Shino menyengit dengan penuh selidik dibalik kaca mata hitamnya, ia mendengar dari Jacob Dotcs Pixy adalah General strategi yang lihai dan Eksentrik.

"Bukan,"Ucap Shino membuka suara, membuat semua menatap padanya. "Kami bukan dari luar dinding, bahkan sekitar tempat ini, tapi cukup jauh,"Ucapnya datar.

"O,..oh aku semakin penasaran dengan itu,"Ucap General datar. "Kuharap kalian mau bekerja sama membuka jati diri kalian, agar tak menjadi musuh kami,"Ucap General dengan senyuman yang menurut Vasuf adalah paling berbahaya.

"Kami tak mau ada masalah untuk bertarung dengan kalian,"Ucap Shino datar, lalu General Pixi melirik serius kearah Armin dan lalu ke Eren.

"Saya tak tahu kapan tubuh saya bisa berubah seperti ini,"Ucap Eren menatap biasa. "Namun saat saya terdesak entah kenapa saya meresakan energi yang aneh dan perlahan sebuah ingatan tentang sesuatu yang mungkin ada kaitanya dengan perubahan itu,"Ucap Eren.

Akhirnya Eren menjelaskan duduk persoalanya dari dia yang menolong Armin, dan harusnya kehilangan tangan dan kakinya, yang entah kenapa justru bergenerasi serta muncul kembali, atau sebagian rahasia perihal ruang bawah tanah rumahnya, yang selalu dikunci dari dirinya yang mungkin ada hubunganya dengan ini.

"Begitukah!?, jadi menurutmu diruang bawah tanah itu, menyimpan jawaban yang aku cari selama ini,"Ucap General Pixi menangapi pembicaraan ini.

"Benar, apa anda mempercayainya,"Tanya Eren. Menatap lemah pada sosok Pixi yang membelakanginya.

"Kau sendiri tak begitu yakinkan?, baiklah kuanggap aku akan mempertimbangkan ini,"Ucap General Pixi tersenyum misterius.

'Senyumanya aneh' Kontak suara batin terdengar dari Naruto membuat ketiga temanya menyadari dan mengangguk tampa sadar.

'Hati-hati meski terlihat ramah dia orang yang berbahaya' Ucap Vasuf serius melirik Naruto dengan ekor matanya juga menatap Sakura dan Shino.

'Jadi kita tak bisa berbicara berlebihan didepanya secukupnya saja' Ucap Sakura dengan pandangan menyengit.

'Ada ide' Tanya Shino.

'Kupikir kau punya, maaf aku bingung menyusun kata-kata aku bukan Shikamaru-kun yang punya ribuan ide untuk menuntaskan masalah serumit ini, maaf,' Ucap Sakura dengan nada Frustasi.

"Aku punya sepertinya dan kurasa Berbicara ini, perlu!,' Ucap Vasuf.

'Vasuf umpan yang bagus 'Bicara','Ucap Naruto terdengar cerah nampaknya menemukan solusinya.

'Ide apa itu' Tanya Sakura dan Shino menatap Naruto horror membuat Mikasa yang menyadari perubahan keempat Ninja menyengit.

"Dan untuk kalian berempat mau menyatakan sesuatu menguatkan alibi kalian untuk pertimbangan untuku,"Ucap General Pixi lalu menyentuh pinggir kepala plontos miliknya dengan telunjuknya. "Silahkan aku menunggu,"Ucapnya.

"Tentu bisa,"Ucap Naruto dengan senyuman ramah dan terlihat polos, namun sebaliknya Sakura dan Shino nampak menyengit, menatap Vasuf yang tersenyum menatap Naruto yang setuju pada pemuda Kyubi itu seratus-presen.

'Apa yang mereka akan lakukan' Desis Mikasa dalam hati, sebelum pandanganya menatap pada Vasuf yang tersenyam-senyum misterius.

"Aku tak bisa membiarkan teman-temanku bertarung dengan konyol disini," Ucap Naruto serius. "Jadi kami ingin memberikan sebuah permintaan,"Jelas Naruto, membuat semua orang menyengit minus Vasuf.

"Apa itu?!,"Ucap General Pixi.

"Tampa sadar kami berempat langsung disini!,"Ucap Naruto. "Kami belum tahu arah bahkan alasan dan cara kami kembali kerumah,"Ucap Naruto serius pandanganya menatap kota hancur dipenuhi Tittan haus daging. "Kami akan membantu kalian dengan kemampuan kami sebagai ganti tempat bernaung sementara, kurasa kemampuan kami cukup membantu,"Jelas Naruto.

"Bagus!,"Ucap Vasuf tampa sadar, membuat Jacob mengeleng lucu.

"Menarik,"Ucap General Pixi dengan Tatapan tertarik lalu menatap Jacob yang mengangguk penuh perhatian. "Kita dapat manusia yang bisa berubah menjadi Tittan dan empat manusia bertenaga melebihi manusia biasa,"Ucap General.

"Sekarang mungkin kalian bisa memiliki bukti serta tujuan itu,"Ucap General menatap Eren sepenuhnya, lalu memandang semuanya satu persatu. "Saya sendiri akan menjamin keselamatan kalian semua,"Jelasnya. Mendengar itu desahan lega keluar dari semua orang, namun General Pixi mulai bersura memanggil Armin. "Cadet Arlelt!,"

"Siap!,"Armin yang terpanggil lalu menunjukan salam hormatnya, memandang General Pixi dengan gugup.

"Kau bilang dengan 'kemampuan raksasa' Kita punya kesempatan untuk merebut kembali kota,"Ucap General."Apa ucapanmu waktu itu yakin atau karna putus asa,"Tanyanya.

Armin kembali terlihat berpikir, lalu memutuskan membuka Suara kecil. "Keduanya, waktu itu saya ingin bicara jika Eren dalam bentuk Raksasa kemungkinan besar mengangkat bongkahan batu yang ada ditengah kota, untuk menutupi lobang di gerbang."Jelasnya serius. "Itu terlintas dipikiran saya,"Ucap Armin. "Tapi bisakah anda menganggapi jika kekuatan Eren bisa, membalik keadaan?,"Jelas Armin dengan sigap.

'Ghaki kita juga bisa mengangkat batu itu, masa hanya batu seperti itu tak bisa diangkat, aku benci sekali bau tubuh Tittan itu' Sunggut Kurama.

''Wah..Wah' Desis Sakura, Shino dan Naruto minus Vasuf, nampaknya serangga parasit Shino nampak tak sengaja membuat ke tiga orang lainnya jadi bisa berkontak langsung dengan Kurama didalam tubuh Naruto.

General Pixi menatap Tajam Armin dan membuang pandangan dengan pose berpikir, membuat Armin mencoba bicara. "Memang benar saya mengatakan itu karna ingin bertahan hidup, meski putus asa saya ingin bertahan hidup,"Ucap Armin tegang.

"Meski putus asa tapi ngin bertahan hidup,"Ucap General serius. "Kata-kata jauh lebih berharga dari apa-pun,"Ucap General Pixi berbalik memandang semua orang sebelum, ia menatap Eren sepenuhnya. "Bagaimana menurutmu Kadet Jaeger?,"Tanya Pixi.

Eren menatap Canggung semua orang. "Y-ya?," Lalu menatap General Pixi dengan serius.

"Apakah kau bisa menutup Gerbangnya,"Ucap General lagi situasi terasa aneh saat General mempertanyakanya. Membuat Eren mengusutkan rautnya dengan pemikiran penuh petanyaan terlebih untuknya sendiri.

"Itu..entahlah aku sebenarnya sama seperti kalian aku tak mengetahui banyak tentang ini,"Ucap Eren merasa bersalah karna meski merasa mengetahui sesuatu ia justru kebingungan pula. "Jadi aku merasa-,"belum selesai dengan perkatakaanya ia jadi teringat obrolan singkatnya dengan Sakura diatap gedung pemeriksaan.

{Kau takut?!, Nasi sudah jadi bubur, Masalah sudah tak bisa dirubah kembali jadi sekarang adalah waktunya untuk menghadapinya }

{Jika kau tak ingin menambah rasa rasa bersalahmu pada mereka, ditengah neraka ini maka lindungi mereka}

{Jadi kau tak perlu ragu}

{Jika dengan langkah ini yang kau pilih maka, tak perlu ada rasa penyesalan, simpan penyesalan itu untuk sesuatu yang lain}

Ingatan itu membuat Eren reflex menatap Sakura yang tengah menatap kearah lain, dengan tatapan datar. Lalu kembali Eren menatap kota yang nampak terancam dibelakangnya dengan pandangan gelisa. "Saya akan melakukanya, meski saya tak yakin apa saya bisa menutup gerbangnya atau tidak, tapi saya akan tetap melakukanya,"Ucapnya dengan tegar.

"Jadi keputusan sudah diambil,"Ucap General Pixi bangkit lalu memandang para Ninja menatapnya datar. "Kurasa aku sudah tau apa yang kalian akan lakukan,"Ucap General Pixi.

"Kami siap,"Jawab Vasuf.

"Yosha!,"Ucap Naruto menekik dengan Girang.


Mendengar itu, mereka bertuju membuat rencana bersama Jacob dan General Pixi, dan setelah rencana terhimpun matang akhirnya General Pixi menbuka prihal Eren serta mengatakan jika Eren adalah manusia hasil penelitian untuk merubah menjadi raksasa membuat semua tercengang bukan main, kebenaranya pula menjadi alasan mengapa misi ini akan berjalan. General juga memperkenalkan ke-empat ninja dengan mengatakan mereka prajurit terlatih yang dirahasiakan identitasnya mereka juga akan membantu misi Eren dan para Cadet, dalam memindakan bongkahan batu ditengah kota untuk menutup lubang didinding Maria.


"Sakura-san,"Panggil Vasuf tiba-tiba saat mereka mempersiapkan diri untuk menjalankan misi, Sakura memilih mengepang rambutnya agar tidak menyusahkan ketika bertarung.

"Apa tidak sebaiknya kau berada disini,"Ucap Vasuf sementara Sakura menatap bingung. "Kami akan keluar dinding yang berlubang itu bersama pasukan itu, kau adalah ninja medis kau bisa membantu orang disini,"

"Vasuf-kun, aku tahu kau minta aku disini karna kau menaati protokal Anbu 232 untuk mengamankan Ninja medis-kan,"Ucap Sakura.

"Ya, karna Ninja medis adalah satu-satunya menjadi pioritas team,"Ucap Vasuf. "Jika terjadi sesuatu pada kami kau tetap aman,"Ucap Vasuf.

"Jika terjadi sesuatu pada kalian aku justru tak akan memaafkan diriku sendiri,"Tatap tajam Sakura. "Kita terdampar bertiga, dan aku tak mau kita terpisah, aku akan mengabaikan semua protokol dan akan selalu berada disamping kalian,"Ucap Sakura datar.

"Aku sudah menanggapmu seperti Adik-kecilku, dan aku tak mau terjadi sesuatu padamu, aku tahu kau kuat dan kemampuan Naruto dan Shino juga, tapi aku tetap ingin melindungi kalian aku tak mau melihat saja dibelakang,"Ucap Sakura.

"Sakura-san,"Vasuf menghelah nafas menunduk malu, sementara Sakura membelai rambut hitam pemuda itu.

"Kita akan berjuang sampai akhir,"Sebuah ucapan muncul dari sosok Naruto yang muncul disamping mereka. "Kita akan terus hidup sampai kita bisa menemukan cara untuk kembali,"Ucap Naruto membuat ketiga Ninja itu tersenyum bersama.

"..."Shino terdiam dan berdehem memperhatikan ketiganya, ia memutuskan mendekat namun sebelum itu Eren dengan cepat menyapanya membuatnya berhenti.

"Ano..General Pixi sudah menentukan waktu, kita harus segera bergegas kedinding,"Ucap Eren membuat ketiganya juga tersadar dengan cepat dari situasi ceriah tadi, lalu memutuskan untuk serius.

"Ayo pergi,"Sela Naruto.

Para team Ninja memutuskan akan mengikuti instruksi yang sudah dibuat bersama. Naruto akan membantu team scot untuk pengumpan para Tittan dilapangan untuk menjauhkan mereka dari Eren jika pemuda itu berubah menjadi raksasa, Shino memutuskan bergerak bersama team Jacob mengefakuasi keadaan sekitar mereka lebih dekat dengan dinding dan dibantu dengan bantuan team meriam misil, sementara Vasuf dan Sakura diputuskan untuk membantu Mikasa menjaga Eren dari segala macam bahaya, mereka berdua disatukan karna sebagai Ninja medis sudah sesuai aturan bahwa Sakura harus dijaga, dan mengabaikan sesuatu terburuk yang mungkin akan terjadi Vasuf bisa mengawasi serta menjaganya. Untuk kali ini Armin tidak turun bersama yang lain karna menjadi strategis didinding bersama strategis lain serta General Pixi.

[Sakura/Vasuf here]
"Semua terlihat menegangkan,"Ucap Vasuf yang kini mergelantungan pada leher Corney dan melihat dimana para pasukan berpencar.

"Tentu saja,"Suara datar terdengar pelan dari mulut sosok Cadet wanita berkacamata bening menatap serius. Mereka berhenti tak jauh dari lokasi batu, diatas salah satu atap menatap sekeliling nampaknya para umpan prajurit berhasil menjauhkan lokasi ini dari Tittan untuk sementara waktu."Cadet, Eren dalam misi ini tak sedikit orang yang akan mati, demi kamu,"Selanya memandang Tajam pada Eren. "Mereka adalah Sudara, sepupu, adik akademi, dan senior kita, mereka siap bertempur dan mempertaruhkan nyawa mereka, dan mereka bukan pion catur yang tak bernyawa,"Desisnya tajam.

Sementara semua kembali terdiam mendengarnya, Eren nampak terlihat tertotok pada ucapan Cadet wanita itu, Vasuf turun dari gendongan Corney dan Sakura akhirnya dibantu turun oleh Mikasa, dan percakapan Eren dan wanita itu nampak belum usai.

"Kau tahu mereka memiliki nama keluarga dan memiliki perasaan,"Jelasnya dengan nada terdengar mulai meninggi. "Alyusha, Dominique, Phine, Isabelle, Ludwig, Martina, Guido, Lee, Hans."Ia mencoba menyebutkan nama-nama marga keluarga besar, yang bergabung untuk pertempuran ini, mendengar itu membuat Vasuf merasakan kesedih luar biasa yang keluar dari tubuh wanita berkaca mata. "Mereka adalah beberapa manusia yang siap meneteskan darah kapan saja, sebagian dari mereka telah berbagi roti denganku saat aku masih menjadi Kadet,"Jawabnya sendu dengan penuh rasa duka. "Sebagian dari Mereka mungkin akan mati hari ini, demi kamu jadi bertanggung jawablah untuk agar kematian mereka tidak menjadi sia-sia. Simpanlah itu dihati naifmu dan siapkan nyawa mu untuk itu,"Ucapnya menunduk.

"SIAP!,"Ucap Eren menatap batu itu dengan pancaran mata yang marah, entah kenapa justru membuat perasaan Vasuf merasa akan terjadi yang buruk nantinya.

"Vasuf-kun kau tidak apa-apa?!,"Tanya Sakura menangkap tatapan Vasuf yang terlihat cemas lewat mata emeraldnya.

"Aku baik-baik saja Sakura-san,"Jelas Vasuf mencoba menetralkan wajahnya, dan diam-diam Mikasa memperhatikan ninja lelaki beriris merah itu, dengan pandangan tak bisa ditebak.

Banyak orang akan yang kehilangan keluarga dan teman-teman mereka untuk misi ini, kenyataan menyedihkan ini tak bisa diabaikan. Rasanya begitu berat memikirkanya.


"Tetap ditempat gulir mereka kemari,"Ucap seorang Cadet senior berdiri diatas atap diikuti 10 kadet yang lain yang sengaja berkumpul dalam satu posisi untuk memancing lebih banyak Tittan.

"Mereka mendekat ketua,"Seru seorang Cadet dengan wajah ketakutaan melihat enam Tittan berbondong-bondong dimenuju mereka.

"Wah mereka cukup lamban?!,"Seru Naruto menatap serius. "Berbeda dengan Tittan gressive seperti kemarin."Ucap Naruto memunculkan Bunsin disampingnya sebanyak enam orang, membuat Para Cadet berdecak kagum. "Shino!,"Panggilnya.

"Huuuh..Ayo aku siap,"Ucap Shino datar bersamaan tubuhnya yang tadi menghilang muncul dengan banyaknya koloni Serangga yang muncul membentuk tubuh Shino.


[Bersambung]
[Minggu-22-April-2018]

Noctis : Halo All terimakasi atas dukungan kalian pada cerita kami, Bagi yang nunggu Levi bakal muncul #Natap pm terselubung# kuhkuhkuh...bakal kemungkinan muncul part depan, maaf plot list kepanjangan sengaja untuk menyediakan part pertarungan dicerita kedepan jadi mohon maaf...bye all sampa jumpa part depan 😌