Warning :(Sebelum baca cerita ini) Settingan cerita adalah Akhir perang dunia ninja, dan unsurnya setengah diambil dari Naruto-online, dan digabung dunia dari kisah Naruto-real. Jadi mari saya kenalkan tokoh utama saya dicerita kali ini.
Warning :
Beberapa plot dirubah [dengan sengaja] untuk membuat ceritanya sedikit nyambung jadi mohon pengertianya
Budayakan Vote/Komen sebelum baca
Dairy :
Banyak kehidupan yang diambilnya
Dengan sebuah tujuan 'Kota' serta 'dindingnya' rasanya berat dan menyakitkan melihat apa yang terjadi disekitar demi munuai pembuktian bahwa 'Pengorbanan' tak berakhir sia-sia.
[Naruto/Shino here]
"Oi kalian berdua kenapa kalian tidak menghindar.,"Teriakan sang pemimpin Cadet terdengar cemas. Naruto dan Shino justrut tak bergeming saat semua Cadet menghindar dari atap, saat salah satu Tittan besar memukul kearah mereka membuat atap tempat Naruto berpijak setengah hancur.
"Sebaiknya kalian tetap berformasi sesuai dengan apa yang biasa kalian lakukan,"Desis Shino, sembari menatap pemimpin itu dingin, Cadet menatap bingung bersamaan dengan tatapan santai Naruto.
"Kami akan bertarung seperti yang kami biasanya lakukan sebaiknya jangan bengong,"Ucap Naruto memandang serius, memunculkan sebuah bayangan bunshin lagi, mereka terserentak saat sebuah tangan dilayangkan oleh Tittan itu untuk kedua kalinya.
"Baiklah,"Ucap Cadet tergagap bingung.
Naruto melompat keatas udara dibantu Bunsinya, meski terlihat sangat berbahaya karna ia sendiri melempar tubuhnya, di kawanan Tittan, membuat semua menyengit ketakutan.
◇[Rassengan No Shuriken]◇
Sebuah pusaran angin muncul dari tanganya sebesar bolam sebuah lampu dan kiyan membesar, ditanganya dalam beberapa detik berbentuk seperti sebuah pusaran jarum angin, dan dilempar dikaki Tittan.
"Sebaiknya kalian siap untuk menyerang titik lemahnya,"Ujar Shino sebelum menghilang menjadi serpihan koloni Serengga hitam yang menuju Tittan lainya. Mendengar ucapan Shino para Cadet menyiapkan diri dengan Audens dan tabung-gas, senjata mereka masing-masing tampa bertanya lagi, mereka merasa yakin jika dua agent yang diperkenalkan General Pixi itu bisa membantu mereka.
Semua pandangan kembali menatap pusaran angin jarum dikaki para Tittan, benda kecil itu tiba-tiba berubah menjadi pusaran besar yang tiba-tiba meledak bagai jarum tajam yang menembus kaki Tittan diatasnya. Darah semakin banyak keluar dari Kaki Sebagian dari para Tittan beberapa terjatuh menimpah atap rumah karna kehilangan keseimbangan, para Cadet tak segan memanfaatkan kesempatan untuk beterbangan menyerang bagian Vital musuhnya.
Pandangan Horror para Cadet terlihat kaget, bagaimana sabetan angin mampu melukai kaki tebal Tittan yang memiliki daging yang kuat, Ketua Cadet itu lalu fokus, meminta rekan-rekanya untuk menyebar menyerang tulang belakang Tittan-Tittan itu secara beramai ramai. Sementara Shino bertugas menganggu indra penglihatan mata para Tittan dalam jangkauan dengan serangga parasit yang kini melebur bersama tubuhnya.
Naruto yang tak menunggu semua para Cadet dan Ketuanya yang tengah bertempur, memutuskan bertarung sendiri tampa bantuan yang lain. Saat menyadari Tittan lain nampak mendekat karna terpancing dengan aroma darah yang terpencar dari kaki-kaki tittan pendek yang dilukai oleh Naruto.
"Gomenee..tapi aku tak bisa membiarkan kalian semua untuk mendekat,"Ucap Naruto berlari melewati Atab dihadapan terlihat terdapat tiga Tittan bertubuh setinggi rumah lantai tiga dan, melompat keudara, tak lupa dia mengeluarkan bunsin dirinya untuk membantunya melompat lebih tinggi.
"GOARTTTRRR!,"
Ketiga Tittan itu mengerang marah, lalu bergerak secara monoton untuk menangkap Naruto dengan tangan mereka, membuat Naruto menghindari tangan-tangan itu, dan malah berpijak pada tangan salah satu monster itu. "Merasa tak puas tidak bisa menangkapku?,"Tanyanya.
Tatapan serius Naruto nampak terpancar kuat dari matanya, sebelum sebuah bola Chakra angin berwarna biru muncul ditanganya, dan ia memusatkan Chakranya membuat bola itu memiliki warna kemerahan.
◇[Kyoudamato Rassengan]◇
Ledakan Chakra kembali besit mengudara, membuat Tiga Tittan terlempar kebelakang dengan kondisi kepala mereka yang hancur lebur bagai habis diletakan dimesin pengiling, angin juga nyaris menghempaskan beberapa sepihan bangunan dan bahkan tak sengaja mengenai beberapa bangunan dibelakangnya.
"Naruto jangan mengunakan kemampuan itu sebarangan, kau tahu apa yang akan terjadi jika kelewatan,"Ucap Shino muncul disamping Naruto saat pemuda itu mendarat diatas sebuah atap. Pandangan Naruto justru beralih pada Squad yang bersamanya berhasil mengurus enam Tittan tampa adanya korban jiwa.
"Maaf aku sedikit bersemangat, nampaknya Kurama bersemangat mengalirkan Chakranya padaku karna membenci bau dari monster-monster itu,"Ucap Naruto memandang kikuk. Sebelum Shino langsung mendorongnya kebelakang keras hingga ditangkap oleh Cade bernama 'Conney'.
"Oi Shino apa yang kau lakuka-"Racauw Naruto cemberut, karna Shino mendorongnya dengan sengaja, dengan cepat ia menatap sosok Shino yang berlari melompat dan menancapkan kunai pada dagu Sosok Tittan yang hampir memakan Naruto jika Shino tak mendorongnya.
"Jangan lengah Naruto,"Ucap Shino datar sebelum mendorong Kunainya lebih dalam kedinding dagu monster yang meracau Sakit. "Serang titik lemahnya,"Ucap Shino.
◇[Hijutsu: Mushidama]◇
Para serangga dalam tubuh Shino nampak begitu Aktif keluar bersamaan Chakra berwarna ungu kehitaman, perlahan serangga itu memasuki cela lubang luka monster akibat Kunai yang ditancapkan Shino, dan selang beberapa detik, Shino memutuskan menjauh Dari monster yang berteriak kesakitan dan mengelepar-gelepar ditanah, ia nampak kesakitan yang luar biasa, sebelum selaput mata-nya dan hancur dan muntah darah, akibat serangan Serangga pemakan Chakra yang menghancurkan dia dari dalam.
"Semuanya tetap pada posisi kalian, kita harus tetap fokus menjadi umpan untuk menjauhkan mereka dari Cadet Yeager,"Suara Conney terdengar kecil. Lalu memandang Ketua Scot mereka Masaya. "Bagaimana Masaya-san,"Ucap Conney, sembari menahan tubuh Naruto.
"Ya kita memang harus menjadi umpan, Terus membunuh lebih banyak lagi untuk mengundang mereka lebih banyak mendekat,"Ucap Masaya.
"Kami akan membantu kalian lebih untuk mengurus lawan,"Ucap Shino. "Sebaiknya kalian menjaga jarak sedikit dari kami saat bertarung jika kalian belum terlalu terbiasa dengan kemampuan kami, kalian punya kesempatan memotong kaki dan tulang leher mereka saat mereka lengah,"Ucap Naruto.
"Kami bisa bertarung secara lebih kami tak bisa mengandalkan kalian dalam waktu berjam-jam,"Ucap Masaya menatap cemas. Memang benar para Scoud tak bisa selamanya, bergantung pada Naruto dan Shino, yang terlihat sangat kuat selain mereka belum terbiasa dengan serangan Naruto yang bisa menghancurkan apa-pun disekitarnya, salah - salah justru mereka akan terluka.
"Aku paham maksut kalian,"Ucap Shino datar. "Kalau begitu bagi team ini, beberapa dari kalian yang mampu bergerak secara leluasa menenyerang akan ditempatkan didepan, dan dibelakang akan ditempatkan untuk bertahan mencover didepan jika terjadi sesuatu,"Ucap Shino membuat Masaya menyengit.
"Apa maksutnya itu,"Ucap Masaya menyengit.
"Tak-tik untuk semua Team tidak terbunuh."Jelas Shino menatap datar, andai Shikamaru yang jenius itu ada disini mungkin meski malas, dia pasti mau menjelaskan. "Sebelum kita meninggalkan dinding aku melihat beberapa dari kelompok nampak kesulitan menggunakan benda dipinggang kalian itu,"Ucap Shino menata Logam 3d maneuver gear. "Jika asumsiku benar beberapa diantara kalian yang mengikuti misi ini adalah pemula,"Jelasnya membuat semua orang itu menyengit.
"Shino,"Panggil Naruto.
"Jangan berkata apa-pun Naruto, aku mencoba membuat semuanya bekerja sama untuk membuat mereka tidak terbunuh, kemungkinan bertahan hidup dilokasi misi sangat kecil,"Ucap Shino menatap Naruto tegas.
"J-jika begitu,"Masaya menenguk ludah dengan Tegang sebelum menatap semua Cadet bawahanya, tebakan Shino memang benar jika beberapa Cadet yang mengikuti misi dan yang juga ada dalam kelompoknya memiliki beberapa pemula, yang sebenarnya belum siap untuk bertarung digaris depan. "Apa usulan kalian,"
"Tentukan dari kalian bersepuluh,"Desis Shino mulai membahasnya.
Eren, yang nampak menghempaskan tubuhnya kedepan, Cadet Rico nampak meminta Sakura dan Vasuf untuk tidak terlalu dekat dengan sekitar Eren Saat Berubah, karna mungkin akan membuat mereka Terluka, hal itu membuat Kedua ninja itu memutuskan berdiri jauh dari pijakan Mikasa, karna tatapan tak nyaman yang diberikan Rico.
Eren menghempaskan tubuhnya, mengaktifkan gas dengan dua kawat bercabang merekat dari berbagai sisi layaknya sebuah kolper yang ditarik ulur, pada dinding bangunan pemuda itu nampak gesit melompat serta melayang dengan mulus dari satu pijakan kepijakan lainya, sampai didekat batu besar yang di minta ia melukai tanganya sendiri, membuatnya langsung bertransformasi menjadi Raksasa dalam waktu relatif singkat.
Rico menyengit takut, tapi berbeda dengan Mikasa gadis itu menatap dengan sececar harapan dimatanya.
'Harapan untuk hidup'
'Harapan untuk menang'
'Harapan untuk melawan'
'Harapan untuk kebebasan'
Vasuf terdiam memandang sekitarnya, sebuah sisi emosional manusia dapat dirasakan diberbagai tempat ditanah ini, perasaan itu terasa diatas normal namun unik baginya, Vasuf yang hidup sebagai manusia hasil penelitian selama 5 tahun, bisa merasakan sesuatu tingkat emosi seorang sebanyak ini, adalah hal baru untuknya.
'Sakura-san!' Panggil Vasuf dengan pandangan lurus mengaktifkan mode batinya
'Ya?' Ucap Sakura menatap pemuda bermata merah disampingnya.
'Aku merasakan hal yang aneh' Desisnya dengan jujur menatap polos layaknya anak kecil.
'Apa kau merasakan sakit atau sesuatu?' Tanya Sakura menatap sembari merasa cemas, ia tak pernah melihat Vasuf seaneh ini dalam pemeriksaanya bersama Tsunade sama.
'Tidak sama sekali' Desis Vasuf Rautnya terlihat membuat Sakura memandang semakin cemas, karna raut Vasuf tidak bisa dibaca keadaanya.
'La-lalu! Ada apa Vasuf' Tanyanya penasaran.
'Aku merasakan kekosongan disini' Ucap Vasuf menunjuk hatinya, membuat Sakura terdiam, dan memulai memikirkan makna gerak gerik Vasuf yang terlihat berbeda, sisinya tidak terlihat buruk namun..membuat Sakura teringat dengan pada Tsunade sang Guru.
•●■Flastback■●•
"Danzo memiliki sebuah subjack manusia buatan yang dibuat di Laboratorium rahasia, dibawah Konoha, setelah di cek kerahasiaanya dari Sai setelah kematian Danzo,"Tsunade menatap tenang Sakura dihadapanya ia memberikan sebuah laporan map Subjact ke Sakura. "Kita harus meneliti tentang struktur komposisi tubuhnya, dan kerahasiaan pembentukan dirinya,"Tatap Tsunade tegas.
"Pemuda ini,"Tanya Sakura menatap selembar Foto yang tertera di map, dengan tatapan menilai.
"Namanya RV dia adalah kloning hasil buatan yang dari penciptaan gen manusia dan beberapa gen sumsu tulang orang orang dari klan yang berpengaruh, aku ingin melihat seperti apa dan perkembangan dirinya, dan mulai hari ini aku ingin kau menjadikan dia sebagai Subjact pengawasan untukmu Sakura,"Ucap Tsunade memandang Sakura.
"Siap nona Tsunade sama,"
●Sakura met Vasuf●
Sakura memasuki sebuah ruangan dengan penojol serba putih, dimana ia melihat sosok pemuda berambut ravend sebahu, bermata merah menyalah duduk diatas kasur menatap kosong jendela ruangan yang mambarkan patung petinggi Konoha berdiri megah disana.
"Ummm...selamat pagi Saya Sakura Haruno, Akan memeriksa kondisimu hari ini,"Ucap Sakura mencoba mencairkan suasana yang terlalu tenang namun justru membuatnya tidak terlalu nyaman.
"Hmm...silahkan lakukan apa-pun yang kau mau dan pergilah,"Desis Vasuf menatap dingin, pemuda itu seolah tak ingin zona nyamanya terganggu.
Pertemuan itu memang sangat Dejavu juga canggung, Sakura tak bisa mengatakan jika itu adalah pertemuan yang sangat menyebalkan kenapa .subjact bertingkah seperti itu. "Kau bisa menunjukan ekspresi yang lebih baik saat seseorang ingin memeriksamu,"Ucap Sakura cetus.
Pertemuan Sakura dan Vasuf terus berlanjut, kunoichi itu mulai terbiasa dengan tingkah dingin menyebalkan Vasuf dari hari - kehari. Ia juga mempelajari banyak hal sampai ada kalanya ia merasa jenuh dengan sikap pemuda itu.
"Bisakah tingkahmu lebih baik saat pemeriksaan,"Jelas Sakura suatu hari saat melakukan pemeriksaan lanjutan pada Vasuf.
[Sampai suatu hari]
"Merubah apa-pun tak akan memberikan dampak yang selalu baik, hasilnya akan tetap sama,"Desis Vasuf mengalihkan pandangan dengan kosong.
"Kenapa kau berkata begitu,"Jerit Sakura sinis. "Kenapa kau menyikapi lingkunganmu sebegitu dinginya,"Desis Sakura sifat Vasuf mirip dengan sifat Sasuke teman sekelompoknya dulu, namun bedanya pemuda hasil experiment itu tak menunjukan progress pengembangan apa-pun dari segi emosi. "Apa kau ini batu,"Desis Sakura.
"Aku cuma boneka bagi kalian, aku hanya hidup untuk senjata tak lebih dari itu,"Ucap Vasuf tajam, ucapan Vasuf seolah membuat Amarah Sakura memuncak dalam sekejab.
"Bodoh,"Desis Sakura menunduk kesal menatap kesal Vasuf. "Sesimpel itu kau memaknai hidupmu,"Ucap Sakura dengan nada suara semakin meninggi.
PLAK!
"Tapi..aku ini diciptakan karna tuan Danzo, dan aku harus hidup untuk perintahnya, Aku..,"Ucap Vasuf datar bahunya tergetar secara otomatis membuat Sakura terdiam, pemuda experiment gelap milik Danzo tidak menyerangnya meski Sakura menamparnya dengan keras, tapi Sakura mendapat hantaman dari kata-kata.
"Danzo sudah tak ada, kau tahu itu,"Sakura membuka Suara dan suaranya merendah dan menatap mata merah Vasuf dengan penuh rasa bersalah.
"..."Vasuf terdiam, kembali tentu saja dia tahu masa pengalihan tuan Danzo telah benar-benar berakhir. "Maka dari itu aku kehilangan pijakanku, aku sudah tak memiliki tujuan,"Ucap Vasuf apa adanya.
"Tidak,"Sakura menggeleng kuat dan Vasuf menatap mata emeraldnya dengan banyak makna. "Danzo sudah pergi dan sekarang kau sudah bisa memilih alasan baru untuk dirimu sendiri,"Jelas Sakura lalu mendekat dan lalu memeluknya entah bawaan kasihan atau apa. "Seperti Sai yang terus berjalan, dan hidup di konoha, serta menerima identitas miliknya, dan teamnya untuk saat ini,"Desah Sakura.
"Seperti apa itu,"Guma Vasuf dengan nada bertanya.
"Kau bebas memilih dan mengikuti sisi manusiamu inginkan, untuk hidup barumu, VR,"Desis Sakura dengan pelukan yang dikencangkan.
●■Flastback and■●•
"Sakura-san...Sakura-san, kau mendengarku!," Sebuah dentuman kasar terdengar memenuhi telinga Sakura, bersamaan dia menatap tubuhnya digendong Vasuf yang nampak menjauhi sebuah bangunan dari ledakan. "Sakura-san...Sakura-san ada apa! Kenapa kau tak bereaksi!, SAKURA SAN!,"Teriaknya seketika membuat Fokus Sakura teralihkan pada sekitarnya, dan turun dari gendongan spontan Vasuf yang tadi menghindari puing atap yang hancur, ia melihat sekitar yang berubah 100% tak sesuai dengan rencana awal mereka, dimana ia melihat kondisi Eren yang mengamuk dan justru lupa tujuan serta menyerang Mikasa, sementara Rico dan beberapa Scuad nampak berbicara secara spontan jika misi mereka sudah 'Gagal'.
"Misi ini Gagal,"Desis Sakura tak percaya, ia mengalihkan pandangan pada Vasuf yang mengangguk sebagai jawaban.
"Dia kehilangan sisi manusianya saat berubah menjadi Raksasa, ia tak ubahnya sekumpulan daging yang sama seperti mahluk pemakan seperti mereka,"Ungkap Rico cadet berkacamata itu mengeluarkan sebuah pistol tanda ditanganya dengan gemetaran.
dari sakunya, mata harapanya kembali pupus dan sirna saat memandang teman-teman Scootd cadetnya yang lain, namun berbalik dengan Mikasa yang berusaha mengembalikan kesadaran Eren berkali-kali meski begitu nekat.
"Menghindar Ackerman,"Teriakan satu rekanya terdengar saat Mikasa muncul didepan wajah Eren mencoba apa-pun caranya untuk membuat pemuda itu Sadar.
"EREN INI AKU MIKASA! AKU KELUARGAMU, APA KAU LUPA TUJUANMU KAU HARUS MEMINDAKAN BATU ITU UNTUK MENUTUP GERBANGNYA!,"Jeritan Mikasa terdengar tiada gentar, namun ini berbalik berbeda dengan kondisi pasukan disekitarnya.
"Mikasa awasss,"Teriakan Sakura terdengar, membuat Mikasa spontan menghindari Eren karna Tittan itu kembali bergerak agresif menyerangnya dan akibat itu Eren menyerang wajahnya sendiri dan terjatuh lemas tak sadar. Suara letusan tembakan terdengar menunjukan Rico menembak pistol penandanya, yang berwarna merah untuk memberitahu semua.
"Ketua Ian terjadi sesuatu yang Gawat!,"Suara taegas terdengar dari Sosok Cadet yang menatap mereka dengan wajah cemas. "Beberapa Tittan abnormal mendekat kesini, Tittan berukuran 8 meter, 10 meter dan yang paling tinggi 12 meter!,"Mendengar itu semua semakin tercengang hebat.
"Ian kita harus mundur! Bocah itu tak akan bisa menutup gerbangnya,"Desis Rekanya.
"Kau benar! Kita harus meninggalkan dia disini,"Ucap Rico mendekat pada mereka, sementara Mikasa memandang Rico dengan pandangan penuh kemarahan, Ian yang melihat tatapan Mikasa itu hanya tertunduk seolah tak bisa melakukan apa-pun selain kabur.
"Tapi kita tak bisa membiarkan dia disini sendirian,"Ucap Vasuf membuka Suara. "Apa kalian tak bisa mengusahakan sesuatu untuk dia,"Ucapnya menatap tubuh Tittan Eren.
"Tapi kau sudah lihat kenyataankan mata Merah!,"Sela lelaki itu tajam pada Vasuf. Ia beralih menatap Ian disampingnya. "Ian cepat berikan kami perintah, kami tahu sebagai ketua ini bukan salahmu, kita semua sudah mencoba namun ini percuma kita akan kembali ketembok apa-pun yang terjadi,"Dan ucapan itu Sontak membuat Emosi Mikasa Naik dan Sakura menahan tangan wanita itu dengan segera.
"Tenanglah Ackerman,"Seru Ian dengan tatapan serius mencoba membuat siasat baru. "Rico kau coba hadapi Tittan dengan tubuh setinggi 12 meter dibelakang, Reguku dan Mitabi akan mencoba menyerang dua Tittan didepanya,"Jelas Ian dengan lancar.
"APA!,"
"Akulah yang memimpin Squad ini. Diam dan patuhi perintahku, Kita tak bisa membiarkan Jeager tidak dalam perlindungan. Jadi kita ganti misi kita sampai Jeager aman kita harus melindunginya dari para raksasa, dia mewakili kesempatan umat manusia kita tak bisa meninggalkanya begitu saja,"Desis Ian dengan tatapan serius, dan berpaling menatap tubuh Tittan Eren dengan pandangan penuh harapan. "Seperti kita dia tak bisa digantikan oleh apa-pun,"Desisnya.
"Kau bodoh! Padahal nyawa ratusan manusia sudah dikorbankan untuk experimen gagal itu,"Jerit Rico frustasi. "Sekarang kau justru mau membawanya kembali dan membuat kejadian ini terulang kapan saja,"Desis Rico marah.
"Kau benar,"Geram Ian. "Tapi kita harus mencobanya,"Desis Ian dan pertengkaran kembali terjadi pada mereka. Sakura memutuskan untuk Fokus melihat sekitar dan keadaan ia mencoba mengumpulkan chakranya diam-diam agar bisa bertarung tampa hambatan, kalau perlu sampai ia bisa menghancurkan sekitarnya.
"Aku tak bisa menerimanya!, tapi aku akan mengikuti usulanmu, menurutku perkataanmu ada benarnya,"Ucap Rico kemudian setelah perdebatan panjang terjadi pada mereka.
"Rico,"
"Tapi saat aku berjuang! Akan kutunjukan bertapa mengerikan umat manusia. Aku tak mau berakhir mati seperti anjing,"Geramnya lalu berbalik pergi sebelum Vasuf menarik tangan gadis berkaca mata itu dengan Spontan.
"Aku akan mengikuti Regumu Rico, Sakura san kau bisa bersama Mikasa dan yang lain, aku akan mengikuti Rico kau baik-baik saja kan,"Desis Vasuf mengalihkan pandangan pada Sakura, mengabaikan tatapan bingung semua orang.
"Ia aku mengerti,"Jelas Sakura.
"Hoi kau membiarkan temanmu pergi!,"Desis Ian pada Sakura membuat Sakura mengangguk mantap.
"Aku tak masalah,"Desis Sakura.
"Untuk Tittan yang setinggi 12 meter, serakan saja pada Reguku,"Ucap Rico yang pergi dan dikuti oleh Vasuf dari belakang.
"Untuk kalian berdua kuharap, kalian berhasil,"Ucap Ian meninggalkan Mikasa dan Sakura, membuatnya mengangguk mantap, ia tak perlu meluncur memegang tubuh Mikasa, Chara Sakura cukup kuat hingga bisa mengikuti kemanapun Mikasa melayang dengan kakinya. Ian lalu meninggalkan mereka begitu saja dan terfokus pada dua Tittan didepanya.
Beberapa Tittan semakin bermunculan membuat Mikasa ikut turun tangan dengan Baddasnya ia menumbangkan beberapa Tittan-Tittan yang nampak bermunculan, Sakura masih mengikuti Mikasa dari jalur atap dan melompat tinggi dengan Chakra alam besar yang ia serap sebelumnya. "Sakura,"Panggil Mikasa.
"Jangan perdulikan aku, bertarunglah sekuat tenaga lakukan apa yang kau bisaaa,"Jerit Sakura tegas. Bersamaan tubuhnya mengeluarkan Chakra hijau besar disekitar tubuhnya, dan melihat ada Tittan mendekatinya.
◇[Thoutasu]◇
"Shanaroooooo!,"Sakura lelepaskan kemarahan Chakranya dengan menerjang Tittan itu yang posisinya menatapnya dengan mulut terbuka, namun sebelum mendapatkan tubuh Sakura. Tubuh Tittan itu terpental beberapa meter dari posisinya, akibat tendangan tiba-tiba Sakura, bersamaan kemunculan Mikasa yang memotong titik lemah Tittan begitu saja.
Belum cukup tatapan horror para Cadet yang melihat kejadian itu, Sakura memutuskan melompat dari atap berlari cepat menyusuri jalanan dibawahnya dimana Tittan abnormal terdekat mereka juga sepertinya akan mendekati Eren, Mikasa tetap fokus menatap kemana gadis bersurai merah jambu itu bergerak, meski tampa rencana kedua bisa menjadi Team.
Getaran hebat terjadi dijalan raya, Sakura menyerang kaki Tittan itu secara brutal hingga oleng dan jatuh kebawahnya, namun dengan cepat Sakura menghindari tubuh besar yang rubuh diatasnya dengan kaki chakranya cepat berpindah tempat.
"Apakah gadis itu monster,"Desis Salah satu Cadet dengan horror.
"Dia satan,"Tanya Cadet disampingnya memandang tak kala horrornya, sementara Mikasa lalu mengintrupsi pembicaraan cadet disekitarnya yang terdengar tidak perlu, ia memotong senjatanya yang terasa sedikit tumpul dan menatap mereka-mereka.
"Satan atau monster aku tak peduli, fokuslah dengan apa yang ada dihadapan kalian kita harus bertahan hidup dan menghancurkan musuh lebih banyak lagi, jangan sampa Eren disentuh mereka,"Ucap Mikasa bergerak meluncur dengan Manuver gas miliknya menuju Sakura.
Sakura nampak bertarung dengan beberapa Tittan seukuran lebih pendek dengan tinggi 3 meteran, mereka pendek namun gerakan sangat cepat apa lagi saat melompat, membuat Sakura lalu mengaktifkan Jutsu chakranya ditanganya lebih besar yang nampak memanjang bagai sebuah Katana pendek untuk membantunya memburu lebih banyak musuh dibawah sana, ini memungkinkan gadis itu untuk menjangkau tiga atau monster tittan berkaki cepat itu, jika dia tak mau mati konyol.
"SAKURA MENGHINDAR!,"Teriakan Mikasa terdengar menatap tubuh sebuah Tittan rubuh dan akan menimpanya, membuat ia menghindar, dan berlari diatas dinding gedung. Mikasa yang terdekatnya mengaktifkan Gasnya dan menerjang Sakura yang masih berdiri dinding, dan membawanya ke salah satu puncak gedung terdekat.
"Kau hebat,"Ucap Mikasa kemudian.
"Kau juga, tapi kita tak bisa berhenti sekarang,"Desis Sakura membuat Mikasa mengangguk namun ia terkaget saat mendengar sebuah panggilan untuknya.
"MIKASA!,"Sebuah teriakan terdengar dari sosok Armin yang entah bagaimana sudah ada dibawah sana berdiri diatas pundak Tittan Eren, membuat Mikasa menatap cemas. "APA YANG TERJADI!," Desis Armin.
"Armin apa yang kau lakukan cepat menjauh dari sana!,"Ucap Mikasa.
"ADA APA BAGAIMANA DENGAN MISINYA, JELASKAN PADAKU!,"ucap Armin.
"Misinya gagal,"Ucap Sakura datar namun masih bisa didengar oleh Armin yang menatapnya terkejut.
"Armin,"Tatap Mikasa dengan pandangan sedih.
"Bicaralah padanya, aku akan membantu yang lain setelah itu susulah aku,"Ucap Sakura tampa menoleh Gadis bersurai merah jambu itu, kembali bergerak menjauh dari Mikasa lalu mendekati Cadet terdekat dan kembali bertarung bersama Katana chakranya, dia memang terbiasa mengunakan bogem-nya/ Tendangan-nya untuk bertarung dan terbiasa mengunakan ketajaman Chakranya yang berbentuk pisau atau katana Chakra untuk kebutuhan bedah oprasi, namun melihat kondisi musuh seperti ini tak bisa memberikan Sakura opsi pilihan yang lambat.
Gadis itu mencoba mengalihkan pandangan sosok Tittan yang hendak menyerang Mitabi dengan memotong kedua tanganya, dengan cepat Ian yang posisinya dekat dengan regu itu langsung memotong titik lemah Tittan itu membuat monster itu tersungkur diatap gedung.
"Tak kusangka Orang-orang ini memiliki kekuatan sebegini mengerikan,"Desis Mitabi.
SYUHHHHHHH!
"Suara apa tadi,"Ian menoleh beberapa meter, sesosok Tittan setinggi 12 meter, ia terlempar serta terjun bebas, dari atas seolah ada yang membantingnya dengan tenaga kuat. Raut Ian terkesima dia melihat Rico dan para Regunya. Menunjukan raut yang sama sepertinya, sosok sulur angin yang terlihat rupanya, dan bersifat elastis bergerak-gerak mirip kentakel mengeluar di sekitar tubuh Vasuf.
"Apa yang kalian tunggu dia tidak datang untuk ditonton,"Ucap Vasuf tajam menatap Rico yang tersigap, menatap regu teamnya untuk mencoba membuat Tittan itu mudah diserang. Akhirnya Rico mengalah pada otaknya dan meminta team Regunya menyerang dengan brutal sang Tittan.
"Kekuatanmu dan teman-temanmu, tak bisa diterima kami dengan muda,"Ucap Mikasa memandang datar, saat gadis berambut hitam ini mendarat diatas kepala sebuah Tittan disamping Sakura.
"Aku tahu!,"Ucap Sakura mengangguk yakin. "Bagaimana dengan Armin!,"Ucap Sakura spontan karna pemuda cantik pirang itu tak ada bersama Mikasa.
"Dia bersama Eren,"Ucap Mikasa berjungkuk kedepan sembari menganti isi ulang senjatanya yang sepertinya mulai tumpul, mekanismenya seperti sebuah ujung cutter yang biasa dipotong.
"Ayo! Mereka muncul lagi,"Ucap Sakura saat kedua gadis berbeda rambut yang nampak memancang kedua Tittan yang setinggi 7 meter mendekati mereka.
"Aku urus kaki mereka dulu, bisa jadi umpan?!,"Tanya Mikasa.
"Bisa,"Ucap Sakura memandang datar musuh didepan mereka, padahal ia mendengar jika monster ini tertarik dengan banyak manusia, tapi kenapa pusat perhatian para tittan justru pada sisa manusia yang cenderung sedikit, apa jangan-jangan mereka tertarik pada Eren.
Sakura melompat - lompat atab serta memancing, Tittan untuk fokus pada dirinya, dan dengan cepat Tittan itu terfokus sementara, Mikasa melayang rendah untuk memotong kakinya, tangan Tittan ini lebih pendek dari skruktur tubuh yang tinggi, membuat Sakura dengan lincah menghindari sergapanya, dengan menganalisa jarak.
"HEYAAAAAAAH!,"Desis Mikasa yang dengan cepat lalu kaki berkulit tebal itu terpotong dua dengan cepat. "Sakura!,"Teriak Mikasa saat tubuh besar Tittan oleng kearah Sakura. Gadis berambut pink itu lalu mundur dengan cepat dan ditangkap oleh seseorang.
"Syukurlah aku berhasil menangkamu Sakura,"Ucap Seseorang dibelakangnya, dan itu ternyata suara Armin yang menatap Sakura dengan senyum legah, dan memeluk pinggangnya, mereka bergelantungan dengan kawat manuver yang dipakai Armin.
"Armin bagaimana Eren,"Ucap Mikasa saat menatap Armin tengah bergelantungan dengan Sakura. Membuat pemuda berambut pirang itu hanya melirik sesuatu jauh dibelakang Mikasa yang membuat gadis berambut hitam itu penasaran, dan dalam sedetik senyuman serta pancaran kebahagiaan terlihat dari wajahnya saat melihat apa yang ditatap Armin.
"E-Eren,"
Air mata Mikasa ingin kembali terjun dipipinya, saat ia melihat Eren Tittan kembali hidup, dan berhasil mengontrol dirinya, kini Eren sedang bergerak pelan sembari membawa batu yang akan digunakan untuk menutup lobang pada dinding.
"Hoy! Saatnya melakukan penjagaan!,"Teriakan Naruto terdengar dari belakang Eren ia lalu melompat diatas batu, sementara beberapa squad regu yang bersamanya mengikuti dia dari punggung Eren di belakang, tampa satu pun tewas.
"Naruto,"Ucap Sakura menatap lega melihat rekanya masih dalam kondisi baik-baik saja, ia menatap Armin yang disisinya lalu ia melihat sekoloni Serangga yang muncul tak jauh dari tempatnya dan Armin bergelantung, memunculkan Shino.
"Kami sudah bertemu dengan Vasuf!,"Ucap Shino datar melirik Sakura. "Dia membantu Rico dan lain dalam regu mereka, sebaiknya kita Vokus melindungi Eren dari dekat sekarang,"Jelas Shino serius, tubuhnya kembali menghilang dan terlihat muncul kembali menerjang Tittan setinggi 3 meter sendirian.
"Ayooo!,"Ucap Mikasa bergerak lebih dulu kedepan, bersamaan Armin menyusul membawa Sakura didadanya. Kecepatan mereka bertambah semangat yang sebelumnya turun kini bangkit kembali, tragedi itu mulai memakan nyawa-nyawa yang memiliki impian besar yang mengharapkan tanah mereka kembali kepada mereka.
Bertarung!
Bertarung!
Bertarung!
Dimana titik harapan itu kembali bangkit, dalam diri manusia yang seukuran sangat kecil dari pada Tittan, mereka bukan tercipta dengan kekuatan heroik, namun dengan kerja keras kekuatan yang menunjukan mereka tidak lemah untuk bergerak dan hidup dalam kebebasan untuk kembali pada orang-orang menanti mereka dirumah.
Detik..Detik..Lubang besar yang menjadi saksi tragedi 10 tahun silam menunjukan air mata semua manusia didalam dinding selama belasan tahun kini ada cara untuk ditutup, dan Eren berhasil menutup lobang itu dengan batu yang dipegangnya.
Untuk pertama kali Manusia berhasil menang melawan rasa takut terbesar mereka, air mata kebahagian keluar begitu deras dari semua Cadet.
"Kematian orang-orang tidaklah sia-sia, Manusia menang kami mendapatkan tanah kami kembali,"
Air mata Rico berderai keras, menatap lobang yang tertutup oleh batu pada lobang sembari menembakan peluru penanda hijau, menandakan misi berhasil.
[Bersambung]
[Selasa-Mei-1-2018]
AuthorNote :
Part ini menjelaskan sedikit awal tentang dunia SNK serta konflik yg akan terjadi tapi, author rasa itu terlalu kaku jadi sekalian kami menambah history secara singkat untuk sebuah awal pembentukan karakter, kedekatan serta interaksi antar satu dan yang lain secara sederhana. Jadi kami menambah beberapa flasback juga.
Contoh :
-Kenapa Sakura menjadi tanggung jawab Vasuf serta siapa Vasuf?
-Kenapa Hinata menikahi Neji dan tak memilih Naruto meski semua penduduk sudah mengakuinya.
-Kenapa Shino jadi semakin dekat dengan Vasuf dan Sakura semenjak ia kerja dirumah sakit sebagai pengawas Serangga.
-Kenapa Sasuke dihilangkan
Nanti bakal dibahas satu satu, setiap Chapters 😊 semoga cerita saya diterima terimakasi udah menyempatkan datang di cerita saya, sampai jumpa minggu depan.
[Salam peluk dan sayang]
[Lightning Shun - Ryou]
