Warning :(Sebelum baca cerita ini) Settingan cerita adalah Akhir perang dunia ninja, dan unsurnya setengah diambil dari Naruto-online, dan digabung dunia dari kisah Naruto-real. Jadi mari saya kenalkan tokoh utama saya dicerita kali ini.

Warning :
Beberapa plot dirubah [dengan sengaja] untuk membuat ceritanya sedikit nyambung jadi mohon pengertianya

Budayakan Vote/Komen sebelum baca


Dairy :

Semakin aku melihat dunia

semakin sulit bagiku untuk

tidak mengambil tindakan untuk mereka.


[Naruto/Shino here]

Kondisi menyenangkan mulai tercipta ribuan perasaan benar-benar mendominasi hati semua orang, akan tetapi semua orang belum sampai pada titik yang aman. Lubang di-dinding sudah tertutup namun masalah masih muncul dari dalam, Para titan tersisa masih muncul serta memburu para Cadet yang tersisa suasana kembali meneggang. "Raksasa tersisa, hidup dan mereka mendekat, kita harus memanjat temboknya,"Desisnya membaut semua kembali merasakan rasa gusar.

"Setelah saya membawa Eren saya akan segera mundur,"Ucap Mikasa, mendekati tubuh Titan Eren rupanya disana ada Armin yang nampak mau mencoba mengeluarkan Eren dari dalam daging Titan.

"Armin bagai mana kondisinya?,"Tanya Mikasa. Ia melirik Para Ninja napak mendekat ketubuh-besar Titan Eren hanya memberikan tatapan waspada, sementara Sakura Hanya mengangguk pada Mikasa.

"Dia terkena Demam! Suhu Panas yang terkira! Aku sulit mengeluarkanya dari sini!,"Jerit Armin. "Tubuhnya masih menyambung,dengan Tubuh Raksasanya,"Ucap Armin dengan panik,sementara Mikasa lalu melompat dan memanjat keatas untuk membantu Armin.

"KAU HARUS MEMOTONGNYA!,"Jerit Naruto dari Bawah. "Potong Daging Raksasa-nya dan gali tubuh Utama dia!,"Ucap Naruto lagi dengan timbre suara lebih rendah dari sebelumnya. "Kita harus mendaki temboknya bukan!,"

"Tapi jika dipotong paksa bagaimana jika!,"Ucap Mikasa ragu.

"Aku akan membantu!,"Ucap Vasuf lalu berlari mendaki tubuh titan Eren dan melompat dengan cepat disamping Armin, Juga Mikasa. "Tenang aku tidak akan memotong tubuh inti-nya, tapi Cuma memotong tubuh Titan untuk mengeluarkanya,sebelum musuh mendekat."Ucap Vasuf mengeluarkan sebilah Kunai ditangan Kirinya.

Vasuf pun mencoba memotong secara perlahan bagian-bagian tubuh Eren, seperti dengan metode melakukan oprasi darurat. Sementara Naruto dan beberapa prajurit diantaranya mencoba mengurus titan-titan sekitar Guna mengulur waktu.

"Karna udara panas yang memuai dagingnya menjadi lengket dan Alot untuk dipotong! Tolong tarik perlahan Tubuh Eren perlahan!,"Ucap Vasuf memberi intruksi pada Mikasa juga Armin, sementara Rico datang membantu memotong dengan senjatanya pada Kulit Luar Titan Eren agar membantu Vasuf mengali tubuh Eren yang masih tertimbun daging.

"Sakura! Kau tetap jaga dibelakang bagaimana pun selain Vasuf yang bisa mampu mengobati Kita hanya dirimu!,"Ucap Shino datar sekaligus memanggil Ribuan serangga keluar dari tubuhnya lalu ia terbang melesat pergi.

"Aku tahu!,"Ucap Sakura.

"Sedikit lagi!,"Ucap Rico sembari terus memotong, memberikan senyum legah saat Tubuh Eren berhasil dikeluarkan dari titan-nya. "Kalau begitu sebaik-nya kita mengangkatnya tubuhnya sekarang, sebelum-,"Ucapan Rico tertahan bersamaan dua sosok bayangan Titan yang tak disangka-sangka turut muncul didekat mereka.

DEG!

Suasana Tegang yang di-dukung dengan cepat. Karna gertukan tanah,ketiga orang berada diatas titan lalu terjatuh dan salah saat salah satu Titan siap menangkap, Sekelibat bayangan penuh tenaga muncul keudara dan menebas salah satu Titan dan ciptratan darah mengenang deras.

Seseorang lelaki dengan kibaran jubah hijau berlambang pembebasan nampak berdiri kokoh setelah berhasil menumbang satu-monster berdagin dan menciptakan gertakan tanah yang besar. "Awas!,"Rico berteriak saat sebuah kemunculan tangan titan Lain yang terabaikan oleh pria itu.

*SHANARO!,"

Dengan suara lantang Sakura bersamaan sebuah bogem melayang menghantam titan, membuatnya terlempar kesebuah puing bangunan rumah yang hancur dan semakin tak berbentuk hasilnya. Seketika sebuah hening tercipta bersamaan kabut pasir menghilang.

"Nice job Sakura-san,"Ucap Vasuf membuka suara, membuat tatapan bersabahat dari semua orang ninja disana , minus tatapan tergugah dari para cadet.

Sakura terdiam melirik menatap sosok penolong yang datang menolong justru ditolong olehnya, bersamaan semua kembali menenang ada yang lega ada pula yang merinding melihat Sakura yang membunuh satu titan dengan tangan kosong.

"Siapa kau sebenarnya?!,"Tanya orang itu menatap Surai merah lembut milik Sakura yang tengah membelakanginya, dan yang direspon hanya menegakan bahunya.

"Aku manusia, yang menjadi Ninja,"Ucap Sakura berbalik menatap lelaki itu, lalu memberi senyuman lembut dan secara singkat berbalik menatap Vasuf yang melambaikan tangan padanya.

"Kerja bagus! Sakura-san,"Ucap Vasuf berjalan mendekati Sakura diikuti Mikasa yang mengendong Eren, sementara Armin memutuskan mengabari kondisi terbaru pada ketua-cadet bersama Rico.

"BAWA CADET EREN KERUANG-INTROGASI JUGA GADIS BERAMBUT MERAH ITU!,"ucap seorang wakil Cadet yang datang tampa bisa dicegah oleh semua orang.

"Eh?!,"


Suara tetesan air terdengar, itu adalah suara yang didengarkan Eren saat sadar pertama-kali saat kesadaranya kembali secara perlahan. Sebuah sentuhan nyaman didominasi sentuhan lembut yang awalnya menyentuh dadanya, beralih pada sentuhan dikepalanya. "Uhm,"Eren memberikan respond-nyaman saat merasakan sentuhan berupa usapan yang menyentuh berkali-kali.

"Kau sudah sadar Eren?,"Suara datar, lembut mulai terdengar menyapu indra pendengaran pemuda. "Jika sudah merasa kesadaranmu maka buka matamu pelan-pelan agar tubuhmu tak terkena tegangan kejut,"Titahnya dan Eren hanya mengangguk secara otomatis.

Usapan tadi mulai memudar meninggalkan rasa hangat yang membuat Eren sebenarnya kecewa, karna sentuhan itu menghilang dengan cepat. Eren mencoba membuka matanya menatap sekitar yang nampaknya tidak terlalu silau, ia nampak terkejut terbaring diatas sebuah kasur, dirantai disetiap bagian tubuhnya sisi tangan serta kaki, sementara ia juga menemukan Sakura disisinya duduk ditepi ranjang dengan raut datar.

"I-Ini, Sakura kita,"Eren menatap Sakura yang nampak tidak merespont dan malah memandang tajam pada sosok dua orang yang berada diluar jeruji besi. Mereka berada dalam penjara dengan pencayahan yang lumayan, namun sengaja memasukan sebuah kasur-rawat dengan niat mengikat Eren.

"..."Sakura hanya diam tampa berkata apa-apa.

"Tatapanmu nampaknya tak merasa tak tergangu dengan ini, nona,"Ucap salah seorang diantaranya. "Kau nampak tak gugup sama sekali dengan kondisimu sekarang,"Ucapnya.

"Apa kau ingin aku merasa takut, karna dipenjara,"Tanya Sakura datar. "Aku tak merasa takut sama sekali, aku hanya penasaran kenapa kalian membawaku dan Eren keruang penjara bawah tanah?,"Tanya Sakura dengan gestur datar tampa adanya tekanan.

"Sakura ini?,"Tanya Eren dengan nada terkejut dan bangkit secara perlahan dari kasur dibantu Sakura perlahan.

"Apa kau punya pertanyaan? Cadet Eren Yeger?,"Tanya salah satu pria itu dengan rambut berwarna pirang dan tubuh tegap yang padat, serta bonsor disampingnya ada pria yang datang menolong Eren waktu itu.

"Anda Ketua Erwin, pemimpin tertinggi dari pasukan pengintai!,"Ucap Eren menatap kejut sang pria berambut pirang. "Dan anda Kopral Revaille,"Ucap Eren dengan nada canggung melirik laki laki bersurai hitam yang membuang pandangan kearah lain.

"Anu...dimana kami?,"Ucap Eren masih dalam kondisi limbung, baik kesadaranya atau mentalya belum mencerna kondisi sekitar secara penuh membuat Sakura yang disampingnya menatap Eren sekaligus membuang pandangan cuek, dari Kapten serta kopral dibalik jeruji didepanya.

"Seperti yang kalian lihat...kita berada di penjara bawah tanah, saat ini kalian berdua sedang ditahan Oleh polisi Militer dan kami akhirnya mendapat izin untuk menemuimu barusan,"Utarnya memandang Eren, lalu melirik Sakura yang masih buang muka.

Eren lalu melirik kedua tanganya, begitu pula menatap Sakura yang masih diam, tangan gadis itu juga diborgol, membuat Eren merasa agak panik berbanding terbalik dengan Sakura yang nampak tenang, Sakura juga masih bisa bergerak dengan leluasa mengontrol Chakra-medisnya untuk mengobati Eren meski pun diborgol dengan serat-besi sekuat itu.

"Ini milikmu..."Ucap Kapten Erwin memperlihatkan sebuah kunci yang selalu dikalungkan Eren dilehernya membuat Eren melotot kaget. "Jangan cemas...kami akan mengembalikanya nanti,"Utarnya lagi.

"Ngomong-ngomong soal Rumah-mu, Rumah Dr Jaeger di Shiganshina menyimpan rahasia dari keberadan serta informasi para Raksasa, apa betul?,"Tanyanya dengan nada serius, tak disangka pembiacaraan ini sudah sampai ditelinga petinggi.

Sakura jadi teringat akan pembicaraan ini, Eren pernah menyinggungnya waktu mereka harus bertarung dari serangan para Cadet tiga-hari yang lalu.

"Ya, mungkin,"Ucap Eren. "Itulah yang Ayahku katakan dulu,"Ucap Eren dengan perasaan ragu dengan tatapan intimidasi dari Kapten serta Copral dibalik jeruji.

"Kau kehilangan ingatanmu, juga Ayahmu ikut menghilang...apa itu nampak terlalu kebetulan?,"Tanya Sang Copral yang sedari tadi diam, sementara Sakura memutuskan diam saja untuk menganalisa kondisi sekitarnya, tak baik menyela untuk saat ini.

"Rivaille kita sudah sepakat kalau anak ini tak-mungkin berbohong, dan juga masih banyak yang perlu kita ketahui,"Ucap Erwin dengan nada datar menatap Sang Copral.
(Yang aku tahu semua anggota meliter memiliki nama dan juga penyebutan, baik formal atau tidak saat itu si Eren belum menjadi bawahan Dari Levi jadi panggilan Rivaille itu sangat formal akan sangat tidak sopan bagi Eren yang hanya cadet-biasa atau jauh dari Levi memanggil komandan Levi jika memanggil Komandan atau Levi diawal dia bertemu..nanti Eren akan memanggilnya Levi)

Levi/rivaille ackerman(Nama Asli Levi)

"Dan kami juga ingin mengintrogasi anda nona Sakura,"Ucap Erwin beralih memandang Sakura datar.

"Apa yang ingin kalian inginkan?,"Ucap Sakura datar.

"Semua hal yang bisa kami tanyakan,"Ucap Erwin dengan senyuman tipis-penuh rahasia, sebelum rautnya kembali datar menatap Eren. "Nah yang terpenting adalah tujuanmu sekarang, Cadet,"

"Agar bisa kembali kerumahmu, kita harus merebut tembok luar pada distrik Shiganshina ditembok maria,"Jelas Erwin serius. "Agar bisa memutup gerbang-yang hancur kita butuh tindakan yang sulit,"Ucapnya memberikan penjelasan yang gampang dicerna namun Sakura sudah mengerti arah pembicaraan ini.

"Kami butuh kekuatan Raksasamu, nampaknya takdir kita justru ditangan Raksasa, mungkin tenaga itu mirip dengan Titan Kolosal atau Armor, setara denganmu,"Ucap Erwin serius memandang Eren.

"..."

"Dan Kau Nona aku sangat penasaran dengan tenagamu yang dalam tubuh-manusia tapi memiliki otot yang bisa menembus daging para monster,"Ucap Erwin melirik Sakura tajam.

"Apa kau berpikir aku monster?,"Tanya Sakura datar.

"Kami bisa menindakmu seperti itu,"Ucap Sang Copral memotong argumen Erwin. "Tergantung tindak-tandukmu bersikap normal,"Ucapnya dengan nada tak senang.

"Le-Levi!,"Panggil Erwin spontan.

"Dia bukan Gadis yang jahat, Kami sudah bersama beberapa waktu, tolong jangan berpikir sesuatu yang menyudutkan kami tampa bukti lebih,"Ucap Eren mencoba membela Sakura namun tetap mencoba bersikap sopan pada atasan yang lebih tua, namun meskipun ia tak menapik sedikit emosi dimana Sakura dianggap monster dengan tatapan tidak menyenangkan.

"Melelahkan...terserah pada mata dan pendapat kalian saya tak merasa tersinggung,"Ucap Sakura datar. "Selama saya merasa tak berbuat masalah, serta menjawab semua dengan tampa paksaan,"Ucap Sakura dingin.

Seulas garis senyuman tampak samar muncul dibibir Erwin, membuat Eren nampak menyengit menyadari arah dan tatapan itu pada gadis bersurai merah-muda yang memberikan tatapan dingin-menantang pada Copral.

"Baiklah kembali ke topik kembali...Eren Yaeger, mengenai tujuanmu adalah kunci ini,"Ucap Erwin mengangkat kunci milik Eren yang ada ditanganya. "Kunci untuk membebaskan umat manusia dari keterpurukan ini, bagaimana Cadet?,"Tanyanya memandang serius Eren.

Aku Ingin..
membasmi mereka!
Aku ingin membasmi mereka semua.

"Cepat jawab bajingan Kecil,"Desis Sang Copral dengan tampang datar dan nada meremehkan, ucapan barusan mendapat hadiah tatapan membunuh dari Sakura, dan gertukan-keras dari borgol tangan yang gadis itu pakai. "Jadi apa yang ingin Kau lakukan?,"Tanya Copral tetap kalem mengabaikan tatapan Sakura. Suasana kembali memenang namun raut berpikir dari Wajah Eren nampak tegang berlumur keringat, mata jadenya langsung menatap Sakura yang duduk disampingnya ikut memberinya tatapan datar.

"Biarkan aku bergabung dengan pasukan pengintai,"Ucap Eren sembari memandang dua orang penting dihadapanya, dengan keputusan yang Final tampa keraguan. "Aku akan mencoba membunuh Raksasa sebanyak yang aku bisa!,"Desisnya.

"Hoooh!...Menarik,"Ucap Copral datar melihat tatapan mata Eren yang memiliki tekad yang terlihat bulat.

"Erwin mulai sekarang mereka berdua dibawah tanggung jawabku...Jadi tolong beritahukan para Atasan, Tapi bukan berarti aku mempercayai mereka,"Ucap Copral itu dengan nada tegas serta aura membunuh. "Jika mereka kembali tak terkontrol atau Titan-nya mengamuk atau berhianat aku akan segera membunuh keduanya,"Ucapnya dan mendapat tatapan takut dari Eren tapi tanggapan Sakura justru terlihat semakin dingin. "Orang-orang yang diatas pasti tidak akan keberatan...Orang yang cocok dengan tugas ini hanya aku saja,"Ucapnya mengenggam sisi Jeruji.

"..."

"Permohonan, kau ingin bergabung dengan pasukan pengintai akan saya terima,"Desisnya lagi, sementara ia beralih pada Sakura yang nampak masih memberikan tatapan tak kalah-serta membunuh serta gemertuk tulang borgol terdengar dari tanganya.

Suara sel terdengar pelan bersamaan, suara gesekan kasur terdengar, pencahayan penjara mulai dinyalakan namun entah semakin remang, sejak di-introgasi beberapa jam yang lalu, membuatnya lelah dan memutuskan kembali istrahat.
Setelah intrigasi selesai penjagaan yang awalnya didepan sel mereka nampak berpindah dipintu gerbang penjara.

"Uhmm..."

Eren sebelumnya tertidur, mulai terbangun memandang lemas langit sembari mencium bau harum menyebar dikasur, ia melirik kesekitar dan berhenti setelah menatap disampingnya dan matanya melotot ia nyaris teriak, sebelum akal-sehatnya menahan mulutnya agar tak bersuara.

"Zzz." Seulas suara nafas lembut terdengar, disampingnya sosok gadis bersurai merah-muda itu nampak tertidur disampingnya dengan tanganya menjadi bantal untuk kepala si gadis entah sejak kapan mereka berubah posisi.

DEG!

Sebelum tidur baik Eren maupun Sakura sudah menetapkan posisi masing-masing karna kasur hanya memiliki satu dipenjara jadi keduanya harus berbagi. Meski awanya Eren menentang dan ingin berusaha mengeser tubuhnya agar rebahan dilantai tapi Eren tak bisa memindahkan tubuhnya karna terborgol dikasur begitu pula Sakura hasil Akhirnya mereka memang harus berbagi.

HARUM-NYA~!

Muka Eren nampak memerah penuh, menahan gejolak. Ia merasakan tubuhnya panas dingin dan merasakan kumpulan kupu-kupu terasa tersebar keseluruh tubuhnya, hangat namun menakutkan. Eren merasa bingung dengan kondisi ini, ia tak pernah merasakan ini pada gadis sebelumnya, ia pernah tidur dengan Mikasa (Tentu saja) sekasur tapi dia tak merasa gejolak seperti ini, tidur dengan gadis seusia dengan berakhir gadis itu tertidur dengan nyaman dipelukanya, rasanya seperti berbeda ia baru merasakanya pada Sakura.

Bukan-nya bau tubuh perempuan mau-pun laki-laki sama saja!
Kenapa sekarang bau tubuh-nya harum sekali.


Pasca kejadian itu seluruh Ninja minus Sakura kembali pada tempat isterahat masing-masing untuk menjauhi massa, dan para Cadet lainya yang nampak belum nyaman, serta situasi yang nampak belum terkendali akhirnya mereka setuju, ketika General Pixy nampak meminta mereka untuk tenang dan berjanji akan membawa kembali Sakura secara hidup-hidup sebagai hutang budi atas bantuan para ninja.

"Bagaimana kondisimu Vasuf,"Tanya Naruto saat membantu Shino menyalurkan cakra tambahan membantu proses pengobatan Vasuf.

"Aku lebih baik, maaf merepotkan,"Ucap Vasuf nampak menatap sendu, wajah kedua temanya yang nampak lusuh, setelah Sakura dibawa pergi dari mereka.

"Aku sangat hawatir dengan kondisi Sakura-chan, aku harap General Pixy membawanya kembali.

"Jangan khawatir Sakura adalah anak Didik Tsunade sama,"Ucap Vasuf menatap Naruto tersenyum lemah karna masih terbaring dikasur. "Dia akan menjatuhkan orang, bahkan menghajar manusia titan bahkan menghancurkan sebuah bangunan bila perlu,"Ucap Vasuf lagi.

"Nee Shino apa ada racun dimakanan yang orang-orang tadi bawa?,"Tanya Naruto melirik sekumpulan tempat minum, roti, bubur dan makanan. Sebelum ini beberapa Cadet junior yang dibawah pimpinan (secara tidak langsung) Naruto serta Shino datang keruangan mereka dan memberikan banyak hadiah berupa makanan dan sebagainya karna membantu dan menolong mereka dipertempuran, saat salah satu mereka memberi hadiah berupa uang atau perhiasan langsung saja ditolak mentah-mentah oleh Naruto ddk.

"Tenang saja Serangga Chakra-ku sudah mengecek-nya dan semua tidak beracun,"Ucap Shino menghelah nafas.

"Aku juga mendeteksi kejujuran mereka,"Ucap Vasuf menghelah nafas lalu memperbaiki posisi tidurnya agar cukup nyaman. "Aku rasa mereka menyisihkan roti makan siang mereka untuk kita,"

"Negeri ini kekurangan banyak pasokan makanan, jujur saja aku tak mau menerima pasokan makanan ini, karna mereka lebih membutuhkan,"Ucap Naruto lalu menatap senduh makanan itu lagi.


"Berhasil mendapatkan dinding baru-baru ini mungkin akan membuat para manusia ditembok akan mencoba mengambil lahan pertanian serta membuat industri, untuk bisa mengarap bahan makanan tambahan bagi mereka, meski akan terhujud dalam waktu cukup lama...asal para penduduk penuh tekad untuk membangun kembali semuanya dari Nol, seperti desa kita yang hancur dulu,"Ucap Shino membuat Naruto mengangguk antusias.

"Kau benar,"Ucap Naruto.

TOK~TOK~TOK!

"Tolong dilihat Naruto,"Ucap Shino.

"Hai!,"Sahut Naruto.

Sebuah suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan membuat Naruto dengan cepat melompat dari kasur dan membuka pintu.

KREEK!

"Haai~ eh Armin,"Ucap Naruto sembari menatap sosok Armin yang nampak didepan pintu memberikan senyuman-canggung.

"Maaf aku menggangu,"Ucapnya canggung. "Aku ingin bicara dengan kalian sesuatu, jika kalian sibuk aku akan kembali nanti,"Sahutnya pelan.

"Kami sama sekali tidak terganggu~ datteyo, masuklah kita bicara duduk bukan berdiri disini,"Ucap Naruto tersenyum-bersahabat pada Armin menyulutkan kecanggungan disekitar mereka.

"Arigato," Ucap Armin langsung masuk keruangan mereka.

Setelah Armin masuk pemuda bersurai pirang, langsung menjelaskan informasi yang marak didengar setelah beberapa hari setelah berhasil mengambil alih satu temboknya. Para-regu cadet sedang berusaha menyisir serta membersihkan-sebagian titan yang masih hidup dalam dinding, untuk mencegah korban jiwa agar lokasi tempatnya bisa segera digunakan untuk penduduk-sipil.

Selain itu para peneliti juga, medis, para mantri-mantri mengambil sempel menyisir area yang sudah aman guna untuk melakukan penelitian, sebagian tubuh para Cadet yang tidak utuh nampak ditemukan satu-persatu.

Beberapa yang dikenali dibawa untuk dimakamkan dengan layak dan diantar sanak-keluarga masing-masing. Sementara cadet yang ditemukan tubuhnya tidak utuh dengan terpaksa dikumpulkan, dan dibakar masal begitu saja.

Meski-pun berhasil mendapatkan dinding serta kota itu kembali, namun bencana ini adalah bencana yang cukup memakan banyak orang, dan kepiluan sangat mengena dihati semua orang.

"Lalu apa kau sudah mendengar kondisi Eren serta Sakura-chan, Armin,"Ucap Naruto langsung membahas hal ini.

"Gomenne~ kami belum bisa menghubunginya, tapi kata para cadet-senior mereka dalam kondisi baik-baik saja,"Ucap Armin.

"Oh begitu~,"Ucap Vasuf.

"Selain itu~ kami juga mendengar pembahasan heboh yang kami dengar dari para warga sipil, informasi yang bocor 'mengenai Titan yang memihak manusia, dan banyak dari merespon mereka sangat antusias ada pula menganggap itu hanya hoax atau bahan lelucon,"Jelasnya.

"Tentu saja pihak prajurit tidak akan membeberkan masalah ini, semua-nya masih simpang-siur,"Jelas Shino menghelah nafas.

"Sakura~Chan aku harap kau baik-baik saja,"


"Dimana Sel mereka aku ingin melihat merekaaa!~"Seruan penuh kegembiraan nampak terlihat dari seseorang wanita yang nampak terlihat girang, ia bahkan mengoyangkan tanganya serta kaki untuk menyambut waktu melihat 'Mereka'.

"Tenangkan dirimu Hanji, besok kau akan bertemu 'Mereka' Jangan bersikap gegabah meski Copral Levi-san sudah mendapat izin untuk mereka, lokasi mereka tetap dibawa perintah polisi militer,"Ucap Cadet lain yang ada disamping wanita yang dipanggil Hanji.

"Kau benar tidak seru, sama sekali menyebalkan!,"Gerutu Hanji kesal.

"Biar Gereja yang akan menayakan-nya mereka besok!,"Ucap Seseorang yang datang kepembicaraan disekitar mereka.

"Aku sebenarnya tak suka berurusan dengan pihak Gereja,"Ucap orang itu lagi.


[BERSAMBUNG]
[SABTU-29-SEPTEMBER-2018]


Hola~ Ini Lightning Shun lama gak bertemu!😫
Yaay kembali lagi dengan Author~yang belum mahir ini, apa kabar 😫 yah sebelum pemostingan ini sudah ketiga kalinya kuposting...tapi karna masalah

🔔ERROR🔔

Akhirnya~ saya harus setting dulu, semoga ini gak masalah lagi, jadi saya harap semoga 😅 diterima maaf kejadian ceritanya, lambat banget alurnya dan ceritanya pendek karna baru ada waktu buat saya lanjut lagi, biasa sibuk.

Dan!

Turut berduka Cita! Untuk Gempa (Sunami) yang terjadi di Palu (Sulawesi) berhubung Author saya bernama Ayu-186 tinggal disekitaran Sulawesi, semoga musibah ini cepat meredah, semoga korban ditemukan, baik yang hidup maupun yang meninggal, dan warga palu melewati semua hambatan musibah serta cobaan yang tengah mendera mereka amin.

Semoga Doa~kita kabulkan Yang maha~kuasa.

Amin~

Angkat kedua tangan lalu berdoa.

Amin~