Warning :(Sebelum baca cerita ini) Settingan cerita adalah Akhir perang dunia ninja, dan unsurnya setengah diambil dari Naruto-online, dan digabung dunia dari kisah Naruto-real.

Warning :
Beberapa plot dirubah [dengan sengaja] untuk membuat ceritanya sedikit nyambung jadi mohon pengertianya

Budayakan Vote/Komen sebelum baca


Dairy :

Disaat ini dalam kondisi ini
Mau tak mau kita harus memilih
Apa aku yakin dengan ini atau mereka yakin, Aku tak bisa percaya sepenuhnya.


Normal Pov :

"Setelah ini kalian akan kemana?,"Tanya Mikasha.

"Karna Vasuf sedang kurang enak badan kurasa kami akan kembali ke ruangan kami,"Ucap Naruto, padahal sebenarnya Vasuf baik-baik saja, akan tetapi saat ini kondisi mereka tak cukup baik untuk berbaur dikota atau sekitar, karna pasca ini mereka akan di gunjingan serta pembicaraan para Cadet.

"Aku akan memasang telinga untuk mengabar berita baru pada kalian,"Ucap Mikasa.

"Terimakasih atas bantuan nya,"Ucap Shino dengan tatapan Sopan dan formal. "Namun tampa mereka sadari seorang gadis bersurai pirang berlari terburu-buru seolah akan menghadapi masalah jika dia memelan langkah, gadis itu pun tampa sengaja bertabrakan Naruto yang saat itu diarah sebaiknya dan masih ngobrol dengan Armin.

BRUUK!

"Waaahhh~~~,"Karna kalah Postur Gadis itu nampak terdorong kebelakang, akan tetapi Naruto menyadari langsung mendekap tubuh lebih mungil darinya sebelum tubuh gadis itu menabrak lantai hitam koridor yang keras.

"Maafkan Aku, kau tidak apa-apa?,"Tanya Naruto dengan spontan. semua orang disekitar berhenti ditempat, Gadis bersurai pirang hanya terdiam memandang wajah Naruto berekspresi khawatir, dan menatap mata biru-safir milik Naruto yang menurutnya indah.

Ia bisa merasakan perasaan lembut dalam dekapan pemuda itu. Hangat dan seolah terlindung, namun wajahnya langsung bersemu merah saat menyadari bertapa erat dan kokohnya tangan Naruto. "Ah! Ano~ Namaku Chista, maaf aku tak sengaja menabrakmu, aku justru berlari dikoridor dan tak sengaja menabrakmu,"Gadis itu mencoba untuk menahan rasa malunya, dan melepaskan dekapan Naruto yang hangat.

"Tidak apa-apa,"Ucap Naruto kembali tersenyum manis. "Sepertinya kau terburu-buru sekali, lain kali tolong hati-hati,"Ucap Naruto mengusap pundang Cadet Chista. "Namaku Uzumaki Naruto,"Ucapnya.

"Chista Lenz,"Ucapnya cepat, sementara Vasuf menatap Christa dengan menyengit, membuat Mikasa yang melihat gerak-gerik Vasuf hanya memandang bingung dalam hati.

'Ada apa dengan anak itu?,'

Ucap Mikasa hanya menatap Vasuf dengan curiga, karna sejak dari ruang sidang hanya Vasuf yang jarang berbicara, terkecuali ada. mengajaknya bicara.

'Ada apa? Vasuf,"Panggil Shino dengan tatapan datar dalam telepatinya, sepertinya Ninja serangga itu menyadari kejanggalan gerak-gerik rekanya itu.

'Ano! Aura pada Gadis itu, berbeda dari orang sekitarnya, sepertinya dia bukan orang biasa, auranya jelas berbeda dari Cadet sekitarnya'

'Kau yakin' Tanya Shino dan Vasuf hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Maaf menganggu tapi atas perintah Jendral-Erwin kami ingin anda-anda untuk menemuinya,"Ucap Cadet itu dengan nada Formal.

"Baiklah kami mengerti,"Ucap Shino memutuskan telepatinya, dan menjawab dengan santai. "Dengan begini kita bisa langsung mendapatkan kabar pasti soal Sakura,"Ucap Shino.

Dan sementara yang dibicarakan?
Sakura kembali memandang kearah jendela luar, hatinya dalam keadaan super tenang karna punya waktu tenang untuk mulutnya sendiri (?). Erwin kembali terdiam dia duduk disofa sembari membaca beberapa berkas bersama Copral, dia memutuskan untuk tidak bertanya apa-pun pada Sakura lagi sampai. teman-teman Sakura datang. sementara Eren masih sibuk berurusan dengan Hanji, dan berapa kali Hanji tertawa histeris melihat Eren sebagai layaknya boneka percobaan yang baru.

Sakura tidak yakin sepenuhnya pada Regu pengintai bahkan pada Erwin, dia merasa belum punya pilihan, sampai teman-temanya berkumpul.

BRAK!

Suara pintu terdengar pelan terbuka memunculkan orang yang dibutuhkanya sekarang, Raut dingin Sakura berubah sedikit lebih lega saat Naruto, Shino dan Vasuf memasuki ruangan bersama beberapa Kadet yang disuruh memanggil mereka dan ada Mikasa dan Armin disana.

"Ereen!,"Ucap Mikasa lalu mendekati Eren di ikuti oleh Armin dari belakang.

"Kau baik-baik saja, Sakura-Chan?,"Tanya Naruto kemudian, saat ketiga pemuda itu mengimbanginya.

"Yeah! bagaimana dengan kalian?,"Tanya Sakura memberi sedikit senyuman pada ketiganya, hanya diberi tatapan tenang untuk keduanya, minus Naoto yang nampak datar.

Suasana yang awal yang begitu berat berubah menjadi lebih nyaman ketika rekan Sakura dan Eren datang, bersamaan tatapan dua orang lawan jenis memandang gadis bersurai pink.

'Ternyata dia bisa memliki Expresi seperti itu'

"Omong-omong masalah itu, sudah selesai,"Ucap Shino menghelah nafas lalu memandang sekitar dengan serius, lalu mendengkus. "Jadi apa ada masalah apa sampai kami repot-repot diundang kemari Tuan?,"Tanya Shino memandang datar, Langsung ke erwin.

Suasan santai yang sebelumnya tercipta kembali berubah menjadi hening Saat Shino, kembali membuka argumen. Ungkapan itu langsung membuat Erwin kembali menghelah nafas.

"Kalian benar kami memang ingin membicarakan beberapa hal yang penting dengan kalian, Silahkan duduk!,"Ucap Erwin mempersilahkan Sakura, Vasuf, Naruto dan Shino untuk duduk disebuah sofa panjang, begitu juga Mikasa dan Armin langsung duduk disamping Eren. Copral juga menghimbau Hanji untuk tenang, agar Erwin bisa berbicara dengan serius.

"Lalu apa masalah-nya,"Naruto menyengitkan pandangan lalu matanya memandang Erwin dengan Antusias.

"Aku sebagai Pemimpin Pengintai ingin meminta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya, Saya harap kalian semua bersediah bergabung dengan team pengintai,"Ucap Erwin dengan tampa basa-basi sedikit pun, membuat para Ninja dan seorang Tittan disana merasa tak nyaman, mungkin bagi Eren ini keputusan yang bijak demi mengetahui lebih cara untuk keluar dinding, untuk mengikuti isi hatinya dan menguak rahasia apa yang ada didalam ruang bawah tanah rumahnya. Semua masih menjadi misteri dikepalanya dan ingin dia pecahkan.

"Apa yang akan kami dapatkan setelah kami bergabung,"Tanya Shino membalas tampa bertele-tele, membuat suasana menjadi tegang. "Sebelum mengarah ke topik ini,bisakah kalian menjelaskan kenapa Kalian menangkap teman kami, kami sudah membantu kru kalian selama perebutan dinding dalam,"Tanya Shino dengan nada tenang namun menusuk.

"Shino-Kun,"Ucap Vasuf mencoba mencegah Shino untuk berbicara tajam agar tak membuat dua belah pihak tidak merasa tersinggung.

"Saya akan menjelaskan ,"Ucap Erwin menghelah nafas, dalam hati sesungguhnya dia cukup tersinggung dengan gaya bicara Shino, akan tetapi mereka semua sepenuhnya tidak bersalah atas insident ini, makanya Erwin memaklumi posisi para ninja, atas semua bantuan kemarin yang tidak bisa dianggap sepele.

"Penangkapan dan tuduhan atas membahayakan dinding tuhan, sengaja dilakukan atas perintah dari pihak Kerajaan karna kalian dianggap penyusup serta mata-mata yang berkemungkinan ingin menghancurkan kehidupan sisa dari para umat manusia yang berada dalam dinding,"Jelasnya.

"Lalu darimana tuduhan itu dilayangkan?,"Tanya Vasuf.

"Polisi-Khusus pemerintahan, sengaja meminta Surat Hukum Raja agar membawa Eren dan Sakura, agar disidang didepan semua orang, Selain Para Tim Pemerintahaan menginginkan tubuh Eren untuk dibeda oleh peneliti, Sakura ditangkap untuk dijadikanya sebagai umpan untuk kalian bertiga."

DEG!

"Apa kalian paham dengan posisi kalian saat ini?, Kalian datang mengaku tidak tahu mengapa kalian berada ditempat ini?,"

"Kalian yang datang begitu saja, dengan kekuatan diluar nalar kami, bahkan itu diluar batas kemampuan kami,"
"Ini bisa menjadi sasaran empuk bagi Team Cops Kerajaan untuk memanfaatkan keadaan, Mereka bisa membuat posisi kalian terpojok dengan hal itu, apa kalian paham dengan itu?,"

"Rupanya begitu!,"Ucap Naruto lalu melirik Vasuf dari dari ekor matanya. "Bagaimana Vasuf,"Tanya Naruto yang sengaja memperhatikan Erwin berbicara dan terus memandang mata Erwin.

"Dia tidak berbohong, Dia berkata jujur,"Ucap Vasuf datar, membuat Erwin menyengit dengan tatapan merah darah milik pemuda itu.

[Benar yang dikatakan Anak itu, Orang itu berkata jujur Kid! Jalur Jiwanya begitu tenang akan tapi aku merasa ada sesuatu dalam dirinya] Suara Kurama menggema dalam kepala Naruto, terdengar begitu serius. (Dia berbahaya) Ucap Kurama lagi.

"..."

"Tapi bukankah meski kalian berhasil membantu Eren dan Aku keluar dari masalah, apa yang kalian inginkan dari kami, kurasa kalian tak mungkin membebaskan kami begitu saja,"Ucap Sakura datar dan mencoba berpikir kelogika yang terbaik.

"Astaga Kau luar biasaaa sajuraaaa,"Ucap Hanji selebay mungin.

"Namaku Sakura,"Ucap Sakura mendengkus.

"Kau gadis yang pintar,"Ucap Erwin nampak tersenyum, pada Sakura membuat dua pria menyengit tak nyaman dengan tatapan Erwin pada Sakura. "Aku berharap kalian bisa memberi keputusan yang tepat, kekuatan kalian sangat dibutuhkan,"

"Bagaimana pendapatmu Naruto?,"Tanya Sakura, memberi keputusan yang Final pada Naruto membuat pemuda itu menyengit datar, disertai anggukan Shino dan Vasuf. "Tolong beri keputusanmu,"

"Baiklah kami menerimanya permintaanmu , Kami akan meminjamkan kemampuan kami masing-masing membantu team pengintai, sampai kami menemukan cara kami kembali tempat asal kami,"Ucap Naruto.

"Dengan Kita sepakat?, kami akan memberikan kalian perlindungan selama ada dalam kelompok kami"Tanya Erwin bangkit dari kursinya lalu mengulurkan tanganya, begitu pula Naruto yang ikut-ikutan bangkit berdiri. "Ini untuk keuntungan kita masing-masing,"Ucapnya lagi.

"Ya kita sepakat, Datteyo, Kuharap janjimu bisa dipegang,"Ucap Naruto.

"Kalau begitu kami akan persiapkan kepindahan kalian ke Camp kami besok, Base kamar kalian akan kami sediahkan, begitu juga seragam kalian agar memudahkan kalian berbaur bersama team kami,"Ucap Erwin dan mendapat anggukan setuju oleh para Ninja dan Eren sendiri, lalu Sepertinya Mikasa dan Armin akan memutuskan untuk mengikuti kemana Eren memilih.


"Jadi mau tidak mau kita harus mengikuti intruksi mereka,"Ucap Vasuf datar.

"Ibarat kita menginjak jebakan, tapi kita tak bisa lepas jebakan itu dengan mudah,"Ucap Shino menangapi ucapan Vasuf dikala mereka sudah keluar dari ruangan Erwin berempat menuju kamar mereka, sementara Eren, Mikasa dan Armin mengambil jalan lain karna Eren butuh penanganan di Hospital.

"Tapi kita tak punya banyak pilihan,"Ucap Vasuf dengan serius, mata merahnya memandang lurus lorong kantor erwin yang sepi oleh penjagaan menyebabkan mereka lumayan bisa bicara dengan volume sedikit keras.

"Aku minta maaf jika bukan karna aku, kita tak mungkin dalam masalah seperti ini,"Ucap Sakura membungkuk punggungnya dihadapan ketiga laki-laki itu.

"Kau bicara Apa Sakura-Chan?,"Ucap Naruto menyengitkan alis. "Tak ada masalah tentangmu, Ini adalah perjalanan kita, kita harus Survive, kita adalah Ninja petarung,"Ucap Naruto dengan nada terdengar tegas, namun masih memberikan nada yang jenaka.

"Aku..."Ucap Sakura terdiam ia kehabisan kata dan bingung harus menjawab apa, entah kenapa dia merasa Naruto sudah semakin dewasa, berbeda dengan sisinya yang dulu dimana mereka selalu berselisih paham, bahkan Naruto akan selalu kalah bertengkar melawan Sakura, akibat kekonyolan yang dibuat Naruto sendiri.

"Naruto benar,"Ucap Shino datar. "Jika satu dari kita mendapat masalah, Jangan bertingkah terlalu jauh dan kerjakan sama-sama sampai kita semua bisa pulang ketempat kita mengerti,"Shino tegas membuat Naruto mengangkat jempolnya.

"Terimakasih, aku akan berusaha semampuku untuk melindungi kalian bertiga, aku janji,"Ucap Sakura lalu memberi senyuman leganya.

"Kami juga akan melindungimu! kita akan saling melindungi, ia-kan Nee san?,"Ucap Vasuf meraih tangan Sakura dengan lembut.

"Terimakasih 'Imoto',"Ucap Sakura terkekek, menerima rengkuhan tangan Vasuf.

"Hoi-Hoi aku bukan Perempuan, aku ini anak laki-laki Sakura-San!,"Dengkus Vasuf karna dipanggil 'Imoto' harusnya 'Otoko'.

Tawa langsung meledak diantara mereka semua suasana menyenangkan itu kembali mengiring mereka sepanjang jalan, sementara itu tiga orang gadis nampak bercakap diujung ruangan mereka tampa mereka sadari minus Vasuf yang kala itu memang tahu tapi tidak peduli.


"Apa yang sedang kau perhatikan. Chirsta?,"Seorang gadis bersurai pirang bernama Chista yang dipanggil nampak memeluk sebuah map laporan dengan gugup, awalnya dia dan dua wanita (Cadet) Datang kekantor Erwin untuk memberikan laporan, tapi gadis cantik itu justru diam ditempat agak menjauh saat Naruto dan teman-temanya keluar dari kantor.

"Aku tidak apa-apa!?,"Ucap Chirsta masih memandang jauh pada sosok lelaki bersurai pirang, bermata biru yang memiliki mark(kumis-kucing) di pipinya, nampak tertawa manis bersama rekan-rekanya.

"Ahh Mereka-kan!?,"Sebuah Suara terdengar disamping Chirsta dan wanita yang memanggil Chirsta tadi, dengan serius, mata bulat, besarnya dan mulutnya mengunyah yang penuh dengan kentang rebus kering.

"Kau kenal mereka?,"Tanya Wanita yang bersurai hitam, diikat satu, dengan seragam lengkap Cadet, dengan memandang dengan raut wajah tak nyaman terhadap orang baru.

"Mereka adalah Orang yang menyelamatkan Kru tuan Edward, saat itu aku bersama Kru Edward dan sedang dalam misi penyelamatan,"Ucap Wanita pemakan Kentang itu.

"Kau yakin Shasha?,"Ucap Chirsta sementara wanita yang dipanggil Shasha hanya mengangguk yakin.

"Tentu saja!,"Ucapnya. "Kau tak lihat kekuatan mereka loh, aku lihat sendiri, Pria bersurai Pirang itu bisa mengandakan diri, dia cepat, dan aku melihatnya menghancurkan Tittan dengan sebuah cahaya angin ditanganya, Lelaki yang bersurai Hitam itu, matanya berwarna merah, aku melihatnya memunculkan kentakel yang terbuat dari angin, lalu pria dengan tudung serta kaca mata itu,"Ucapan Shasha terdengar berbeda dari sebelumnya saat membicarakan Shino. "Dia pria yang datar, defensif, tapi tubuhnya bisa mengeluarkan serangga aneh yang bisa membalut tubuhnya," Namun Rautnya kembali biasa setelah membicarakan Sakura. "Lalu satu-satunya wanita dikelompok itu, dia mengerikan asal kuberitahu saja, aku melihat dia menghancurkan sesuatu dengan pukulan mau orang, gedung atau Tittan, Mereka sangat berbahaya,"Ucap Shasaha menekankan.

"Mereka terlihat biasa saja,"Ucap Wanita bersurai hitam itu dengan nada yang datar.

"Ymir!,"Ucap Chirsta menatap gadis bersuarai hitam, tapi wajah wanita bernama Ymir nampak mengabaikanya. Ketiganya pun kembali memasuki Kantor dan menghilang dari lorong.


[Naruto Dream]

Sebuah dataran indah yang dipenuhi oleh bunga, bebatuan dan rumpun dilatar belakangi oleh lembah hancur dan serpihan puing-puing Desa Konoha yang hendak sedang dibangun ulang oleh masyarakat untuk membangun wilayah itu kembali, tinggal ukiran batu pemimpin saja yang tak memiliki kerusakan berarti.

"Kenapa Hinata,"

Suara geraman penyesalan terdengar dari Naruto, didepan sosok gadis yang selama ini menyimpan perasaan padanya, dan dia sudah menerima hatinya untuk sang Hyuga.

"Maaf Naruto-kun aku adalah Putri utama, dari Hyuga-klan, aku sangat bahagia saat mendengar kau menerima perasaanku, akan tetapi ini akan menjadi masalalu,"Ucap Hinata dingin.

"Tapi kenapa, kenapa kau justru menikahi Neji-san,"Ucap Naruto dengan perasaan terluka.

"Aku harus, Neji-san adalah anak Hyuga yang menjadi pelindung bagi Hyuga utama sepertiku, kau tahu saat perang terjadi banyak dari klan Hyuga yang tewas, maka dari itu aku dipinta oleh ayahanda untuk menikahi Neji san,"Ucap Hinata.

"A-Aku,"Ucap Naruto dengan perasaan getir matanya sayu penuh menyayat hati. "Padahal perasaan kita sudah sejauh ini,"Ucap Naruto dengan nada getir air matanya terjatuh pelan pelan menuruni pipinya.

"Selamat tinggal Naruto-kun, aku menganggap perasaanku padamu tak pernah ada,"Ucap Hinata.

"Tunggu Hina-,"

"Naruto,"

"Narutooo,"

"NARUTOOO!,"

Suara itu bersamaan seolah menarik kesadaran Naruto kembali kedunia nyata.


Naruto membuka matanya dengan tampang tergesa menatap Sakura sudah disamping kasurnya, Naruto tampak bermimpi buruk dengan rautnya yang terlihat sedih.

"Kau baik-baik saja?,"Tanya Sakura dengan tampang prihatin.

"Maaf aku menganggu malam-malam,"Ucap Naruto dengan nada lemah.

"Bukan masalah, mau cerita denganku sebentar?,"Tanya Sakura, yang mungkin pertanyaan ini sedikit menganggu. "Ceritakan ada masalah apa?,"Ucap Sakura duduk dengan tenang dipinggir kasur Naruto.

"..."Naruto terdiam, ia memperbaiki tata duduknya, lalu menatap kasur tingkat Vasuf dan Shino yang masih tidur diatas kasurnya.

"Apa ini masalah Hinata,"Tanya Sakura.

"..."

"Maaf..."Ucap Sakura datar, wajahnya terlihat tidak nyaman dengan kondisi itu.

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,"Ucap Naruto tersenyum getir. "Kehilangan dia membuatku sedikit merasa bersalah, dan menyesal, untuk diriku sendiri dan untukmu Sakura maaf karna,"Ucap Naruto.

DEG!

"Naruto,"

"Maaf aku tak bisa mengembalikan Sasuke sesuai janjiku,"Ucap Naruto mengenggam tangan Sakura dengan kuat dengan nada penyesalan.

[BERSAMBUNG]
[SABTU-26-JANUARI -2019]
*Remek Chapters*