Jika ada niat, apapun dapat dicapai. Moto tersebut benar-benar terjadi pada Kume sekarang. Kemarin malam, tepatnya setelah ia selesai makan, Natsume menghampirinya. Beliau ingin mengajaknya pergi berbelanja esok hari. Ia tidak akan menolak ajakannya, tentu saja, jadi Kume langsung mengiyakan sebuah janji bertemu pukul sembilan pagi.
.
.
.
My Star Vessel
Bungou to Alchemist belongs to DMM Games
Friendship, Drama
Summary: Ia pikir hidupnya tak lebih dari menyelamatkan literatur. Namun, saat ia menoleh ke samping, ia sadar kesempatan ini ada untuk menyambungkannya dengan semua yang belum sempat mengutarakan sesuatu di masa lalu. [HBD Kume & #i1'1MeetYouAgain]
.
.
.
Kume yang terlalu senang itu lekas pergi ke kamar. Ajakan minum sampai tengah malam oleh teman-temannya seakan mental sebelum masuk ke dalam teliganya. Hal penting yang perlu Kume lakukan sekarang adalah tidur, tidur, dan tidur. Ia tak boleh mengecewakan Natsume dengan begadang hingga larut malam dan bangun dengan penuh penyesalan.
Lampu dimatikan, tubuh diselimuti, dan Kume terheran-heran kenapa matanya tak juga terpejam. Mungkinkah ini efek samping dari sering begadang? Padahal jika menggunakan teori perhitungannya, ini hanya perpindahan jam tidur, bukan pengurangan atau penambahan jam. Seharusnya ia dapat tertidur begitu tubuhmu berbaring di atas kasur.
Setelah berkali-kali memejamkan mata dan membayangkan hal-hal rumit di tengah kegelapan, akhirnya ia tertidur ketika jam menunjukan pukul sebelas malam. Kume tak ingat mimpi apa yang sempat menjadi bunga tidur, tapi ia ingat betapa kuat alarm bawah sadar yang segera membangunkannya di pukul tujuh. Dua jam bukanlah waktu yang sebentar, terutama jika kegiatan yang Kume lakukan melibatkan Natsume, jadi Kume menggunakannya untuk bersiap-siap sesempurna mungkin.
Natsume menemuinya dengan wajah terkejut, rupanya Kume sudah siap begitu ia baru saja ingin menuruni tangga. Kume hendak bertanya ke mana tujuan mereka pergi, tapi hal itu terpotong ketika seseorang memanggil nama penanya saat membuat puisi dari kejauhan. Hekigotou melambaikan tangan.
"Ah, aku belum bilang, ya?" Natsume menjawab kebingungannya. "Aku mengajak Hekigotou-kun juga."
"Nggak apa-apa, 'kan?" Hekigotou menaikan ritsleting pada hoodie hitamnya. "Duh, dingin banget ya pagi ini."
"Seharusnya kalau udah tahu sekarang musim gugur mau ke dingin, sensei pakai celana yang lebih panjang," jawab Kume sembari mengamati celana tiga seperempat yang hanya mencapai betis Hekigotou. Sebuah tawa menjadi balasannya.
Kume bertanya kembali tentang destinasi mereka. Natsume bilang ia ingin mengunjungi restoran yang menyajikan makanan yang populer di kalangan para Bungou; tenshi no namida. Mendengar namanya membuat keduanya terheran-heran. Natsume menjelaskan bahwa orang-orang bilang itu adalah mochi berbentuk bulat layaknya butiran air. Ah, Kume paham apa yang ingin Natsume lakukan. Pada dasarnya, makanan manis adalah hal yang tak bisa dipisahkan darinya.
Sesampainya di restoran, mereka segera menempati kursi kosong di meja counter. Hekigotou di kiri, Kume di tengah, dan Natsume di kanan. Mereka mulai membuka buku menu, mencari sesuatu yang diinginkan. Hekigotou memesan sepaket mitarashi dango sedangkan Natsume memesan makanan yang ia bicarakan tadi. Ketika keduanya melihat Kume yang belum juga menentukan pilihan, ia jadi kebingungan sendiri.
"Kume-kun, pesan saja apapun yang kamu mau. Hari ini kutraktir, kok."
"Eh, meski dibilang gitu …" Kume melihat buku menunya dengan seksama, bingung harus memesan apa di tempat yang spesialis menjual makanan manis ini. Ajakan Natsume membuat nafsu makannya terpenuhi meskipun ia belum mencerna apapun.
Jari Hekigotou menunjuk sesuatu di buku menunya. "Bukannya Santei suka makan pisang? Gimana kalau makan bolu gulung pisang?"
"Kume-kun suka pisang?"
"Iya!" Hekigotou bersemangat sekali. "Kalau buah di ruang makan bisa dipilih, dia pasti ngambil pisang!"
"Ah, kebetulan yang ada pisangnya cuma itu." Kume memutuskan pilihannya. "Kurasa aku mau bolu gulung pisang."
"Bagus, bagus!"
Mereka memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan masing-masing. Tenshi no namida, mitarashi dango, dan bolu gulung pisang. Genmaicha tak lupa mereka pesan sebagai teman makan mereka sekaligus menghangatkan tubuh di penghujung musim gugur ini. Di tengah persiapan pesanan mereka, Natsume bercerita tentang mochi bagai air miliknya hanya tersedia sepuluh buah setiap harinya, maka dari itu ia mengajak keduanya pergi pagi-pagi sekali.
Pesanan mulai berdatangan tak lama setelah mereka selesai membahas makanan unik tersebut. Ketika mencoba sesuap, Natsume senang karena rasanya sangat enak. Mochi -nya sendiri tidak punya rasa apa-apa—karena hanya terbuat dari agar-agar dan air—tapi sirup gula aren dan bubuk kedelai menyatu dan menghasilkan rasa yang luar biasa lezat.
Seakan tak mau kalah, Hekigotou mulai membakar dango pesanannya. Dango yang dicelupkan ke dalam sausnya membuat Hekigotou mengerang bahagia. Ia mengambil satu tusuk yang baru selesai dibakar dan memberikannya pada Kume agar ia bisa menyicipinya juga.
"Hekigotou-sensei aja yang makan."
"Udah, makan aja!" Hekigotou mengarahkan dango-nya ke depan mulut Kume. "Ayo, buka mulutnya!"
Kume merasa malu lantaran disuapi oleh gurunya, tapi ia tetap membuka mulut karena ia tahu Hekigotou pasti akan terus-terusan memaksanya hingga ia mau. Rasa manis yang menyelimuti dango bakar tersebut membuat Kume mengunyah perlahan sembari merespons, "Enak."
"Iya, 'kan?!" Hekigotou melebarkan senyumnya, senang melihat Kume sepemikiran dengannya. "Sausnya cocok banget. Pesananmu gimana?"
"Ah, roll cake ini juga enak." Kume menggeser piringnya ke kiri, menawari Hekigotou jika ingin menyicipi. "Teksturnya lembut sekali, rasanya juga nggak terlalu manis."
Hekigotou mengambil sedikit bolu gulung tersebut dengan garpu. Rasa yang dideskripsikan Kume terasa di dalam mulutnya. "Wah bener juga."
Mereka melanjutkan makan dengan damai. Genmaicha juga mereka minum ketika mereka haus. Bolu milik Kume masih tersisa setengah. Ia bukannya tidak berniat makan, ia hanya ingin berhenti untuk memberikan pertanyaan pada orang yang mengajaknya pergi sekarang.
"Natsume-sensei …" fokus dua orang di sebelahnya beralih padanya. "Maaf kalau saya agak kurang sopan, tapi saya penasaran kenapa Anda mengajak saya pergi begini … biasanya sensei pergi sama Matsuoka atau Akutagawa-kun."
"Hmm …" Natsume menaburkan bubuk kedelai pada mochi-nya. "Matsuoka-kun dan Akutagawa-kun pasti bakal nolak kalau kuajak ke tempat seperti ini. Belakangan, mereka berdua lagi besar-besarin kampanye ngurang-ngurangin makanan manis, sih."
"Ah, benar juga." Kume membayangkan kedua temannya. "Sepertinya saya pernah lihat Matsuoka membatasi pemakaian gula."
"Nah, bahaya, 'kan?" Kume mengangguk. "Padahal aku cuma mau makan makanan manis, padahal itu satu-satunya permintaanku, tapi mereka sering melarangku."
"Haha … betul juga."
Suasana menjadi canggung. Kume hendak memakan kembali bolunya sampai Natsume berkata lagi. "Tapi, ya, selain itu, nggak masalah 'kan kalau aku mau ngajak kamu jalan sesekali?"
"I-iya juga, ya."
"Santei seneng, tuh." Hekigotou terkekeh kala melihat Kume malu-malu begitu. "Ah, apa aku pesen buat dibawa pulang, ya? Kayaknya Nobo-san dan Kiyo bakal suka juga makan dango ini."
"Aku juga pengen bawa pulang." Natsume menambahkan. "Tapi nanti pasti ada yang protes."
"Bungkusannya diakalin aja, Natsume-san!"
"Hekigotou-kun, idemu boleh juga."
Kume menyesap genmaicha-nya. Rasa gurih dari beras yang dipanggang ditambah suhu air yang hangat benar-benar memuaskannya. Jika ingin membawa pulang sesuatu, mungkin Kume ingin memesan teh ini ketimbang makanan manisnya.
"Ngomong-ngomong, Kume-kun," panggll Natsume dengan suara lembut. "Apa kamu sudah baca cerita yang kukasih tahu padamu?"
"Buku itu?" Kume mengingat-ingat konten karya yang disarankan Natsume beberapa hari lalu. "Ceritanya menarik sekali. Penggambaran pemandangan alamnya sungguh apik, terasa nyata sekali. Konflik yang dibawa penulisnya ringan, tapi saya bisa merasakan bagaimana pembawaannya yang dikemas rapih dan terstruktur. Jika bisa diibaratkan, saya seperti melihat kerangka bangunan istana yang cukup mumpuni."
Natsume tersenyum. "Kekurangannya bagaimana?"
"Menurut saya, ada satu bagian yang mungkin dipikir penulisnya bisa dilewatkan dan berharap orang-orang tidak menyadarinya karena itu hanya membahas hubungan protagonis dengan keluarganya. Sayangnya, hal itu bisa mempengaruhi perasaan yang ingin disampaikan di penghujung cerita. Saya jadi merasa kurang bersimpati pada mereka semua lantaran kurangnya pendalaman di bagian tersebut."
"Ah, Santei emang paling jago ngasih timbal balik ke karya orang, ya." Hekigotou takjub mendengar penjelasan Kume barusan. "Rasanya aku kaya denger juri lagi ngasih komentar ke kontestan."
"Emang pernah jadi juri sih, jadi pernyataan Hekigotou-sensei ada benarnya."
"Eh, iya juga, ya."
"Menurutku, itu salah satu kelebihan Kume-kun yang patut dibanggakan." Natsume sependapat dengan Hekigotou. "Caranya melihat karya dilalui perlahan-lahan dan mendalam, menghasilkan timbal balik yang langsung ke intinya."
Mendengar ucapan Natsume, Kume jadi teringat di masa lalu saat Natsume memberinya surat tentang pentingnya bergerak perlahan layaknya lembu. Ia sedikit bangga mengetahui pencapaiannya; menjadi pribadi yang sesuai dengan saran dari Natsume.
Di sela-sela rasa bangga tersebut, terdapat pula perasaan lain yang mendominasi hatinya. Jika ia berhasil menjadi pribadi yang Natsume katakan di masa lalu, bukankah itu berarti ia tidak berubah sama sekali? Padahal Natsume bilang padanya untuk maju ke depan, padahal seharusnya ia berkembang menjadi yang lebih baik la—
"Cerita yang baru-baru ini kamu tunjukan padaku juga menarik." Lamunan suram Kume terhenti kala Natsume melanjutkan kata-katanya. "Kamu semakin meningkatkan cara berekspresi di beberapa genre cerita yang sebelumnya belum kamu kuasai, kamu juga mulai coba ambil pendekatan baru dengan membahas topik-topik yang lebih modern. Aku jadi melihat sesuatu yang baru, yang cocok dibaca berbagai kalangan."
"Aku juga ada cerita, nih." Hekigotou juga tidak mau kalah. "Padahal Santei lebih fokus ke novel, tapi dia masih ngiktin perkembangan haiku dan bahkan masih nulis beberapa baris haiku. Aku bener-bener terharu sekaligus bangga lihatnya. Antusiasmemu sama dunia literatur benar-benar menyemangati orang!"
Pujian bertubi-tubi dari dua orang di sebelahnya membuat hati Kume sesak. Kenapa ia selalu memikirkan hal-hal suram? Padahal orang-orang ini—orang-orang yang jadi mentornya ini—mengakui bahwa ia sudah berubah, sudah tidak stagnan lagi Kume merasa beban yang entah sejak kapan mengendap di sudut hatinya sedikit demi sedikit menghilang dan tiba-tiba saja—
Kume menangis.
"Santei, kamu nggak apa-apa?!" Hekigotou terkejut. Ia memegangi punggung Kume. "Kamu nangis, lho …."
"Ha-habis …" mata Kume terasa panas. Bulir air mata menetes begitu saja melewati pipinya. "Habisnya … nggak tahu harus berterima kasih … gimana lagi …."
"Nggak apa-apa kok kalau kamu mau nangis." Tangan Natsume menepuk kepala Kume yang tertutupi topi. "Dari dulu aku ingin kamu tahu hal itu, hal yang ngebebanin pikiranmu sampai sekarang. Kalau dengan nangis bisa hilangin semuanya, ya nggak apa-apa, nangis aja sekarang."
Kume menutupi wajahhnya dengan kedua tangan. Ia berusaha mengurangi isakannya, malu jika dirinya yang menyedihkan ini dilihat terus oleh dua orang yang ia kagumi (di sisi lain ia juga takut jika air matanya terjatuh di atas bolu gulung). Tangan Natsume yang mengelus kepalanya dan tangan Hekigotou yang mengelus punggungnya sungguh hangat dan menenangkan. Ia ingin momen init idak pernah berakhir, atau meski berakhir pun, ia harap ia tidak akan melupakan setiap detiknya.
Terima kasih, Natsume-sensei, Hekigotou-sensei.
To Be Continued
