Kegiatan jalan-jalan pagi dengan Natsume dan Hekigotou telah selesai. Sebelum kembali ke perpustakaan, Natsume memutuskan untuk memesan seporsi tenshi no namida. Ia minta pesanannya dibungkuskan dengan kotak putih tanpa tulisan agar tidak terlalu kelihatan jika ia beli sesuatu dari restoran spesialis makanan manis.

Ketika mereka bertiga berpisah jalan, Kume menemukan kedua temannya sedang duduk di taman. Bukan, bukan bangku taman berwarna putih di dekat kolam, mereka duduk di atas rumput yang tertutupi karpet seakan-akan mereka sedang piknik. Botol-botol sake yang berserakan di sekitar mereka memberikan Kume gambaran.

"Siang-siang gini … kalian udah minum-minum?"

"Mau itu pagi, siang, sore, atau bahkan malam, semua waktu itu bisa dipake buat minum sake!" balas Yoshii dengan penuh penekanan. "Masao harusnya paham hal paling mendasar kaya gitu."

"Emangnya kalian nggak ada kerjaan?"

"Nggak ada, dong." Kali ini Ton yang menjawab. "Karena lagi nggak ada kerjaan dan orang-orang lain pada sibuk sama kegiatan mereka masing-masing, jadi ya, paling bener kita minum-minum."

"Seenggaknya di bar aja gitu lho kalau mau mabok-mabokan." Kume duduk bersebelahan dengan mereka. Botol sake yang berantakan ia rapihkan. "Di tempat terbuka dengan wajah sangat mabok gitu … emangnya nggak malu, apa?"

"Nggak ada yang malu-maluin dari mabuk," balas Yoshii sembari menunjuk suatu tempat agak jauh dari mereka, memperlihatkan sosok dua orang dengan keadaan yang kurang lebih sama seperti mereka. "Toh, orang lain juga minum-minum di sini, lebih parah dari kita malah."

"Sekarang anginnya udah mulai dingin."

"Sekarang jam satu siang, Masao, udah gitu matahari masih ada. Artinya, meski udara dingin, seenggaknya masih ada penghangat. Matahari dan sake ini."

Berdebat dengan orang mabuk hanya akan membuang waktu, jadi Kume menyerah. "Iya, deh, iya."

Beberapa menit pertama setelah ikut duduk di taman Kume habiskan dengan mengamati mereka. Yoshii kedapatan tugas membuka botol yang masih bersegel dan menuangkannya pada cangkir miliknya dan Ton (jika Ton juga ingin tambah). Ia sempat menawarkannya pada si pendatang baru, tapi Kume menolaknya lantaran ingin tetap sadar terhadap suatu kejadian.

"Kayaknya ada yang mau kamu ceritain, ya?" Ton mengamati wajah Kume yang lebih bersinar dari biasanya. "Kelihatan banget, lho."

"Satomi-kun bener-bener hebat dalam seni meneliti orang, ya." Kume tidak menyanggah tebakan Ton. "Aku emang mau sedikit cerita, sih …."

"Ayo, ayo, cerita!"

Kume mengawali ceritanya dari Natsume yang mengajaknya pergi, dilanjutkan dengan Hekigotou ikut pergi bersama mereka. Ia juga menyebutkan menu apa saja yang ada di restoran beserta rasa dari makanan yang ia dan Hekigotou pesan. Terakhir ia menjelaskan tentang Natsume dan Hekigotou yang memuji dan menghiburnya.

"Hmm … biar kutebak." Senyum menyeringai tergambar di wajah Ton. "Kamu pasti nangis."

"Kebayang, kebayang!" Yoshii merespons di saat Kume tidak menjawab tebakan Ton. "Masao yang nangis … pokoknya kebayang banget, deh."

"Maaf ya kalau ciri khasku itu nangis."

"Nggak masalah, kok." Ton menyemangati. "Nangis itu wajar. Aku juga kadang suka nangis. Sendirian atau di depan banyak orang."

"Entah kenapa aku malah kasihan sama kamu."

"Tapi, ya, bagus dong," ujar Ton, "kalau kamu dapet dukungan dari orang-orang yang kamu kagumin."

"Iya …."

"Kamu juga bisa jadiin itu bahan bakar biar kamu lebih semangat lagi." Yoshii ikut menambahkan. "Mau itu berkarya atau hidup."

"Berkarya, ya …" Kume mengulangnya. "Di saat bersamaan, Akutagawa-kun juga lagi semangat-semangatnya …."

"Aduh, mulai deh mulai." Meskipun sedang dalam keadaan sangat mabuk, Yoshii langsung paham jika sebuah kata kunci diucapkan Kume.

Ton menggelengkan kepalanya. "Harusnya emang jangan mancing kata-kata 'berkarya', sih."

"Belakangan ini Akutagawa-kun sering mengurung diri di kamarnya buat bikin cerita," ujar Kume dengan bibir cemberut. "Waktu itu dia bilang apa ya … pokoknya cerita yang dia ambil setelah baca karya dari luar negeri. Dari keseriusannya, aku yakin dia bisa dapat pujian dari Natsume-sensei sekali lagi."

Dari lubuk hati terdalam, Kume ingin sekali memaki mulutnya yang seenaknya saja bercerita hal-hal seperti ini. Kenapa ia selalu menghasilkan atmosfer suram di tengah-tengah perasaan haru lantaran disemangati oleh dua mentornya? Kenapa sulit sekali baginya untuk bersikap positif sepenuhnya setidaknya sehari saja?

"Manusia itu emang nggak pernah merasa puas, Masao." Yoshii berhenti sejenak. Ia meneguk sake-nya. "Tadi pagi kamu puas karena dipuji orang dan siangnya kamu balik lagi ke pikiran soal Akutagawa."

Kume tak bisa menjawab pernyataannya. Yoshii melanjutkan. "Itu perasaan yang wajar. Yang nggak wajar itu terus-terusan kepikiran di titik yang sama, yah yang seperti kamu bahas ini sekarang."

"Aku tahu." Kume mengepalkan tangannya. "Aku tahu betul soal itu, tapi … buat usaha ngilangin pikiran kaya gitu tuh susah, bagiku. Kalau ada cara biar aku bisa nutup mata nutup telinga soal hal-hal suram, mungkin aku bakal bisa jadi lebih ceria."

"Kamu bilang … Akutagawa-kun bikin cerita yang terinspirasi dari karya luar negeri, 'kan?" Kume mengiyakan pertanyaan Ton. "Nah, kamu harusnya bisa lawan dia dengan senjata yang kamu punya sendiri."

"Hah? Se-senjata?"

"Iya!" mendadak suara Ton sedikit meninggi saking semangatnya. "Kamu bisa bikin cerita berdasarkan pengalamanmu dulu. Kamu udah melalangbuana ke banyak negara, nyoba berbagai hal juga, jadi aku yakin, kalau soal luar negeri, kamu nggak bakal kalah dari Akutagawa-kun."

"Tapi … pengetahuannya tentang karya-karya sastra luar negeri juga luas."

"Pengalaman lebih bisa memberikan gambaran daripada tulisan di buku!"

Mata Ton memelototi Kume, meyakinkan orang yang kurang percaya diri itu untuk memercayainya. Kume menoleh ke samping, bukan karena malu, melainkan berusaha menahan tawa lantaran keseriusan Ton yang diikuti oleh raut wajahnya yang memerah karena mabuk.

"Banyak yang bilang buku itu bisa menjelaskan seluruh isi dunia, lho."

"Kamu yang pernah melihatnya secara langsung lebih mahir mendeskripsikan apa yang tersirat di novel."

"Satomi-kun, rasanya aneh mendengar penulis novel sepertimu mencibir tulisan di dalam buku."

"Yah, seenggaknya itu bisa bikin semangat kompetitifmu keluar."

Debat mereka menjadi semakin tidak jelas. Tiba-tiba saja Kume tertawa, mengangetkan keduanya. Karena tawanya bagai wabah, mereka juga ikut tertawa tak lama setelahnya. Jarang-jarang Kume bisa mengeluarkan ekspresinya seperti ini sampai-sampai mulutnya sakit lantaran kebanyakan tertawa.

"Aku bingung sebenernya." Kume mulai menghentikan tawanya. "Kenapa Satomi-kun menyarankanku buat beradu tulisan sama Akutagawa-kun? Ujung-ujungnya nanti malah bikin situasi semakin sengit. Normalnya orang bakal ngingetin aku soal kata-kata Natsume-sensei atau Hekigotou-sensei."

"Lho, kamu lupa apa gimana?" Ton mengambil cangkir miliknya. Raut wajahnya yang semula penuh ceria karena tertawa, kini berubah menjadi sesuatu yang agak mencurigakan. "Kita 'kan teman yang buruk."

Ah—

Bisa-bisanya Kume lupa. Apa yang dikatakan Ton singkap, tapi itu sudah cukup menjelaskan segala hal. Perkumpulan lain yang Kume temui adalah perkumpulan orang-orang pegiat sastra yang sering sekali membahas hal-hal baik yang tentunya Kume hargai setiap momennya. Namun, jika ia berkumpul dengan mereka berdua, ia dapat mengatakan apapun tanpa perlu merasa mereka akan berusaha memberikan 'anjuran' yang baik.

"Kayaknya aku mau ikut minum, deh." Kume mengambil cangkir yang belum dipakai. "Emang kurang klop kalau ngumpul tanpa minum sake."

"Nah, itu baru Kume Masao yang kita kenal!"

Mereka adalah tempat bersinggah di kala Kume membutuhkan sebuah sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya. Dan itu tidak akan berubah meskipun mereka sudah dihidupkan kembali di sini.

Terima kasih, Yoshii-kun, Satomi-kun.

To Be Continued