Sehabis makan malam, Kan dan yang lain mengajak Kume pergi ke ruang santai. Tempat itu seakan telah disewa oleh mereka; tidak ada orang yang berlalu-lalang, tidak ada yang duduk di sofa sembari mendengarkan musik atau bermain shogi.

Yang menyambut mereka di sana adalah sebuah kue cokelat di atas meja. Setelah mendekati makanan manis tersebut, Kume melihat terdapat hiasan cokelat berbentuk kotak di tengah-tengah bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun, Kume' di sana. Kume kaget bukan main. Ia tidak tahu jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Mungkin hal ini disebabkan karena ia jarang melihat kalender dan ia tidak terpikirkan tentang perayaan ulang tahun.

Lagian kita semua secara teoritis juga udah mati, jadi konsep berulang tahun itu agak ….

"Gimana? Lumayan, 'kan? Aku dan Kan kebagian tugas membuat kuenya." Yamamoto mengangkat kuenya dan mendekatkannya pada Kan yang membawa korek api.

"Stroberi-nya diambil langsung dari kebun." Matsuoka menambahkan. "Tadinya mau kupasang 23 buah, tapi berhubung nggak muat, aku jadi cuma kasih 10 buah melingkar dan 1 buah di atas cokelat sebagai hiasan."

Kan mematikan korek api setelah lilin di kue sudah menyala. "Oh, iya, Ryuu sama Naoki jadi penyicip, lho."

"Mau gimana lagi, 'kan kamu sendiri yang bilang kalau aku ikut bikin, nanti bisa gagal kuenya." Akutagawa menyanggah pernyataan Kan. Naoki setuju dengannya.

"Yah, seenggaknya kalian kebagian tugas nancepin dua lilin di tengah."

Yamamoto mendekati Kume dengan kue di kedua tangannya. Kume masih berusaha memproses hal yang mereka lakukan. "Kalian … kenapa repot-repot gini, sih? Padahal acara kaya gini udah nggak pantes buat—"

"Ah, stop. Khusus hari ini aja, tolong jangan ngeluh." Yamamoto memotong ucapannya. "Meskipun kita –secara kasarnya—udah mati, tapi nggak ada salahnya 'kan ngerayain hari di mana kita pernah terlahir? Toh di dunia lalu kita nggak bisa merayakannya karena satu dan lain hal, sekarang pas kita dikasih banyak waktu, kupikir merayakan ulang tahunmu nggak masalah meskipun hanya kecil-kecilan begini."

Kume menarik topinya ke bawah, berharap matanya tidak diketahui siapapun. "Seharian ini tuh aku capek berterima kasih ke banyak orang."

"Kalau secapek itu, kamu bisa tiup lilinnya sebagai cara lain mengucapkan terima kasih," ucap Kan.

Dengan memberi jeda kurang lebih lima detik, Kume meniup api dua lilin tersebut. Teman-temannya menyelamatinya dan memberikan doa untuknya. Kume ingin sekali protes ketika Yamamoto dan Naoki seperti menyebutkan atribut-atribut buruk yang ada pada dirinya.

Rasa manis saat memakan kue mengingatkannya pada bolu gulung yang ia makan bersama Natsume dan Hekigotou. Ia bukan pegiat makanan manis yang senang terus mengunyah berbagai macam kue, tapi ia rasa ia dapat memakan kue ini beberapa kali.

Ketika kuenya habis, Naoki mendadak mengusulkan acara lanjutan. Ia bilang pesta ulang tahun akan kurang jika mereka tidak mengunjungi kamar si pemeran utama. Kume berusaha menolak—ia tidak yakin kamarnya sudah cukup rapih untuk disinggahi teman-temannya—tapi suaranya tidak didengar lantaran semua orang setuju dengan ide Naoki. Menyerah pada keadaan, Kume mengiyakan usulan tersebut.

Sesampainya di sana, Kume mendorong meja menulis yang biasanya menempel dengan dinding dan meletakannya di tengah. Ia menyuruh mereka semua duduk mengelilingi meja tersebut sembari menunggu Kume merapihkan beberapa barang.

"Wah, ini pertama kalinya aku mampir ke kamar Kume." Kan melihat berbagai arah bagaikan sedang berkunjung ke sebuah museum. "Entah kenapa ada yang beda sama kamarku."

"Ya, jelas, dong." Akutagawa menimpali. "Tiap kamar orang 'kan beda-beda."

"Bukan, maksudku bukan itu." Kan berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya, tapi ia tak kunjung menemukannya.

"Sepertinya aku bisa memahami apa yang Kikuchi rasakan." Keduanya menengok ke arah Matsuoka. "Kamar Kume … bisa memotivasi seseorang untuk menulis."

"Ah, bener. Bener banget."

"Masa'?" Naoki meletakan dagunya di meja. "Aku sering mampir ke sini, tapi jarang kedapetan ilham."

"Itu karena kamu cuma numpang tidur di sini!" Kume menjawab di tengah merapihkan barang. "Abis bangun, langsung balik lagi ke kamarmu."

"Abisnya bantal kamarmu empuk banget, sih."

"Kamar Kume emang punya kekuatan tersendiri, ya." Akutagawa melanjutkan pembahasannya. "Dulu juga, waktu kita sibuk selesaiin Shinshichou, kamar Kume pasti jadi markas kita."

"Dia orang yang paling semangat di antara yang lain sih, ya." Yamamoto melirik Kume yang masih sibuk. "Bisa dibilang, pentolan Shinshichou tuh dia."

"Yamamoto-san bener banget."

Setelah selesai beres-beres, Kume ikut duduk bersama mereka, tepat di sebelah Matsuoka. "Jadi, kalian mau ngapain di sini?"

"Malem-malem gini paling enak main sesuatu." Naoki mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah kotak ia lemparkan ke atas meja. "Jadi, kupikir, mending kita main kartu."

Pandangan semua orang terfokus pada sekotak kartu aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Terdapat tulisan 'Uno' di sana. Uno? Satu? Apa maksud dari sekumpulan kartu 'satu'? Kume tidak pernah tahu jenis kartu begitu, terutama di masa lalu.

"Kalian pasti bingung 'kan ini kartu apaan." Naoki membuka kotak tersebut dan mengeluarkan banyak kartu berwarna merah dengan logo yang sama seperti di kotak. Berbagai jenis angka dan pola ada dibalik kartu yang satunya lagi. "Aku dapet ini dari Aka dan Ao. Mereka bilang permainan kartu ini lagi populer di kalangan orang-orang di zaman sekarang."

Kan terlihat tertarik, tapi ada hal yang ia ingin pertanyakan. "Kamu tahu cara mainnya?"

"Nggak, aku aja baru dapet tadi," jawab Naoki santai. Ia menggidikan pundaknya. "Makanya, ayo kita cari caranya bareng-bareng."

Yamamoto mengambil kertas panduan yang terselip di antara kartu. Mereka membaca tata cara bermain kartu Uno ini. Kume kebagian tugas mengocok kartu dan membagikannya ke tiap pemain sesuai instruksinya. Sebuah kartu pengawal mereka letakan terbuka. Mereka mulai mencoba memainkannya pelan-pelan. Setelah tiga kali memahami makna pola dan trik-trik melawan pemain lain, mereka memutuskan untuk serius bermain. Sebelum permainan selanjutnya dimulai, Kan menginterupsi.

"Aku ngerasa main tanpa taruhan itu nggak enak."

"Kan, ini nih efek kamu main terus."

"Dari dulu juga aku udah suka taruhan." Kan mengelak. "Yang jelas, aku mau kita sedikit punya rasa harus menang biar permainannya nggak ngebosenin. Kalian sependapat, 'kan?"

"Aku … seneng-seneng aja sih, mau main-main aja atau ada taruhannya." Matsuoka menyuarai pendapatnya duluan.

"Aku juga sama kaya Matsuoka."

"Aku setuju sama Hiroshi! Main harus ada taruhannya!"

Kume tidak masalah dengan apapun yang berusaha diinisiasi Kan, tapi dua orang yang belum mengemukakan pendapatnya tampak mencurigakan. Biasanya Yamamoto akan menceramahi kebiasaan bertaruh Kan, tapi kali ini ia diam-diam saja tanpa ada niatan membuka suara. Di sisi lain, wajah Akutagawa menyiratkan ketakutan akan satu hal. Ia seperti tahu ke mana pembicaraan ini akan berakhir.

"Karena lebih banyak yang setuju, jadi kita pakai taruhan, ya." Kan memberi Akutagawa sebuah lirikan yang seakan mengatakan 'aku menang'. Ia menoleh pada Yamamoto. "Mohon bantuannya, Yamamoto."

Sebuah botol sake ukuran besar dikeluarkan Yamamoto dari dalam totebag yang ia bawa. Kume tidak memperhatikannya sama sekali, ia terkejut temannya itu sejak di ruang makan membawa barang seperti itu tanpa dipertanyakan oleh orang-orang di sekitarnya.

"Tadinya aku dan Kikuchi mau ngajak kalian minum-minum biasa aja." Yamamoto memutar botol sake-nya agar mereknya kelihatan oleh yang lain. "Tapi, dibikin taruhan kaya gini boleh juga."

"Ah … udah kuduga bakal gini." Akutagawa menghela napasnya dalam-dalam. "Kan, kamu segitunya mau liat aku mabok, ya?"

"Yah, kalau nggak mau minum, kamu harus menangin taruhannya." Kan menawarkan solusi dari keengganan Akutagawa. "Peraturannya simpel, kok. Kita main lima kali. Setiap ada yang kalah di satu ronde, dia harus neguk sake ini dengan gelas ukuran besar."

"Tunggu, tunggu." Akutagawa memotong penjelasannya. "Berapa kadar alkoholnya? Terus seberapa gede gelasnya?"

Matsuoka mengamati merek sake tersebut, mencari-cari daftar komposisinya. "Kayaknya … 20%."

"Wah, Kan sama Yamamoto-san kebangetan."

"Normal kok ini, normal."

"Kan, kamu ngomong kaya kuat aja minumnya."

"Makanya aku nggak bakal kalah dari kalian semua."

Permainan dimulai setelah semuanya terpaksa mengikuti taruhan tersebut dan gelas berukuran besar telah diambil oleh Kan dari ruang makan. Suasana menjadi lebih sengit dari sebelumnya. Matsuoka kebagian main pertama. Ia mengeluarkan kartu tiga biru, dilanjutkan oleh Naoki yang mengganti warna menjadi tiga merah. Akutagawa membuat Kan dan Yamamoto tak bisa jalan (senyumnya yang penuh kebanggan sungguh aneh). Terakhir Kume mengeluarkan kartu pilihan warna. Setelah berulang kali bagian tiap pemain berulang dan beberapa orang selesai menghabiskan kartu, Kan keluar sebagai pemain yang kalah di ronde pertama.

Akutagawa dan Naoki menjadi orang yang tertawa paling keras. Bisa-bisanya orang yang menawarkan taruhan kalah pertama, belum lagi mulutnya yang tertutup rapat seakan-akan tidak mau mengakui dirinya baru saja kalah.

"Emang harusnya kamu kurang-kurangin kegiatan yang ngumpulin stress gini, Kan."

"Percuma, Matsuoka." Kume menggelengkan kepalanya. "Kan kalau udah mode itu, dia nggak bakal ngomong apa-apa lagi."

"Diem … Kume."

"Aku cuma ngomong kenyataan."

Meskipun ucapannya sedikit kasar, semua tahu Kan memang seperti itu jika sudah kalah taruhan. Jika ia dibiarkan beberapa menit, ia pasti akan kembali ke semula selama tidak ada yang mengungkit kekalahannya barusan. Wajah kesal Kan berubah menjadi rasa takut ketika menyadari gelas yang ia bawa sungguh besar dengan sake beralkohol tinggi di dalamnya. Ia adalah pria pemberani, itu yang ia yakini, dan ia meminum sake tersebut sekali teguk. Rasa pusing dan melayang-layang membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Semua tertawa lagi ketika melihatnya.

Permainan dilanjutkan ke ronde dua. Naoki bermain dengan sangat mahir—sebuah hal yang wajar mengingat ia yang menyarankan permainan ini—dan membuat Yamamoto terus-terusan mengambil kartu lantaran ia sering mengeluarkan kartu plus untuk pemain setelahnya. Yamamoto kalah setelah Matsuoka meminta maaf padanya karena kartu terakhirnya juga kartu plus. Akutagawa bersyukur dua oang yang membawa minuman berbahaya ini langsung kalah di dua ronde awal.

Ronde ketiga tidak menguntungkan Matsuoka sama sekali. Warna kartu yang ia punya hanya biru sedangkan semua orang mengeluarkan semua warna kecuali biru. Kartunya terus bertambah, ia tak mendapat kartu pengubah warna, dan ketika Akutagawa berucap 'uno' dan mengeluarkan kartu terakhirnya, ia harus meminum sake tersebut.

Pertarungan semakin sengit ketika mencapai ronde keempat. Naoki yakin ia bisa menang. Ia mengakui kartu-kartunya cukup untuk mengalahkan keduanya, sama seperti saat ia membuat Yamamoto mendapat gunungan kartu. Mula-mula ia mengeluarkan plus dua, menunggu baik Akutagawa atau Kume mengambil kartu karena tidak punya kartu plus, tapi ternyata ia salah. Akutagawa mengeluarkan kartu serupa, begitupun Kume. Mereka terus mengeluarkan kartu plus hingga total kartu yang harus diambil mencapai 22 kartu. Naoki yang salah langkah pun mau tidak mau harus menimbun banyak kartu dan kalah dari keduanya.

Ronde terakhir menyisakan kontestan Kume dan Akutagawa. Kume sedikit tidak menyangka dirinya bisa terus selamat dari kekalahan. Mungkinkah ini efek dari hari ulang tahunnya? Ia sendiri juga tidak mengerti.

"Aku nggak bakal kalah darimu, Kume."

"Yang biasanya ngomong gitu, itu yang kalah." Kume membagi kartu untuk Akutagawa dan dirinya. "Kamu sering lihat di novel, 'kan?"

Mereka memulai permainan dengan saling membuang kartu. Kume mencurigai Akutagawa menyimpan kartu pengubah warna atau kartu plus empat karena wajahnya sempat sumringah kala mengamati kartu yang ia letakan di ujung kiri. Kume sendiri tak mempunyai kartu hitam tersebut. Kartu dengan nilai yang cukup membantunya hanyalah dua kartu skip dan plus dua warna biru.

Akutagawa mengeluarkan kartu delapan merah. Kartu miliknya tersisa empat buah. Dari pengamatan Kume, sepertinya Akutagawa hendak mengeluarkan tiga kartu sekaligus jika Kume mengeluarkan kartu dengan warna merah. Ia harus mengetahui warna apa saja yang Akutagawa punya. Jika ia sampai salah langkah dengan mengeluarkan warna yang ada di antara tiga warna, ia akan kalah ketika Akutagawa mengeluarkan kartu di ujung kiri.

Ia berusaha mengingat pola permainan Akutagawa selama ronde ini. Sejak awal kartu yang ia keluarkan adalah merah dan hijau. Kume mengamati kartu-kartu yang bertumpuk di atas meja. Jumlah kartu hijau lebih banyak ketimbang merah, biru, atau kuning. Kume memutuskan untuk bertaruh dengan mengeluarkan kartu skip merah dan menambahkan skip hijau dengan harapan Akutagawa tidak punya warna hijau karena kartu dengan warna tersebut sudah keluar banyak di giliran mereka sebelumnya.

Pertaruhannya berhasil! Akutagawa mendecah dan mengambil kartu tambahan. Kume memanfaatkannya dengan terus mengeluarkan hijau sampai kartunya hanya tersisa plus dua biru. Akutagawa yang merasa panik mengeluarkan plus empat yang ia sembunyikan di ujung kiri, berharap satu-satunya kartu Kume bukanlah plus, dan ia terkejut kala kartu plus dua biru mengakhiri permainan mereka.

"Kok bisa …" Akutagawa melihat sisa kartunya dengan wajah putus asa. "Padahal aku yakin aku aman-aman aja tadi."

"Kadang permainan macam gini butuh strategi dan yang paling penting, keberuntungan." Kume merapihkan kartu-kartu di atas meja. "Kebetulan Dewi Keberuntungan sedang ada di aku."

"Ah, masa, sih?" Akutagawa menuangkan sake di gelas besar miliknya. "Kupikir kemenanganmu gara-gara kemampuan pengamatanmu yang luar biasa hebat."

"Aku nggak pernah kepikiran aku punya daya pengamatan yang sebaik yang kamu bilang."

"Itu karena kamu nggak menyadarinya." Air yang memenuhi gelas sungguh membuat Akutagawa merinding. "Aku yakin itu yang bikin caramu merangkai kata sedemikian menarik."

"Udah, cepet minum, sana."

Akutagawa mengangkat gelasnya, mendekatkannya pada bibirnya. Ia berhenti sejenak, mempersiapkan diri sekaligus hendak mengatakan sesuatu. "Selamat ulang tahun, Kume. Kuharap kamu bisa terus nikmatin hari-hari di sini sama kita semua."

Pada akhirnya, kamar Kume dipenuhi oleh orang-orang tak sadarkan diri. Kandungan alkohol yang tinggi ditambah hari yang sudah larut menyebabkan mereka tertidur pulas di sini. Kan membaringkan wajahnya di meja, Yamamoto terpejam sembari duduk, Matsuoka bersandar di sebelahnya, Naoki berbaring telentang di karpet, dan Akutagawa terbaring miring di karpet dengan memeluk botol sake.

Kume berniat mengangkut mereka semua ke kamar masing-masing, tapi melihat wajah polos mereka saat tidur mengurungkan niatnya. Ia jadi teringat masa lalu di mana mereka berkumpul dan membahas kesusastraan di kamar sederhana miliknya. Dibanding menepuk pundak mereka dan menyuruh mereka bangun sendiri atau ditendang keluar, Kume justru menyelimuti mereka semua.

Hari ini adalah hari yang ajaib. Semua orang menemuinya, mendukungnya, dan memberinya kenyamanan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Natsume dan Hekigotou yang mengakuinya, Yoshii dan Ton yang mendengarkan keluh kesahnya, kemudian mereka yang bermain dan seenaknya tidur di kamarnya, rasa-rasanya Kume belum bisa membalas kebaikan mereka semua dalam waktu dekat, tapi ia sangat, sangat-sangat menghargai usaha mereka.

Saat baru dihidupkan kembali, Kume menganggap hidupnya tak lebih dari bertarung demi melindungi literatur. Pikirannya dicemari oleh Shinshokusha, setiap hari ia merasa keberadaannya di perpustakaan tak lebih dari sekadar beban. Ia harus bertemu Akutagawa, membuka luka lama dengan Yamamoto, dan menghadapi Matsuoka. Mereka bertiga bagai dinding besar yang menghalau jalannya, yang membuatnya terus-terusan berpikir jika tidak ada hal yang membahagiakan.

Namun, sedikit demi sedikit anggapan tersebut sirna. Ia berdamai dengan Akutagawa, memaafkan Yamamoto, dan menyelamatkan Matsuoka. Meski ia melangkah dengan sangat lambat, ia tahu ia sedang mencoba melangkah ke depan, mencoba menerima segala hal yang belum tersampaikan di masa lalu baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain.

"Aku bersyukur bisa hidup kembali dan ketemu kalian semua." Di tengah dengkuran tidur dari teman-temannya,Kume berusaha mengusap matanya yang mulai panas, takut jika rasa sesak bercampur haru di dalam hatinya menjadi tangis yang ia keluarkan di depan Natsume dan Hekigotou.

Kume mencari posisi kosong yang bisa ia tiduri. Ia berbaring di atas karpet tak jauh dari Naoki dan Akutagawa dan mulai memejamkan mata. Bagai diberi obat tidur, ia bisa segera menemui dunia mimpi meskipun suara-suara di sekitar cukup berisik untuk orang yang susah tidur sepertinya. Sebelum matanya benar-benar menyerah terjaga, ia bergumam di dalam hati.

Semoga hari-hari ini bisa terus berjalan, dan selamat terlahir kembali, diriku.

END


Author's Note: apa saya boleh merayakan untuk pertama kalinya saya bisa kelarin fic berchapter?

HAPPY BIRTHDAY KUMEEEEEEE SAYA BISA SELESAIIN FIC BERCHAPTER, SUMBANG 2 FIC, KHUSUS BUAT ULTAHMU HARI INI!
Sebenernya gak kepikir bakal bikin fic ini. Awalnya cuma mau bikin akukume futon di fic sebelah. Udah santai aja nunggu ultah kume dan baca bday reconya, tapi ternyata h-2 kepikiran buat bikin fic yang ngusung 'ulang tahun' dia sekaligus nepatin janji mau ikutan event FFA wkwkwk awalnya cuma mau bikin natsukume, tapi meleber jadi ada heki, ada ningen-tachi, terus ditambah shinshichou. Dari yang tadinya oneshoot 1k-an, jadi 3 chapter 5k. Mungkin ini yang dibilang cinta.

Saya suka banget sama Kume. Hidupnya ... menarik. Saya gak bisa bilang saya tau semuanya, tapi saya seneng bisa tau beberapa sejarahnya. Dia yang dikenal dari bangku SD karna haikunya, dia yang sekelas sama aktgw dkk dan bertemen sampe salah satu dari mereka ada yang meninggal, dia yang berselisih sama mtok dan keluarga ntm, dia yang dikasih surat sama aktgw ... semuanya bikin saya penasaran sama dia. Rasanya kalo bisa ke Jepang suatu saat nanti, saya mau napak tilas ke museum Kooriyama & museum Kume. Mau juga baca2 banyak essay atau cerita-ceritanya yang akhirnya dipublish di aozorabunko, pokoknya macem-macem deh.

Makasih udah baca fic ini! Semoga terhibur dan semoga saya bisa terus bikin fic di fandom ini. Saya cinta bunal, cinta kume, cinta aktgw. Semua saya cinta.

Sedikit trivia:
- referensi tenshi no namida sama mitarashi dango diambil dari menu di restoran mikan club

- yoshii, ton, kume itu pernah sama2 bikin karya di Ningen. Di Good Friend Bad Friend Kume, A (yg diyakini aktgw) nganggep kawan2nya kume itu 'bad friend'

- judul fic terinspirasi dari lagu Sukima Switch - Hoshi no Utsuwa. Akan lebih terbayang kehidupan kume di fic ini ... jikalau dengerin lagu ini

- saya berharap permainan uno-nya bisa kebayang