"Kalian ingin pergi hanya untuk menghujatnya?" Gadis itu bertanya dengan nada tak percaya, sedikit khawatir tersirat di wajah cantiknya.

"Iya, dia harus diberi pelajaran!"

"Aku setuju!"

"Dia benar."

.

.

.

Tragedy

By Author03

One piw piw

.

.

.

.

Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu terpejam. Badannya bersandar begitu kaku di atas sofa empuk, berusaha menyembunyikan emosi-emosi yang ada di dalam pikiran.

"Hinata, Apa kau baik-baik saja?" Mata itu terbuka menampilkan sepasang bola mata putih yang indah yang kemudian melirik sekilas. Apakah itu kekhawatiran? Tidak...

Mata itu kembali menatap lurus ke langit-langit kamar dan terpejam. "Itu bukan khawatir." innernya berbisik.

Bola mata seindah bulan purnama, bulu mata lentik, dagu V, bibir tipis dengan hidung mancung. Surai indigo sepinggang dengan poni menutupi kening. Jangan lupakan warna kulit yang putih, mulus dan bersih tanpa noda, tinggi badan bak model dengan berat badan ideal.

Terkenal? Iya.

Perkenalkan, namanya Hyuuga Hinata. Dia adalah seorang artis pendatang baru, dua tahun yang lalu. Karirnya begitu bagus setahun sebelumnya dan kacau setelah kejadian itu terjadi...

Kini, hampir semua orang membencinya. Ia bahkan tak bisa lari karena kontrak yang mengikat, yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah dan terus berjalan sesuai bagaimana yang perusahaan mengatur.

Dan semua ini disebabkan oleh rumor.

12.00

"Hinata, ada yang ingin bertemu." Lelaki tadi yang adalah managerHinata berkata.

"Jangan bilang mereka lagi?" Suara kecilnya bertanya. "Aku di sini untuk berlibur, bukan untuk bertemu pembenci atau sejenisnya." Ia tahu ini semua pasti kerjaan lelaki yang adalah managernya ini. Seharusnya ia sudah menduga. Kemanapun ia pergi, ia takkan pernah tenang.

"Aku juga tidak tahu bagaimana bisa mereka tahu kau di sini." Bohong, Hinata tahu jelas dia berbohong.

"Sampai kapan aku bisa bertahan?" Pikirnya. Wajahnya cukup datar untuk mau mengatakan apa yang sedang ia rasakan.

"Iya..." Hinata bangkit dan melangkah pergi."

.

.

.

Matilah kau, pembunuh!

Perempuan j*lang!

Kau harusnya mati!

Perempuan memalukan!

Kapal pesiar berlayar beberapa saat yang lalu. Padahal Hinata sudah menyewa kapal besar nan mewah ini untuk beberapa hari. Apakah pembenci ini dengan sangat rela membayar mahal hanya untuk menghujatnya?

"Kau selalu saja tega padaku." Mata itu menatap lurus ke depan, tepat ke keramaian dengan kertas berisi kata-kata kejam mereka.

"Mereka memaksa ingin membayar." Lelaki di sebelah Hinata menjawab tanpa penyesalan. Bagaimanapun ini adalah bisnis. Gadis di sebelahnya tak punya ketenaran apapun lagi selain untuk dibenci. Tentu saja ia harus memanfaatkan keadaan apapun meskipun itu adalah sekedar sensasi.

.

.

.

Sedangkan di sisi lain pada waktu yang sama.

"Ughhh!" Lelaki yang adalah salah satu kru menyentuh kepalanya yang terasa sakit.

"Oi kau kenapa?" Lelaki yang lain dengan pakaian yang sama menghampiri karena terkejut.

"Oeeeeekk!"

"Kau kenapa?!" Temannya itu memuntahkan makanan yang sedang dia makan dan pembuluh darah berwarna hijau menegang mencetak jelas di seluruh badan hingga wajahnya.

"Oooekkk!" Kali ini bukan sisa makanan tapi darah yang dia muntahkan membuat yang melihat berjalan mundur.

"Oii?"

"Krrrr" Kepalanya yang tertunduk perlahan terangkat dan menatap dengan mata merahnya, dia mengeram seperti seekor binatang buas.

Krrrgghhh

"Aaaaaaaa!"

CRAACCK

Kressss

.

.

.

"Mati kau perempuan jalang!"

"Naruto!" Banyak sekali, lebih dari seratus orang di depannya berteriak-teriak.

"Kenapa Sakura?" Yang dipanggil menghentikan aksi dan menatap temannya.

"Aku mau ke kamar." Sakura pergi begitu saja setelah ucapannya. Hatinya terasa tercubit hanya karena melihat semua ini. Seperti apa rasanya jika ia berada dalam posisi Hinata? Ia tak berani membayangkannya. Pasti berat sekali dibenci banyaknya orang, meskipun dia mungkin bersalah, tidak seharusnya mereka memintanya untuk mati, itu sudah sangat kejam sekali.

"Meski aku sudah menjelaskannya kalianpun tak percaya!" Langkah Sakura terhenti karena suara Hinata terdengar. Dia terdengar marah dan juga sedih.

"Kau pembohong. dasar pembunuh!" "Kau harusnya mati saja!"

"Nyawa dibayar dengan nyawa!" orang-orang tak mau mempercayai apa yang keluar dari mulut Hinata. Lihatlah wajah cantik itu, murka dan juga kecewa, berharap dia bisa segera lari dari sana.

.

.

"Kalau saja aku bersalah, aku sudah di penjara sekarang! Mengapa kalian suka sekali mempercayai rumor?!" Suara Hinata meninggi, muak sekali pada semua yang menyumpahi dan menuduhnya sembarangan.

"Kau pasti membayar polisi untuk bungkam!"

"Semua orang tahu itu!"

"Dasar perempuan rendahan tidak tahu malu!"

"Mati saja kau perempuan sampah!"

"Kau tak layak hidup!"

"Kau harusnya mati!"

"Pembunuh!" Kepala Hinata berdenyut mendengar semua makian itu begitupun hatinya, pedih.

"Sudah cukup! Aku ingatkan kalian!" Tangannya terkepal erat, wajahnya memerah menahan air mata yang ingin keluar.

"Mati kau pembunuh!"

"Perempuan sampah!" Tapi tak ada satu orangpun perduli pada peringatannya.

"Aku tahu hal ini akan terjadi!" Hinata mengeluarkan ponsel dari saku celana belakang.

"Ada orang-orangku di bawah. Kalau saja kalian terus melanjutkan hal ini." Ia memberi jeda dengan menarik nafas panjang. "Aku akan membunuh kalian semua." Langsung saja, semua mematung pada posisi masing-masing, ancaman itu menusuk langsung ke pikiran mereka.

"Hinata, apa kau gila?!" Sang manager turut terkejut pada apa yang ia dengar. Seorang artis tidak seharusnya melakukan hal seperti itu.

Hinata menatapnya lantang. "Aku tak bercanda. Silahkan coba saja, aku sudah muak dengan semuanya. Akan aku bunuh kalian semua." Memang ia tidak bercanda tapi ia berbohong. Ia tak menduga liburannya akan menjadi seperti ini dan ia juga tak mempersiapkan siapapun untuk membunuh. Ini hanya sekedar gertakan berharap semua yang mendengar menjadi takut dan berhenti mengganggunya. Hanya itu yang ia mau.

Semua orang masih terdiam, tak berani bersuara. Mereka yakin gadis itu tidak akan segan-segan menyakiti mereka karena dia bahkan membunuh temannya sendiri.

"Putar balik kapal dan turunkan orang-orang ini." Hinata berbalik dan melangkah pergi begitu saja setelah ucapannya.

.

.

.

"Naruto, mengapa wajahmu begitu?" tanya Sakura di kala Naruto memasuki kamar dengan wajah kesal.

"Gadis itu mengancam akan membunuh kami. Astaga dia pasti sudah gila. Sudah kuduga dia itu pembunuh." Naruto mengambil duduk di sofa yang berada di bawah kasur.

"Gila?" Sakura berpikir sejenak. Ia pergi dari tempat kejadian karena tak tahan melihatnya, jadi ia tak tahu apa yang terjadi. "Mengapa dia yang mengatakan akan membunuh kalian adalah hal yang gila dan kalian yang memintanya mati adalah hal yang wajar?" Seandainya saja kalimat ini bisa ia katakan dengan lantang.

"Dimana Toneri dan Kiba?" tanya Sakura mengubah topik pembicaraan. Mereka bersama-sama tadi tapi mengapa Naruto kembali sendiri?

"Mereka bilang mau turun ke bawah dan mencari bukti kalau Hinata menyuruh orang-orang untuk membunuh kami." jawabnya jujur. Ia terlalu kesal untuk mau ikut dan juga sudah lumayan banyak orang yang pergi, itu sebabnya ia kembali ke kamar terlebih dulu.

"Aku ingin jalan-jalan sebentar." ucap Sakura.

.

.

.

"Aku membencimu! Bahkan sampai matipun aku akan membencimu!"

Tes

Tes

Air mata mengalir dari mata Hinata dan berakhir mengenai lutut yang ia peluk. Ia tengah duduk di samping badan kapal sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Kenangan yang sangat buruk itu kembali hadir di pikirannya yang tengah kacau.

"Hinata..." Sang pemilik nama melirik setelah menghapus air mata dengan kedua tangan.

"..." Hinata hanya menatap kosong gadis bersurai merah jambu itu.

"Bolehkah aku duduk?" Gadis itu bertanya dan tanpa jawaban, ia mengambil duduk di sebelah Hinata.

"Maafkan aku." Hinata kembali menoleh ke arah gadis itu.

"Maaf?" Hinata tak paham untuk apa maaf itu?

"Aku berharap bisa membantu tapi aku bahkan tak bisa mencegah temanku untuk tak menghujatmu." Sungguhkah dia bermaksud berkata begitu? "Aku tak tahu situasinya seburuk itu jika saja aku tak datang dan melihatnya sendiri." Hinata terdiam cukup lama untuk berpikir sebelum kembali menoleh ke depan. "Itu bukan salahmu." Air mata menetes dari mata kiri tapi ia menghapusnya dengan cepat.

"Namaku Sakura" Gadis itu mengenalkan diri, mata hijaunya menghilang karena senyuman manis hingga matanya menyipit.

"Hinata" jawabnya singkat. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali seseorang mau bicara sebaik ini padanya. Yang ia ingat hanyalah seperti apa orang-orang menghujat.

"Aku mendengar banyak sekali rumor tentangmu." Sakura membuka topik pembicaraan.

"Aku tahu." Hinata kembali memeluk lututnya. Ia memakai topi dan masker untuk menutupi wajah tapi ternyata ada yang berhasil mengenalinya. "Meski aku sudah bilang semua itu tak benar, tak ada yang percaya." tambahnya sedih setelah melepas masker yang menutup mulut hingga hidungnya.

"Maaf, aku tak bisa membantu tapi jika kau ingin didengar. Aku bersedia mendengarkanmu." tawar Sakura tulus. Meski ia tak mengenal gadis di sebelahnya ini tapi ia yakin gadis ini bukan orang jahat seperti yang ia dengar. Wajahnya bahkan terlalu ayu untuk bisa menjadi penjahat.

.

.

.

"Toneri, mengapa bau sekali di sini?" Bukan hanya sepi layaknya rumah hantu, tempat ini bahkan terasa menakutkan. Dimana para kru dan yang lain? Kapal besar ini harusnya punya sangat banyak kru.

"Astaga apakah itu darah?!"

Lebih dari dua puluh orang yang melihat dikagetkan oleh darah yang tiba-tiba mengalir keluar dari balik pintu besi.

"Apa itu?"

"Coba buka pintunya." Mereka berbisik-bisik menebak apa yang ada di balik pintu karena penasaran tapi tak ada yang berani maju untuk menyentuh pintu besi itu.

"Apa yang terjadi?" Tubuh mereka merinding. Suara bising mesin kapal membuat mereka tidak bisa menguping suara yang ada di ruangan.

"Kalian ini penakut sekali!" Tak bisa lagi menahan rasa penasaran, salah satu perempuan memberanikan diri menyelip dan muncul tepat di depan pintu.

Tanpa ragu, ia memutar knop pintu dan mendorong pelan agar terbuka.

Arrggg

Krrgghh

"Kyaaaaaaaaaaahhh!" Mata perempuan itu terbelak kaget, sekumpulan orang tengah memakan tubuh kru dan juga kapten kapal di dalam ruangan.

"Astaga apa itu?!" Orang-orang di baris belakang saling mendorong dan berjinjit supaya bisa melihat dengan jelas.

Mengapa orang aneh itu memakai baju kru kapal?

"Mereka melihat ke sini!" Mata merah itu membuat semua bulu kuduk semakin merinding ngeri.

Krrraaaaaaa

"Kyaaaaaah lari!"

"Kyaaaaahh tolong!" Lelaki bersurai hitam itu ingin lari tapi terhalang oleh badan-badan manusia yang lain hingga membuatnya terdorong dan terjatuh.

"Tol-tolong..." Gigi-gigi orang-orang aneh tadi menembus lengan dan leher, mengoyak dagingnya tapi rasa sakit itu tak berlangsung lama.

Beberapa detik setelahnya ia tak lagi merasakan apapun.

Arrggggg

Dan yang menggigitnya barusan mengincar manusia yang lain begitu juga dengan dirinya, berubah menjadi makhluk yang sama.

.

.

.

"Pasti berat sekali rasanya. Maafkan aku..."

"Hahaha" Kali ini Hinata tertawa, bukan lagi lega tapi senang. "Bukan salahmu, jangan minta maaf terus." ucapnya lucu. Ia bisa bernafas dengan lega setelah menceritakan masalahnya kepada Sakura.

"Kau sangat hebat sekali bisa melewati semua itu sendiri." Sakura merasa iba tapi juga bersyukur bahwa Hinata sangat kuat dengan semua yang menimpanya.

"Omong-omong aku baru sadar kapalnya berhenti?" tanya Hinata aneh. Perasaan tempat berlabuh masih jauh dan ia tak menyuruh kapal ini untuk berhenti?

"Kyaaaah tolong!"

Aarrgg

Dua mata itu sontak menoleh ke arah kanan melihat orang-orang berlari berhamburan.

"Toneri?" Sakura berdiri diikuti oleh Hinata. "Kiba?"

"Sakura! Lari! Lari! Arrggg!"

"Lari Sakura!"

Deg!

"Kiba?!" pekik Sakura syok ketika ia melihat orang-orang belumuran darah menangkap dan menggigit bahkan menyobek kulit Kiba.

"Lari Sakura!" Hinata tak mengerti apa yang tengah terjadi tapi darah dan wajah panik menandakan bahaya. Otaknya mengirim sinyal untuk lari menjauh dari orang-orang itu secepat mungkin.

"Apa yang terjadi?!" tanya Sakura tak paham tapi Hinata menarik dan membawanya lari.

"Kyaaaaah! Hinata, apaan ini?!" Masih bingung dan semakin bingung mengapa orang-orang berlumuran darah muncul di mana-mana dan mengejar ketika melihat mereka?

"Lewat sini." Hinata menarik Sakura masuk melalui lorong. Mereka yang mengejar terlihat tak waras, sebetulnya apa yang terjadi?

Arrrgggg!

"Kyaaaah!" Kedua langkah itu terhenti ketika manusia aneh muncul dari belokan dan mencoba meraih mereka.

Braccckk

"Naruto?!" Naruto muncul dan menghantam kepala itu dengan alat pemadam api di tangannya.

"Ini yang kau bawa?!" tanyanya marah pada Hinata, mencengkeram kuat kedua pundaknya dan menatap tajam. "Apa yang kau lakukan sampai mereka menjadi aneh seperti itu?!" Naruto keluar dari dalam kamar karena mendengar kegaduhan di luar tapi apa yang membuatnya syok adalah orang-orang aneh dengan darah mencoba menggigitnya.

"Aku tak paham apa maksudmu." Hinata mencoba menjauh dari tangan yang menyakiti pundaknya tapi lelaki ini tak mau melepaskan.

"Jangan menggelak. Kau sendiri yang bilang ada orangmu di bawah untuk membunuh kami. Maksudmu orang-orang aneh ini?!" Matanya membara tapi disela oleh manusia yang ia pukul tadi.

Rrgghh

Orang itu bangkit seolah hantamannya tadi bukan apa-apa dan mencoba menerjangnya lagi.

"Lari!"

"Ayo kamarku di depan sana!"

.

Sakura merasa mual ketika ia melewati banyak orang-orang yang digigit oleh orang-orang aneh tadi tapi tak ada waktu untuk memikirkannya. Ia terus berlari mengekori Hinata dan sampai di depan pintu kaca.

"Cepat buka!" Tangan Hinata bergetar di kala ia mencoba menggesekkan kartu di tangannya ke alat kecil di atas ganggang pintu.

Klik

"Cepat masuk!" Sakura masuk diikuti oleh Hinata dan Naruto yang lngsung menutup pintu kaca tadi.

Braacckkk

Priaaangg

"Kyaaahh!" Kaca pintu itu pecah tapi untung besi-besi panjang di balik kaca membuat mereka tak bisa menembus.

"Suruh orang-orangmu untuk berhenti!" pekik Naruto panik.

"Bukan aku pelakunya! Aku tak tahu apapun soal mereka." bantah Hinata yang masih saja syok. Air mata mengalir tanpa bisa ia kontrol.

"Tolong!"

"Tolong!"

"Kita harus menolong yang lain." ucap Hinata menyadari suara ketakutan. Beberapa mungkin selamat di dalam kamar tapi bagaimana dengan yang di luar?

"Dari atas. Cepat!" Dan mereka berlari menuju tangga yang menghubungkan ke atas kapal.

.

.

.

.

"Ini yang kau bilang ingin membunuh kami?"

Bracck

"Auch!" Hinata mendesis kesakitan ketika dorongan membuat dirinya tersungkur ke lantai. Ia senang bisa menyelamatkan banyak orang dan beruntung orang-orang aneh tadi tak tahu caranya memanjat tapi tetap saja, ia tak dalam keadaan yang bagus.

Semua orang terlihat ketakutan. Bagaimana bisa mereka tak takut? Mereka hampir saja mati karena orang-orang aneh yang sekarang berkeliaran di kapal besar ini.

Semua kru kapal mati begitupun dengan kapten kapal. Bagaimana cara mereka bisa keluar hidup-hidup dari sini?

"Tolong hentikan!" Sakura ingin membantu tapi Toneri menahan pergerakannya.

"Sakura! Dia berbahaya. Dia hampir saja membunuh kita semua bahkan sudah membunuh setengahnya!" ucap Toneri marah. Kalau saja tidak karena hobi olahraganya, ia pasti sudah mati beberapa saat yang lalu.

"Tidak! Itu tak benar..." Bantah Sakura. Hinata bersamanya sedari tadi, Sakura berani menjamin semua ini bukan karenanya!

"Auch sakit!" Kepala Hinata terdonggak karena surai panjangnya di tarik oleh salah satu perempuan.

"Perintahkan orang-orangmu untuk berhenti!" perintah Naruto penuh penekanan. "Jika tidak aku takkan bertanggung jawab kalau mereka membunuhmu."

Hinata menyadarinya, Empat puluh orang di dalam kamar luas ini menatapnya dengan amarah seolah sudah siap membunuhnya tapi apa yang harus ia lakukan? "Hiks tapi bukan aku pelakunya. Kumohon percayalah." Ia pun takut pada apa yang terjadi di luar sana tapi ia benar-benar tak tahu apapun.

Plaaak

"Jangan bohong!" Perempuan tadi melayangkan tamparan ke pipi mulus Hinata. "Hentikan ini atau kami akan melemparmu ke luar!" ancamnya.

"Dia bersamaku dari tadi, tak mungkin dia pelakunya. Dia juga bilang padaku apa yang dia katakan tadi cuma bohong." Sakura menyela tak tahan lagi pada tuduhan mereka tapi sekali lagi, tidak ada yang mau mendengarkan.

"Aku bersumpah aku tak tahu apapun." Tidak ada satu orangpun merasa kasihan pada air matanya kecuali Sakura.

"Aaa sakit!" Hinata berdiri untuk mengurangi sakit di kulit kepalanya.

"Aku akan membuangmu keluar kalau kau tak mau menghentikan mereka." Geram wanita itu menyeret Hinata pergi ke arah pintu.

"Tolong hentikan!" Sakura memberontak. "Kita bisa menelepon polisi untuk meminta tolong." Perempuan tadi menghentikan langkah kaki sedangkan yang lainnya terdiam. Itu benar, mereka terlalu panik untuk bisa memikirkan ide yang bagus.

"Siapa yang membawa ponsel?!"

"Hinata, kau tidak apa-apa?" Sakura langsung menghampiri ketika perempuan tadi melangkah pergi dan Hinata memeluknya erat.

"Hiks aku sungguh tak tahu apapun, aku bersumpah." Air matanya tak mau berhenti mengalir. Ia merasa sangat takut dan juga sedih. Ia tahu apa yang ia ucapkan tadi siang keterlaluan tapi itu tak lebih dari sekedar gertakan. Ia tak bermaksud menakuti semua orang, ia hanya merasa frustasi.

"Aku perc"

Lampu di ruangan tiba-tiba mati membuat semua mata menoleh ke segala arah.

"Jaringanku hilang."

"Telepon juga tak berfungsi." Mereka kembali panik.

"Bagaimana caranya keluar sekarang?!" Telepon tak bisa, tak ada yang berani meninggalkan kamar ini dan tak ada siapapun yang bisa membantu.

.

.

.

Tiga jam berlalu dan tak ada yang bisa memikirkan apapun, tak ada yang bisa melakukan apapun. Yang mereka lakukan hanyalah duduk dan tenggelam dalam pikiran masing-masing berharap semoga mereka bisa pulang dengan selamat.

"Untuk sekarang jangan minum atau makan dan sentuh apapun." Seseorang bersuara. "Kita tak tahu mengapa bisa mereka menjadi gila seperti itu tapi yang kita tahu mereka terinfeksi."

Sakura menghapus air mata yang lagi-lagi mengalir, berusaha menenangkan diri tapi badannya tak bisa berhenti bergetar.

"Mereka tak mati di saat aku menghantam kepalanya." Naruto melanjutkan. "Kita juga akan langsung berubah menjadi seperti mereka jika mereka menggigit kita." Semua orang merinding mengingat kejadian mengerikan yang mereka lihat beberapa jam lalu.

"Tapi kita tak bisa selamanya di sini. Kita akan mati kalau tak makan"

"Jika ada yang mendekati kapal ini, mereka bisa saja dalam bahaya." Timpal Hinata teringat lokasi mereka saat ini. Bukan ide yang bagus meminta tolong pada kapal yang lewat. Untungnya, ini adalah kapal pesiar, jadi berhenti di lautan takkan terlalu menarik perhatian orang-orang.

Seseorang harus melakukan sesuatu...

"Ada perahu karet di samping kapal. Jika kita bisa ke sana. Kita semua akan selamat." Hinata mendapat sebuah ide tapi tetap saja idenya tak terasa seperti ide yang bagus.

"Apakah orang terinfeksi bisa berenang?" tanya Naruto memastikan, ia juga punya sebuah ide.

"Dilihat dari mereka yang tak bisa membuka pintu dan memanjat tangga, rasanya tak bisa."

"Kalau begitu bagaimana jika kita tenggelamkan saja kapal ini? Mereka akan mati." Harapan hadir di benak semua orang karena ucapan Naruto.

"Ini bukan kapal murahan, tidak akan mudah merusaknya apalagi kalau kau ingin menenggelamkan kapal, kau harus membolongi bagian dasarnya." Benar yang Toneri katakan. "Dan kita tak mungkin bisa mencapai bagian bawah kapal." Semua suram seketika.

"Aku tak bisa berenang, bagaimana caranya melompat ke dalam laut? Tak ada pelampung di sini..."

Beberapa menit berlalu dan semua orang sibuk berpikir keras, memikirkan apa yang bisa mereka lakukan.

"Kita tak harus ke sana." Semua menoleh ke asal suara, Hinata. "Di samping kapal ada empat perahu karet. Jika kalian bisa sampai ke sana, kalian akan selamat." Dinilai dari jarak dan juga keamanan, berlari dan menurunkan perahu adalah ide yang bagus. Satu perahu muat 10 orang, 4 perahu di kedua samping kapal seharusnya cukup untuk menyelamatkan mereka semua.

"Kita tak mungkin bisa menurunkan perahunya tepat waktu." Seseorang berkata.

"Itu sebabnya kita akan bergerak cepat. Aku akan memotong talinya segera setelah kalian naik secara bersamaan dan dengan cepat menyingkirlah dari samping kapal agar tak ada orang terinfeksi yang bisa naik ke perahu."

"Aku?" Sakura tersentak. Oke, anggap saja ide itu berhasil lalu bagaimana dengan dia yang memotong tali untuk menurunkan perahu karet?

"Kita tak punya banyak waktu. Kita harus segera bergerak sebelum malam tiba." Ini sudah hampir jam 5 sore. Gelap hanya akan merugikan mereka.

"Aku akan memotong tali di bagian kiri."

"Naruto?!"

"Kalau begitu aku kanan." Kedua mata itu saling menatap tapi tak ada yang tahu apa arti tatapan itu.

"Hinata, Naruto. Berhati-hatilah." Kekhawatiran tercetak jelas di wajah Sakura. "Pastikan kalian langsung meloncat ke dalam air apapun yang terjadi dan kita semua harus selamat." Tambahnya.

"Iya, aku tahu..." Raut wajah yang tiba-tiba menjadi datar membuat Sakura semakin khawatir. Apa yang tengah dia pikirkan? "Berjanjilah, Hinata. Kau akan baik-baik saja." katanya berharap.

"A ... aku janji." Senyuman tipis, Hinata berikan untuk menenangkan Sakura.

.

.

.

.

Tak ada yang berani bersuara bahkan langkah kaki begitu pelan agar tak menimbulkan suara sedikitpun.

Empat kelompok mendekat ke arah perahu masing-masing sesuai rencana.

Terlalu sepi, di mana para manusia terinfeksi itu? Hinata tak melihat siapapun tapi itu adalah berita yang bagus mereka takkan kesulitan bergerak karena tak di kejar.

"Kyaaaaaah!" Tali di perahu pertama di potong Hinata membuat beberapa gadis yang merosot ke bawah terpekik kaget tapi untungnya perahu karet itu mendarat sempurna tanpa ada yang terluka.

Plummp

"Oh tidak! Jangan bersuara." Naruto panik. Dugaannya benar! Manusia-manusia terinfeksi berhamburan keluar dari segala arah.

"Naruto! Cepat loncat." Setelah menyelesaikan tugasnya Hinata berlari ke arah Naruto sedangkan yang berada di atas perahu mendayung menyingkir dari samping kapal.

"Kau mau kemana?" tanya Naruto ketika Hinata berlari pergi menjauh darinya.

"Aku harus menenggelamkan kapal ini supaya tak ada korban lagi."

Rrrrggg

Langkah Naruto termundur dua langkah menjauh dari samping kapal karena orang terinfeksi mencoba meraihnya.

"Mengapa kau di sini?" tanya Hinata terkejut menyadari Naruto mengekorinya.

"Inikah rencanamu dari awal? Untuk mati?"

"..."

.

.

"Tidak Naruto! Hinata!" Sakura memekik histeris melihat dua temannya menjauh dari samping kapal. Mengapa mereka tak meloncat ke dalam air sesuai rencana tapi malah berlari pergi?

"Kita harus membantu mereka!" Sakura tak bisa hanya diam di sini.

"Kita bisa mati kalau kita naik ke atas kapal itu lagi!"

"Mereka juga bisa mati karena mencoba menyelamatkan kita!" Tak ada yang bisa membantah kenyataan itu. Semua terdiam, entah tak mau atau tak berani berkata-kata.

.

.

.

"Katakan padaku. Kau melakukannya untuk mati atau untuk menyelamatkan kami?" tanya Naruto ingin tahu. Sejenak, ia merasakan kesedihan memancar dari tubuh gadis ini.

Rrrgggg

Braaackk!

Sapu di tangan Kevin ia gunakan untuk menyingkirkan orang terinfeksi yang tiba-tiba muncul dari belokan tapi batang sapu di tangannya tak membantu sama sekali. Banyak sekali orang terinfeksi terus mengejar mereka tanpa tahu apa itu lelah. Yang bisa membuat mereka selamat hanya karena orang-orang terinfeksi tak bisa berlari dengan cepat.

"Fokus pada langkahmu. Kita bisa dalam bahaya karena kebanyakan bicara." Hinata tak berniat menjawab. Mungkin ini takkan banyak membantu tapi ia berterima kasih pada profesi yang membuatnya bisa menghindar dari serangan para manusia terinfeksi dengan mudah.

"Kyaaaahh!" Sebuah kepala menerjang tapi terlebih dulu disadari oleh Naruto, dengan segera ia mendorong Hinata agar terjang-an tadi tak mengenainya.

"Naruto!" Mata Hinata terbelak kaget ketika dia menoleh ke belakang.

"Aku baik- baik saja. Cepat lari." Hinata berdiri dibantu oleh Naruto dengan cara menarik tangannya.

"Astaga." Jantungnya seperti meloncat keluar, untung Naruto tak terkena imbas dari menyelamatkannya.

"Hah! Hah!"

Tiga pintu dari sini, ada pintu yang terbuka. Mata Naruto melirik, "Jika kita tak ke sana sekarang kita akan mati." Pikirnya panik. Ruang kendali masih jauh di depan tapi mereka terlalu lelah berlari dan menghindar jadi untuk sementara bersembunyi adalah rencana yang bagus.

"Hah!"

"Hah!"

Tap

Braackk

Krraahh

Rrgggg

Hinata masuk ke dalam ruangan karena ditarik oleh Naruto yang langsung menutup pintu besi itu dengan punggung.

Bracck

Rrgggh

Deg

Kedua mata itu bertemu. Jarak mereka begitu dekat, Naruto tanpa sadar menarik Hinata ke dalam pelukan di saat punggungnya menutup pintu.

Sejenak Naruto merasa terbuai. Wajah selembut ini, sungguhkah dia adalah orang yang jahat...?

Kretaaak

Deg!

Retaknya kaca bulat di samping kepala Naruto membuat Hinata tersadar dari lamuan dan dengan segera menjauh.

"Mengapa kau menarikku ke sini?" tanya Hinata mengambil duduk di kasur single size tak jauh darinya, mengistirahatkan kakinya yang lelah sedangkan Naruto memilih berdiri bersandar di dinding. Ruangan ini adalah kamar kru kapal.

"Jika kita terus melanjutkan dalam keadaan lelah, kita akan mati."

"..." Hinata tak menjawab. Memang benar, ia merasa sangat lelah berlari sampai tak bisa fokus.

"..." ia bahkan tak percaya dirinya masih selamat sampai di sini. Bayangkan saja lebih dari 40 orang sudah sangat siap membunuhnya kalau saja tertangkap.

"Mengapa kau menangis?"

Deg

Jari-jari tangan Hinata mengelap wajah untuk membuktikan ucapan Naruto. "Ma-maaf aku hanya syok sekali." Jantungnya bahkan tak bisa berdebar dengan benar begitu juga dengan nafasnya tak karuan. Ia takut, panik dan juga sedih.

"Karena syok atau karena kau takut akan mati?"

"Dua-duanya..." jawab Hinata ragu.

"Bolehkah aku bertanya?" Naruto mengubah topik pembicaraan dan Hinata hanya menatapnya dengan tanda tanya.

"Bagaimana caramu keluar setelah menabrakkan kapal ini?"

"Aku tak berniat menabrakkannya." jawabnya jujur. "Kapal besar takkan mudah bocor hanya karena menabrak."

"Jadi, apa rencanamu?" Padahal Naruto mengira itu adalah ide Hinata karena kalau iya, mereka punya 70% kesempatan untuk selamat.

"..." Naruto masih menunggu jawaban dari Hinata yang masih saja terdiam.

"Ledakan." Pupil mata Naruto membesar. "Jika aku bisa meledakkan salah satu tangki yang ada di bawah ruang kendali, kapal ini akan meledak dan orang-orang terinfeksi pasti akan mati." Naruto hampir saja tak mempercayai telinganya pada apa yang ia dengar.

"Kau juga akan mati." Hinata membisu.

"Aku tahu tapi aku lebih baik mati daripada ada korban lagi." Bohong, Hinata berbohong.

"Kenapa kau mau melakukannya demi kami yang membencimu?" pertanyaan itu keluar tanpa aba-aba.

"Karena sejak hari itu, aku tak pernah mengingat seperti apa rasanya hidup..." Hinata takut, jujur rasanya sangat menakutkan tapi ia lebih takut membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya berhasil selamat dari kapal ini. Ia tak sanggup, ia tak berani.

"Shion.," Nama itu adalah awal dari masalah yang muncul di hidupnya. "Dia punya seorang tunangan dan suatu hari mereka berpisah. Shion begitu frustrasi dan dia mendatangiku. Dia bilang dia sangat membenciku yang telah merebut tunangannya dan dia menikam jantungnya dengan pisau." Kenangan buruk itu membuat Hinata merasa mual. Shion adalah teman terbaiknya tapi ia pun tak menyangka bagaimana bisa dia menuduhnya seperti itu.

"Orang-orang mulai berumor sejak hari itu. Aku pembunuh, aku perempuan malam, perempuan simpanan dan banyak hal lainny tapi aku tak pernah melakukan apapun seperti yang mereka tuduh." Hinata melanjutkan dengan satu tarikan nafas. "Setelah kematian Shion, lelaki yang dia cintai menikah dengan perempuan lain tapi mengapa aku menjadi sasaran semua orang?" Ia tak ingin menangis meski air mata telah memenuhi pelupuk matanya. "Kalian tega sekali mengatakan hal sekejam itu padaku disaat aku kehilangan teman terbaikku. Tahukah kau seperti apa rasanya?" Air mata lolos dari kedua matanya tapi ia hapus dengan cepat.

Naruto terdiam tak berani bersuara. Sebenarnya yang jahat di sini adalah dirinya atau gadis ini? Ia bisa merasakan sakit dari setiap kata-kata yang keluar dari mulut Hinata tapi masih sempatkah untuk menyesal? Masih sempatkah untuk minta maaf?

Dia begitu tulus ingin menyelamatkan orang-orang yang bahkan tidak segan-segan menyakitinya. Mengapa Naruto baru menyadari betapa salah dirinya selama ini?

"Ak"

Braacckkk

Dorongan kuat dari luar merebut perhatian mereka.

"Pintunya bengkok." Hinata dan Naruto panik tapi mereka mencoba untuk tetap tenang.

"Jendela!" Hinata membuka kaca jendela bulat berukuran sedang di atas kasur.

"Kita bisa lewat dari sini."

Braacck!

"Makanya cepat!" Tanpa berpikir lagi Naruto melewati jendela yang terasa agak sempit untuk badan kekarnya.

"Aaaaaaa"

Plumpp

Ia berhasil mendarat dengan selamat ke dalam air.

"Puaaah! Hah hah!" Kepalanya muncul di permukaan laut tapi Hinata tak kunjung meloncat.

Deg!

"Tidak tidak! Hinata!" Ia melihat Hinata tersenyum.

"HINATA!" dia menutup jendela bulat itu.

"Maafkan aku." Hinata menggigit kuat bibir bawahnya.

"Arrrr maafkan aku aku tak bermaks" suara dari balik pintu menarik perhatian Hinata. Ia berlari menghampiri dan mengintip lewat kaca bening di pintu tadi.

"Manager?" panggilnya terkejut pada lelaki yang terbaring di lantai dan di kerumuni.

"Aku tak tahu obatnya akan arr"

"Aku harus lari." Orang-orang terinfeksi tengah sibuk memunggungi ia tak bisa membuang kesempatan emas ini.

Citt

Suara pintu menghentikan nafas Hinata.

Semua mata tertuju padanya.

Deg!

Tap

Tap

Tap

Tanpa basa-basi lagi ia mengambil seribu langkah menuju pintu yang terbuka lebar di depannya.

Aarrrgg

Krrggg

"Fokus Hinata. Fokus. Abaikan yang di belakang." Langkahnya semakin cepat menghampiri ruangan yang ia tuju.

Ia masuk dan menutup pintu besi itu dengan cepat tapi tak berhasil menutupnya karena terhalang salah satu tangan orang terinfeksi.

"Ughh" Ia menahan sekuat tenaga agar pintu tak terbuka lebar.

Tap

Tap

Menahan sekuat tenaga dengan mendorong tangan itu menggunakan alat bantu pecahan kaca yang ia ambil di lantai tak jauh darinya.

Czzztt

Bracckk

Dan akhirnya ia berhasil menutup pintu itu.

Tak ada waktu untuk berhenti. Kakinya melangkah mendekati setir, mendorong tuas di samping ke depan dengan pelan.

.

.

.

"Naruto, di mana Hinata?!" Perahu tadi masih pada tempat masing-masing dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada dua manusia di balik kapal besar tapi hanya satu yang kembali.

"Naruto?!" Air mata Sakura mengalir ketika tak ada jawaban atas pertanyaannya, Naruto hanya menundukkan kepala.

Apakah masih sempat untuk menyesal? Dada Naruto seolah tercubit ketika kapal besar di depannya mulai bergerak.

"Hiks tidak Naruto. Di mana dia?!"

Tangan Naruto terkepal erat. Ia bahkan tak bisa berkata maaf karena merasa terlalu malu. Wajahnya memerah karena marah pada dirinya sendiri. "Kita harus segera pergi dari sini. Kapal itu akan meledak."

Deg!

"Bagaimana dengan Hinata?!" Suara Sakura meninggi.

"Naruto! Jawab aku."

.

.

.

Brack

Bracck

Niatnya menuruni tangga tapi ia malah jatuh ke bawah pada pijakan pertama tapi syukur ia masih bernyawa, hanya saja badannya terasa sakit karena menghantam lantai besi.

"Ughh astaga Uhuk huk!" Ia merasakan sakit di punggung tapi meski begitu, ia tetap memaksa untuk bangkit kembali mengambil palu yang ikut terjatuh

"Astaga sakit sekali." Ketika terjatuh, pergelangan kakinya menghantam anak tangga menghadirkan mati rasa.

"Jangan menyerah sekarang. Hah!" Ia bangkit dan berjalan dengan menyeret kaki kirinya. Panas sekali di bawah sini, mungkin karena uap-uap yang keluar dari dua tangki di depan.

Priaangg

Pipa yang terhubung di dua tangki besar bocor dengan sekali hantaman dari palu di tangan Hinata.

Udara menjadi semakin panas hingga ia berkeringat.

"Hah" Ia membeku untuk waktu beberapa menit sebelum meraih mancis dari saku celana belakang.

"Maafkan aku, Sakura. Kita tak punya kesempatan untuk berteman." Mancis di tangannya bergetar ketika jari jempolnya menyentuh tutup mancis.

Jantungnya berdebar tak karuan hingga badannya bergetar. Matanya terpejam ketika mancis itu ia nyalakan.

.

.

.

Bleedaaar

Darrr!

Darrr!

Ledakan membuat semua yang sibuk mendayung menoleh. Mereka melihat api dari bagian bawah kapal mulai membakar kapal besar itu tapi syukur mereka sudah cukup jauh untuk bisa dijangkau ledakan.

"Tidak Hinata!" Tak bisa Sakura jelaskan rasa pedih di dalam dadanya. Ia menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangan tapi suara dari seseorang di depannya membuatnya menoleh.

"Dia memang pantas mati lagipula awalnya dia memang ingin membunuh kita."

Deg!

PLAAAK

Tanpa membuang waktu sedetikpun tamparan keras mendarat di pipi orang itu tapi bukan dari tangan Sakura melainkan Naruto.

"Naruto..."

"Katakan sekali lagi, bajingan."

.

Tamat

.

.

.

Aaaaa ini udh fic tahun lalu hehe maap ya kalau ga bagus sayang aja ga di post