Toys of God

Disclaimer: DMM

Warning: kemungkinan OOC tinggi, typo, kepanjangan, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Masao Kume (23/11/2020)


Happy Birthday, Masao Kume! (23/11/2020)


Catatan panggung dari diari pertama: kemustahilan.


Selasa, 24 November 20xx

Sekian bunga duka ditaruh pada makam ini. Sekian perasaan tak tergambarkan pula ditinggalkan di sini, tanpa pernah memiliki bentuknya yang pasti–inilah kehilangan selama-lamanya itu,

Ketika lahir ia adalah Akutagawa Ryuunosuke, dan meninggal pun nama Akutagawa Ryuunosuke tetap diberikan padanya, walau Masao Kume berharap nama dari yang telah tiada ini dapat diganti menjadi bukan Akutagawa Ryuunosuke. Tentu lebih baik apabila nisan ini bermimpi. Jelas semakin bagus andaikata sekali saja Kume mengusap matanya Akutagawa belum meninggalkan, atau buta pun Kume masih bisa dilihat oleh Akutagawa secara nyata.

Namun, Kume terlalu tahu tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Sekarang pilihannya hanyalah beranjak dari nisan ini. Tetap melanjutkan hidup, lalu mungkin lama-kelamaan Kume bisa tertawa di sebuah jam pelajaran. Tersenyum, dan menerima keputusan Akutagawa sebagai ...

"Sebagai sesuatu yang sudah seharusnya, begitu? Baru memikirkan itu saja aku ingin marah lagi."

Wasiat yang Akutagawa tinggalkan pada kotak pos di rumah Kume, diremas keras-keras juga oleh Kume yang langsung menjadi penerima pertama. Petir mengaum di kejauhan yang terasa dekat. Prakiraan cuaca memang mengatakan hujan akan turun di siang hari, tetapi Kume tidak acuh. Apa pedulinya mengenai langit yang seolah-olah berduka atas kemalangan Akutagawa?

"Memang tidak boleh begini. Lagi pula tak ada yang mengizinkan Akutagawa-kun pergi. Aku, Dazai-kun, Kan ... bukankah kami juga berhak atas hidupmu?"

Jika mereka berkumpul dan berempat, kehidupan Akutagawa dapat ditentukan dengan lebih baik. Sejak Akutagawa mengenal mereka-mereka ini, bukankah benar mereka pun berhak atas nyawa Akutagawa? Berharap sebenarnya Akutagawa tak perlu bunuh diri. Bahwa mengumpulkan tiga kekuatan untuk satu orang akan menghentikan Akutagawa, dan memang harus soalnya soalnya mereka ingin Akutagawa bertahan.

Bukankah harapan-harapan itu egois?

Jelas-jelas lebih egois Akutagawa yang dengan enaknya hanya menuliskan maaf, dan bahkan menyensor beberapa bagiannya; alasan-alasan mengapa Akutagawa bunuh diri.

Benarkah kau berpikir seperti itu? Bukan hanya sesaat, lantas kau akan menyesalinya?

Tentu saja benar. Meskipun untuk Akutagawa kehidupannya yang diinginkan oleh orang-orang merupakan tragedi, Akutagawa Ryuunosuke tetap harus menanggung tragedi itu, makanya–

"Dibandingkan langit menurunkan hujan, bukankah lebih baik kau melakukan sesuatu yang lebih berguna?! Sudah banyak yang berduka untuk Akutagawa-kun. Kau tidak perlu melakukannya la–"

Saking kuatnya perasaannya Kume sempat memejamkan mata. Tatkala pandangannya kembali terbuka, seribu satu bahasa Kume terkejut mendapati rintik air yang menyerupai jarum terhenti tepat di depan netranya. Dedaunan mengambang di udara. Bahkan Kume dapat melihat bentuk angin yang seperti ombak bergulung, ketika waktu seolah-olah membeku seperti ini.

Jika ada satu kemustahilan yang kau inginkan, kira-kira apakah itu?

Kume tidak kuasa untuk menggerakkan mulutnya, ataupun meremas lagi wasiat yang Akutagawa titipkan. Ia tak tahu apa yang terjadi. Namun, waktu memang bukan seolah-olah melainkan benar-benar berhenti, dan suara itu ... rasa-rasanya hanya melalui sebuah kata-kata, Kume dapat memperoleh kekuatan yang sangat besar.

Aku tidak tahu siapa kau, tetapi jika aku memang menginginkan sebuah kemustahilan ... aku ingin mengulang hari paling bahagia dengan Akutagawa-kun, dan jika memungkinkan ... pasti kuselamatkan.

Kenapa jika memungkinkan? Tadi kau yakin sekali ingin Akutagawa Ryuunosuke hidup.

Tetap saja jika kesempatan seperti itu ada, masih terlalu sulit buat manusia kayak aku.

Hari paling bahagia dengan Akutagawa Ryuunosuke, kah? Itu adalah kemustahilan yang indah. Namun, sebagai gantinya kau akan ...

Kelanjutan kalimatnya tidak dapat Kume dengar. Yang ia rasakan hanyalah matanya menjadi abu-abu gelap. Terpejam. Sementara tubuhnya berat hingga limbung, tetapi tidak benar-benar mati rasa ketika dirasakannya punggungnya menyentuh tanah. Lebih tepatnya lagi menembus tanah, seperti diisap oleh udara yang sangat besar.

Mari kita lihat seperti apakah panggung diarimu, Masao Kume.

Usai suara itu lenyap angin berembus seperti biasanya. Dedaunan terbang jauh menuju langit yang lain. Hujan kemudian turun membasahi pemakaman Tokyo, juga nisan Akutagawa Ryuunosuke yang tidak berubah. Apakah hal tersebut memiliki makna tersendiri kira-kira?


Catatan panggung dari diari kedua: pengulangan pertama. Empat bagian.


Senin, 23 November 20xx

Bagian pertama: "Kotak Pos."


Kesadaran Kume menjadi lengkap secara paksa, akibat sekujur tubuhnya dihantam mimpi buruk dan Kume pun berkeringat terlalu banyak. Mulutnya spontan batuk-batuk. Napas Kume juga sesak yang meskipun hanya sebentar, ia merasa mati ketika jantungnya berhenti berdetak.

Mimpi buruk itu adalah mengenai tiga hari setelah Kume berulang tahun, ia menghadiri pemakaman Akutagawa yang disaksikan oleh seisi kelas XI-2, dan para guru menangisinya, di mana Shiga-sensei amat terpukul walau tak menetes-netes air matanya. Dazai Osamu demam tinggi, sehingga hanya Kume serta Kikuchi Kan yang datang sebagai sahabat Akutagawa. Semua orang perlahan-lahan pergi. Tersisa Kume seorang sampai akhirnya ...

Mimpi pun berakhir, semenjak sebuah suara menghampiri Kume. Menanyakan, apa keinginannya yang paling mustahil untuk dikabulkan? Lalu segala-galanya gelap. Kume hanya merasakan seakan-akan disedot lubang raksasa.

"Tidak. Itu bukan mimpi. Akutagawa-kun memang meninggal gara-gara bunuh diri, sedangkan suara itu ... benarkah dia?!"

Dengan kaki yang tergesa-gesa Kume menuruni ranjang. Mengecek kalender yang tidak terlalu dipenuhi coretan-coretan spidol, tetapi karena kurang yakin Kume mengambil gawainya yang ditinggalkan di atas meja. Waktu menunjukkan pukul 05.30 pagi. Hari Senin, tanggal 23 November tahun sekian. Saking kagetnya Kume ia menjatuhkan ponselnya. Ternyata sang suara betul-betul menjawab Kume yang bukan khayalan semata.

"Kume! Apa kamu sudah bangun? Ibu hanya mengingatkanmu, karena hari ini giliranmu piket."

Piket, ya? Hari Senin memang jadwalnya Kume untuk memastikan kelas bersih. Namun, jika itu sekadar membuang sampah atau merapikan meja-kursi, mana mungkin Kume sudah antusias, padahal hanya mengambil kacamata. Ia mandi dua puluh menit. Memakai seragam musim gugur secepat mungkin, tetapi tetap dipastikannya sungguh-sungguh rapi. Barulah menuju ruang makan tempat ibunya menyajikan sarapan.

"Seharusnya ibu memang tidak perlu mengingatkanmu, ya. Namun, ibu akan menjadi yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun, dan memberikanmu hadiah."

Sebuah boks kecil yang dibungkus kertas kado violet diserahkan pada Kume. Isinya adalah jam tangan, dan ibunya langsung menyuruh Kume memakainya. Sarapan di meja makan pun sangat sesuai, yakni dua baccon dengan satu telur mata sapi, ditambah segelas susu. Kume melahapnya penuh keriangan. Ibunya agak tertawa gara-gara Kume sampai tersedak.

"Ayah bilang tidak akan lembur hari ini. Malamnya kita bisa pergi ke festival Tori no Ichi bersama-sama. Kabar yang sangat bagus, bukan?"

Tori no Ichi adalah festival turun-temurun, di mana para penduduk mendoakan hasil panen agar melimpah pada November. Kendatipun ragu sempat menohok pemikiran Kume, ia tetap antusias membuat ibunya bahagia. Makanan yang baik hati seperti ibunya Kume ini sudah mengenyangkan dia. Kume pun pamit dan buru-buru mengecek kotak pos. Agak harap-harap cemas jika tak menemukan yang dimaksud.

"... ada," gumamnya lemah pada diri sendiri. Sepucuk surat yang diselimuti amplop putih Kume buka. Tulisan tangannya menjadi hal yang selama sembilan tahun ini, familier bagi Kume.

Selamat ulang tahun, Kume. Sepanjang atau sependek apa pun umurmu, kudoakan semoga Kume selalu bahagia, dan cerita-ceritamu semakin disukai banyak orang. Karena sudah tidak tahu mau mengatakan apa, sampai di sini dulu saja.

Di tempatnya berdiri Kume terpaku, kendatipun ia sudah membacanya hingga hafal isinya, dan di mana saja si penulis meletakkan tanda baca. Mendengar suara roda berputar, Kume buru-buru menyembunyikan surat yang ia baca di belakang punggung. Sepeda biru usang berhenti di depan gerbang rumah Kume. Kian gelagapan-lah dirinya, sampai-sampai menjatuhkan surat yang diberikan kepadanya.

"Pagi, Kume. Apa ada sesuatu yang menarik sampai kamu berjongkok?"

"E-eh ... i-itu ... aku enggak sengaja menjatuhkan sesuatu. Ini mau dimasukkan ke dalam tas."

"Begitu ternyata. Naiklah. Hari ini kita piket bersama, bukan?"

Tetap saja mengejutkan bahwa Akutagawa yang biasanya mepet, benar-benar bangun pagi dan siap melaksanakan piket bersama Kume. Malu-malu Kume memposisikan dirinya di bagian belakang sepeda. Samar-samar pula Kume sempat melihat kantong mata Akutagawa menebal. Mungkinkah insomnia lagi gara-gara tetangga sebelah berisik? Akutagawa kadang mengeluhkan pasutri muda yang sedikit-sedikit ribut itu.

"Mau ... menginap di rumahku?" Tawaran yang berbisik itu sangat jernih bagi Akutagawa. Ia ingin menengok ke belakang, dan secara iseng berpura-pura tidak terdengar, tetapi terakhir kali Akutagawa melakukannya ia menabrak tiang listrik.

"Menginap? Kesannya malah Kume yang ngasih hadiah, dong."

"Kalau begitu anggaplah aku pengen Akutagawa-kun menginap di rumahku sebagai hadiah ulang tahunku. Boleh?"

"Hmmm ... boleh gak, ya? Menurut Kume gimana?"

"Ih. Kok jadi nanya balik ke aku? Akutagawa-kun ngeselin."

Ditambah lagi Akutagawa belum mandi, tetapi angin yang membawakan kabar itu kepadanya membuat Kume ... apa, ya? Masa iya bahagia, padahal bau Akutagawa asem? Namun, masamnya itu memang khas Akutagawa. Lebih-lebih jika Akutagawa sudah cekikikan, karena Kume sudah dua kali kesal

"Iya, deh, iya, aku nginep di rumahmu. Pasti lucu banget bisa liat Kume manja."

"Manja apaan? Akutagawa-kun gak peka, deh."

"Karena gak peka, makanya aku nawarin tumpangan ke kamu." Cepat sekali sudah tiba di bagian ini. Percayalah dibandingkan romantis atau keren, jawaban Akutagawa sangat mengawur.

"Tadi di mataku Kume adalah gadis yang menunggu dijemput. Bener, dong, aku gak peka. Kume, kan, cowok."

Andaikata mereka sudah tiba di parkiran ketika Akutagawa mengatakan itu, Kume pasti protes sebanyak-banyaknya. Jika masih mengendarai sepeda pasti Akutagawa terjungkal atau menabrak sesuatu. Setibanya di sekolah Kume pun malas duluan, soalnya selama ia duduk di bagian belakang menontoni punggung Akutagawa yang berusaha seimbang, Kume akan luluh duluan.


Bagian dua: Jam Kosong.


Shiga-sensei yang seharusnya mengajar sejarah memiliki urusan yang tidak dapat ditunda, sehingga jam pelajaran pertama resmi menggelar kebebasan.

Kabar gembira ini disambut dengan heboh oleh Dazai. Kartu UNO, remi, bahkan catur beserta papannya, ia keluarkan dan ditaruhnya di atas meja Akutagawa tanpa izin. Menarik kursi lain entahlah milik siapa supaya dapat duduk bersebelahan, dan Dazai menjadi satu-satunya yang mengatakan Akutagawa harum, saat bau tubuhnya tercium.

"Akutagawa-san mau main apa? Sebenernya ada papan ouija juga, lho. Omong-omong selamat ulang tahun, Kume-san. Ayo main bareng." Ajakan tolol itu membuat Kume memutar bola matanya malas. Kadang ia penasaran akan isi tas Dazai. Buku saja sering meminjam dari gadis kelas sebelah, dan hanya gadis.

"Jangan ajak Akutagawa-kun main, dong, Dazai-kun. Tugas dari Shiga-sensei itu banyak. Harus dikerjain dari sekarang."

"Malam nanti aku bakal menyelinap ke sekolah, dan meletakkan tugasku di atas meja Shiga-sensei. Sekalian kukasih daftar belanjaanku."

"Bercanda, 'kan? Kenapa pula ngasih daftar belanjaanmu?" Dahi Kume mengernyit gagal memahami yang Dazai ingin tembak. Lagi-lagi binar pada netra Dazai bersinar dan tampak bodoh. Kedua tangannya dilipat di depan dada, mengguratkan gestur yang bangga akan diri sendiri.

"Serius, dong. Kukasih daftar belanjaanku biar Shiga-sensei yang pergi beli. Dengan gitu dia gak akan ngajar."

"Mana ngaruh, sih. Intinya kamu jangan aneh-aneh. Akutagawa-kun bakal ngerjain tugas bareng aku."

"Gakkk! Akutagawa-san bakal main sama aku. Kume-san juga main aja harusnya. Mumpung kau lagi ulang tahun."

Perdebatan seolah-olah tanpa batas maupun jeda, apabila pesertanya adalah Kume dan Dazai yang hobi sekali memperebutkan Akutagawa. Bingung dengan keributan di meja belakang Kan mengeceknya. Geleng-geleng mendapati Kume serta Dazai sama-sama sekukuh batu, sedangkan dibandingkan melerai Akutagawa justru mesem-mesem.

"Eh. Ada Kan. Si kecil lagi aktif, lho. Mau liat juga?" Belakang kepala yang tidak gatal digaruk. Entahlah maksud Akutagawa apa, tetapi perkataan Akutagawa sangat garing.

"Si kecil itu maksudnya Kume? Ulang tahun Dazai Juni, 'kan? Kalo Kume sekarang." Anggukan Akutagawa beri sebagai jawaban, sambil mengelus-elus kepala Kume yang wangi pappermint. Mereka terhenti secara paksa. Kan malah ikut-ikutan Akutagawa menyebabkan Kume tambah malu.

"Selamat ulang tahun, Kume. Nanti kutraktir makanan kesukaanmu, ya. Buat Dazai tentu aja gak ada." Anak panah imajiner seolah-olah menusuk Dazai. Harapan yang menerangi tatapannya lesu dan berhamburan. Jadilah Dazai ikut mengelus kepala Kume–sebenarnya modus semata, siapa tahu ia menyentuh tangan Akutagawa–tetapi malah dicubit oleh Kan yang hebatnya tepat sasaran.

"Aku juga mau, deh, traktir Kume pakai uang Kan."

"Itu, mah, sama aja aku yang traktir, Ryuu."

"Aduh. Kalian berhenti, dong, elus-elus kepalaku. Malu tau."

Mereka benar-benar tidak menyadarinya. Berpandangan dahulu sebelum akhirnya melepaskan tawa yang ringan. Benar-benar ringan sampai Kume merasa terbang bersama ketiganya, meski senyumannya diam saja. Secara paksa akhirnya Kan menyeret Dazai pergi. Dikembalikan pada Sakaguchi Ango, Dan Kazuo, serta Oda Sakunosuke yang justru bermain gim mengganggu orang pacaran. Kini Akutagawa dan Kume benar-benar berdua saja.

"Bagi tugas, yuk. Kume nyari nomor satu sampai lima. Aku enam sampai sepuluh. Gimana? Entar aku elus kepalamu lagi." Sering kali Kume menyalahkan Dazai sebagai biang yang membuat Akutagawa senang iseng begini. Namun, sekarang ini Kume pikir tidak buruk juga. Ternyata menyenangkan melihat Akutagawa demikian, seaneh apa pun sisi yang Akutagawa miliki. Walau seolah-olah itu bukan dia.

"Boleh. Soal elus kepalaku tolong lupain aja."

"Habisnya rambut Kume halus banget. Pas ngelus-ngelus tadi jadi ngantuk. Pengen tidur di situ."

Daripada mati kutu duluan Kume langsung menggenggam pulpen. Tangannya sibuk membulak-balik halaman buku cetak mencari jawaban yang pas. Jantungnya sibuk bermain nada dan menjelma puisi, lalu memberikannya judul, "Suara Hati". Sementara telinga Kume sibuk, atau lebih tepatnya disibukkan kelakuan geng Dazai yang baru pagi hari saja, sudah berisik macam pasar malam yang menyenangi kabuki.

"Bete amat kayaknya. Mau pake jasaku buat ganggu Akutagawa sama Kume pacaran? Percobaan pertama bayar lima ratus yen aja, nih." Ango itu bicara apa, deh? Seharusnya mereka mengerjakan tugas. Bukan menggosip aneh-aneh soal hubungan Akutagawa dan Kume.

"Gak boleh gitu, Ango. Gratis, dong, harusnya. Lagian Dazai mana punya uang. Dia aja minta uang ke Touson buat bayar utang Shuusei."

"Odasaku tega amat sama aku. Bilang sesuatu, dong, Dan. Jahat, nih, mereka berdua." Cukup lama Dan membisu. Diam-diam sejujurnya Kume penasaran, Dan menjawab apa kira-kira?

"Kalian gak tau mereka itu pasutri? Harusnya kita cari gim mengganggu pasutri. Bukan orang pacaran."

Penyesalan Kume bahkan meminta maaf, sebab ia sudah terlahir dan harus tinggal beberapa saat. Kume menghela napas merutuki kebodohannya secara halus. Ingin mengadukan tingkah mereka pada Akutagawa pun tidak jadi. Tampaknya Akutagawa sibuk, ditambah lagi Kume tahu Akutagawa pasti–

"... ngapain kamu?"

Bukan sibuk menyalin kata-kata dari buku yang Kume temukan, melainkan tangan Akutagawa asyik memainkan ponsel, bahkan senyum-senyum sendiri. Sebelum Akutagawa diinterogasi dengan hati Kume yang mengotot kesal, Akutagawa lebih dulu memperlihatkan kebahagiaannya. Layar gawai Akutagawa menampilkan komentar yang baru saja masuk. Isinya adalah supaya Akutagawa semangat melanjutkan komiknya.

"Jangan-jangan akun punya Dazai-kun juga." Selama sebulan terakhir, Akutagawa tengah mengerjakan komik bertema kappa yang dipublikasikannya di internet. Sepi peminat memang. Malah lebih banyak hujatan yang terpampang di sana-sini, sehingga Kume pikir Akutagawa akan menyerah.

"Bukan hanya itu yang bikin aku senang. Liat, deh, komentar yang ini."

KmPurple

Gambarnya masih kurang, tetapi ceritanya bagus dan menarik. Kalo Akutagawa-san bikin cerpennya dan dicetak, aku bakal jadi pembeli pertamamu.

"Awal-awal kupikir ini kamu. Abisnya Kume bisa disingkat jadi Km, tapi aku baru inget browser HP-mu rusak. Aplikasinya juga gak bisa di-download gara-gara memorimu penuh. Km itu kilometer kali, ya."

Karena Kume berpikir Akutagawa akan menyerah, makanya ia merepotkan Kan dengan meminjam gawai miliknya. Setelah ini Kume pun harus mencari tukang servis untuk memperbaiki laptopnya, sehingga ia bisa mengomentari karya Akutagawa kapan pun Kume inginkan.


Bagian tiga: Sehabis Lari Estafet


Pelajaran olahraga akhirnya selesai. Ruang ganti laki-laki menyisakan geng Dazai yang utuh, Kume, beberapa murid lainnya, kemudian Akutagawa yang menghampiri Kume usai dari toilet, sekalian mengganti baju di sana.

"Pfttt ... mau dipikirin berapa kali pun, tetep aja lucu." Mata Dazai terang-terangan melotot pada Ango. Bukannya merasa bersalah, Ango malah membiarkan tawanya berlarian untuk memanas-manasi Dazai.

"Temenmu jatuh bagian mananya yang lucu?"

"Ya lucu, lah. Larimu kayak princess yang kesenengan liat pangerannya dateng. Eh, lupa kalo lagi pake hak tinggi. Jadinya jatuh, deh." Seribu untung tongkatnya dapat diserahkan pada Akutagawa. Melihat Akutagawa sempat-sempatnya datang pula Ango makin kegelian. Bukannya dibawa ke garis akhir, justru Akutagawa lempar saking malasnya dia dengan berharap, tongkatnya bisa menggelinding sendiri lalu finis.

"Hari ini Dazai udah kerja keras, kok. Entar kubikinin kari, deh."

"Mumi Oda bikin kari mulu. Puppy sama anak-anak bosen tau." Kini giliran Dan yang ingin tertawa, karena mereka benar-benar memakai panggilan unik itu. Obat merah di tangannya tumpah tanpa sengaja. Mengenai luka di lutut Dazai membikin sang korban kaget. Spontan menendang Dan yang terkapar, lalu mengacungkan jempol–terbukti Dazai sekejap sembuh.

"Yaudah nanti Mumi masak kari prancis, ya. Jadi, Mumi pergi dulu ke Prancis."

Terus mereka protes bahwa tidak ada yang namanya kari prancis, dan ujung-ujungnya tetap memasukkan kari ke dalam mulut. Akutagawa memperhatikan secara saksama. Menatap Kume yang memberikan firasat buruk pada sepasang violet yang membingkai netra Kume.

"Lucu banget liat Dazai-kun main keluarga-keluargaan sama Ango-kun, Oda-kun, sama Dan-kun. Kalo dipikir-pikir Oda-kun emang cocok jadi mama, kalo Kume ayahnya kali, ya? Aku mamanya, dong. Rambutku panjang soalnya."

Nah, kan, imajinasinya dimulai tanpa aba-aba. Kume langsung menarik tangan Akutagawa, agar kebodohan mereka berhenti menggoda Akutagawa. Sebenar-benarnya pula wajah Kume sudah dipadamkan oleh merah. Terbayang lagi akan perkataan Dan, bahwa keduanya ini pasutri. Saking kesadarannya mabuk pula Kume tak sengaja menabrak seseorang, membuat isi hatinya turut terkejut bersiap melompat keluar.

"E-enggak gitu! Kata siapa aku bayangin Akutagawa-kun jadi suamiku!"

Naasnya lagi Kume lupa, bahwasanya yang mendengarkan pemikiran mendadak tersebut adalah Shimazaki Touson. Ia mengangguk-angguk seolah-olah memahami Kume yang paling tersembunyi itu. Kabur begitu saja di mana langkahnya seolah-olah berkata, "Akan kubuatkan berita yang bagus untuk kalian di halaman pertama.".

"Nyesel juga ternyata. Tau gini aku minta hari yang lain a–" Tiba-tiba malah Akutagawa yang meraih tangan Kume, menjadikan posisi mereka terbalik 180 derajat. Seharusnya tidak begini. Yang benar ialah Akutagawa mengejar-ngejar Touson, tetapi Kume menghentikan Akutagawa agar ia melupakannya saja, "Ke kantin, yuk. Laper abis lari estafet."

Gara-gara kaget terus-menerus, langkah Kume agak kepayahan dalam mengikuti Akutagawa. Entahlah apa yang terjadi, tetapi Kume bisa tersenyum berkat kehangatan Akutagawa yang menggenggamnya ini. Ia sudah tak memikirkan semestinya begini atau begitu. Bukankah semua-muanya benar asalkan Kume bersama Akutagawa? Oleh karenanya Kume memilih ulang tahunnya, sebab mereka bersama lebih banyak lagi. Seolah-olah bisa selama-lamanya.

"Mau makan apa? Hari ini aku yang bener-bener traktir pake uang Kan."

"Kan ... enggak ikut?"

"Katanya mau biarinin kita berdua aja. Aku malu banget pas denger itu."

Besok-besok Kan bisa mentraktir Kume, katanya. Orang kaya dan terlalu baik tampaknya memang kombinasi paling mematikan, untuk zaman milenial ini. Kume justru menyuruh Akutagawa memesan makanan favoritnya. Alasannya yaitu Kume ingin mencicip kegembiraan Akutagawa. Mau tahu kenapa Akutagawa bisa mencintai rasa seperti itu atau ini, dan ia akan menemani Akutagawa untuk menyukainya, walau sedikit ... mengecewakan, mungkin.

"Apa Akutagawa-kun enggak suka daging?" Kume tidak masalah dengan udon yang sekadar mengandalkan kekayan rasa dari kuah, dan pelengkapnya sesederhana daun bawang serta telur setengah porsi. Masalahnya Kume sama seperti Kan yang mengkhawatirkan gizi Akutagawa. Jika tak menikmati roti yakisoba, pasti mi instan yang kuahnya sengaja diperbanyak.

"Maaf. Pilihanku kurang Kume sukai, ya?"

"Padahal gak apa-apa sesekali memesan yang mahal. Kamu susah banget disuruh makan daging, deh."

"Lagi diet soalnya."

"Diet apaan kalo kemarin makan roti yakisoba? Lagian tulang ..." Tetap saja kalimat Kume tersendat-sendat, walau ia sudah pernah mengekspresikan ide ini. Akutagawa memiringkan kepala. Pipi Kume merah, seolah-olah di sana bisa menciptakan senja secara khusus dengan cara-cara tertentu yang sangat rahasia. Syukurlah Akutagawa bukan sesuatu yang membuat Kume ingin bersembunyi darinya.

"Kenapa sama tulang, Kume?"

"Tulang ... gak enak buat dipeluk." Suara Kume antara ada dan tiada, tetapi karena rasa malu Kume sangat jelaslah, Akutagawa selalu dapat mendengar Kume. Iris aquamarine-nya mengerjap-ngerjap. Sejurus kemudian dunia hanyalah tawa Akutagawa, dan sepasang senja di pipi Kume yang kian matang manisnya.

"Hahaha ... Kume ada-ada aja. Tulang emang gak enak buat dipeluk, kok."

Memang dasarnya tidak peka, dan Kume benar-benar ingat Akutagawa hanya menikmati udonnya hingga akhir. Di perjalanan menuju kelas Kume menghela napas. Sepertinya tadi itu kenyataan berbelok hanya untuk mengisengi Kume, tetapi siapa sangka Kume akan kena lagi? Ketika ia pasrah segalanya kembali pada yang sudah pernah terjadi saja–menciptakan yang baru merepotkan, bukan? Menilik ini hanya sebuah time loop.

"Seingetku Kume bisa masak, 'kan? Di rumahmu aku akan makan daging banyak-banyak, oke? Mama Kume jangan sedih makanya."

Tidak ada kalimat seperti itu dalam ingatan Kume, dan dia hampir menangis, saat dipikirnya kenangan mereka yang sama dan berulang-ulang saja sudah cukup, untuk sangat membahagiakan Kume.

"Ujung-ujungnya aku yang jadi ibunya, ya." Dari awal pun rambut panjang tidak menjamin. Walau, ya, bukan berarti Kume mengincar peran tersebut pertama-tama. Lagi pula mereka hanya bercanda, tetapi untuk gurauan memang ini berlebihan; terlalu membuat Kume hangat.

"Hahaha ... biasanya yang sering ingetin buat makan itu, kan, mama. Jadi, mulai sekarang kamu Mama Kume."

"Ini, sih, Akutagawa-kun yang manja-manjaan."

"Giliranku itu di sekolah. Nanti di rumah Kume pasti manja. Gimana kalo taruhan?"

Sejak langkahnya menapaki ruang kelas Kume langsung bertekad. Mungkin ia bisa melakukan ini. Bahwa jalan keluarnya ada, agar Akutagawa selamat dari nasib yang hendak menyingkirkannya.

Time loop ini mungkin dapat membuktikan Akutagawa pantas hidup, dan Kume-lah yang akan melakukannya dengan mempertaruhkan seluruh jiwa masa depannya, agar mereka bisa tidak berhenti di tempat yang sama. Melewati 24 November, hari di mana Akutagawa bunuh diri, tanpa memerlukan tragedi lain.


Bagian keempat: Menginap.


Malam harinya usai festival Tori no Ichi yang menenangkan jiwa, Akutagawa jadi menginap di rumah Kume dan sebelum memejamkan lampu tidur pada mata, Akutagawa makan malam bersama keluarga Kume yang sehangat embun.

Namun, sudah tidak ada yang indah dari jiwa Kume. Pikirannya lirih, semakin jarum jam mendekati angka dua belas malam. Mayat Akutagawa ditemukan di bangunan terbengkalai. Membayangkannya kabur pada waktu yang menandakan pergantian hari, tetapi tak seorang pun sadar sebab terlelap, Kume mendadak takut terhadap kantuk yang hendak menjatuhkannya. Tubuhnya pun sulit diajak terjaga, karena ... karena semua ini–

"Kume?" Panggilan terlampau lembut itu memecah pangkal hingga ujung tubuhnya. Saat ia berhenti membelakangi Akutagawa, apa yang Kume temukan ialah betapa indah birunya mata Akutagawa, walaupun kegelapan kamar begitu redup.

"Akutagawa-kun?" Sendu mengembang pada bibir Akutagawa dalam seulas senyum. Sebelah wajah Kume ditangkap oleh tangan Akutagawa yang ... dingin?

"Ada apa, Kume? Tubuhmu kayak di sini, tapi pikiranmu ke mana-mana."

Apa yang Kume pikirkan? Garis ini barulah awal yang belum mendapatkan dan memiliki apa-apa, tetapi rasa-rasanya ingin menyerah saja. Sudah seharusnya Kume kuat demi Akutagawa. Ia sendiri yang masih menginginkan kotak posnya didiami surat tak bernama, tetapi Kume yakin itu pasti dari Akutagawa. Ia juga yang berharap dapat memiliki kenang-kenangan baru bersama Akutagawa.

Kume sangat menginginkan seluruh perandaian itu, tetapi mengapa ia tidak langsung tidak takut, atau memiliki kekuatan yang amat besar untuk menantang segalanya?

"Tokoh utama itu hebat, ya. Kuat banget dan terus berusaha, sebanyak apa pun dia jatuh. Menurut Kume kita bisa kayak gitu?"

Film yang Kume tonton bersama Akutagawa itu, bintang utamanya berjuang seorang diri demi menyelamatkan dunia. Benar sekali dia kukuh. Padahal selama menyaksikan pertunjukkannya di bangku tengah, Kume dan Akutagawa frustrasi bersamaan melihat dia berjuang sedemikian rupa.

Dari manakah kekuatan sebesar itu datang? Kini Kume juga berusaha demi Akutagawa, dan ia ketakutan seperti tokoh utamanya, resah. Kira-kira bagaimana ia bisa mengingat caranya berjuang? Di sini bahkan Kume sudah limbung saking melembaknya kepesimisan–

"Kamu ... enggak memikirkan aku lagi, ya? Aku hanya ada di sini, Kume. Buat selanjutnya kamu hanya perlu meneruskan hidupmu tanpa a–"

"Tadi kamu bicara apa, Akutagawa-kun?" Nada bicara Kume meninggi. Emosi langsung memancar dan menyembur Akutagawa dengan amarah, membuat yang bersangkutan sedikit tersentak.

"Bicara apa? Daritadi aku diem, kok."

"M-maaf. Tadi aku hanya terpikirkan film yang pernah kita tonton bersama. Itu, lho, yang Akutagawa-kun memuji tokoh utamanya sangat kuat." Kata-kata Kume tergesa-gesa, seperti mengejar-ngejar Akutagawa atau mungkin ia memang tahu, Akutagawa memang berniat pamit tanpa bilang sampai jumpa. Akutagawa menyukai kenangan yang Kume bicarakan tersebut. Namun, Akutagawa tetap lebih banyak melihat yang buruk-buruk hingga baik pun menyerupai hitam.

"Inget, kok. Temennya juga kuat. Mereka berdua hebat banget."

"Menurutmu aku seperti itu?"

"Untukku Kume adalah sahabat yang hebat, kok."

"Tolong katakan, Akutagawa-kun tidak akan meninggalkanku sampai kapan pun. Katamu aku hebat, 'kan? Biasanya gak ada yang ingin meninggalkan orang hebat."

Jarang sekali Kume memulai sebuah perasaan dengan kulitnya. Jari-jari mereka lekat, tetapi tidak pernah benar-benar menyatu agar utuh yang saling melengkapi. Kume merasakan Akutagawa sebagai jarak begitu pun sebaliknya. Kata "persahabatan" menjadi seolah-olah kosong dan telah mereka tinggalkan. Jika Kume tak mengawali sentuhan ini, mungkin mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, walau di luar terlihat baik-baik saja.

Dekat, tetapi karenanya jarak paling terasa, bukankah itu perpisahan yang sesungguhnya? Akutagawa sudah tidak bisa berkata-kata soal ini ataupun ingin.

"Hari ini Kume udah banyak bersenang-senang juga, 'kan? Mau kunyanyikan lagu pengantar tidur?" Sesaat Akutagawa mengeratkan pegangan mereka. Melepaskannya dengan perlahan, seakan-akan Kume adalah kaca terapuh yang jika Akutagawa mengasarinya meski sekelumit saja, Kume bakal berpecah belah sampai serpihannya tiada tampak lagi.

"Lagu pengantar tidur apanya? Aku bukan anak ke–", "Penamaan kapal Yamato diambil dari salah satu nama provinsi di Jepang dengan berat muatan penuh melebihi 72 ribu ton, dengan senjata berupa sembilan meriam utama kaliber 18,1 inch. Menemani kapal Musashi, Yamato merupakan kapal tempur kebanggaan Imperial Japan Navy ..."

Sungguh. Pertanyaan Kume masih sama, yakni bagian mananya yang merupakan pengantar tidur? Sayang sekali kelas seni Kouyou-sensei tidak memiliki minat mengajak muridnya bernyanyi. Seiring dengan mengalunnya sejarah kapal tempur Yamato, lama-kelamaan telinga Kume hanya memeluk suara Akutagawa. Samar-samar dia pikir dirinya membenci Akutagawa. Orang ini amat lembut; terlalu lembut hingga orang-orang menerima Akutagawa begitu saja.

Menerima suaranya, perlakuannya, senyumannya, akan tetapi Kume tidak ingin Akutagawa semerdu ini, jika sesudahnya Akutagawa bunuh diri. Sekali saja Kume harus melawan. Jangan sampai renjananya terhadap Akutagawa justru–

Justru ...

Mungkin Kume beruntung tidak melanjutkan kalimatnya, atau ia terlihat hancur di hadapan Akutagawa. Lima belas kemudian Kume terbangun berkat mimpi buruknya. Berlari bak kesetanan sampai-sampai membanting pintu kamar. Terjungkal, tatkala terlalu berlari saat menuruni tangga, tetapi tidak sakit kendatipun air matanya berhamburan. Menuju jalan raya yang sepi yang di dalam bunga tidurnya, Akutagawa ditabrak truk.

"AKUTAGAWA-KUN! AKUTA–"

Mendapati kepala Akutagawa remuk redam, sampai otaknya terlempar dan tergeletak nelangsa di atas aspal, Kume langsung memuntahkan isi perutnya tanpa sisa. Truk yang menghantam Akutagawa juga menabrak tiang listrik. Supirnya mungkin mabuk, tetapi Kume mana peduli. Ia akan mengulang lagi. Semakin banyak Kume berjuang, siapa tahu ia menemukan keberaniannya dan bertambah kuat ...

bukan?


Catatan panggung dari diari ketiga: Pengulangan Kedua.


Manusia memang makhluk yang lemah. Baru pengulangan pertama saja Masao Kume sudah takut gagal, tetapi mungkin dia masih gugup dan memerlukan waktu, ya? Dewa sepertiku mungkin mustahil paham, karena buatku tak ada yang perlu ditakutkan. Berjuang keras demi meraih sesuatu juga bukanlah jalanku.

Di pengulangan kedua ini tidak ada yang spesial. Akutagawa Ryuunosuke kali itu mati, gara-gara terjatuh saat menuruni tangga di rumah Kume. Tubuhnya memantul kayak bola. Darah di kepalanya bocor sampai-sampai membentuk kolam kecil. Aku jadi ingin berenang. Pasti berendam di dalam darah Akutagawa Ryuunosuke yang putus asa nikmat, ya?


Catatan panggung dari diari keempat: Pengulangan Ketiga.


Tidak ada yang spesial. Perut Akutagawa Ryuunosuke ditikam oleh seseorang secara acak, ketika ia dalam perjalanan menuju rumah terbengkalai.


Catatan panggung dari diari kelima: Pengulangan Keempat.


Kalian tahu tidak, sih? Hari ini aku bosan banget. Bukannya menghiburku, si Masao Kume ini malah semakin linglung. Namun, akhirnya dia bisa terjaga! Meski, ya ... tetap saja gagal untuk menyelamatkan Akutagawa Ryuunosuke. Aku tertawa keras, karena Akutagawa Ryuunosuke meminum racun sampai-sampai mulutnya berbusa banyak banget~

Biar lebih asyik juga, aku membuat undian kecil-kecilan. Tema yang kudapatkan adalah, "Bunuh diri gara-gara racun tikus". Jadinya aku membuat Akutagawa Ryuunosuke seperti itu. Biar tidak out of character juga, Akutagawa Ryuunosuke kubuat menolak ajakan Masao Kume untuk menginap di rumahnya.

Habisnya Akutagawa Ryuunosuke itu tidak mau merepotkan orang-orang, bukan? Lain kali memang lebih baik Masao Kume mencari-cari di mana Akutagawa Ryuunosuke akan bunuh diri, agar semakin seru dan sulit untuk Masao Kume. Tak akan kuberikan pertanda lewat mimpi atau apa pun lagi.


Catatan panggung dari diari keenam: Pengulangan Kelima.


Kenapa aku memilih Masao Kume untuk mengemban kekuatan ini? Soalnya dari atas langit, keputusasaan yang Masao Kume rasakan begitu luar biasa. Dia bahkan berpikir, walaupun bagi Akutagawa Ryuunosuke kehidupannya yang diinginkan adalah tragedi, Akutagawa Ryuunosuke harus menanggungnya. Kuras Masao Kume bisa berpikir seperti itu, karena

Namun, meskipun Masao Kume berpikir demikian, ia juga ragu apakah dirinya mampu atau sekadar dipermalukan nasib? Aku suka yang seperti itu. Memiliki kemauan serta keraguan di saat bersamaan sangatlah indah. Bisa melihat manakah yang nantinya menang, kebimbangan atau setangkai harapan?

Jika Masao Kume semakin stres, mestinya ia bisa mengeluarkan kekuatan yang sangat besar, lalu minimal berhasil mencegah Akutagawa Ryuunosuke meninggal di tanggal 24 November. Pada 25 November atau 26, ya ... Akutagawa Ryuunosuke tetap mati pun, enggak apa-apa, 'kan?

Di pengulangan kelima ini Akutagawa Ryuunosuke diculik, lalu tubuhnya kubikin terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Kepala Akutagawa Ryuunosuke dikirimkan ke Masao Kume. Dari dulu aku menginginkan plot kayak begini, sebenarnya.


Catatan panggung dari diari ketujuh: Pengulangan Keenam.


Kapan pun Masao Kume mau dia bisa melakukan time loop, meski kurasa bentar lagi Masao Kume rusak duluan. Tiap dia melakukan time loop memang ada efek sampingnya, apalagi sejak awal Masao Kume punya mental yang lemah. Di awal sudah kuberitahu, tetapi Masao Kume sengaja kujadikan melupakannya. Entar dia menolak bagaimana? Manusia kayak Masao Kume langka menurutku.

Bingung, sih, mau menuliskan apa lagi. Sebentar lagi Masao Kume kayaknya menyerah. Walau dia mencoba membawa Akutagawa Ryuunosuke keluar dari Tokyo dengan kereta malam, ada pemuda mabuk yang tak sengaja menabrak Akutagawa Ryuunosuke. Agar mereka berdua tidak jatuh ke rel, Akutagawa Ryuunosuke mendorong Masao Kume supaya tetap di peron. Tubuhnya seolah-olah tak berbekas, saat kereta menggilas Akutagawa Ryuunosuke.


Catatan panggung dari diari kedelapan sampai tiga belas: Pengulangan Ketujuh Sampai Dua Belas.


Semoga pengulangan ke tiga belas lebih seru saja, deh.


Catatan panggung dari diari keempat belas sampai dua puluh: Pengulangan Ke Tiga Belas Sampai Sembilan belas.

Intinya adalah Masao Kume mulai sinting. Pernah sewaktu Akutagawa Ryuunosuke meninggal tepat di hadapannya, Masao Kume tidak bereaksi apa-apa. Dirinya menyesal telah begitu pada sababatnya, tetapi Masao Kume begitu lagi. Berulang-ulang sampai aku menghela napas.

Tampaknya Masao Kume yang lebih banyak bersenang-senang dengan Akutagawa Ryuunosuke, dibandingkan berusaha mencegah kematiannya, menandakan Masao Kume sudah menyerah. Namun, kulihat lebih lanjut dulu. Baru kuberikan benda itu.


Catatan panggung dari diari ke-21 sampai 23: Pengulangan Ke Dua Puluh Sampai 22.


Buang saja, deh. Sejak awal memang tidak ada harapan, sih, karena Masao Kume berada dalam cerita ciptaanku; nasib buatanku. Aku-lah yang mengendalikan Akutagawa Ryuunosuke dan takdirnya, karena aku dewa, jadi tidak melanggar aturan. Toh, sewajarnya memang takdir Akutagawa Ryuunosuke itu mati. Punya kekuatan dari dewa pun (time loop), pada dasarnya yang harus terjadi mustahil diubah, macam kematian. Inilah predestination paradox.

Akan tetapi, bakal kutuliskan di sini bahwa aku bisa memberikan pengecualian pada nasib Akutagawa Ryuunosuke, dalam cerita time loop ini:

Apabila Masao Kume ... dan membuat Akutagawa Ryuunosuke melihat ... akan kubiarkan Akutagawa Ryuunosuke hidup. Mulai dari sana terserah Akutagawa Ryuunosuke, apakah ia ingin hidup, menyusul Masao Kume, atau ...


Catatan panggung dari diari ke-24: Pengulangan Ke-23.


Sebagai bayaran telah menghiburku, akan kuberikan empat bagian spesial, seperti di pengulangan pertama (meski sebenarnya ceritanya sama saja, tetapi Masao Kume akan mengubah semuanya menjadi kefrustrasian):


Pagi pun terbit, sekalipun jendela kamar Kume masih terbenam dalam gorden yang rapat. Tiada selarik pun sinar yang dapat menyapanya, tetapi Kume tetap beranjak dan berdiri. Menatap kosong langit-langit kamar yang lambat laun berbayang-bayang.

Entah sejak kapan Kume tidak bisa tidur. Namun, mencegah kematian Akutagawa masih saja jauh dari keberhasilan, sehingga akhir-akhir ini Kume lebih memilih menikmati harinya. Akutagawa meninggal pun Kume hanya merada tinggal pulang ke tanggal 23 November. Sehambar apa pun hari ulang tahunnya, hanya ini yang bisa Kume miliki. Keraguan Kume di awal-awal menang telak tampaknya.

"Tapi aku gak menyesal. Cuma capek dan udah sadar, kematian Akutagawa-kun tak bisa diapa-apain."

Mencari tahu penyebab Akutagawa bunuh diri pun Kume merasa sia-sia. Sebentar lagi ibunya pasti memanggil Kume agar sarapan, lalu ia memutuskan berjalan keluar kamar, tetapi langkahnya tak tercipta sama sekali.

Kita bertemu lagi, Masao Kume. Time loop-mu terlihat berat, ya.

Ternyata suara misterius itu yang menghentikan alur kenyataan. Apakah dia mau mengejek Kume? Terserah, sih, karena Kume bukanlah yang disayang oleh takdir. Buktinya ia melemah, sampai-sampai sekitarnya sekadar berputar-putar. Tiada ledakan yang bangkit untuk mendorong Kume sukses sekali saja.

Ini adalah pengulanganmu yang ke-23. Cocok dengan tanggal ulang tahunmu, sehingga akan kuberikan hadiah.

Memberikannya ... hadiah? Di genggaman sebelah tangan Kume, tahu-tahu ada amplop putih yang ditunjukkan sebagai surat wasiat. Kume bisa membukanya. Tak satu pun yang berubah. Bagian yang disensor Akutagawa masih ditutup oleh coretan pulpen hitam yang tebal.

Robek surat wasiat ini jika kau ingin berhenti mengulangi waktu. Kusarankan dibandingkan hanya fokus menghabiskan waktu dengan Akutagawa Ryuunosuke, carilah beberapa hal yang Akutagawa Ryuunosuke sembunyikan.

Beberapa hal yang Akutagawa sembunyikan, kah? Ibunya yang menyediakan sarapan berkata, memang tak perlu baginya mengingatkan Kume hari ini piket. Menyerahkan kado berisi jam tangan. Dua baccon dan satu telur mata sapi yang tinggal di satu piring, tetapi ada yang berbeda kali itu.

"Kata Ibu, baccon ini terbuat dari apa, tadi?"

"Eh? Oh ... itu. Dagingnya Akutagawa. Pasti enak, karena Ibu baru saja memotongnya."

Tangan Kume menyibak sarapan miliknya. Menginjak-injak baccon tersebut yang mana mungkin Kume sudi melahapnya, ketika ibunya sendiri mengakui ini daging Akutagawa. Beliau terkejut bukan main. Tenaganya lemah sewaktu menahan tubuh Kume yang gemetar.

"Kok dibuang? Kalo Kume enggak mau, kan, bisa bilang sama i–", "Gila aja aku disuruh makan daging Akutagawa-kun! Siapa juga yang mau!" potong Kume kasar. Ibanya ibu berada di antara cemas, bingung dan takut, karena ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi pada Kume.

"Daging Akutagawa? Baccon itu dari daging babi. Kume lagi sakit, ya? Sini ibu cek du–"

Tidak tahu.

Kenapa tangan ibunya yang semula terangkat tiba-tiba turun, mengapa ibunya menghentikan atensinya, atau alasan di balik murung bercampur khawatir mengurung ibunya, Kume menolak tahu dan langsung mendobrak pintu. Berniat berlari ke mana saja yang ia ketahui. Terhenti tanpa arti gara-gara Akutagawa mendapati Kume terengah-engah. Dilihatnya Akutagawa mengeluarkan botol minum dari dalam tas, lalu disodorkannya ke arah Kume.

"Minum dulu, Kume. Napasmu gak teratur. Wajahmu juga, kok, pucat banget? Mending istirahat, deh."

Istirahat apanya?

Apanya yang istirahat yang gara-gara Akutagawa bunuh dirilah, Kume mungkin selama-lamanya terjaga walau ia tak bisa menyelamatkan Akutagawa. Kedua tangannya sudah mengepal menandakan ia marah. Namun ... namun selalu saja Akutagawa yang mengambil bagian terenaknya. Pada akhirnya Kume menjatuhkan Akutagawa dari sepeda bukan semata-mata dendam, tetapi Kume melihat Akutagawa bakal mati jika tetap bersepeda.

"Ja-jangan naik sepedanya, Akutagawa-kun! Rantainya putus. Entar kamu oleng, terus mati, gimana jadinya coba?"

"Rantai sepedaku baik-baik aja, kok. Kalo Kume gak percaya, coba cek sendiri."

Untuk membuktikannya Kume berjongkok. Matanya membeliak menemukan pengakuan Akutagawa benar. Menggeleng-geleng merasa bersalah, sewaktu disaksikannya seragam Akutagawa kotor gara-gara Kume impulsif. Basah juga, serta membuat botol minum Akutagawa kehabisan air.

Barusan sababatnya berbaik hati, tetapi sungguh ... Kume serius bahwa ia melihat Akutagawa meninggal disebabkan rantai sepedanya putus. Kume hanya mengemban lecet, sedangkan Akutagawa terpental yang naasnya ditabrak mobil yang melaju dalam lampu hijau. Darahnya terkuras duluan, sebelum tiba di rumah sakit.

"Tenang, Kume. Kamu yang tenang, ya? Boleh aku pinjam seragammu? Kalo bisa sekalian minta a–"

Akutagawa ditinggalkan tanpa Kume berbicara apa-apa. Jarak dari rumah ke sekolah jauh. Benarkah Kume akan baik-baik saja, terus berlari dengan membawa punggung seberat itu? Apalagi bebannya tidak terlihat oleh Akutagawa. Jelas-jelas Akutagawa harus menyusul, hanya saja kakinya seolah-olah tidak ada untuk Kume.

"Setidaknya aku harus memberikan ini pada Kume, bukan?"

Adalah surat yang sendirian dalam kotak pos ini, karena Akutagawa tahu isinya sangat ingin memeluk Kume, meski entahlah siapa yang mengirimkannya.


Jam sejarah yang masih memiliki buku, isi, dan pesan cinta dari yang meninggalkan dia setidaknya tak akan kesepian, walau Shiga-sensei absen untuk mengisi ruang kelas ini dengan penjelasannya yang lugas.

Tugas sepuluh nomor itu masih sama, tetapi yang berbeda adalah Kume tidak menyinggungnya barang sejenak, ataupun sedikit melirik tanda ia masih peduli. Atmosfer yang melatari Kume dan Akutagawa pun jauh dari mengenakkan. Sejujurnya mana mungkin Kan baik-baik saja dengan keadaan mereka, termasuk Dazai yang sudah heboh dan langsung membahasnya bersama Dan, Oda, serta Ango. Bertanya-tanya, mungkinkah keduanya bertengkar hebat sampai langsung muak?

"Bingungin banget gak, sih? Penyebabnya aja gak jelas," gumam Dazai tak habis pikir. Kurang dekat dengan Kume dan Akutagawa pun, ketiga sohibnya menyetujui Dazai secara serempak. Rasa-rasanya malah Kan ikutan aneh, sebab ia tidak kunjung memunculkan tindakan.

"Lebih penting tugas atau gimana? Daritadi keliatannya diem-diem doang." Celetukan Ango yang ditunjukkan padanya dibalas dengan helaan napas. Sebenarnya bukan berarti Kan acuh tak acuh. Ango menyadarinya, tetapi bingung saja bagaimanakah merangkai kata-kata yang enak didengar.

"Jelas enggak, tapi aku ngerasa … masalah mereka gak bisa dijelaskan ataupun dilihat oleh kita. Kalo aku atau Dazai ikut campur, bisa-bisa tambah kacau rasanya."

Dari kejauhan wajah Kume masih setia pada ketegangan, entahlah apa yang menggilakan pikirannya sampai di dalamnya amat berdesak-desakan. Perjalanan menuju sekolah yang benar-benar ditempuhnya dengan berlari mungkin melelahkan Kume. Nyatanya ia telat menggegerkan seisi kelas. Matanya juga pucat tanpa binar. Samar-samar tremor membayangi tubuh Kume, tetapi bujukan ke UKS selalu ditolak tanpa pikir panjang.

"Hari ini cuacanya bagus. Sayang banget, lho, kalo gak semangat."

Sudah berapa banyak arti yang Akutagawa lontarkan, dan Akutagawa menemukannya terlantar; membawa pulang kalimat-kalimatnya sebagai yang terluka yang takut pada Kume? Tiada yang berhak menghitungnya walaupun itu demi mereka, karena Akutagawa saja tak memusingkannya. Di atas bukunya Akutagawa menggambar kepala Kume. Menambahkan kacamata bulat serta garis lengkung yang turun, lantas memperlihatkannya penuh semangat agar Kume juga mulai bangkit.

"Lihat. Aku menggambarmu, tapi Kume-nya cemberut. Biar tersenyum jadinya …"

Gambar kepalanya ditambah, di mana itu adalah Akutagawa yang belum berekspresi. Pada gambar ketiga barulah Kume dan Akutagawa sama-sama tersenyum. Bahwa artinya bersama mereka bahagia. Biasanya pun selalu begitu. Bukankah sesedikit apa pun waktu yang keduanya miliki, tujuannya tetap satu yaitu bahagia?

"Aku ada salah, kah, sama kamu?"

"…"

"Masalahnya aku bukan cenayang. Kume gak ngomong, aku pun gak ngerti apa-apa. Menyedihkan banget, ya? Namun, karena aku mengharapkan Kume gembira, artinya enggak boleh begini terus."

Sepucuk surat yang Akutagawa ambil tanpa izin ini diserahkannya kepada Kume. Sedikit-banyak pandangannya tertuju ke sana, untuk menemukan benda yang Akutagawa genggam. Ia melihat Akutagawa membuka segel yang dilem asal-asalan. Membacakannya, di mana suaranya cocok dengan isinya yang selalu tahu, cara membasuh sengsara hati. Sejenak membuat Kume terkesima, dan ia tidak semakin waras, ketika bunga-bunga seumpama lahir dari daun-daun gugur.

"Orang yang menulis surat ini pasti sangat menyayangimu. Kenapa dia gak menulis namanya, ya? Kume tau alasannya?"

Mulut Kume sedikit terbuka, walau tertutup lagi yang berlangsung cukup lama. Tiba-tiba bahu Akutagawa dicengkeram dengan kuat. Bibirnya meringis merasai tenaga Kume yang terlampau sadis, dan mungkin bisa mematahkan tulang-tulang Akutagawa.

"Yang menulisnya adalah Akutagawa-kun, bukan?"

"Menulis surat itu maksudmu? Gimana Kume bisa berpikir kayak gitu?"

"Perlihatkan tulisan tanganmu kalo gitu. Selama ini Akutagawa-kun belum pernah memperlihatkannya. Apa kamu seingin itu dilupakan sama aku?"

Seolah-olah belum cukup Kume tak tanggung-tanggung mendorong Akutagawa, menyebabkan punggungnya mencium lantai kelas ini dengan kepedihan. Kursi terdengar berbenturan. Kaki Akutagawa spontan meronta-ronta, tetapi tenaga Kume yang naik berkali-kali lipat membungkamnya sepenuhnya. Seperti kesurupan atau entahlah apa

"Sejak tadi aku terus memikirkannya, Akutagawa-kun. Kenapa kamu gak menuliskan namamu, setiap menaruh surat dalam kotak posku? Bagaimana jika aku lupa, hah?! Atau jangan-jangan itu yang jadi incaranmu? HARUSKAH KAMU SEJAHAT ITU PADAKU?!"

Enggan memperlihatkan tulisan tangannya, ingin membuat Kume melupakan Akutagawa, merasa tak pantas untuk dikenang oleh Kume, apa-apaan Akutagawa ini? Mereka adalah sahabat. Meskipun ada jaraknya keduanya tinggal memaklumi itu. Kenapa sulit sekali bagi Akutagawa agar memahaminya? Jangan berani-beraninya Akutagawa main-main; bersenang-senang. Ia tidak boleh, sekalipun ia tidak mengetahui Kume tengah berju–

"Sakit … Kume … tolong lepaskan dulu … cekikanmu."

"Cekikan? APA YANG KAU MAKSUD DENGAN CEKIK–"

Melalui pandangan yang buram dan penuh bintik-bintik, Kume memang melihat tangannya mencekik leher Akutagawa. Gentar yang menyetrum jemarinya membuat Kume melepaskannya perlahan-lahan. Dalam satu gerakan tak kasatmata, tahu-tahu giliran Akutagawa-lah yang mencengkeram leher Kume. Wajah mereka didekatkan secara paksa. Netra Akutagawa yang putih seutuhnya melotot lebar-lebar, dan bukan lagi menumpahkan laut, melainkan darah yang mengalir sebegitu deras.

"Harusnya daritadi, dong. Lihat. Sekarang aku mati gara-gara kau."

"Maaf, Akutagawa-kun. A-aku … aku gak bermaksud … membunuhmu …" Saking kerasnya Akutagawa melotot bola matanya keluar dari rongganya. Bergelantungan. Nyaris jatuh. Merasai ngeri hingga nyeri pun Kume tak sanggup berteriak. Suaranya seolah-olah memiliki tangan dan ikut mencekik Kume, tetapi bagaimanapun napasnya sekarat, rasa-rasanya ia mustahil menemui mautnya.

"Barusan kau bilang akulah yang jahat. Namun, bukankah sebenarnya itu kau? Selama ini kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, soalnya kau kerepotan selama berteman denganku."

"Tidak … Akutagawa-kun … tidak … TIDAK! TIDAK! TIDAK! JUSTRU AKU INGIN MEMBUNUH DIRIKU SENDIRI JADINYA. AKU AKAN MELAKUKANNYA DI HADAPANMU, SUPAYA KAU PUAS."

Pensil yang ikut terjatuh ke lantai Kume ambil. Ketika ujungnya yang runcing menghujaninya dengan tusukan-tusukan tajam, juga sebenarnya sangatlah perih, Kume seolah-olah tak pernah memiliki punggung tangan. Seakan-akan ia hanya melakukannya terhadap pualam yang merupakan benda mati, padahal darahnya sudah terciprat ke mana-mana. Pensilnya patah pun Kume belum mau berhenti. Langsung mengambil pulpen di atas meja, dan kebanyakan menikam bagian yang telah luka.

"Berhenti, Kume! Kenapa tiba-tiba kau menusuk tanganmu sendiri, deh?! Ada masalah berat pun gak gini caranya."

Sekian lama mencoba, akhirnya Ango-lah yang berhasil menahan Kume. Tubuhnya meronta-ronta tidak terima. Kume menengok ke belakang, dan menatap lurus Ango yang meneguk ludah pun kepayahan. Merasai mata Kume dapat lepas untuk menyerang Ango kapan saja. Membuantnya menyaksikan mimpi buruk yang Kume ciptakan menggunakan tangannya sendiri.

"Gara-gara aku Akutagawa -kun meninggal. Harus membayarnya. Gara-gara aku Akutagawa-kun meninggal. Harus membayarnya. Gara-gara aku Akutagawa -kun meninggal. Harus membayarnya …" Cara berbicara Kume terus mengulang-ulang hal yang sama. Giginya tampak menggigil. Ango membayangkan apabila Kume meneruskannya, mungkin dia segera menggigit dirinya sen–

"SADARLAH, KUME-SAN! AKUTAGAWA-SAN MASIH HIDUP. DIA CUMA PINGSAN GARA-GARA KUME-SAN BERSIKAP ANEH!"

Seruan Dazai menghentikan kesintingan Kume secara telak. Di hadapannya Kan berteriak tanpa suara, atau sebenarnya Kume saja yang tidak sengaja menulikan diri sendiri, kemudian bergegas mengantar Akutagawa ke UKS. Teriakan Kume pun tiba-tiba keluar. Baru benar-benar merasakan tangan kanannya sakit sekali, dan seketika pingsan mendapati begitu banyaknya lubang tercipta. Lubang-lubang merah yang mengeluarkan darah, sampai-sampai ia tidak yakin masih memiliki tangan.

"Akan kulakukan pertolongan pertama! Abis itu bawa Kume ke UKS bareng Ango."

Perintah dadakan yang Dan putuskan ditunjukkan pula pada Dazai. Masing-masing menjadi kilat untuk melakukan apa pun yang mereka bisa. Menolong Akutagawa dan Kume sebagai sahabat yang tetap baik, karena setelah ini … mimpi buruk yang mereka lihat dari Kume, tidak akan bisa disentuh siapa pun lagi.


Sewaktu Akutagawa terbangun dengan rasa dingin yang menjelma seribu peluh, jam telah menunjukkan pukul dua belas yang seharusnya Akutagawa berada di lapangan. Mengoper atau mungkin menyerahkan tongkat ke garis finis, untuk menyelasikan pelajaran olahraga.

Tepat di sampingnya Kume menatap kosong langit-langit UKS. Sekiranya kelegaan dapat terbit melihat Kume jauh lebih tenang, dan perban yang sudah membungkus rapi lukanya kian menguatkan perasaan itu. Ingatan Akutagawa sendiri masih berputar-putar. Yang terakhir tertanam di benaknya adalah Kume mendorong Akutagawa sampai jatuh. Perihal surat … tiba-tiba Kume berteriak ingin bunuh diri … menuangkan segelas air untuk Kume–ini hanya

"Minumlah, Kume. Jangan sampai dehidrasi." Ekor mata Kume melirik pada Akutagawa yang tersenyum kecil. Keraguannya melarangnya menyentuhnya. Andai satu kali saja jemarinya berani meraih Akutagawa, ia membayangkan

"… bagaimana kalo aku melakukan hal yang sama kayak di halaman depan rumahku?"

"Aku percaya Kume gak akan melakukannya."

Gelas air semakin disodorkan. Helaan napas bahwa Kume menyerah meriangkan Akutagawa. Terlihat menyerupai anak-anak yang baru belajar merengkuh rapuhnya keindahan dari kebaikan, di mana itu sedikit … melegakan Kume. Benar-benar melegakannya walau segelintir, dan ia serius, kendatipun tindakannya bertolak belakang–kerah seragam Akutagawa ditarik oleh Kume yang sejurus kemudian, gelasnya terjatuh akibat Kume hilang fokus.

"K-Kume? Kenapa lagi?"

"Pembohong." Jantungnya yakin sempat lupa caranya berdetak, dan memang Akutagawa sesaat mati. Akutagawa menggeleng lemah. Meskipun ia ingin pergi, sekarang juga bisa mengatakannya di hadapan Kume, tetapi mana Akutagawa mau dibunuh oleh sahabatnya, walaupun perumpamaan semata.

"Pembohong apanya? Coba jelaskan baik-ba–" Menggunakan tangannya Kume menyibak kerah yang mentupi leher Akutagawa. Ungu yang bengkak itu tidak hanya satu, tetapi menyebar bagai awan mendung tanpa hujan; kesakitan, "Memar di lehermu itu … ternyata emang ada yang kamu sembunyikan dariku, ya."

Tiada halusiniasi yang kali ini mengekang Kume. Pengamatan tersebut pun Akutagawa biarkan bergelantung selama beberapa menit di udara. Tak diambilnya untuk dibantah atau diakui, mengakibatkan Kume semakin melupakan kontrol diri. Mereka pepet di mana Kume lekat pada Akutagawa yang menabrak tembok. Seragam Akutagawa dibuka paksa. Kancing-kancingnya sampai terlempar, melayang-layang, menggelinding, membuat tangan Akutagawa refleks menutupi dadanya.

"A-apa pun boleh, ta .. tapi … ku-kumohon j … jangan yang … ini …"

Gelap mata membuat Kume buta, tuli dan bisu di waktu bersamaan. Tangan Akutagawa ditahan supaya berhenti memainkan rahasia. Dadanya yang bidang menampilkan parasnya yang penuh ungu, goresan, bilur bekas cambukan, seolah-olah Akutagawa adalah tempat segenap luka berasal dan berpulang. Tidak ada kebahagiaan di sini. Riangnya Akutagawa ketika membonceng Kume, mengerjakan tugas sejarah bersama-sama, memerankan keluarga yang terasa konyol … semua itu kehilangan bentuknya

"Siapa yang melakukan ini padamu? Kakimu juga luka jangan-jangan?"

Mendengar Kume menyebut kaki, Akutagawa yang semula lemahnya pasrah kini memberontak mati-matian. Apa pun yang terjadi Kume tidak boleh melakukannya. Sejengkal pun itu, walau dia adalah Kume yang diam-diam disukai oleh rasa milik Akutagawa, dengan tega Akutagawa menendang perut Kume. Membiarkannya terbatuk-batuk; mengeluh pedih; asalkan ritsletingnya batal Kume turunkan.

"Akutagawa … kun …?"

Kesadaran Kume terlambat pulang, begitu pun pemahamannya yang masih tertinggal entah di mana. Kume panik menemukan Akutagawa bertelanjang dada, sambil tangannya yang merinding menutupi tubuhnya. Jadilah Kume mendekat untuk peduli. Walau baru setitik atensi yang menyentuh Akutagawa melalui telunjuk Kume, tanpa ampun Akutagawa menepisnya. Menatap sepasang violet tersebut dengan seluruh rasa takut yang Akutagawa pendam.

"Pe .. pe … pergi …"

"Per … gi …? Ja-jangan khawatir, Akutagawa-kun. Aku hanya ingin tau siapa yang melakukan ini pa–"

Bodoh.

Gigi Kume menggelatuk, saat sekali lagi menggumamkan kata itu: bodoh. Andaikata bisa ia ingin membentur-benturkan kepalanya. Melupakan dirinya yang lalu serta sekarang, agar ia tetap dapat dimaafkan oleh Akutagawa, tetapi mungkin memang hukumannya untuk terus mengingat ini.

Tentu saja Kume bodoh. Di UKS ini hanya ada mereka yang pernah sama-sama pingsan. Dilihat dari sudut mana pun dialah yang menakuti Akutagawa, dan sihir dari dusta tidak akan pernah bekerja. Kekuatan yang terlalu Kume keluarkan menyebabkan tangannya memekik lagi. Dari luka itu hujan berwarna merah menitik. Menetes membasahi lantai yang lama-kelamaan menjadi jejak. Jejak bahwa Kume melarikan diri dari Akutagawa, lalu tak sengaja menabrak Dazai yang ditemani Kan.

"Yo, Kume-san. Gimana keadaanmu sama A– Tunggu bentar, dong, Kume-san! Jangan main kabur gitu aja, oi! LUKAMU KEBUKA, LHO. HARUS DITUTUP LAGI."

Suka atau benci, sendirian pun Kan tetap harus membesuk yang bisa dijenguk. Alpanya Mokichi-sensei dan kaburnya Kume yang sejak jam pelajaran sejarah macam kerasukan, membuat suasana UKS memiliki sepi yang agak mencekam. Dahi Kan mengernyit, mendapati Akutagawa meringkuk di samping nakas. Jarak di antara mereka disingkarkan secara perlahan-lahan tetapi pasti. Sesuatu yang terjadi pada Kume kembali dialami oleh Kan, bahwa Akutagawa menepis tangan Kan yang terulur.

"Jangan mendekati lagi … kumohon. Kata siapa aku menikmatinya? Tubuhku bergerak dengan sendirinya, saat kau melakukan itu."

"Ryuu. Sadarlah. Ini aku, Kan."

"Maaf sudah terlahir. Maaf, karena aku bersenang-senang saat kau menderita. Pokoknya maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Akan kukatakan sampai ka–"

"Udah, Ryuu, udah. Baik itu aku, Dazai dan Kume, kami senang karena kamu ada di dunia ini. Buat apa minta maaf? Gak ada yang salah dari bersenang-senang sama kami, kok."

Nada yang akrab itu menyembuhkan Akutagawa yang juga dengan lirihnya berbisik "maaf" lagi. Harusnya Kume bersama Akutagawa di dalam kehangatan peluk ini. Kan yang menggigit bibirnya menggambarkan penyesalannya yang tiada berdaya. Ia tetap tidak tahu mereka kenapa. Mana mungkin Kan tahu, karena baik Akutagawa maupun Kume hanya memiliki maaf, maaf, dan terakhir hanyalah maaf, sebab mereka yang paling sebenarnya sudah tidak bisa lepas dari penderitaan.


Amarah Mokichi -sensei yang mengumandang melihat Kume berlari-lari dengan luka terbuka, sementara Dazai setengah mati mengejar-ngejar Kume, tetapi ujung-ujungnya luput–kejadian-kejadian itu tak terasa sudah tertinggal jauh di belakang, bagi Kume yang akhirnya tiba di suatu rumah terbengkalai.

Rumah terbengkalai ini tidak lain maupun bukan adalah tempat Akutagawa bunuh diri. Letaknya terbilang jauh dari kompleks yang mereka tinggali, walau Kume tak perlu sampai berlari-lari untuk tiba dengan cepat. Engsel pintunya langsung copot sekali Kume membuka pintu. Di dalamnya gelap gulita tanpa satu pun penerangan yang berfungsi, membuat Kume menyalakan senter gawai. Mengarahkannya ke mana saja yang ia sukai, dan berhenti cukup lama di suatu objek.

"Foto keluarga?"

Foto ini adalah foto yang sekilas tampak klise, karena semua rumah pasti memiliki kenang-kenangan sejenis itu, dan menjadi luar biasa mengejutkan Kume, tatkala ia menyadari bocah lelaki yang tersenyum merupakan Akutagawa. Pertemuan perdana mereka terjadi sembilan tahun lalu. Kume hanya mendengar kabar burung bahwa Akutagawa diadopsi keluarga saudaranya, tetapi tiada teman-teman SD yang tahu pastinya, atau Akutagawa bakalan menjaga jarak.

Di SMP dan SMA pun begitu. Oleh karenanya Kume selalu menekan rasa penasarannya, dan senantiasa berpikir yang terpenting adalah Akutagawa di masa kini.

Langkah kaki Kume buru-buru menaiki tangga. Salah satu undakannya bahkan keropos, membuat Kume nyaris terjun bebas. Di lantai dua tak ada yang benar-benar spesial. Kamar-kamarnya pun kosong yang dengan cepatnya, rumah ini mengusir Kume keluar. Tubuhnya sempat menabrak pegangan tangga, sofa panjang yang tidak kalah usang, atau tersandung padahal ujung uwabaki-nya tiada menyandung apa-apa, semenjak kepalanya berkunang-kunang merasa berat.

Luka di tangannya sudah pasti hanya bertambah nelangsa.

Apabila tujuan Kume masih mengotot untuk bertandang ke rumah Akutagawa, dibandingkan berobat ke rumah sakit terdekat, tidak akan mengherankan jika Kume kehilangan tangan kanannya. Bahkan mungkin nyawa turut dikorbankan.

Pesan tak beridentitas itu yang entah sejak kapan mendekam di kantong celananya, kembali Kume baca dengan senyuman yang lengkungannya naik dengan gemetaran. Semua-muanya selalu lebih sederhana setiap Kume menyelami tulisannya. Intinya Kume sekadar perlu berterima kasih kepada si manis yang pemalu ini, entah ia Akutagawa atau bukan, karena telah berbaik hati memperindah kehidupan Kume, dan tiada perlu memikirkan lain-lainnya.

Tak usah memikirkan nasib tangan kanannya, atau akankah Kume berhasil mempertahankan Akutagawa kali ini? Karena itu hanya memberatkannya yang sedikit lagi bersiap mencapai ujungnya.

Toh, dengan lapang dada Kume sudah mengakui, ia tidak sanggup lagi menjabarkan realitasnya atau halusinasinya. Kenyataan saja buruk bahwa ujung-ujungnya Akutagawa hanya akan meninggal. Imajinasi pun sama saja, di mana Kume-lah yang membunuh Akutagawa atau ia menyaksikan Akutagawa kecelakaan, padahal Kume-lah yang sesungguhnya tengah mencelakakan Akutagawa.

"Mereka" sudah sebelas dua belas bagi Kume. Orang yang tidak bisa membedakan asli atau semu, mana mungkin ada harganya. Menjadikan ini kematian yang pantas untuk manusia bodoh yang ingin melawan kodratnya. Kodrat yang hanya merasai dan berandai-andai mengenai buruk atau baik; bukan mengubah buruk agar baik atau sebaliknya.

Di manakah ia berada sekarang ini pun Kume sudah tak tahu. Benarkah Kume tinggal dalam kenyataan, ataukah halusinasinya mengambil alih lagi, dan membuat palsu seolah-olah nyata? Sekalipun berhasil menyelamatkan Akutagawa, atau berhenti mengulangi time loop yang artinya menerima takdir Akutagawa, jujur saja Kume tidak yakin bisa bertahan. Jiwanya sudah terlalu terbakar. Pasti Kume sekadar merepotkan Kan serta Dazai, jikalau ia memaksakan kehidupannya hidup.

"Langit berbintangnya cantik, ya, Kume. Seingetku kamu suka malam, 'kan? Menurutku cocok, kok. Kume bikin adem soalnya."

"Es krim rasa tinta cumi emangnya enak? Suapin, dong. Pengen coba."

"Laut Chiba indah banget. Musim panas ini adalah yang terbaik, atau lebih tepatnya apa pun yang kulakukan bersama Kume, pasti menghasilkan kenangan terbaik."

"Soal fisikanya susah. Moga kita remedial bareng, hahaha … Cuma jangan sampai, sih. Entar gak bisa nonton film."

Sehibuk apa pun Tokyo yang di dalam kota ini lautan manusia bergerak, Kume bahkan bisa mendengar Akutagawa tinggal di sampingnya, bukan? Ketidaknormalan itulah yang membuat Kume segan hidup. Bahwa di mana pun ia berada, dan ia yang mampu menemukan Akutagawa tertawa, tersenyum, berbicara untuknya dan kepadanya setiap saat, meski Akutagawa sudah tiada bagi dunia, adalah ketidaknormalan yang hanya berujung menyiksa Kan, Dazai, terutama Akutagawa itu sendiri.

Orang yang terlalu baik macam Akutagawa bisa-bisa menangisi Kume setiap hari, dan tak mengherankan Tokyo punah ditelan air hujan.

Kan serta Dazai pun tidak terlihat lagi apabila Kume bertahan, tetapi kedua orang yang terlalu baik itu pasti tetap memperhatikan Kume. Mengirimkan warna empat musim dan wangi matahari yang tanpa pamrih, lalu dengan kurang ajarnya Kume mengira Akutagawa-lah yang memberikannya; Akutagawa yang padahal sudah berhenti nyata.

Sebelum bayangan buruk itu benar-benar terjadi, tentu sebaiknya Kume mencegahnya. Mengambil cara ini untuk mengatakan, Kume menyayangi para sahabatnya, sehingga ia bisa sentosa di surga bahkan neraka.

TOK … TOK … TOK …

"Hm? Siapa di sana?!"

TOK … TOK … TOK …

"Iya, iya, tunggu bentar! Enggak sabaran banget, dasar bangsat."

Seorang pria jangkung dengan dada yang telanjang dan berbulu, sedangkan pinggang sampai lututnya diselimuti handuk putih, membukakan pintu untuk Kume yang asing di matanya. Asap rokok menyambut Kume yang masih bergeming. Saat celahnya hendak dirapatkan lagi, barulah Kume memperkenalkan diri sebagai teman Akutagawa. Bertanya, di manakah Akutagawa sekarang ini? Namun, sebelum dijawab Kume justru menyelonong masuk. Menemukan kegelapan yang lagi-lagi menyelimuti tempat Akutagawa.

"Woi, bangsat. Jangan sembarangan masuk rumah orang sama nyalain lampu, dong!"

"Paman udah membuka pintunya. Berarti aku boleh masuk." Nyaris tidak ada perabot di sini, kecuali sampah-sampah yang dibiarkan berserakan sesuka hati. "Ayah" Akutagawa mendengkus. Sebelah tangannya mengibas-ibas agar Kume melakukan apa pun yang ia sukai, tetapi menyeringai lebar berniat memperingati Kume secara tak langsung.

"Ternyata Ryuu punya temen yang gila, ya. Abis masuk dan tau kebenarannya, jangan sampai nyesel, lho."

Gila yang dimaksud pemabuk kelas kakap itu adalah luka di tangan Kume infeksi, tetapi Kume bersikap normal atau bahasa kejinya; ia macam orang gila yang indra perasanya tumpul. Hari belum sepenuhnya tercelup ke dalam senja. Seharusnya Akutagawa masih belajar, dan meratapi bangku kosong di sebelahnya, tetapi firasat Kume benar bahwa Akutagawa dipulangkan lebih cepat. Bahwa di balik pintu yang merupakan kamar Akutagawa ini, Kume tahu suara napasnya yang berantakan minta diampuni.

"Maaf, tapi aku masuk, ya," batin Kume yang lebih kesusahan, untuk membuka pintu kamarnya dibandingkan mencari Akutagawa. Sesuatu yang tajam sekaligus cepat tahu-tahu mendalami Kume. Dia kenapa? Di tangan kanannya begitu wajar hanya ada darah, dan mulai tidak bisa digerakkan sejengkal pun. Mungkinkah Akutagawa ketakutan gara-gara tangan nakal ini? Jika sanggup Kume ingin menyingkirkannya sebagai permintaan maaf, tetapi kakinya payah yang sudah menyerah duluan.

"Kume …? Kume. KUME!"

Suara itu masih memanggilnya Kume dan selalu lembut. Kenapa pula suara tersebut masih mengenalinya sebagai Kume, Masao Kume yang grogi jika Akutagawa hanya tersenyum padanya, walaupun Kume telah menyakiti Akutagawa berkali-kali dengan kenyataan yang Kume lihat?

Pisau yang menjadi hidup dan mati Akutagawa tergeletak begitu saja. Mokichi-sensei yang memaksanya pulang cepat untuk beristirahat, tetapi sebenar-benarnya Akutagawa mengkhianati Mokichi-sensei karena ia justru bermain dengan ayah angkatnya, pada akhirnya memutuskan membunuh dia barulah bunuh diri.

Tentu bukan ini yang Akutagawa inginkan. Ia pun tak akan menggunakan alasan, "Aku mana tahu Kume-lah yang muncul", karena Akutagawa diajarkan hanya dialah yang salah. Kelahirannya merupakan kekeliruan semenjak orang tua kandungnya meninggal dalam kecelakaan mobil, dan dari situlah menanamkan senyuman pada seseorang pun, Akutagawa tetap salah sebab suatu hari nanti ketika ia hilang, Akutagawa-lah yang membuatnya paling menangis.

Yang mana sebenarnya Kume tahu Akutagawa menusuk perutnya, sehingga sekarang ini Kume semakin tidak dapat melihat Akutagawa secara jelas. Namun tak apa. Temaram yang begini jauh lebih baik daripada sebelum-sebelumnya, di mana setiap Kume melihat Akutagawa ia justru melukai Akutagawa.

"Kita segera ke rumah sakit, ya. A-aku gak akan kenapa-kenapa lagi, makanya … makanya ayo hidup bersama dan–"

Tetapi yang Akutagawa dapatkan hanyalah ia tidak sanggup melanjutkan keinginannya. Keinginannya itu yang berkata, sesungguhnya ia bukanlah harapan Akutagawa.

Karena ia bukanlah harapan jadinya ia tahu, berkata seperti itu pun Akutagawa tak serta-merta kembali kuat menjalani masa kini dan masa depan.

Hidupnya masihlah tumpukan masalah yang tidak diizinkan berkurang. Masih terlalu banyak yang mesti diselesaikan, ketika Kume, Dazai serta Kan, mereka mustahil selamanya berada di sisi Akutagawa untuk membantu Akutagawa. Malah lama-kelamaan mereka pasti lelah duluan. Jadilah Kume sudah sedemikian sekarat pun, Akutagawa tetap egois menginginkan bunuh diri.

"Boleh … aku bercerita?"

"Ceritanya nanti aja. Sekarang aku bakal menghubungi Dazai-kun sama Kan, supaya mereka me–", "Percaya, gak, kalo aku melakukan time loop? Maksudnya kayak bisa pergi ke masa lalu … atau masa depan." Keterkejutan melayang-layang dalam netra Akutagawa yang membesar. Kulit bibirnya ditekan menggunakan giginya. Tangisan Akutagawa menahan diri dengan mengeluarkan senyuman yang kikuk.

"Kalo gini, mah, Kume yang rada tega ke aku. Padahal paling tau, aku paling kesulitan kalo lawan kamu yang keras kepala. Namun kudengerin, deh."

"Setelah ulang tahunku Akutagawa-kun bunuh diri. Di pemakamanmu ada sebuah suara yang bertanya padaku, apa keinginanku yang paling mustahil? Aku menjawab, ingin mengulang hari paling bahagia bersamamu, dan dia benar-benar ... mengabulkannya."

"Saat tau aku bisa mengubah beberapa hal, aku langsung bertekad untuk mencegah Akutagawa-kun bunuh diri. Nanti kamu mati akibat kecelakaan, keracunan, jatuh pas menuruni tangga ... banyak banget rasanya. Gak abis-abis malah."

"Pernah aku marah banget. Abisnya selalu aja gagal, tapi aku udah stres dan gak punya kekuatan lagi. Usahaku kurang, kah? Sebenernya apa yang salah dari usahaku?"

Salah dewa, Kume, salahnya dewa … yang saking mengenaskannya ucapan itu, ia tidak memiliki suaranya untuk berbincang langsung dengan Kume. Tuhan yang tak akan memberikan cobaan yang melampaui kemampuan seseorang itu bohong, menurut Akutagawa. Buktinya Kume rusak dibandingkan berhasil. Apabila benar Kume dipercaya sanggup melewatinya, kesakitan pun Kume pasti bangkit bagaimanapun caranya. Bahwa untuk Akutagawa time loop merupakan ujian daripada anugerah.

Sebuah ujian, apakah Kume kuat atau lemah? Di mana kesimpulannya ialah:

Masao Kume hanyalah mainan dewa.

"Seharusnya pula aku gak menggunakan kata 'berusaha'. Di pengulangan pertama aja aku udah takut. Film yang pernah kita tonton malah bikin minder. Bisa gak, ya, aku kayak tokoh utamanya? Meski hal yang membuatku takut bentar lagi kuhadapi, kok aku enggak langsung memiliki kekuatan yang besar untuk melawannya, ya? Payah banget."

Dewa membutuhkan mainan untuk tetap terhibur, yakni membuat manusia-manusia yang nantinya bunuh diri, atau gugur saat menghadapi ujian hidupnya dan hasilnya ia meninggal. Yang menciptakan manusia adalah dewa. Yang sanggup memberikan aral gendala pun hanya dewa. Bukan salah mereka jika gagal lalu memaksakan diri untuk segera mati, makanya Akutagawa ingin berkata:

"Payah dari mananya? Kume hebat banget. Ada suara aneh yang bilang gitu, biasanya orang-orang pasti kabur."

"Jika diberitahu jiwaku bakal rusak, aku gak akan mau juga, Akutagawa-kun."

Sebab Kume pengecut. Makanya ia akan menolak saat itu juga, dan lebih baik berbohong bahwa tanpa Akutagawa pun baik-baik saja.

Harga yang setimpal dengan meminjam kekuatan dewa pun, Kume tak sanggup memikulnya dan karena itulah, giliran Kume yang meninggalkan Akutagawa. Tiada sekali pun Kume pernah menyalahkan Akutagawa yang gegabah dan salah menusuk orang. Akutagawa sudah dimaafkan, entah Kume mengatakannya atau bisu, dan Kume pun tidak akan menangis, supaya Akutagawa tak meminta maaf sudah menyebabkan Kume sedih saat menontoni kematiannya sendiri.

(Bahwa perasaan-perasaan ini pun merupakan upaya Kume agar dimaafkan Akutagawa. Mereka sama-sama meminta maaf, dan juga saling memaafkan, dan meskipun Akutagawa atau Kume tak pernah tahu, itu tidak apa-apa.).

"Enggak, Kume. Walau ini cuma spekulasi, tapi aku cukup yakin sama ini." Keningnya sengaja Akutagawa tempelkan pada kening Kume. Pejam milik Kume mulai terlihat damai. Mendengarkan dan selalu memercayai Kume mungkin tidak cukup untuk menjadikan Akutagawa termaafkan, karena dialah yang akhirnya tetap membunuh Kume, ditambah lagi hal itu harus selalu dilakukan oleh sahabat–bukan sesuatu yang spesial, 'kan?

"Awal-awal mungkin emang Kume menerima tawaran itu, demi bertemu diriku yang bunuh diri dan kita bisa bersenang-senang lagi. Namun, Kume juga udah tau untuk menyelamatkanku emang mustahil, tapi kamu tetap maju. Mungkin seenggaknya di akhir, melakukan ini bisa membuatmu merasa lebih baik."

"Lebih baik, ya ...?"

"Pemilihan kataku kurang tepat, eh? Maaf. Aku–" Secarik kertas Kume serahkan untuk Akutagawa terima. Lipatan yang sesederhana membentuk persegi panjang itu Akutagawa buka. Tidak perlu dipelototi pun Akutagawa tahu, ini adalah surat wasiat yang ditulisnya sehari sebelum 23 November datang ke dunia.

Kepada seseorang yang menerima surat ini, jika itu bukanlah Kume, Kan, atau Dazai-kun, tolong berikan ini pada salah satu dari mereka. Meski kuharap Kume-lah yang pertama membacanya.

Pertama-tama aku mengucapkan maaf, dan mungkin terima kasih, tetapi kurasa itu tidak pantas untuk kukatakan pada kalian. Alasannya sederhana saja, bukan? Aku meninggalkan kalian tanpa mengatakan apa-apa. Tiba-tiba hanya mayatku yang diketahui overdosis obat-obatan, dan aku bunuh diri karena ...

Kabar tersebut agak melenceng, lebih tepatnya aku diangkat menjadi anak angkat oleh seorang wanita muda yang sudah berpulang, tetapi suaminya menolakku sehingga margaku tetap Akutagawa.

Orang tuaku meninggal gara-gara kecelakaan mobil. Sejak hari itu hidupku sendiri terlalu berat untukku. Terdengar aneh, ya? Padahal jika bukan aku yang menanggung hidupku, siapa yang akan melakukannya? Ayah angkatku benar kelahiranku adalah kekeliruan.

Kenapa aku tidak bercerita pada Kume, Kan, atau Dazai-kun? Percayalah ini memalukan. Jadinya sulit untuk diceritakan juga. Mula-mula aku berpikir ingin bunuh diri, usai merayakan ulang tahun Kan 26 Desember nanti. Namun, maaf, aku tidak kuat. Sehari setelah ulang tahun Kume saja, berita kematianku yang jadi hadiah kedua Kume.

Lalu, ada juga yang beban hidupnya lebih parah dariku, tetapi mereka bertahan dan bisa menghadapi segalanya dengan berani. Diriku tentu tidak berhak mengeluh, makanya aku menyensor alasanku bunuh diri. Pada akhirnya menulis surat pun, ini agak sia-sia, ya? Perasaanku tak bisa bebas sepenuhnya. Maaf, telah membuang-buang waktu kalian.

Sekali lagi, aku minta maaf atas segalanya. Maaf dan selamat tinggal.

Yang semestinya terhenti selama-lamanya pada ucapan, "Maaf dan selamat tinggal", tetapi di bawahnya Akutagawa melihat ada tulisan tangan yang kontras dengan punya Akutagawa.

Komentar buat isi suratmu:

Kebanyakan minta maaf itu enggak baik, Akutagawa-kun. Bikin kami minta maaf ke kamu harusnya, karena tidak bisa menjadi tempatmu cerita.

Alasan apa pun yang Akutagawa-kun punya dan membuatmu bunuh diri, itu patut dihargai menurutku. Dazai-kun dan Kan pasti memikirkan hal yang sama.

Dikira selama ini aku mengeluhnya sedikit, ya? Hidup, kan, memang begitu. Wajar jika memiliki banyak hal buat dikeluhkan. Berat untukmu dan untuk orang lain enggak, bukan berarti bebanmu tidak berarti.

Terakhir yang tidak betul-betul terakhir, meski tulisan tanganmu beda banget, aku tetap yakin dan tahu, kamulah yang selalu menaruh surat dalam kotak posku. Terima kasih telah mengirimnya secara rutin, Akutagawa-kun. Bahkan jika itu bukan kamu ... jangan, deh, harus kamu orangnya.

Ini yang terakhir dan benar-benar terakhir, aku juga minta maaf, Akutagawa-kun. Semua ini hanya bisa kutuliskan dalam surat. Bukan dikatakan secara langsung padamu. Maaf ...

"Sudah ... Akutagawa-kun baca?"

"Ya ... terima kasih atas perbaikannya." Untuk air mata yang Kume torehkan pada kertasnya, kekusutan yang ia ukir saking banyaknya Kume meremas surat ini; melampiaskan segenap perasaannya terhadap Akutagawa. Sekarang Kume berhasil menjaga Akutagawa. Harus hidup dalam tragedi pun; kehidupan Akutagawa yang diinginkan oleh orang lain, Kume; ia rasa bisa melakukan ini, meski Kume juga jangan terlalu berharap.

"Sekarang ... tolong sobek ... suratnya. Maaf. Akutagawa-kun ... gak boleh ... menyimpannya."

Dia tidak boleh menyimpannya, tetapi di sana tersimpan tulisan tangan Kume, dan memberikannya hanya untuk dirobek saja, Akutagawa sudah retak hati apalagi melaksanakan nubuat Kume. Kalimat terakhir itu andaikata bisa sebenarnya ingin Akutagawa perbaiki. Terlalu menyedihkan. Meskipun Kume memang sering mengesah, ia bukanlah sosok yang cocok dengan kata menyedihkan, karena Kume selalu menyenangkan bagi Akutagawa.

Suaranya yang mengeluh, malu-malu, ketus, tertawa ... semua hal kecil itulah yang membuat Akutagawa tahu Kume mencintainya, entah sebagai sahabat, atau genggaman tangan yang bukan hanya erat, melainkan dapat menyatukan mereka dalam percintaan.

(Baik itu percintaan yang mengenai berkasih-kasihan, ataupun perasaan sedih [susah, menyesal]; kesuahan.).

"Aku juga mencintaimu, Kume. Sampai akhir pun aku gak bilang alasannya, ya. Ma–maksudku terima kasih, sudah tak menanyakannya."

Tangga yang diselimuti suara langkah kaki membuat ketakutan Akutagawa kambuh, tetapi entah bagaimana waktu bahkan seolah-olah keluar dari alirannya, sementara di luar sana musim gugur beku bukan sebagai salju. Berhenti menjadi musim itu sendiri. Seulas uap menjelma sosok manusia yang samar. Di tempatnya merengkuh tubuh Kume, hanya terpaku yang dapat Akutagawa perbuat, dan mungkin ia tak bernapas juga.

Sekarang sudah tahu, kan, bukan Masao Kume yang seharusnya mati?

Ya ...

Mumpung surat wasiatnya belum dirobek, kau bisa saja menyelamatkan Masao Kume. Toh, dia secara tak langsung hanya menggantikan takdirmu. Tetap kau yang seharusnya meninggal.

Menggunakan surat wasiatku? Apa itu mungkin?

Benda itulah yang Masao Kume gunakan untuk melakukan time loop. Kau tahu? Sebenarnya juga kau bisa lebih dulu mengubah nasibmu. Biar tidak diperkosa ayah angkatmu lagi, misalnya. Dari kecil dilecehkan pasti berat.

Bahasamu kasat banget.

Untuk apa juga aku memikirkannya? Jadi apa jawabanmu, Akutagawa Ryuunosuke?

Jawaban Akutagawa adalah tubuhnya menghilang bersamaan dengan surat wasiatnya, dan terakhir manusia uap yang merupakan dewa itu tersenyum lebar.


Tamat.


A/N: Pertama-tama aku ucapin terima kasih buat kalian yang udah luangin waktu, buat baca fic super panjang ini. Jangan tanya aku kenapa bisa 10k, aku cuma nulis dan tau2 jadi wkwkw. Kira-kira butuh 3 hari buat menyelesaikan fic ini, dan aku mulai dari hari jumat, selesai di hari minggu. Bisa dibilang ini adalah fic yang paling nguras tenaga, karena ini bisa dibilang fic AkuKume terpanjangku. Sebenernya ngeri juga banyak plot hole, cuma ya mari berdoa semoga gak ada. Kalo pun ada moga ada yang sadar dan aku dikasih tau.

Fic ini bisa dibilang gak terlalu nonjolin hal2 berbau ultah sih ya. Aku bener2 fokus ke time loop di sini. Tema time loop emang bukan tema yang wah banget, karena udah banyak yang bikin. Biasanya aku kalo bikin time loop di bsd, itu karena tokoh ybs udah punya kekuatannya dari kecil. Yang di-give gini baru pernah bikin sih. Jadi ya meski buat kalian ini bosenin, buatku ini seru-seru aja dan semoga worth it. Udah ngetik panjang2 tapi jelek ya … ga aneh dong kalo sakit hati.

Pas bikin fic ini emang sempet mandet, tapi mandetnya gak terlalu ngaruh banget juga. Aku rada bingung di-ending. Tadinya antara mau bikin aktgw ga jadi mati karena kume rantai dia (iya ini serem emang), atau aktgw dan kume mati dua-duanya. Kupikir rada aneh bikin kume mati soalnya, tapi abis konsul ke temen ya dia bilang gak aneh juga meski aku bikin kume mati, karena pada akhirnya ini fanfiksi. Apalagi tema yang kuambil bukan sci-fi, tapi lebih fokus ke feel seperti biasanya.

Di paragraf terakhir ini aku minta maaf, karena fic-nya masih banyak kekurangan. Mari bertemu di fic AkuKume selanjutnya. Buat kume HBD. Moga makin lengket sama aktgw. Jujur pengen banget maki2 si kume gegara nyusahin aku, tapi di satu sisi keknya aku sayang dia. Kalo aku gak sayang kume, dia gak akan menderita soalnya.