Pelanggan Ketiga Hari ini

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Summary: Menurut Nakajima Atsushi bartender muda itu cantik dan mengerikan, sedangkan bagi Nakahara Chuuya, pelanggan ketiganya ini bersahaja sekaligus manis.

Warning: OOC parah, typo, gaje, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk event ChuuAtsu week 2020.


Day 1: Cafe


Senin sampai Jumat hanyalah lima kembar identik yang bedanya tiada, selain serempak memberikan warna monoton yang bagi Nakahara Chuuya memuakkan sekujur badan.

Jika teknologi masa depan mampu mengembangkan uang dari pohon, tetapi dengan catatan harganya terjangkau, sudah pasti Chuuya akan meninggalkan pekerjaan paruh waktunya di kafe ini. Benar-benar mengunjungi Colloseum di Roma, Italia, dan mewujudkan mimpinya berkeliling dunia. Mengabadikan pemandangan-pemandangan dalam deskripsi foto, walau kata Dazai Osamu itu bodoh.

Soalnya lagi korona. Jadi, Dazai bilang impian Chuuya bodoh, sama halnya seperti menumbuhkan uang dari pohon, walau sebenarnya penjabaran ini lebih berkhayal lagi.

Habisnya apa pun yang keluar dari mulut Dazai, kalau bukan bodoh maka itu konyol, atau bodoh sekaligus konyol. Namun, saat bersih-bersih beberapa hari lalu, mungkin Dazai agak benar Chuuya hanya sejenak melarikan diri dari kebimbangan. Saran untuk kuliah adalah ketegasan dari Mama Kouyou. Ia harus memutuskan jurusan dan universitasnya tahun depan, di mana ini sudah akhir November dan kepala Chuuya masih kosong.

"Hal paling aneh itu sebenernya melihat Chuuya banyak pikiran emang." Tiba-tiba Dazai menceletuk yang masih sambil mengepel lantai. Dahi Chuuya mengernyit heran. Pikirannya yang tak kasatmata ini memangnya terlihat sejelas itu tengah berlari-lari?

"Lebih aneh lagi melihatmu mengepel. Biasanya juga males-malesan."

"Kekuatan terpendamku udah bangkit, Chuuya. Liat aja nanti. Aku dan Akutagawa-chan bakal segera–"

Kemantapan dari deklarasi itu langsung nihil, semenjak dipotong oleh denting bel yang menandakan pelanggan harus segera disambut sebagai raja. Dazai memperlakukannya penuh senyum. Remaja itu juga membalas dengan garis lengkung yang canggung. Lalu firasat buruk Chuuya mendadak tajam, tatkala mendapati Dazai mengeluarkan tatapannya yang jelas, tetapi di luar seolah-olah tiada pandangan yang terpatri.

"Omong-omong kamu beruntung banget, lho~ Kafe kami punya pelayanan spesial, khusus hari ini aja."

"Emangnya ... apa?"

"Barista kami yang pendek dan manis akan melayanimu~ Para wanita aja belum tentu, lho, dapet kesempatan kayak gini." Iris berwarna unik tersebut mencari sosok yang Dazai maksud. Biru matanya adalah kejernihan laut. Rambutnya yang senja cocok untuk menyimpan kenang-kenangan. Secara fisik Chuuya adalah keindahan yang diidam-idamkan, sebagai pelipur lara. Baru sekilas melihat saja, remaja berambut perak itu tahu ia terpana.

"Oi, Dazai. Jangan sembarangan, dong. Di sini itu pelayannya lo. Jelas-jelas kerjaan gue bartender."

"Tadi katanya aneh, liat aku rajin gini. Yaudah kamu kerja aja daripada nganggur. Baik banget, kan, aku?"

Usai mengatakannya, lantai yang belum selesai dibersihkan pun Dazai tinggalkan begitu saja. Secepat kilat Dazai berganti baju menjadi setelan kasual yang sederhana, tetapi modis. Melambai pada Chuuya yang nyaris melompati meja bar hendak menendang Dazai, dan ia sudah mengambil ancang-ancang, tetapi segera diurungkannya teringat pelanggan ketiga mereka di hari Senin ini.

"Maaf atas ketidaknyamanannya. Seperti katanya, akulah yang akan melayanimu." Urat kemarahan masih terpampang di wajahnya yang tidak Chuuya sadari. Cantik pun tampaknya Chuuya berbahaya. Sang pelanggan merasa ia bisa ditendang, dan patah tulang kapan saja, apabila berani dekat-dekat.

"Tolong air putih aja satu gelas. Aku akan memesan, setelah temen-temenku datang."

"Baiklah. Silakan duduk di mana saja yang kau sukai."

Kerja kelompok, kah? Berapa pun yang datang, Chuuya harus memastikan mereka menerapkan 3M secara serius. Segelas air putih Chuuya tuang dan berikan tanpa bumbu basa-basi. Jika Dazai masih tinggal, sedikit-banyak Chuuya membayangkan pemuda jangkung itu pasti beramah-tamah dengan suaranya yang hangat. Di mana dibandingkan rindu akan keakraban, yang khas Dazai, lebih tepatnya Chuuya kagum.

Kagum dan sedikit kesepian, mungkin. Mengingat beberapa rekannya dipecat dari kafe ini, sehingga jika sunyinya menendang Chuuya, akan seketika terasa sebagai sunyi.

Mumpung remaja manis itu masih menceritakan penantiannya pada kafe ini, Chuuya memutuskan mengecek gawai. Mencari-cari informasi mengenai universitas berserta jurusannya, meski hanya bertahan sepuluh menit yang selama satu jam ke depan, Chuuya lebih seru menontoni pertandingan olahraga di youtube.

Sejak kecil Chuuya mendalami karate. Pernah beberapa kali juara satu kompetisi tingkat nasional, bahkan tembus ke internasional. Mama Kouyou bangga padanya, dan ternyata Dazai benar, Chuuya yang banyak berpikir sangatlah aneh.

Harusnya ia memasuki jurusan olahraga saja, dan mungkin menjadi pendidik yang melatih sebuah klub karate, atau apa pun di ranah sekolah. Menyetujui ide tersebut secara sepihak, kini dari tempatnya duduk Chuuya beranjak bangkit. Menghampiri satu-satunya pelanggan yang bulu kuduknya menegang, lantas berpura-pura bodoh dengan menutupi wajah menggunakan menu.

"Hey. Kau tidak mau me–", "To-tolong jangan usir saya! Kalo gitu saya pesan spa ... spa ..." Tengkuk yang tak gatal Chuuya garuk. Apa wajahnya se-menyeramkan itu, sampai-sampai takutnya terang-terangan takut? Menggunakan telunjuknya Chuuya mengarah pada salah satu nama spaghetti. Ia tidak lembut, tetapi lebar senyumannya adalah musim panas baik di dalam gugurnya daun atau dinginnya salju.

"Ini adalah menu andalan kafe kami. Mau pesan yang itu?"

"Boleh ... terima kasih."

"Minumnya?"

"Air putih lagi aja. Enggak apa-apa, 'kan?"

"Pelanggan adalah raja, merupakan moto utama kafe kami. Apa pun yang pelanggan minta harus dilayani sebaik mungkin."

Siapa sangka moto klise itu terdengar keren juga ketika diucapkan. Diam-diam pula Chuuya mengganti pesanan air putih menjadi segelas latte. Seulas kejutan mekar dengan sukses, setibanya di atas meja yang berdiri kesepian. Saking rasa kagetnya terlalu panik jua, remaja terlampau lugu tersebut menggeleng-geleng bahwa ini bukan pesanannya. Ia membawa uang yang kurang. Ampuni dirinya, dan alasan-alasan lain yang makin absurd.

"Tenang aja, tenang. Aku yang traktir, kok."

"Beneran. Uangku gak cu– Eh? Kakak serius?"

"Dua rius malah. Lagian niatku bukan untuk mengusirmu." Chuuya duduk di seberangnya tanpa permisi. Entahlah apa tujuan Dazai membiarkan mereka berdua saja, tetapi ia akui tanpa si idiot perban, mendengarkan pendapatnya mengenai latte racikan Chuuya bisa dilakukan secara damai.

"Omong-omong siapa namamu? Aku Nakahara Chuuya."

"Namaku ... Nakajima Atsushi. Salam kenal, Nakahara-san. Latte-nya enak, ya. Rasanya manis sesuai kesukaanku. Kenapa Nakahara-san memilih minuman ini?"

"Lama-kelamaan rasanya aku bisa tau apa yang orang-orang sukai, meski hanya melihat dari wajahnya saja. Entah gimana tebakanku bener terus. Kadang ada yang dateng buat ditebak doang, meski ujung-ujungnya tetep beli, sih."

"Hebat sekali, Nakahara-san. Ternyata bener rumornya, kalo ada barista yang bisa nebak kopi kesukaan pelanggan. Pelayan yang barusan pulang itu ... benarkah dia bisa menebak pekerjaan seseorang?"

"Begitulah. Kami sering taruhan siapa yang bisa menebak paling banyak dan benar. Jangan bilang kau kemari gara-gara cerita itu." Tawa kecil menguar dari bibirnya yang sudah lebih bersahabat dengan suasana kafe. Tibalah giliran spaghetti alfredo yang Chuuya rekomendasikan untuk diicip.

"Bener, sih. Harganya juga terjangkau, dan rasanya enak. Semoga tahun depan kafe kalian kembali rame, ya."

Wajah itu baik dan segala yang dimilikinya mungkin baik, tetapi ternyata kurang baik untuk jantung Chuuya yang mendadak tidak jelas warnanya. Jujur saja semenjak Atsushi lebih sibuk mengangkat garpu, di sini Chuuya setengah tersesat dalam kebingungan sampai merasa setengah mati. Pertama-tama Chuuya menontoni Atsushi makan. Cara mengisi perut memang sama semuanya, dan yang membetahkan Chuuya hanyalah bagaimana Atsushi menikmatinya.

Beberapa waktu lalu Chuuya sedikit yakin, kendatipun semuanya manis dan sekujur tubuhnya tampak bersenang-senang, Atsushi masih sedih ditinggalkan begitu saja. Entahlah apa yang melatari keabsenan teman-temannya. Terkadang diam lebih baik untuk menenangkan mendung, dan membuatnya lupa ia ini abu-abu. Daripada mengungkitnya yang ternyata justru memperparah yang sudah buruk duluan.

Yang membuat atensinya terkagum-kagum adalah, kesedihan Atsushi tidak sekali pun mengunyah bersamanya. Bahwa ia benar-benar menyukai setiap suapannya dengan keriangan yang jernih, juga meneguk latte karena mengagumi latte sejak mengenali kehadirannya.

Apa pun yang Atsushi perlihatkan selalu menyenangkan hati. Chuuya langsung senang sekali ketika merasa, mereka bisa cocok luar-dalam. Orang inilah yang selalu

Teka-teki adalah kesan pertama Chuuya untuk Dazai, dan Chuuya pun bahagia dapat memiliki waktu bersama Dazai, tetapi terkadang ia terlalu membuat-buat sesuatu. Bahkan sampai sekarang Chuuya tak benar-benar tahu, siapakah Dazai Osamu.

Dibandingkan orang-orang yang pernah Chuuya temui, Atsushi sudah apa adanya sejak awal; bersahaja tanpa terlalu memikirkan kesan pertamanya. Chuuya pun bukan jatuh cinta (seharusnya). Mana ia paham akan sebuah perasaan yang di dalamnya ada perasaan lagi, dan hanya perasaan seolah-olah tanpa batas.

"Ada apa, Nakahara-san? Daritadi ... maaf, kayaknya liatin aku terus?" Mampus, pikir Chuuya yang merasa tubuhnya bertambah runyam. Menontoni seseorang makan jelas-jelas tidak sopan. Memang ia memiliki alasan di luar untuk meninggalkan dunianya yang sebatas meja bar dan bar display itu. Namun, bukan ini yang semestinya Chuuya perbuat, mentang-mentang dia bingung.

"Maaf, ya. Sebenernya aku bingung harus ngapain. Bukan maksudku membuatmu risi."

Baterai gawainya soak berlebihan. Mengajak Atsushi mengobrol tentu kurang ajar. Hanya saja bermain ponsel di depan seseorang yang tengah makan, Chuuya rasa kurang sopan juga, sehingga apa yang benar dan mengapa Chuuya selalu merasa salah? Merah yang kian memerah di pipinya seakan-akan menunjukkan gestur enggan menemui Atsushi. Siswa SMA tersebut tertawa terlampau kecil. Chuuya tak sehoror itu ternyata.

"Kayaknya Nakahara-san sering makan makanan di kafe ini, ya?"

"Lumayan. Kenapa emangnya?"

"Awalnya aku ingin menawarimu mencoba spaghetti-nya. Kupikir ... emmm ... Nakahara-san mungkin laper, makanya liatin aku terus."

"Laper?" Netra Chuuya mengerjap-ngerjap heran. Sebelum barista delapan belas tahun tersebut berpikir, perutnya jangan-jangan nyaring tanpa disadarinya, lagi-lagi Atsushi tiada bosan-bosannya menggeleng. Rasa penasaran Chuuya merasa bodoh sekaligus puas, ketika bertanya-tanya, apakah Atsushi tidak sakit kepala?

"E-enggak laper, ya? Atau ada sesuatu yang aneh di wajahku?"

Mendengar itu Chuuya langsung mengira, Atsushi memintanya mengecek wajahnya dari dekat. Entahlah jarak menjadi bodoh karena berada di sekitar Chuuya, ataukah sedari awal jarak memang pandir, karena mentang-mentang Atsushi manis ia ingin dekat-dekat saja. Bukan hanya mata, melainkan napas Chuuya pun menjelajahi Atsushi. Anehnya lagi mata Atsushi tidak bisa dipejamkan. Mungkin benar Chuuya berbahaya, tetapi dalam artian lain.

Berbahaya bagi hati lebih tepatnya, maksud Atsushi. Senjata terbesar Chuuya adalah ia tidak menyadari pesona dirinya, tetapi orang lain tahu sampai-sampai silau sendirian.

"Baik-baik aja, kok, gak ada yang aneh. Sekarang wajahmu merah banget. Demam, ka–?" Kursi yang Atsushi duduki terjungkal. Chuuya pun tersentak mendapati Atsushi berdirinya agak gemetar. Tiba-tiba membungkuk, menunjukkan rasa terima kasih yang sangat menyayangi Chuuya. Kemudian meninggalkan uang begitu saja.

"Lain kali aku akan berkunjung lagi! Sampai jumpa lain waktu, Nakahara-san. Sekali lagi terima kasih. Berkatmu aku terhibur!"

"Hari Jumat ini tutup, lho! Jangan datang hari Jum–"

Pintu yang Atsushi buka sudah telanjur ditutup olehnya juga. Semoga saja Atsushi tidak datang di hari Jumat, walau ujung-ujungnya Chuuya juga yang mempertanyakan, kalimatnya menginginkan makna seperti apa? Lain waktu bukanlah kepastian. Jadi Chuuya berharap Atsushi datang dalam waktu dekat, begitu? Pemikirannya yang berputar-putar, pemikirannya juga yang ambruk. Lebih baik mengelap gelas saja, deh, daripada bosan.

"Tapi untunglah dia lebih baik-baik saja, meski teman-temannya gak dateng ke sini."

Senyuman pelanggan adalah kisah yang bukan sekadar kisah, dan mengapa begitu penting bagi kafe ini, tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Di pertemuan selanjutnya mereka pasti lebih berkenalan. Sekarang tak apa Chuuya tak mengetahui Atsushi sekolah di mana, asalkan dia bahagia duluan. Ditambah lagi Chuuya sangat percaya, mereka akan bertemu lain waktu.

"Pfttt~ Chuuya gak sadar yang dia lakuin bikin baper. Bego emang."

Aslinya pula Dazai diam-diam mengawasi dari celah yang sangat rahasia. Toh, jika Dazai di sana mereka hanya bertengkar, dan memang benar membiarkan mereka mengobrol sangatlah tepat, sebab Chuuya juga lebih rileks.


Tamat.


A/N: Sejujurnya ini cuma ide dadakan, dan untungnya gak mandet. aku baru pertama kali bikin ChuuAtsu, tapi langsung coba AU dan aku minta maaf, kalo di sini ChuuAtsu-nya jadi OOC parah. kalo belum pernah bikin versi canon-nya aku emang sering kagok, tapi semoga ini masih bisa diterima. aku gak janji juga bakal full ngerjain sampe day 7, karena ada beberapa prompt yang bikin hopeless kek soulmate. buat prompt besok aja belom tentu jadi, tapi semoga aja bisa selesai ya.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. mari bertemu di d2 kalo bisa.